
Sepanjang perjalanan menuju kawasan Tebet terasa begitu panjang dan lama, bukan karena macet namun karena ketidak nyamanan suasana. Weini lebih banyak diam, ia hanya menjawab sekenanya topik pembicaraan
dari Stevan.
“Malam tahun lalu lu keluar sama siapa sampe om mengira gue yang bawa lu pergi?”
Deg! Pertanyaan itu dilontarkan dengan santai namun meneror si tersangka. Weini terdiam gugup. Satu kebohongan pasti akan menciptakan kebohongan lain untuk saling menutupi. Ia yang memulai semua ini,
lebih baik akhiri sebelum makin rumit.
“Sorry aku sampe nyeret kamu, ayahku salah duga. Aku akan kelarkan ini agar tidak ada kesalahpahaman lagi.” Jawab Weini, ia harus berterus terang pada Haris daripada ia harus selalu dibayangi Stevan.
“Tidak… tidak! gue nggak merasa terseret. Justru mau berterima kasih pada orang itu. Berkat dia, gue diberi lampu hijau sama om.” Stevan tersenyum puas. Ia mengalihkan pandangan dari setir demi menunjukkan senyum di
hadapan Weini.
“Tapi bukan kamu orangnya. Gimanapun aku harus jujur pada ayahku.” Weini tidak akan membiarkan orang lain mengambil kesempatan. Pria gentle tidak akan mengakui hasil kerja orang lain sebagai miliknya. Dan Stevan
semakin membuatnya tidak respek.
Stevan membanting setir ke tepi jalan lalu mobil berhenti. Ia menatap Weini dengan serius, seperti hendak menelannya mentah-mentah.
“Jangan bilang kalau lu udah jadian sama cowok itu! Dia yang bikin gue harus anterin temen lu karena lu lebih milih dia kan?” Nada bicara Stevan meninggi, ia gagal menahan amarahnya di hadapan gadis yang ia sukai.
Weini berusaha tenang, masalah ini mungkin akan terbawa pada mood mereka saat syuting jika tidak dikelarkan. “Aku memang keluar sama dia, tapi dia hanya teman. Jika dia pacarku, kakak juga tidak berhak marah.”
“Weini, apa lu sepolos itu? Gimana nggak marah kalau cewe yang gue suka deket sama cowo lain. Gue suka ama lu!” Stevan mulai memelankan suaranya.
Jadi ini sebuah pernyataan cinta? Baiklah lebih baik dipertegas daripada memberi harapan palsu.
“Kak, sorry aku nggak bisa. Kita rekan kerja seprofesi dan masih ada tanggungan proyek yang sama. Hubungan pribadi bisa memengaruhi kualitas kerja, dan juga aku hanya menganggapmu sebagai teman dan senior.”
“Oh… lu nggak nyaman karena masih satu sinetron ya? Gue bersedia menunggu kok.” Stevan tersenyum tulus, ia merasa yakin bisa menakhlukkan hati Weini.
“Nggak kak, aku lebih nyaman menganggapmu sebagai teman. Maaf!” Weini menghindari kontak mata dengan Stevan. Ia menunjukkan ketegasannya untuk tidak memberi peluang sama sekali.
“Lu suka ama cowo itu?” Stevan makin kepo. Ia yakin alasan penolakan Weini karena pria itu juga berusaha menunjukkan perasaan.
Weini memilih bungkam. Pandangannya tetap mengarah ke depan jalan. Ada pertanyaan yang memang tidak perlu dijawab, itu salah satunya.
“Okelah, gue nggak maksa lu terima gue sekarang. Sorry udah bikin lu nggak nyaman, kita kayak biasa lagi ya.” Stevan memelas. Ia perlu merubah strategi pendekatan, selama Weini tidak menjaga jarak dengannya, ia
akan melakukan cara lain mendapatkan hatinya.
“Baik terima kasih kak.” Weini mengangguk. Apapun yang Stevan rencanakan kelak tidak akan merubah prinsipnya. Ia lebih tahu kemana hatinya berlabuh.
***
Di tengah terik matahari siang, Chen Kho betah berdiri di bawah pohon rindang yang tumbuh persis di depan rumah Wei. Sudah beberapa jam ia mengamati aktivitas satu-satunya penghuni di sana. Tampaknya gadis itu sangat mandiri menjalani kehidupan sebatang kara. Tatapan Chen Kho tak lepas dari pintu kayu lapuk yang tertutup rapat itu. Hingga pintu yang ditunggu terbuka dan gadis di dalamnya menampakkan diri, ia segera berlari menghampiri.
“Maaf Tuan muda, tolong jangan datang kemari lagi. Keberadaan anda bisa membahayakan nyawa saya dan ibu.” Li An berusaha menghindar, ia mempercepat langkahnya. Jika bukan karena terpaksa, ia tidak akan beranjak dari
rumah.
“Tuan saya mohon berhenti mengikuti saya. Biarkan saya hidup dengan tenang!” Li An mempercepat langkah, ia mulai setengah berlari.
Chen Kho mempercepat langkah hingga berhasil mencegat mangsanya. Li An mau tidak mau harus berhenti daripada menabrak pria itu.
“Nona percayalah, saya berbeda dengan mereka. Saya di sini justru ingin membantumu dan ibumu. Ayahku juga orang berpengaruh dalam keluarga, Tuan besar akan tidak berani padaku. Aku bisa menjamin keselamatanmu.”
Rayuan Chen Kho terdengar tulus dan alami. Ia yakin seorang gadis polos seperti Li An akan percaya begitu saja.
Gadis itu tampak berpikir, pria di depannya terlihat baik. Mungkin dia memang bisa dipercaya, tapi… “Maaf jika saya lancang, terima atas kebaikan Tuan. Tapi saya tidak mau merepotkan anda dalam masalah keluarga kami. Tuan besar memberi kesempatan hidup bagi kami saja sudah merupakan anugerah. Saya tidak ingin membuat masalah baru. Saya permisi Tuan.” Li An membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan Chen Kho yang terdiam di tempat.
Di luar prediksi, gadis ini tidak mudah. Chen Kho meremas kencang kepalan tangannya. Ia terlalu meremehkan Li An, cara sederhana tidak mempan meluluhkan hatinya. Ia harus merubah taktik yang lebih memainkan
perasaan seorang gadis.
“Tuan, mengapa tidak menggunakan kekuatanmu untuk memengaruhi hatinya?” seorang pengawal Chen Kho bersuara. Master sihir sekuat tuannya untuk apa bersikeras meluluhkan hati seorang gadis biasa jika ada cara
yang lebih praktis.
“Diamlah. Kau mengajariku?” bentak Chen Kho.
“Ampun Tuan muda, hamba tidak berani.” Pengawal itu bersujud mohon ampun. Chen Kho bisa saja menghabisinya jika emosinya sedang buruk.
Tidak semua hal bisa ditakhlukkan dengan sihir, termasuk kemurniaan perasaan. Aku bisa saja menyihirnya tapi ia akan jadi boneka hidup yang mendengar perintahku. Sedangkan yang kubutuhkan adalah sentuhan perasaan yang tulus agar ia secara sukarela menceritakan segala rahasia keluarganya. Akan kubuat ia bertekuk lutut dan jatuh cinta padaku!
***
“Paman, saat kau pulang apa kau sempat mencari info tentang ibu dan kakakku?” saking sibuknya Xiao Jun dengan buku sihir, ia baru ingat keluarganya.
Lau meletakkan secangkir teh panas di hadapan Xiao Jun, “Saya tidak sempat bertanya kepada siapapun saat itu tuan.”
Ada sedikit rasa kecewa, namun Xiao Jun bisa mengerti. Ia lah yang meminta Lau untuk hati-hati dan segera kembali setelah mendapatkan buku. Misi itu selesai dengan baik, harusnya ia sudah sangat bersyukur.
“Aku mengerti. Terima kasih atas kerja kerasmu. Paman, aku sedang berpikir bagaimana jika aku meminta ayah untuk mengirim Cece Li An kemari. Bisnisku berkembang pesat sesuai rencana, dan aku perlu orang kepercayaan
untuk mengandelnya.”
Lau membenarkan posisi kacamatanya sebelum menjawab pertanyaan sulit itu. “Jika sesuai dengan sifat tuan besar, permintaan ini pasti ditolak keras. Tapi jika tuan muda ingin mencoba, tidak ada salahnya. Hanya
saja…” Lau tidak berani meneruskan.
“Apa? Teruskan paman!” Xiao Jun enggan bertele-tele. Ia siap mendengar yang terbaik dan terburuk tanpa perlu ditutupi.
“Maaf Tuan, saya khawatir permintaan tuan akan dijawab dengan solusi berbeda dari tuan besar. Beliau mungkin mengirim salah satu putrinya untuk membantu anda daripada memberi kesempatan pada saudara anda.” Lau lebih mengenal tuan besar, pola pikir kejinya tentu mudah terbaca oleh orang yang sudah lama dekat dengannya.
Xiao Jun berpikir ulang, masuk akal juga pendapat Lau. Kedamaian dan kebebasannya berlatih sihir di sini malah akan terbatasi jika Li San sampai mengirim putrinya kemari.
“Masukannya ada benarnya. Baiklah, aku tidak akan melakukannya. Terima kasih nasihatmu paman.”
***