
Suara ketukan kaca mobil sangat mengusik Stevan, ia memilih bersembunyi di dalam mobil dan terjebak dalam kerumunan pers yang masih mengepungnya di luar. Ia bisa saja tancap gas dan kabur begitu saja, namun dua
penumpangnya belum juga kembali. Mereka datang bersama, pun harus kembali bersama-sama. Stevan menyetel musik dengan volume maksimal, lebih baik bersenandung ketimbang mendengarkan kegaduhan para wartawan itu. Sembari menunggu mereka menyerah dan pergi darinya.
Ingatannya terbayang adegan barusan, ketika Xiao Jun dengan mantap menggendong Weini ke dalam lift. Andai itu terjadi saat Stevan belum move on, mungkin ia akan mati kesal melihat mereka. Stevan tersenyum puas, ia turut berbahagia dengan hubungan Weini dan bos muda itu yang tampaknya sebentar lagi akan membaik. “Lu berdua memang pasangan serasi.” Gumam Stevan, ia melipat kedua tangan di belakang kepala dan menjadikannya penyangga yang bertumpu pada jok. Beberapa wartawan sudah mengibarkan bendera putih sembari menggerutu meninggalkan lokasi parkir.
***
Weini tidak menikmati kecupan mendadak dari Xiao Jun, hatinya belum tenang untuk merasakan romansa itu. Walaupun memang suara hatinya meronta ingin bermesraan dengan pria yang nyaris satu bulan lamanya tak
berkomunikasi. “Lalu siapa Grace itu?” Weini mendorong tubuh Xiao Jun, melepaskan sentuhan bibir mereka yang saling berpagut.
Nama Grace yang tercetus dari mulut Weini, membuat mood Xiao Jun berubah. Grace memang sudah hadir di tengah hubungan mereka, dan Weini perlu tahu yang sebenarnya. Xiao Jun menghela napas sesaat, berharap
kejujurannya dapat diterima oleh Weini.
“Weini, aku tidak ingin ada yang ditutupi dari hubungan kita. Suka atau tidak, kenyataan yang menjadi masalah kuharap bisa kita cari solusi bersama.” Terselip rasa cemas di benak Xiao Jun, ia perlu menegaskan sebelum lanjut berterus terang.
Weini terdiam, iapun sangat berharap memiliki hubungan yang sehat dan penuh keterbukaan. Meskipun dari awal ia sudah menyimpan satu rahasia besar, membohongi banyak orang dengan wajahnya yang hanya sebuah topeng kulit. Apa terlalu berlebihan jika ia mengharapkan kejujuran dari orang sementara ia sendiri pembohong?
“Kalau kamu inginkan itu, kenapa sejak sudah bisa dihubungi, aku tetap tidak mendapat balasanmu? Apa diam adalah solusi yang kamu maksud?” Tanya Weini serius, sorot matanya begitu dalam pada Xiao Jun.
Pertanyaan yang bagaikan buah simalakama, Xiao Jun jelas termakan omongannya. Harus ia akui sikap pengecutnya waktu itu, lebih memilih menghindari komunikasi dengan Weini padahal ia sudah mendapatkan
kembali ponselnya. “Aku salah, dui bu qi (maaf) waktu itu aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan padamu. Bicara langsung dan bicara via telpon itu berbeda, aku takut kamu salah mengartikannya. Ini sangat rumit, Weini … Aku mohon dengarkan aku dulu.” Iba Xiao Jun, kesempatan berdua seperti ini tidak menjamin berlangsung mulus atau lama. Ia tetap khawatir Grace datang mengusik di saat tak tepat. Gadis itu serba tidak terduga dan nekad, Xiao Jun tak bisa menyepelekannya begitu saja.
Weini mengangguk pelan, mulai membuka telinga dan hati untuk mendengarkan. Xiao Jun tesenyum mendapatkan respon positif itu, ia mulai yakin gadis kecintaannya tenang dan mampu menerima penyampaiannya dengan
kepala dingin.
“Aku pulang mendadak tanpa sempat pamit padamu, hubungan kita cepat atau lambat pasti akan jadi pembahasan keluargaku. Ayahku meminta aku segera pulang untuk menjelaskan, kupikir ini hanya salah paham biasa yang
bisa diluruskan dengan penjelasan. Ternyata masalah keluargaku cukup rumit, dan gadis itu dipaksakan untukku.” Xiao Jun mempersingkat ceritanya, ia tidak nyaman harus membuka seluruh kartunya sekarang. Menceritakan tentang Xin Er, Li An, dan Wei – ayahnya yang masih misterius pada Weini. Maksud hati Xiao Jun, kelak ketika ia mempertemukan Weini kepada Xin Er barulah ia menjelaskan segalanya.
Weini mengernyitkan dahi, ia tak lagi bisa mempertahankan ketenangan hatinya lebih lama. “Jadi benar, dia dijodohkan dan sekarang jadi tunanganmu?” Todong Weini langsung ke inti pertanyaan tanpa basa basi.
Xiao Jun merasa di-skakmat, Weini enggan basa-basi namun Xiao Jun tetap berharap gadis itu bisa diajak negosiasi. “Ya … Tapi dia pilihan ayahku, bukan pilihanku!” Xiao Jun tak membantah namun mempertegas
bahwa itu bukan keinginannya.
Kata ‘Ya” yang diucapkan Xiao Jun masih berdengung di kepala Weini. Terjawab sudah mimpi anehnya, firasat buruk yang terpantul dalam cermin, Xiao Jun mungkin masih keberatan dengan perjodohan paksa itu namun tidak menutup kemungkinan seiring waktu, hatinya bisa tergugah pada gadisbernama Grace itu.
Weini tertawa kecil, membuat Xiao Jun bingung bagian mana dari perkataannya yang terdengar lucu. “Jun, kamu pasti tahu dalam satu hubungan tidak hanya ada aku dan kamu. Tapi ada kata mereka yang memberikan restu, orangtuamu. Aku nggak bisa jalanin ini tanpa restu. Dia lebih dipilih mereka, bukan tidak mungkin suatu hari hatimu pun akan direbutnya.”
Xiao Jun dengan tegas menggelengkan kepala, “Tidak! Tidak akan pernah terjadi! Weini, restu memang penting tapi tidak bisa memaksakan hatiku. Yang menikah bukan mereka, tapi aku! Dan tidak akan ada pernikahan tanpa cinta dalam prinsip hidupku.”
“Kamu beda, itu cincin wasiat ibuku. Kamu calon istri pilihanku, dan dia hanya penghalang yang dikirim untuk mengacaukan hubungan kita. Aku akan mengatasinya, percaya padaku! Aku pasti akan ….” Xiao Jun berusaha meyakinkan Weini, tangan gadis itu kini dalam genggamannya namun sebelum ucapannya selesai, Weini keburu menyanggahnya.
“Mengatasi dia? Kamu bicara seakan perasaan wanita tidak ada artinya. Jun, kenapa orangtuamu tidak menyukaiku sebelum bertemu? Apa alasan mereka tidak setuju karena statusku tidak sebanding denganmu?” Weini menyerobot pembicaraan dengan sederet pertanyaan.
Xiao Jun bungkam, ia bahkan tidak berani menatap mata Weini. Sesaat mereka saling diam hingga Xiao Jun membeberkan jawabannya. “Bukan salah kita jika ada yang terluka karena perasaannya sendiri. Apa kau
menganggapku salah, ketika aku yang memenangkan hatimu dan membuat Stevan terluka? Bukan urusanku jika wanita itu mencintaiku, aku hanya menetapkan hatiku padamu.”
Weini terkesima mendengar ketegasan Xiao Jun, namun ia belum berpuas diri sampai di situ. “Jangan mengalihkan fokus, pertanyaanku belum dijawab.”
Xiao Jun menghela napas, pembicaraan mereka semakin alot. “Ya, salah satunya karena status tapi itu bukan hambatan besarnya, yang jadi masalah adalah aku belum punya kekuatan untuk meyakinkan mereka bahwa cinta
adalah modal utama pernikahan, bukan kekuasaan.”
Pengakuan Xiao Jun itu membuat Weini teringat keluarganya yang paling berpengaruh di Hongkong. Satu hal yang disesalkan, ia belum mengenal latar belakang kekasihnya. Siapa nama orangtuanya yang terdengar sangat berkuasa dan terkesan kolot seperti orangtua Weini. Sayangnya Weini tak berani bertanya, akan ada timbal balik dari kekepoannya dan ia belum siap membuka jati diri kepada Xiao Jun.
“Lalu apa rencanamu” Weini tak ingin lagi adu urat, yang terpenting adalah mendengar apa yang akan dilakukan pria itu.
Xiao Jun terdiam sejenak, “Aku … Belum terpikirkan, tapi pasti segera kutangani ini.” Ujarnya dengan raut wajah bingung.
Jawaban yang sangat mengecewakan bagi Weini, ia kira Xiao Jun bisa diandalkan dan punya strategi lain. Rupanya semua masih blur, “Apa yang membuatmu begitu percaya diri menyuruhku percaya, padahal kau sama sekali
tak punya rencana. Jun, aku nggak bisa digantung dalam hubungan ini. Ya bilang ya, tidak bilang tidak!”
“Ya! Beri aku waktu, percayalah!” Jawab Xiao Jun tegas.
Weini tertawa lirih, ia sudah berjanji untuk tidak menangis, maka tawalah yang bisa ia ekspresikan ketika hatinya terluka karena cinta.
***
INTERMEZZO sejenak ....
Cerita Weini dan Xiao Jun versi yang diinginkan pembaca ^^
Xiao Jun : Kamu calon istri pilihanku, dan dia hanya penghalang yang dikirim untuk mengacaukan hubungan kita. Aku akan mengatasinya, percaya padaku! Aku pasti akan menyingkirkan dia segera!
Weini : Baiklah, aku percaya padamu! Jangan ada orang ketiga dalam kisah cinta kamu, aku tak rela berbagi pria dengan wanita lain.
Dan mereka saling tersenyum, merapat dalam pelukan dan berpagut dalam kemesraan.
Maunya seperti itu ^^ Nanti ya, pasti ada waktunya.
***