OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 170 PERTUNANGAN TANPA CINTA



Semarak warna merah dan bunyi petasan bergemuruh di kediaman Li. Perhelatan akbar sesaat lagi akan digelar untuk saling mengikat antara tuan muda Li dan nona Li. Li San mengundang Wedding organizer terbaik di Hongkong untuk mengatur jalannya pesta yang akan diadakan setelah ceremony selesai. Ia memperlakukan momen pertunangan itu seperti sebuah pesta pernikahan.


Xiao Jun tengah dipakaikan baju kebesarannya yang dominan merah dengan corak naga emas. Para pelayan yang membantunya berpakaian tak henti berdecak kagum diam-diam, Xiao Jun dapat merasakan kebahagiaan mereka yang bisa melayaninya. Sayangnya, hari yang semestinya menggembirakan itu tidak bisa menyunggingkan seulas senyum Xiao Jun. Ekspresinya datar layaknya robot yang menanti digerakkan oleh remote.


“Sudah, kalian boleh keluar.” Seru Xiao Jun, ia ingin menyendiri sejenak. Waktu berjalan kian mendekati jadwal acara, sesaat lagi ia harus bersedia menjadi tunangan dari wanita yang tidak ia cintai. Xiao Jun berpikir panjang tentang kelanjutan nasibnya, setelah ini apa Li San bisa dipercaya? Xin Er dan Lau belum juga dibebaskan dan ia belum punya jaminan bahwa tuan besar itu akan menepati janji.


Ia harus mengambil sikap atau terlanjur menyesal kemudian, “Pengawal, sampaikan pada tuan besar bahwa aku akan menemuinya sekarang!” Xiao Jun memerintahkan pada pengawal di depan pintu. Utusannya harus lebih dulu tiba memberitahukan, dan ia akan mengambil langkah ke sana.


Penampilannya yang seperti pengantin pria berjalan seorang diri mencuri perhatian setiap mata pengawal atau pelayan yang berpapasan. Walau dalam hati menyayangkan sikap Xiao Jun, namun posisi mereka yang hanya sekedar pelayan tidak mungkin berani menyampaikan pendapat. Dalam aturan keluarga Li, kedua calon pengantin atau tunangan harus menunggu waktu yang baik untuk keluar dari kamar masing-masing. Belum apa-apa Xiao Jun sudah melanggarnya, Li San pasti marah besar jika tahu.


Kedatangan Xiao Jun di aula kebanggaan Li San disambut dengan tatapan nanar nan dingin. Li San terlihat berang, ia tak mengira akan bertemu putranya pada saat ini. “Kau sangat tidak sabaran, apa kau tidak tahu jam berapa baru boleh bertemu orang?” bentak Li San.


Xiao Jun berlutut hormat memohon pengampunan, “Maaf ayah, ada yang ingin aku bicarakan sebelum acara. Mohon memberi kesempatan untukku.”


Li San mengernyit, putranya datang dengan kostum lengkap layaknya calon pengantin yang kabur di hari pernikahan dan datang untuk berunding dengannya. “Bangunlah, kau mau bahas apa?”


“Terima kasih ayah, ini tentang masalah ibu dan pengawalku. Aku sudah memenuhi kesepakatanmu, lalu kapan ayah akan membebaskan mereka? Ini hari pentingku, selain ayah dan ibu yang memberi restu, aku ingin mereka berdua juga ada di tengah acara nanti. Mohon ayah mempertimbangkannya, bagaimanapun aku tidak mungkin membatalkan rencana yang tinggal selangkah lagi.” Xiao Jun berucap dengan penuh kesungguhan, sudah terlalu lama menunggu bebasnya dua orang yang sangat ingin ia lindungi itu dan kali ini harus dipastikan sebagai batas


penantian.


Belum ada jawaban yang diberikan oleh Li San, ia masih terdiam mempertimbangkan baik buruknya keputusan. Sejauh ini Xiao Jun sudah menunjukkan kepatuhan dan itikad baik, tidak ada lagi alasan untuk menahan dua orang itu. Terlepas dari suka atau tidak, Li San tak boleh menjilat ludah sendiri.


“Setelah upacara pertunangan, ayah minta kamu bersikap sebagai pria dewasa yang bertanggung-jawab. Grace sepenuhnya menjadi tanggunganmu, kemanapun kamu pergi dia harus ikut.” Ujar Li San memberi petuah.


Xiao Jun enggan merespon, lebih baik diam daripada menyanggupi sesuatu yang belum tentu bisa ia tepati.  Ia terus menunduk, tak berani menatap langsung ayahnya.


“Baiklah, aku bebaskan mereka sesuai perjanjian. Kembali ke kamarmu sekarang!” ujar Li San lantang. Ia hanya menerima anggukan hormat dari Xiao Jun sebagai balasan sebelum berlalu sesuai perintahnya.


***


Dua pengawal membuka gembok sel Lau dan Xin Er secara bersamaan. Kedua orang itu tertegun sejenak melihat kebebasan di depan mata.


“Atas perintah tuan besar, Lau dibebaskan dari hukuman mati dan Xin Er dibebaskan dan segera kembali ke kediaman nyonya Liang Jia sebagai pelayan.  Lau ikut dengan kami sekarang!” teriak seorang pengawal membacakan surat keputusan tuan besar. Mereka berdua berlutut mendengar titah itu dibacakan.


Xin Er tersenyum menatap Lau, mereka belum punya kesempatan bicara namun saling memberi isyarat penuh kegembiraan. Kebebasan yang dijanjikan Xiao Jun bukan isapan jempol semata, mereka bisa kembali menghirup udara segar.


Sesampainya di depan gerbang, Xin Er terkejut melihat siapa yang datang menyambut kebebasannya. Kejutan luar biasa yang membuatnya sangat terharu, betapa nyonya yang sangat ia hormati itu memperlakukannya dengan baik. Liang Jia dengan senyum lebar dan bahagia langsung memeluk Xin Er. “Akhirnya kau kembali.”


“Nyonya, terima kasih banyak. Aku bisa melayanimu lagi, terima hormatku.” Xin Er membungkuk dan langsung disanggah oleh Liang Jia. Ia tak perlu penghormatan formal dari Xin Er.


“Ayo bergegas, acaranya dimulai satu jam lagi.” Liang Jia menarik tangan Xin Er mengikutinya. Ia perlu permak penampilan Xin Er, entah hasil akhir pertunangan ini seperti apa yang pasti ini termasuk momen penting bagi Xiao Jun, dan Xin Er harus tampil baik mensupportnya.


***


Seisi aula utama sudah dipadati keluarga inti dan tetua adat yang akan memimpin upacara pertunangan. Kedua calon berdiri menghadap tetua yang sedang memberikan wejangan. Xiao Jun melirik ke samping, mencari sosok yang ia harapkan. Li San dan Liang Jia duduk di samping tempat Grace berdiri, dan Xiao Jun mendapatkan


Xin Er yang berdiri di belakang Liang Jia.


Kontak mata antara Xin Er dan Xiao Jun berlangsung sekilas, mereka saling memberikan senyuman. Lega rasanya melihat kebebasan Xin Er yang terlihat sehat dan segar, Xiao Jun mulai bersemangat setidaknya alasan dia kuat menjalankan hal yang tak sesuai nuraninya adalah demi ibunya.


“Hormat tiga kali kepada langit dan bumi … Hormat kepada kedua orang tua … dan berhadapan saling memberi hormat.” Tetua itu memberikan instruksi yang secara berurutan dilakukan oleh Xiao Jun dan Grace.


Orang yang paling berbahagia saat ini mungkin adalah Grace, pancaran dari raut wajahnya yang berbinar, senyum yang begitu mudah ia sunggingkan, ia optimis akan hubungan ke depannya bersama Xiao Jun.


Xiao Jun ragu sejenak saat diminta menyematkan cincin ke jari manis Grace, sikap kakunya langsung mengundang perhatian Grace dan seisi aula. Grace langsung peka menilai raut wajah bingung Xiao Jun, masih ada keraguan untuk terikat dengannya. Senyuman yang ia pertahankan dari awal pun mulai hilang, Grace menodong kepastian lewat bahasa mata pada Xiao Jun.


“Sematkan cincinnya!” ujar tetua dengan nada tegas lantaran harus mengulang lagi perintah itu.


Xiao Jun masih canggung, ia menatap ke Xin Er dengan penuh keraguan. Sudah sampai sejauh ini mana mungkin masih ada jalan kembali, Xin Er memberinya sebuah anggukan yang ditafsirkan oleh Xiao Jun sebagai maksud agar ia meneruskan langkahnya. Li San memelototi putranya yang terlihat seperti orang plin plan, ia akan membuat perhitungan besar kalau sampai Xiao Jun berani berubah pikiran di tahap ini.


Chen Kho melirik tajam ke Xiao Jun meskipun tatapan sinisnya tidak diketahui, ia bersumpah akan menghabisi Xiao Jun jika berontak membatalkan di saat ini. Tidak menjaga kehormatan Grace dan keluarganya sama saja minta dibunuh.


Xiao Jun memalingkan wajah lalu fokus pada cincin di tangannya, jemari Grace masih terjulur menantikan cincin itu disematkan. Ia menundukkan wajah dan memasangkan cincin berlian itu di jari manis Grace. Suara tepuk tangan riuh dari seluruh orang yang menyaksikan, Chen Kho yang sedari tadi bertekuk wajah pun terbawa suasana dan memberi tepukan. Ia tak peduli perjodohan ini atas dasar paksaan, yang pasti sekali saja Xiao Jun menyakiti Grace maka ia pastikan akan membuat perhitungan. Tanpa Chen Kho sadari, ia tengah menikmati buah karmanya


mempermainkan perasaan Li An.


***