
Beberapa perawat tengah sibuk menurunkan ranjang dorong berisi pasien gawat darurat dari ambulans. Begitupun Lau yang ikut mengawal dan mengurus keperluan tiga pasien itu. Satu persatu ranjang itu didorong menuju ruang gawat darurat, dan Lau hanya bisa mengikuti sampai di depan ruang tersebut.
Penanganan pertama yang dilakukan oleh pengawal Wen Ting sebelum pertolongan medis tiba, semestinya sangat membantu menyelamatkan nyawa salah satu dari mereka yang tampak lebih parah. Lau menghela napas, ia meraih ponsel dalam sakunya kemudian menghubungi tuan mudanya.
"Tuan, mereka sudah dilarikan ke rumah sakit X. Sekarang sedang dalam penanganan, tapi Bams terluka cukup parah." Lapor Lau. Tak lama ia terlihat mengangguk berulangkali.
"Baik tuan, saya mengerti." Ucap Lau sebelum panggilan berakhir.
Empat orang pengawal Wen Ting tampak mendekati Lau kemudian mengangguk hormat. Lau melirik mereka dengan serius, "Bagaimana kondisi yang lainnya?"
"Polisi sudah mengambil alih penyelidikan. Yang kami ketahui hanya supirnya yang meninggal, sedangkan yang satunya terluka dan dibawa ke rumah sakit ini juga." Jelas salah satu pengawal di hadapan Lau.
Lau tersenyum seringai, "Baguslah kalau dibawa kemari. Lebih mudah kita mengurusnya."
π¬π¬π¬
Xiao Jun bersiap hendak berangkat ke rumah sakit, namun panggilan Haris mencegat kakinya melangkah lebih lanjut.
"Jun, ayah ikut ke sana." Seru Haris dari belakang Xiao Jun.
Xiao Jun menoleh ke arah ayahnya yang kini sudah berganti pakaian. Mereka belum sempat mencari pakaian pengganti sehingga Haris memakai salah satu pakaian Lau untuk sementara. "Apa tidak sebaiknya ayah istirahat di rumah? Tenaga ayah belum pulih, aku hanya tidak mau ayah drop lagi."
Haris tersenyum simpul, wajahnya memang tampak lebih segar ketimbang kemarin. Padahal dia baru bangkit dari kuburnya semalam dan tenaganya terkuras nyaris semua, namun ia tetap tak bisa diam membiarkan orang-orang yang ada sangkut pautnya dengan Weini terluka.
"Tenanglah, hanya datang menjenguk to tidak akan membuatku lelah. Aku mau pastikan Stevan dan yang lain aman dulu, baru aku bisa tenang." Ujar Haris pelan.
Xiao Jun tetap menggeleng tak setuju, "Ayah di sini saja dengan kakak ipar, di sana ada anak buah Chen Kho yang juga dirawat. Tidak menutup kemungkinan masih ada pengawalnya yang lain di sekitar sana. Akan berbahaya jika mereka melihat ayah, apalagi ayah belum pulih."
"Mereka juga tidak akan mengenaliku, ada bagusnya kita bertemu anak buahnya dan mengancamnya mengatakan di mana tempat persembunyian tuannya." Jawab Haris mantap.
Xiao Jun masih diam belum memberikan keputusan. Di sisi lain ia tetap mencemaskan ayahnya, ayah yang hanya satu-satunya ia miliki dan baru saja kembali dari kematian. Bisa dimengerti betapa protektifnya Xiao Jun setelah kejadian kemarin.
"Ayah benar, dan aku juga ikut kalian. Bosan sekali jauh-jauh kemari hanya untuk sembunyi di apartemen. Adik, tenang saja selama ada Wen Ting di sini, keselamatan kalian aman." Seru Wen Ting, seperti biasa ia kelewat percaya diri.
Haris hanya tersenyum, memang tidak berlebihan jika Wen Ting menunjukkan keunggulan dirinya, dia memang bisa dipercaya. Xiao Jun tak berdaya ditodong dari dua sisi, ia hanya bisa menghela napas kasar karena kalah mempertahankan pendiriannya untuk mengurung Haris dan Wen Ting di apartemen.
***
Grace sedikit gugup saat menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanah. Ia tak menyangka kediaman Li yay begitu megah ternyata memiliki tempat menyeramkan seperti di film horor. Sekitar terlihat gelap, bahwa untuk masuk ke dalam, ia dan pengawalnya harus membawa senter masing-masing.
"Itu... Apa tidak ada penjaga di sini?" Tanya Grace penuh hati-hati pada pengawal di depan dan di belakangnya.
Pengawal itu menoleh ke belakang menatap Grace lalu menjawab, "Ada nona. Di bagian depan ada pengawal dan nanti ketika sampai di lorong tahanan, ada pengawal di setiap sudutnya." Jelas si pengawal.
Grace mengangguk mengerti, ia tak lagi bertanya tetapi fokus memperhatikan langkahnya dalam kegelapan. Hingga cahaya remang yang tampak di depan membuatnya tersenyum karena sudah ada tanda kehidupan yang tampak.
"Nona, kita sudah sampai. Di depan sana adalah sel tuan Kao Jing." Seru pengawal di depan Grace.
"Ng... Kalian boleh tinggalkan aku sebentar?Aku ingin bicara empat mata dengannya." Pinta Grace.
Kedua pengawal itu mengangguk hormat lalu segera berlalu dari hadapan Grace, memberikan waktu pribadi seperti yang gadis kttu pinta. Tetapi mereka tetap berjaga dari kejauhanz di tempat yang mudah didatangi begitu Grace membutuhkan pertolongan.
Grace menatap sendu pada punggung pria di hadapannya, mereka terpisah oleh jeruji besi namun batasan itu tak menyekat perasaan Grace untuk mengasihi ayahnya.
"Grace? kau kah itu?" Tanya suara pria itu tak kalah lirih, kemudian tertatih mendekati Grace yang sudah memegangi batangan besi yang mengurung ayahnya.
Air mata Grace jatuh perlahan, ia tak menyangka akan sesedih ini begitu melihat kondisi ayahnya. Pria yang biasanya tampil gagah itu ternyata terllihat tua di sini. Baru satu malam dikurung namun Kao Jing tampak memprihatinkan.
"Ini aku, ayah... Apa ayah baik-baik saja?" Lirih Grace.
Kao Jing menyipitkan matanya, suasana hatinya memburuk saat mendengar pertanyaan itu.
"Simpan pertanyaan konyolmu, mana ada orang yang baik ketika ditahan? Kamu kemari untuk membebaskan aku kan? Cepat, buka pintunya!" Desak Kao Jing tak karuan hingga menggoyang pintu jeruji besi.
Grace menggeleng lemah, "Aku ke sini untuk menjengukmu ayah, aku tidak bisa membebaskanmu. Setelah apa yang ayah lakukan, aku tidak tahu harus bagaimana menolongmu. Kecuali... Ayah bersedia tobat dan mengatakan di mana kak Chen Kho menyembunyikan Yue Hwa." Ujar Grace, ia tak bertele-tele lagi. Terlebih melihat emosi Kao Jing yang menjadi-jadi, lebih baik ia segera mengatakan maksud kedatangannya.
Kao Jing menyeringai, menatap sinis pada putrinya. "Jadi kau diutus kemari untuk menyelidiki ku? Simpan saja tenagamu, aku tak akan buka mulut! Pergi dari sini, aku tak butuh anak kurang ajar sepertimu!" Bentak Kao Jing, ia membalikkan badan karena tak bersedia melihat Grace.
Grace sakit hati mendengar ketusnya ucapan ayahnya. Ia menyeka air matanya dan menatap Kao Jing dengan mata berkaca-kaca. "Ayah, kenapa harus berbuat seperti ini? Ayah masih punya kesempatan bebas, jangan keras kepala lagi ayah. Katakan saja di mana kakak berada, aku akan membujuk paman membebaskanmu. Aku tidak mau melihat ayah di penjara, kumohon bekerjasama lah!" Pinta Grace sesenggukan.
Kao Jing tak bersedia menatap putrinya, tangannya mengepal kencang saking geram. "Grace, kamu anak yang mengecewakanku. Kamu tidak sejalan dengan ayah, malah bersekutu dengan musuh. Aku tak sudi melihatmu lagi. Pergilah!"
"Jadi hanya karena aku tak berguna untuk ayah, maka nyawaku juga tak berarti bagi ayah? Hanya karena aku tak menuruti permintaan ayah yang jahat itu, lalu ayah tak menganggapku anak lagi? Ayah... Hatimu terbuat dari apa? Kenapa yang ada di hatimu hanya harta, tahta? Di mana sisa cinta di hatimu? Kau yang membesarkanku, kau memanjakanku, apa semua palsu? Hanya demi ambisimu menjadikanku alat merebut kekuasaan?" Pekik Grace, ia tak kalah geram dengan keegoisan ayahnya. Matanya menatap nanar ayahnya, emosinya membuncah tanpa kontrol. Namun jauh di lubuk hatinya, ia berharap mendengar bantahan dari Kao Jing. Ia berharap ayahnya akan melunak dan menjawab 'Tidak' atas asumsi Grace padanya.
"Ya, kamu ku besarkan untuk jadi alatku. Dan kamu sudah tak berguna sekarang, pergi!"
Bentakan Kao Jing yang menggema dalam ruangan gelap dan lembab itu berhasil meluluh lantakkan perasaan Grace. Lututnya terasa lemas mendengar pengakuan itu, menyusul tubuhnya yang terhuyung lalu terduduk di lantai yang dingin.
Grace hancur, benar-benar hancur.
π¬π¬π¬
Sedihnya jadi Grace π Tapi mau bagaimana lagi, memang seperti itulah nasibnya.
Halo guys, mendekati penghujung bulan Juli nih, tetap semangat ya dan jaga kesehatan. Hari ini author akan keluarkan lagi visual untuk salah satu karakter dalam cerita ini.
Ciri-cirinya adalah :
π Seorang pria paruh baya
π Serba bisa, piawai dalam bisnis, masak, mengurus rumah, dan jago beladiri
π Pria yang setia dan berani mati demi tuannya
π Pembawaan tenang, baik, dan yang terakhir adalah dia itu...
π Tangan kanan Xiao Jun
Sudah pada tahu kan?
Yup tepat sekali tebakan kalian, dia adalah pengawal Lau. Sebenarnya dalam cerita ini tidak banyak sisi pribadi yang author bahas tentang pengawal yang satu ini, bahkan ada yang mengira Lau adalah jomblo lapuk π, tapi sebenarnya Lau sudah berkeluarga loh. Hanya saja tidak dibahas di sini ya, belum saatnya terjangkau pembaca deh kehidupan pribadinya. Tapi beberapa kali author ada menceritakan bahwa Lau juga memikirkan nasib keluarganya andai kenapa-kenapa terhadap dirinya, yang beberapa kali kritis loh. Hampir dihukum mati, hingga keracunan karena Chen Kho.
Dan inilah sosok visual pengawal Lau, semoga kalian suka π