
Tak pernah terbayangkan, akan jatuh dalam pelukanmu lagi
Di saat hatiku belum siap merasakan kehangatan dari dirimu
Di saat hatiku terlalu girang, hingga lupa bahwa kita tengah bermasalah
Aku terlalu bahagia, hanya karena mencium aroma tubuhmu
Merasakan hangat tanganmu kembali merangkuli pinggangku
Merasakan lembutnya kecupan yang menyentuh bibirku
Tetaplah menjadi milikku, hanya milikku!
_Quote of Weini aka Yue Hwa_
***
Suara sorakan dan tepuk tangan riuh memenuhi lantai dasar pusat perbelanjaan yang ramai dipadati pengunjung. Mereka yang hadis saat itu merasa menjadi orang paling beruntung yang menyaksikan adegan seru seorang
artis papan atas yang tengah dipeluk oleh seorang pengusaha muda yang dirumorkan mempunyai kedekatan dengannya. Terlebih lagi, kehadiran aktor yang sempat digosipkan cinta lokasi dengan lawan mainnya pun tampak hadir di antara mereka. Sebagian mengira ini adalah adegan syuting, namun banyak pula yang menyadari bahwa ini adalah realita dan merekam kejadian itu dengan ponsel pribadi.
Dina terharu melihat reaksi Xiao Jun yang begitu gentle, sampai sejauh ini ia tetap berpikiran positif tentang bos muda itu. Bahwa dia tidak mungkin mengkhianati Weini. Sementara Stevan lebih mencemaskan kerumunan orang yang makin tak tahu diri dan menyoroti kejadian ini sebagai konsumsi publik. Ia spontak berlari ke tengah, mengusir setiap orang yang mengaktifkan kamera. Tindakan tepat Stevan itupun diikuti oleh Dina yang berlari keliling ke
sisi lain untuk mengusir penonton.
Weini meronta di balik dekapan Xiao Jun, sebenarnya ia bisa saja melepaskan diri paksa jika ia mengeluarkan tenaga dalamnya. Hanya saja, tindakan itu pasti akan melukai Xiao Jun. Di sisi lain, ia cemas kalau Xiao Jun
tidak segera melepaskan diri, Weini akan menyedot energinya.
“Lepasin!” Bisik Weini yang masih dalam dekapan Xiao Jun.
Xiao Jun tak mendengarkan permintaan itu, ia semakin memeluk erat Weini. Matanya terpejam, menghayati kerinduan yang terobati setelah sekian lama ia tersiksa memendam perasaan itu sendiri. Semula Xiao Jun
sempat ragu untuk segera menemui Weini, namun ketika gadis itu hadir di hadapannya, pertahanan egonya runtuh seketika.
“Jangan pergi, Weini. Aku bisa jelaskan!” Desis Xiao Jun lembut, hembusan napasnya bahkan menggetarkan daun telinga Weini.
Sorot lampu kamera dari beberapa sisi yang mengelilingi mereka langsung menyadarkan bahwa mereka sudah terkepung rombongan wartawan. Weini terlalu mencolok berada di tempat umum, dan Xiao Jun tak menyangka resikonya akan sefatal ini. Ia terus mendekap Weini sembari melindungi kamera mengabadikan wajah artis itu. Namun Weini justru meronta, sikap Xiao Jun yang terus mendekapnya justru akan menjadi santapan lezat para
pencari berita dengan narasi super pedas dan provokatif.
“Hoi, kenapa gue dianggurin? Wawancarain gue! Gue mau nikah bulan depan!” Pekik Stevan mencoba mengalihkan massa. Namun teriakannya terdengar bak auman singa di hutan kosong, tidak ada yang tertarik dengan obralan
Dina ingin menertawakan Stevan, tetapi ini bukan saat yang tepat untuk tertawa. Ia mengulum senyumannya dan berjanji akan tertawa paling keras karena kekonyolan Stevan setelah mereka keluar dari jebakan pers. Dina berlari menghalangi para wartawan, berpose konyol untuk menutupi mereka mengambil rekaman pasangan kekasih itu.
“Berhenti semuanya! Aku Li Xiao Jun akan menuntut media manapun yang mempublikasikan berita ini. Mengambil gambar dan berita tanpa seijin nara sumber, aku pastikan kalian membayar kompensasi dan menempuh jalur hukum karena telah menjadikan urusanku sebagai konsumsi publik.” Xiao Jun meneriakkan ultimatum, awalnya hanya seorang wartawan yang menggubrisnya dengan menurunkan kamera. Namun karena Xiao Jun memincingkan mata dengan sorot tajam yang seakan bisa menguliti orang hidup-hidup, akhirnya banyak yang mulai menyerah dan menjauhkan alat perekamnya.
Xiao Jun menggunakan kesempatan ini untuk kabur, ia perlu tempat yang lebih tenang untuk berdua. Weini yang masih terkesima mendengar sikap tegas Xiao Jun, tidak siap dengan kelanjutan tindakan Xiao Jun yang mengejutkan. Tubuhnya diangkat Xiao Jun seketika dan reflek Weini terkesiap, tatapan mereka saling beradu dan Xiao Jun dengan mantap melangkah masuk ke dalam lift. Meninggalkan semua penonton termasuk Dina dan Stevan yang masih terguncang, mereka berlalu begitu saja tanpa diabadikan kamera.
“OMG, mantap banget tuan muda itu!” Dina bersorak sembari menutup mulutnya saking terharu.
Para wartawan yang kecewa berat hanya bisa melengos dan satu persatu bubar dari lokasi. Percuma menghabiskan waktu untuk fakta yang tidak bisa dijadikan berita. Namun ada sebagian yang enggan beranjak sia-sia, fokus mereka kini beralih pada Stevan yang tadi dengan bangga berteriak mengabarkan berita baik, pernikahan yang akan dilangsungkan bulan depan.
Stevan menyadari niat kepo para pers, ia mulai pasang langkah seribu untuk menyelamatkan diri. “Tidak, gue cuman bercanda!” Ungkap Stevan seraya berlari keluar dari sana, meninggalkan Dina yang tertawa terpingkal-pingkal melihat kekonyolannya.
***
Lift masih melaju, Xiao Jun memencet lantai teratas yang merupakan rooftop gedung itu. Weini masih berada dalam dekapannya, gadis itupun mulai takut debaran jantungnya terdengar oleh Xiao Jun. Sama halnya dengan ia yang sedang mendengar detak jantung pria itu yang sepertinya sedang berpacu sangat cepat. “Ng, turunkan aku!” Pinta Weini. Ia tak habis pikir mengapa pelariannya berakhir dengan keikhlasan saat tertangkap. Bukannya berontak,
Weini malah terbuai dalam pelukan Xiao Jun. Apa ini berlebihan bila ia menyerah dari keangkuhannya dan mengakui bahwasannya ia pun sangat rindu dan menginginkan dekapan itu?
“Tapi berjanjilah, kau tidak akan kabur sebelum mendengar penjelasanku!” Ucap Xiao Jun, ia pun perlu jaminan sebelum membiarkan Weini berdiri dengan sepasang kakinya.
Weini menatap Xiao Jun sekali lagi dengan lekat, “Oke, aku memang perlu penjelasan tentang status kita!” Seru Weini mantap.
Xiao Jun tersenyum getir mendengar pernyataan Weini, ia terdiam dan masih menggendong gadis itu hingga tiba di tujuan. Penjelasan tentang status mereka, di dalam hati Xiao Jun jelas hanya Weinilah yang ia akui sebagai
tunangan. Ia menurunkan Weini ketika berada di bagian teratas dari gedung, hanya mereka berdua dan Xiao Jun bisa leluasa mengutarakan perasaannya.
“Kau sangat cantik.” Ujar Xiao Jun tersenyum, pujian itu teramat jujur karena Weini semakin bersinar dan cantik setelah sekian lama mereka tak bertemu.
Weini nyengir mendapati pujian itu, meskipun hatinya berbunga-bunga, ia tetap tak akan mengakuinya. “Jelaskan! Apa yang mau kau jelaskan!” Todong Weini, ia mengesampingkan gelora rindu yang masih tertahan, penjelasan
Xiao Jun jauh lebih penting dari apapun.
Bukannya melontarkan penjelasan seperti yang ia niatkan sejak awal, Xiao Jun justru berjalan mendekati Weini tanpa berkedip. Tatapan mereka saling beradu, begitu lekatnya hingga sanggup menghipnotis Weini untuk
bungkam. Ia semakin merasakan aroma parfum Xiao Jun yang membuatnya berdebar, suasana kali ini berbeda dengan sebelumnya, hanya ada mereka berdua berpayungkan langit yang cerah. Xiao Jun mendekatkan wajahnya, kini tatapan keduanya beralih pada bibir masing-masing. Suara hati yang mengomando untuk saling membuka diri tanpa kata, tanpa berontak. Mereka bergerak sesuai kata hati, setidaknya inilah kesempatan yang mereka nantikan. Biarlah mereka jujur pada perasaan sejenak, bahwa cinta masih bertahta di singgasana hati mereka.
“Penjelasannya hanyalah … Kamu satu-satunya yang aku cintai, Weiniku!” Selepas pengakuan itu, Xiao Jun tak mengijinkan Weini membantahnya. Bibirnya lebih siaga membungkam bibir Weini dengan lumatan penuh perasaan.
***
Ada yang baper bacanya? Sama … Author juga baper nulisnya ^^