OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 29 KENYATAAN YANG DISEMBUNYIKAN



Adakah yang mengerti perasaan ini?


Mengharapkan namun tak bisa mendapatkan.


Menghindari namun selalu berhadapan.


Lebih miris lagi, membenci namun tak kuasa melupakan.


Semua ini tentang kenangan yang tak terungkapkan.


__Quote of Yue Hwa aka Weini__


***


Kau ingin jawaban? Maka akan kuberikan, tapi maaf jika tak sesuai harapan.


“Nona?” Xiao Jun sekali lagi menggugah Weini. meskipun nada bicaranya cukup lembut, namun terasa tajam seperti mata pedang bagi Weini yang tersudutkan oleh pertanyaan sederhana itu.


“Aku… aku tidak punya marga, Tuan.” Jawab Weini sembari menghela napas berat. Apa ini terdengar konyol? Weini menatap pria di hadapannya berekspresi datar setelah mendesaknya memberi jawaban.


Tahu gitu aku cuekin aja nih orang. Geram Weini membatin.


“Pfffff…. Ha ha ha…” tawa Xiao Jun membahana. Ia menutup mulutnya untu mengendalikana volume suara. Dengan teganya ia membiarkan Weini terbengong bingung karena tawanya.


“Ada yang lucu?” Tanya Weini polos.


“Ada. Kamu yang lucu.” Ujar Xiao Jun, tawanya mereda dan ekspresinya kembali serius.


“Mandarinmu begitu fasih. Kau juga memiliki nama yang unik. Mungkin aku yang tidak sopan menanyakan hal pribadi. Tapi aku sangat yakin kau memiliki sebuah marga. Aku tidak akan memaksamu memberitahuku.” Xiao


Jun menyelesaikan apa yang ingin disampaikan. Ia tak boleh kecewa, bagaimanapun dari awal ia tahu gadis itu tidak mudah untuk didekati dengan cara biasa.


“Ah… tuan terlalu berlebihan. Aku hanya gadis biasa. Gimana denganmu? Apa margamu tuan?” Weini balik bertanya. Sudah pasti pria asal Hongkong itu mempunyai marga. Weini penasaran dari keluarga kaya manakah dia


berasal?


Xiao Jun tegugu kaku, ia tidak mempunyai persiapan menghadapi serangan balik lawan bicaranya. Sebagai seorang tuan muda terhormat di negaranya, ia tak perlu memperkenalkan diri, khalayak sudah mengenalnya. Haruskah ia jujur pada identitas asli? Sampai matipun Xiao Jun tetap mengakui ia mewarisi darah keturunan Wei, tetapi di mata publik ia punya tanggung jawab besar terhadap tuan besar Li. Apalagi keselamatan ibu dan saudaranya menjadi taruhan.


“Tuan?” Weini mengetuk jemari di atas meja. Tak disangka menyudutkan orang terasa sangat menyenangkan. Baru saja ia merasa dilemma karena pertanyaan Xiao Jun, sekarang ia membalikkan keadaan. Namun mengapa Xiao Jun juga butuh waktu untuk menjawab pertanyaan itu?


“Li Xiao Jun.” jawab Xiao Jun singkat namun suaranya terdengar lemah.


“Eh?” Weini mematung. Pria ini bermarga Li? Satu marga dengannya dan punya bisnis besar hingga skala internasional. Apa mungkin ia masih kerabat dekat Weini?


“Tu… tuan Li, siapa nama ayahmu?” Tanya Weini penuh hati-hati. Hati kecilnya berharap mendapat jawaban, namun indera pendengarannya seakan tak siap mendengar itu.


Dua orang waitress menghampiri meja mereka dengan nampan berisi dua mangkuk besar ramen dan tiga mangkuk toping tambahan. Xiao Jun terselamatkan sejenak dari todongan pertanyaan menegangkan. Keduanya hening,


membiarkan waitress menyajikan pesanan mereka satu persatu.


“Itu pertanyaan yang tidak perlu kujawab. Selamat makan, nona.” Ujar Xiao Jun berusaha tenang. Pengalihan topik pembicaraan yang sukses. Weini bahkan tak berkutik dan memilih membungkam mulut dengan semangkuk


ramen. Kecanggungan ternyata memengaruhi rasa mie Jepang favoritnya.


Hambar… sehambar perasaanku.


***


Xin Er menyuguhkan teh dari pot tanah liat antik ke dalam cangkir. Perabotan unik itu sebagian koleksi dari Liang Jia yang dikumpulkan semasa gadis. Teh panas itu dibiarkan mengebul oleh nyonya besar, ia terlihat lesu tanpa semangat.


“Nyonya, silahkan diminum selagi panas.” Xin Er membungkuk hormat mempersilahkan majikannya minum. Ia merasa heran kepada Liang Jia yang terlihat murung pasca keempat putrinya pulang. Liang Jia akan terlihat


bahagia saat putrinya hadir di depan mata, namun ketika ia kembali sendiri justru kemurungan yang menghampiri.


“Tidak perlu formal. Aku ingin teman bicara sebagai sesama ibu.” Sergah Liang Jia. Telunjuknya mengarah pada kursi di sebelah mejanya. Ia mempersilahkan Xin Er duduk di sana lewat bahasa tubuh.


“Terima kasih Nyonya.” Xin Er menempati posisi duduk sesuai ijin majikannya.


“Semula aku mengira akan sangat bahagia setelah berkumpul lagi dengan anak-anakku. Tapi ternyata ada yang salah dengan perasaanku. Melihat mereka tumbuh menjadi gadis yang cantik, pintar, berkecukupan, malah membuatku semakin merasa bersalah. Kalau kau jadi aku, apa kau akan merasa begitu?” Liang Jia menitikkan air mata lalu bergegas menyekanya dengan sapu tangan.


Sekarang Xin Er paham mengapa belakangan ini Liang Jia begitu tertekan. Perasaan senang sekaligus menjadi boomerang baginya yang terus merasa bersalah pada Yue Hwa.


“Saya mengerti perasaan anda nyonya. Saya juga seorang ibu yang kehilangan suami sekaligus berpisah dari anak. Tidak heran jika nyonya merasa bersalah pada nona Yue Hwa. Namun sebaiknya anda juga bisa menghargai perasaan keempat nona yang tidak bersalah. Mereka juga memerlukan perhatian dan kasih sayang anda. Kita boleh teringat sesuatu yang hilang, tapi jangan sampai mengabaikan yang masih bertahan.”


Xin Er jelas paham sakitnya kehilangan. Pahitnya dipaksa menganggap darah dagingnya sebagai anak majikan, dan pilunya dipisahkan dari anak perempuan yang masih perlu bimbingan. Tapi siapa yang bisa melawan takdir?


Nasehat Xin Er terdengar sangat menyejukkan hati Liang Jia. Ia terlalu egois meratapi hilangnya seorang anak tanpa memerdulikan perasaan anak gadis lainnya. Liang Jia tersenyum tulus kepada Xin Er, diraihnya tangan kasar wanita itu untuk digenggam. “Terima kasih.”


Dari balik pintu, Yue xiao dan Yue fang saling memandang dengan tatapan penuh teka teki. Mereka mengurungkan niat bertemu ibunya dan memilih segera beranjak dari sana sebelum ketahuan.


***


Weini melepas seatbelt lalu memeriksa barang bawaannya sebelum pamit keluar dari mobil.


“Paman, terima kasih sudah repot mengantarku.” Weini merasa seperti bahan lelucon, ia dijemput paksa oleh pria arogan, lalu diantar pulang secara paksaan halus oleh Lau. Semua itu gara-gara Xiao Jun. Mengingatnya saja sudah membuat Weini kesal.


“Sudah kewajiban saya, nona. Maafkan tuan muda yang harus meninggalkan anda mendadak karena urusan kantor. Lain kesempatan semoga bisa bertemu di waktu yang lebih santai.”


Weini tersenyum canggung. Semoga tidak ada kesempatan lain lagi deh. Ia berdoa dalam hati, berharap urusan dengan Xiao Jun cukup sampai hari ini saja.


“Paman, panggil aku Weini saja ya. Aku nggak terbiasa dipanggil nona.” Pinta Weini sembari turun dari mobil dan membungkuk hormat kepada Lau.


Pria separuh baya itu tersenyum. “Baiklah.”


Mobil mewah itu berlalu dan membawa serta beban di pundak Weini. Ia berlari menghambur masuk ke halaman rumah. Maksud hati ingin segera bertemu Haris. Ada yang ingin ia tanyakan padanya.


“Aku pulang.”


Rumah terasa sepi. Seharusnya Haris sedang bersiap mengajar kelas junior yang sebentar lagi mulai tetapi hanya Weini sendiri di sini. “Pak Haris? Kau dimana?”


Weini membuka satu persatu ruang kelas namun hanya bangku yang tersusun rapi di dalam. Tidak ada tanda hawa manusia lain di sekitar. Weini merasakan kejanggalan yang mencekam, bulu kuduknya merinding. Langkahnya


pelan menapaki ruang makan. Siluet sosok yang ia cari terlihat sedang duduk di salah satu kursi. Weini bernapas lega, ia mendekati punggung pria itu.


“Pak Haris, kenapa tidak menyahut panggilanku?” Weini berbicara di balik punggung kekar Haris. Hanya keheningan yang Weini dapatkan, sosok itu masih terdiam tanpa suara dan gerakan. Weini mulai gusar, suasana


semakin aneh jika seperti ini terus. Ia memberanikan diri untuk menepuk pundak Haris walau terkesan kurang sopan.


“Pak Haris?”


Shuuttt… sosok itu hilang sekejab bersamaan dengan sentuhan tangan Weini hingga membuat gadis itu terhuyung dan jatuh terduduk di lantai.


“Apa yang terjadi?” teriak Weini histeris.


***


PERTANYAAN UNTUK PEMBACA:


KEMANAKAH HARIS?


A. PULANG KE HONGKONG


B. DISEKAP PENCULIK


C. PERGI MENEMUI XIAO JUN