
“Menurut hasil ronsen, pergelangan kaki ibu mengalami dislokasi tulang dan sedikit keretakan. Namun semua itu kembali rekat dan nyaris normal, dengan kondisi seperti ini memungkinkan kaki ibu kembali normal lebih cepat. Jika tidak, akan memerlukan waktu kisaran satu bulan untuk memulihkan lagi. Ibu pakai metode apa saat pertolongan pertama? Kasus ini sangat jarang ditemukan, ibu sangat beruntung.”
Kata-kata dari dokter tulang yang memeriksa Grace di rumah sakit sore tadi masih terngiang dalam ingatannya. Bahkan ketika diperbolehkan kembali beristirahat dan rawat jalan pun, Grace masih terbayang pertolongan yang diberikan Weini padanya. Pasca pulang dari rumah sakit, ia hanya bisa terbaring di atas tempat tidur. Ponselnya bahkan tak berfungsi, saking sepi dan tiada yang menghubunginya. Di saat rapuh seperti ini, betapa ia merindukan
kehangatan keluarga yang setidaknya pasti peduli padanya. Ia terlalu takut berharap lebih pada Xiao Jun, terlebih setelah apa yang Weini lakukan padanya. Grace dilema menghadapi hati dan pikirannya yang tak seiya sekata.
“Nona, makanlah sedikit. Nona perlu asupan untuk minum obat, kasian lambungmu.” Fang Fang sangat cemas, Grace memang keras kepala dan sulit diatur soal pola makan. Ditambah sedang frustasi, Grace sanggup bertahan tanpa makan selama dua hari. Tetapi kondisi saat ini berbeda, ia harus minum obat rutin agar lebih memudahkan pemulihan.
Grace menatap pelayannya, perhatian dari pelayan polos itu bahkan tak diindahkan. “Aku sudah tak apa-apa, nggak perlu minum obat.” Ujar Grace tak bersemangat. Hatinya jauh lebih sakit ketimbang kakinya yang memang
sudah tidak merasakan nyeri atau kendala apapun.
“Nona, mohon jangan keras kepala. Makanlah walau sedikit setelah itu minum obatnya. Saya merasa sangat bersalah karena tidak becus menjaga anda sampai mengalami cidera.” Fang Fang berlutut menyatakan
kesungguhannya.
Grace berdecak, “Bangunlah, aku masih hidup tidak butuh sujud hormatmu.” Demi membuktikan bahwa ucapannya benar, Grace perlahan bergerak, menyandarkan tubuhnya pada ranjang lalu menurunkan kedua kakinya.
Fang Fang melihat semua itu lalu menjerit panik, ia bergegas bangun dari posisi sujud lalu berlari mencegah Grace bertindak sembrono. Inisiatif Fang Fang kalah cepat dengan Grace yang sudah berhasil berdiri tanpa bantuannya, malahan Grace melangkahkan kakinya yang masih diperban secara perlahan. Satu langkah pertama berhasil ia lakukan dengan enteng, kemudian ia mencoba langkah selanjutnya. Ia tersenyum takjub bahkan sesekali menggelengkan kepala saking tak percaya. Sementara Fang Fang menutup mulutnya, ia begitu histeris dan menatapi Grace dengan bola mata yang membesar.
“Ini sebuah keajaiban, nona sembuh sungguhan.” Pekik Fang Fang bahagia.
***
Xiao Jun berjalan gontai memasuki apartemennya, seperti biasa Lau menyambutnya di depan pintu lalu sigap membawakan jas dan tas majikannya. Xiao Jun dapat melihat gurat Lau yang menyimpan sesuatu, pria tua itu pasti menunggunya pulang demi segera mengabarinya entah apa. Sebelum Xiao Jun bertanya, Lau sudah inisiatif buka
suara.
“Tuan, Fang Fang mengabari kalau nona Grace mengalami kecelakaan di lokasi syuting. Pergelangan kakinya mengalami pergeseran tulang dan sedikit keretakan, dan dia tidak mau makan.” Lau menyampaikan informasi darurat itu, meskipun cukup terlambat lantaran kejadiannya sudah berlalu hampir enam jam.
Xiao Jun berhenti melangkah, ia menoleh pada pengawalnya. “Dia di mana sekarang? Apa cideranya parah?”
Raut muka Lau agak menggelisahkan Xiao Jun, jika terjadi sesuatu yang buruk pada Grace bisa dipastikan akan merambat padanya juga.
“Dia di apartemen sekarang, tapi dia tidak mau ditemui. Saya sudah menjenguknya namun Fang Fang pun tak bisa membujuknya agar bisa kulihat kondisinya.”
Xiao Jun menatap jam dinding, malam terlanjur larut untuk mengetuk pintu apartemen seorang gadis. Namun kondisi ini cukup darurat, Grace mungkin sudah melapor pada keluarganya.
“Aku akan ke sana, ikut denganku paman.” Xiao Jun membalikkan badan menuju pintu, lelah dan penatnya seketika buyar berganti cemas. Ia harus memastikan sendiri kondisi terkini Grace.
***
“Bilang aku sudah tidur.” Grace mengajari Fang Fang beralibi, tak ia sangka insiden ini dapat membuat Xiao Jun melangkahkan kaki ke sini mencarinya. Semestinya ia bahagia, bukankah ini yang Grace harapkan? Tetapi hati kecilnya terasa sesak, mungkin akan bertambah sesak andai ia membiarkan Xiao Jun melihatnya dengan sorot kasihan.
Aku bukan pengemis cinta, aku tak mau dicintai berdasarkan kasihan. Gumam Grace dalam batin, ia menutupi wajahnya dengan selimut. Biarlah pura-pura tidurnya menjadi tidur sungguhan dan membasuh dilema dalam hatinya setelah ia terbangun besok.
Fang Fang kembali menghadap Xiao Jun dan Lau yang menunggu di ruang tamu, kedatangannya disambut dengan tatapan penuh tanda tanya. Fang Fang canggung, kabar yang akan disampaikan bukanlah sesuatu yang enak didengar.
Xiao Jun mengernyit, mendapat penolakan dari gadis yang selalu mengejarnya adalah hal yang langka. Ia mengira Grace akan sangat senang dan berpeluang manja padanya dengan memanfaatkan kondisinya sekarang,
tetapi semua tebakan Xiao Jun meleset.
“Biarkan saja, tapi bagaimana kondisinya sekarang? Apa sudah minum obat?” Tanya Xiao Jun.
Fang Fang menunduk ragu, kata-katanya tertahan sejenak tetapi ia tidak punya alasan menutupi yang sebenarnya. “Dia sudah membaik dan tidak perlu minum obat lagi, tuan. Aku memohon padanya agar makan dan minum obat, tapi dia malah menunjukkan padaku bahwa kakinya sudah normal. Dia berdir berdiri dan melangkah tanpa bantuan apapun, seolah tidak pernah ada riwayat cidera.”
Xiao Jun dan Lau mengernyit heran kemudian menatap serius pada pelayan muda itu. “Secanggih itukah pengobatan di sini” Ragu Xiao Jun.
Fang Fang menggeleng, “Bukan medis yang menyembuhkannya, waktu nunggu ambulance datang, nona Weini yang menolongnya. Bahkan dokter terheran melihat hasil ronsennya dan bertanya siapa yang melakukan pertolongan pertama pada nona.”
“Weini?” Xiao Jun tersentak lagi, sepanjang hari pikirannya berkutat pada Weini, hingga selarut malam inipun masih seputaran Weini yang didengarnya.
Lau tak kalah bingung, Weini bersedia menolong Grace yang notabene adalah saingannya. Tak hanya itu, Weini secara ajaib bisa menyembuhkan Grace. Ini tentu akan menjadi beban rumit bagi Grace dan Xiao Jun ke depannya.
***
Kita berdua dipertemukan oleh takdir
Apakah untuk saling berbagi dan mengisi dalam kehidupan ini?
Aku punya rahasia yang belum sanggup kuungkap padamu
Dan kau pun tak lebih baik dariku
Berapa banyak lagi rahasia yang kau pendam?
Sudikah kita duduk dan terbuka akan semua itu?
Dan aku akan mempertimbangkan, perasaan ini tak akan berubah
Quote of Xiao Jun
***
Dalam kamar yang pencahayaannya diredupkan seminimalis mungkin, dalam kesunyian malam di tengah kota metropolitan, Xiao Jun belum berminat memejamkan mata.
“Weini, apa kau adalah Yue Hwa? Apa kau mewarisi sihir klanku? Jika benar, kenapa ayahku memberikan padamu? Akulah yang seharusnya menjadi pewaris dalam garis keturunan ini, bukan kamu.”
Mata Xiao Jun panas melihat video kiriman dari Dina yang merekam semua kebolehan Weini berlaga, Xiao Jun mengenali salah satu jurus yang diperagakan kekasihnya. Jurus yang hanya diketahui klan Wei, sama seperti yang Xiao Jun pelajari dari buku wasiat leluhurnya.
***