
Bara api yang berkobar dari perapian gubuk Li An terasa menghangatkan seisi ruangan. Demi memberi kehangatan pada Chen Kho yang belum sadarkan diri dengan pakaian basah kuyup, Li An mengumpulkan kayu sisa pembakaran tungku untuk dibuat api unggun.
Jemari Chen Kho bergerak, kesadarannya mulai pulih. Ia memegang dahinya dalam posisi berbaring. “Ng…”
Li An terkesiap mendengar rintihan Chen Kho, ia tak sadar tertidur saat menunggu pria itu sadarkan diri. “Tuan sudah siuman.”
Chen Kho berusaha bangun, Li An langsung inisiatif membantunya agar duduk bersender. Ia terlihat masih lemah dan pucat. “Aku pingsan berapa lama?”
“Hampir satu jam. Apa tuan merasa baikan? Aku akan menyiapkan teh panas untuk memulihkan tenagamu.” Li An beranjak bangun namun Chen Kho menarik tangannya.
“Terima kasih.” Chen Kho tersenyum, ia melepaskan tangan Li An yang gugup karena sentuhan mendadaknya. Gadis itu berjalan sangat cepat menuju sekat lain. Kesempatan ini dimanfaatkan Chen Kho untuk mengamati
sekeliling.
Bangunan yang tak layak disebut rumah ini menjadi tempat berteduh siang dan malam bagi seorang gadis muda. Saat hujan deras tetesannya merembes dan bocor di beberapa titik. Chen Kho menghitung jumlah ember yang berada di ruang tamu, ada lima ember kecil yang masih dijatuhi rintik bening dari langit. Tidak ada perabotan berharga, semua terlihat seperti tumpukan barang rongsokan. Chen Kho sudah beberapa bulan memantau Li An, gadis itu bekerja serabutan saking takutnya pada Tuan besar Li. Ia bekerja seperti buronan, hasilnya hanya untuk mengisi perut sehari-hari. Gadis itu tidak memiliki pakaian yang layak, padahal dengan modal paras rupawan semestinya ia bisa meraih perhatian pria kaya. Sungguh nasib yang terlalu tragis terlahir dari keluarga Wei.
Li An datang membawa secangkir teh yang mengebul asap dalam nampan. Dengan hati-hati ia menyuguhkan kudapan ala kadarnya sebagai pelengkap minuman hangat manis itu. “Silahkan Tuan.”
Chen Kho hanya mengangguk pelan. Kini ia lebih tertarik menatap wajah Li An tanpa berkedip. Risih dengan perhatian yang berlebihan itu membuat Li An menundukkan kepala. Suasana teramat sunyi, tidak ada yang
bersedia mencairkan suasana.
“Kenapa kau selalu menolakku?” Chen Kho akhirnya yang pertama memecahkan keheningan.
Li An bingung harus menjawab apa. Rasanya ia sudah sering melontarkan alasan penolakannya yang tak lain karena takut mendapatkan masalah dari tuan besar.
“Tuan, setelah ini aku mohon jangan datang mencariku lagi. Tolong mengerti posisi tuan, anda tidak pantas berada di sini. Aku tidak mau membuat tuan besar marah lalu menyusahkan ibuku di sana.” Li An memohon dengan segenap keberaniannya. Lebih baik tidak memulai sesuatu yang hanya akan berujung penderitaan.
“Apa aku tidak pantas dengan kamu? Apa aku terlihat seperti trouble maker?” Chen Kho mulai tersinggung dengan alasan Li An.
Li An bergegas membungkuk hormat, “Tidak. Maksudku akulah yang tidak pantas untuk anda. Anda dari keluarga terhormat sedangkan aku hanya dipandang sebagai keturunan rendahan.”
“Masalah keluarga pamanku tidak ada kaitannya dengan keluargaku. Aku bebas memilih siapapun orang yang kusukai. Pamanku juga tidak berhak melarang atau mencelakakan pasanganku. Kamu hanya perlu memberiku
kesempatan untuk membuktikan kesungguhanku!”
“Aku tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih atas kebaikan Tuan, namun untuk saat ini aku belum siap membuka hati. Maaf mengecewakan anda.”
Li An menegaskan penolakannya, lebih baik jangan menyulut api jika tidak ingin terbakar.
***
“Kamu sudah makan?” Xiao Jun menawarkan makan malam bersama meski masih terlalu dini disebut makan malam.
menahan senyum saat mendengarnya.
“Tapi lapar lagi hehehe.” Timpal Weini sebelum Xiao Jun berkomentar. Ia berpaling menghadap kaca mobil sambil merutuki perutnya yang tidak bekerja sama.
“Kita makan malam dulu sebelum pulang. Aku yang traktir, jadi tempat aku yang pilih.” Seru Xiao Jun. jika ia tidak menegaskan di awal, Weini pasti request masakan Lau lagi.
“Yaaaa… kirain bisa makan masakan paman Lau.” Weini kecewa, padahal Lau pernah menjanjikan menu andalan lainnya yang belum dicicipi Weini.
“Oya kok paman nggak ikut?”
“Dia lagi ngurus kerjaan di luar kota.”
“Owh…” bibir Weini membentuk huruf O, saking manyunnya ia tak sadar tengah dilirik Xiao Jun dari samping.
Xiao Jun membawa Weini ke sebuah parkiran gedung pencakar langit. Mereka tiba di atap gedung yang luas dan tak ada tanda kehidupan di sana. Jangankan penjual makanan, security saja tidak terlihat.
“Kita ke sini buat jadi santapan nyamuk?” Weini menepuk nyamuk yang hinggap di lengannya. Kedua tangannya menyilang menutupi pundak yang terbuka.
Xiao Jun melepas jas hitamnya lalu menutupi pundak Weini. Gadis itu terkejut namun tidak menolak. meski ia tidak paham tujuan Xiao Jun membawanya ke tempat terbuka dan tinggi, ia hanya bisa mengikuti permainan bos muda itu.
“Tunggu sebentar, kita akan makan malam di sana.” Xiao Jun menunjuk ke langit yang mulai petang.
“Eh? Mau ke surga? Nggak deh, jangan aneh-aneh!” Weini menggeleng kepala, ia mencoba mencari kebenaran lewat sorot mata pria di depannya. Andai ia sudah menguasai sihir penerawang pikiran, pasti tidak sulit menebak apa mau pria itu.
Dari atas langit terdengar gemuruh mesin yang berisik, angin di sekitar bertiup sangat kencang. Weini memejamkan mata saking takut akan kelilipan. Sebuah jet bersiap mendarat di sekitar mereka. Keadaan kembali normal dan bunyi berisik pun berhenti. Weini membuka mata, ia terkejut melihat sebuah jet terpampang di hadapannya. Dua orang pramugari keluar dan menyambut mereka naik ke jet.
“Ayo, sudah waktunya makan malam.” Xiao Jun mempersilahkan Weini berjalan lebih dulu. Ia tak berniat menjelaskan lebih detail tentang apa yang terjadi, yang pasti Weini hanya mengikuti meski penasaran setengah mati.
Desain interior dalam jet begitu mewah. Pengalaman pertama Weini menaiki sebuah pesawat pribadi yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan konglomerat. Terakhir kali ia mengudara ketika kabur dari Hongkong ke Jakarta. Semenjak itu, ia dan Haris belum pernah menaiki pesawat lagi. Meskipun hidup mereka tidak susah, namun Haris tipikal orang yang hemat. Mereka tidak pernah berlibur hingga keluar pulau.
“Selamat datang, Tuan dan nona. Silahkan duduk dan menikmati perjalanan ini.” Seorang pramugari berparas cantik menangkupkan tangan memberi salam pada mereka. Sementara pramugari yang satunya menuntun
mereka menuju ruangan lain yang diberi sekat. Ketika tirai disibak, ruangan itu terlihat sangat mewah. Dua buah kursi yang saling berhadapan dengan sebuah meja bundar beralaskan taplak warna emas. Di atas meja sudah terhidang dua gelas wine dan dua botol air mineral.
Kedua pramugari menarik kursi dan mempersilahkan Xiao Jun dan Weini duduk bersama. Kini Weini mulai paham maksud makan malam di atas langit adalah ini semua. Jet mulai bergerak dan lepas landas. Weini memandang
sekitar lewat jendela, matanya berbinar takjub. Pemandangan kota di malam hari begitu luar biasa, kerlap kerlip cahaya di bawah terlihat bagaikan hamparan bintang di luasnya langit. Xiao Jun membiarkan Weini larut dalam suasana, mungkin ini pengalaman pertamanya menikmati keindahan kota dengan jet pribadi.
***