
Jarak bukan penghalang bagi Chen Kho memperluas area kejahatan, satu demi satu asset yang dimiliki Li San jatuh dalam jangkauannya. Berbekal kekuasaan yang dilimpahkan, ia dengan mudah mengutak atik segala hal yang menghalangi atau bahkan tidak ia senangi. Bukan hanya perusahaan di Hongkong, tetapi anak perusahaan baru di Jakarta pun tak luput diutak atik.
“Kerja bagus! Pantau terus mereka dan laporkan perkembangannya segera.” Ujar Chen Kho penuh kepuasan setelah menerima laporan bahwa anak buahnya berhasil membuat kekacauan bagi Weini. Pembicaraan via suara itu diakhiri, bukan saat yang tepat mengeluarkan banyak kata-kata di lingkungan kerja.
“Kamu memang nggak ada hubungan denganku, tapi selama kamu ada di hati pria tengik itu, jangan salahkan aku membuat hidupmu susah.” Chen Kho bicara dengan foto Weini dari galeri ponselnya, tampak betul bahwa ia ingin cuci tangan dari kesalahan yang ia lakukan pada orang yang tak bersalah. Dalam waktu dekat mungkin Grace akan diboyong ke Jakarta, Chen Kho hanya antisipasi agar Weini tidak menyakiti hati Grace. Akan lebih baik bila menyingkirkan segala jejak Weini dari kehidupan Xiao Jun sebelum Grace hadir di sana dan mengetahuinya.
Tidak akan ada wanita yang rela diduakan atau sekedar berbagi cinta pada pria yang sama, dan ini bakal sangat menyakitkan Grace jika ia tahu bahwa ada wanita lain yang lebih dulu menempati hati Xiao Jun.
***
Hari pertama Lau kembali bertugas sebagai pengawal pribadi serba bisa untuk Xiao Jun. Ia telah menerima tugas perdananya setelah vakum hampir tiga minggu. Banyak kejadian di luar prediksi yang berasal dari orang tak terduga yang memanfaatkan situasi. Dan yang paling sulit dihadapi adalah tikaman dari orang dalam yang berkhianat.
“Paman siapkan intelmu di perusahaan, kirimkan informasi khususnya yang dikerjakan Chen Kho. Aku akan segera ke sana, paman menyusul saja setelah dapat apa yang kuminta.” Ujar Xiao Jun membagi peran dengan Lau. Hari ini ia perlu membuka kedok seseorang secara langsung.
“Baik tuan muda.” Lau membungkuk hormat kemudian undur diri dari hadapan Xiao Jun.
Setelah mengantongi restu membawa Li An ke Jakarta, Xiao Jun masih punya tugas meyakinkan Li An untuk ikut. Ketika cinta sudah turut campur dalam kehidupan seseorang, ia serta merta menolak untuk dijauhkan. Xiao Jun paham betul karena itulah yang ia rasakan.
“Pengawal, berikan aku kunci mobil. Jangan ada yang ikut, aku ingin nyetir sendiri.” Xiao Jun keluar dan meminta akses transportasinya. Kekuasaannya sebagai tuan muda sudah dipulihkan dan mulai hari ini ia bukan lagi tahanan rumah. Mobil sport mewah miliknya kembali ia kemudikan, dengan kecepatan penuh ia berpacu dengan waktu menuju rumah masa kecilnya.
Li An sedang menyapu halaman ketika mobil Xiao Jun berhenti di depannya. Semula gadis itu heran, mobil yang parkir di hadapannya bukan mobil Chen Kho lalu siapa lagi yang sudi mengunjunginya. Ketika Xiao Jun keluar dari mobil itu, barulah senyum Li An merekah dan sapunya dibuang begitu saja. Ia berlari menghampiri sembari mengelap tangannya bekas memegang sapu dengan celemek yang ia kenakan.
“Pagi kak, gimana kabarmu?” Xiao Jun memberikan senyuman paling tulus untuk kakaknya.
“Jun, kau kembali?” Li An nyaris tak percaya, ia mengira pertemuan dengan Xiao Jun beberapa hari lalu adalah yang terakhir kali. Ia sadar bagaimana sulitnya mengharapkan pertemuan dengan perbedaan status di antara mereka.
“Iya, kak. Aku kembali. Kamu sudah sarapan?” tanya Xiao Jun padahal ia datang dengan tangan kosong karena tak ada persiapan.
Li An mengangguk, ia masih speechless dan berusaha percaya bahwa ini nyata. “Kenapa kau kemari? Tuan besar akan menghukummu kalau dia tahu kau datang. Eh, apa kau sudah sarapan? Aku sudah masak loh.”
Xiao Jun mengangguk sembari tersenyum, “Sudah, jangan repot kak. Aku ke sini juga atas ijin tuan besar. Beberapa hari lagi aku akan kembali ke Jakarta, sebelum itu kita habiskan waktu bersama. Apa kakak sempat kalau kita jalan sebentar sekarang?”
Li An girang bukan kepalang mendengar ajakan itu. Seumur hidup ia belum pernah naik mobil pribadi bahkan yang Nampak mahal seperti yang dikendarai adiknya. Bagi pengangguran yang mengandalkan hidup dari freelance, Li An jelas mempunyai banyak waktu luang. “Aku sempat, waktu kosongku malah sangat banyak. Ayo masuk, aku ganti baju dulu.” Li An menarik tangan Xiao Jun masuk mengikutinya.
Walaupun hidup dalam gubuk, Li An selalu menjaga kebersihan dan kerapian rumah bekas peninggalan orangtua mereka. Xiao Jun dibiarkan menunggu di ruang tamu sembari bernostalgia dengan kenangan masa kecil sementara Li An masuk ke kamarnya bersiap-siap. Sebuah ruangan yang berdekatan dengan dapur mencuri perhatian
Xiao Jun, semacam ada panggilan yang kuat dari dalam sana dan mengundangnya masuk.
“Perasaan ini …” Xiao Jun mengingat dengan keras perasaan yang pernah ia rasakan, semacam sinyal yang tak asing. Ia mencoba mendeteksi sinyal yang kuat dari ruangan itu. Sebuah rasa yang sempat dilupakan akibat melemahnya kekuatan sihirnya.
“Li Jun, kamu kembali …” suara misterius seorang pria yang tak kasat mata membuat Xiao Jun berputar sekeliling mencari siapa yang ada di dalam selain dirinya namun hasilnya hanya dia satu-satunya manusia dalam ruang ini.
“Siapa? Keluarlah!” balas Xiao Jun dengan lantang, ia tak gentar hanya saja penasaran dengan si pemilik suara.
“Aku duduk di depanmu, kamu tak bisa melihatku? Tingkatkan lagi kemampuanmu kalau begitu.” Ujar suara itu sambil tertawa.
Suara ini berbeda dengan suara yang dua kali mendatangi mimpinya, maka jelas bukan suara ayahnya. Namun aneh rasanya bila suara itu mengaku duduk dalam ruangan sihir ini, artinya dia adalah orang yang punya hubungan dekat dengan keluarga Wei terlebih dia tahu nama asli Xiao Jun. “Maaf, boleh beritahu padaku siapa anda?”
Suara itu tertawa sejenak seolah mengejek kebodohan Xiao Jun, “Bisa disebut kakekmu …” jawab suara itu singkat lalu kembali tertawa.
Xiao Jun segera berlutut mendengar pengakuan itu, segalanya terasa masuk akal jika dalam keturunan mereka. Kemunculan roh kakek atau siapapun dari keturunan Wei bukanlah hal yang perlu ditakutkan, justru menjadi sebuah kehormatan bagi yang didatangi.
“Wei Li Jun memberi hormat pada kakek.” Ungkap Xiao Jun masih berlutut di depan kursi yang kosong dalam pandangannya.
“Li Jun, kamu adalah harapan terakhir keturunan kita. Akan berhenti di tanganmu atau berlanjut garis keturunan Wei. Ke depan lebih mawas diri, jangan remehkan orang yang punya kemampuan terpendam. Dia ada di dekatmu.”
Xiao Jun bingung dengan petunjuk serta nasehat kakeknya, meski demikian ia tetap menerima segala kebaikan yang disampaikan itu. “Aku mengerti kakek. Tapi, di mana ayahku sekarang? Apa dia masih hidup?”
“Dia masih dalam persembunyian di dekatmu. Biarkan saja, kelak pasti bertemu. Ada satu hal buruk yang tidak bisa dihindari, kamu harus kuatkan sihirmu agar tidak jadi tragedi. Kakek hanya bisa membantumu dengan ini, simpanlah dan terus isi kekuatan ke dalamnya. Suatu saat akan sangat berguna untukmu.”
Sebuah plakat emas melayang dan berputar-putar di hadapan Xiao Jun, ketika ia menyentuh untuk mengambilnya benda itu menghilang sekejab. Xiao Jun terkesiap lalu menyebarkan pandangan mencarinya.
“Ha ha ha… tak usah dicari, itu sudah tersimpan dalam tubuhmu ketika kau sentuh. Untuk mengeluarkannya, berlatihlah cara menyimpan dan mengeluarkan benda dengan sihir.”
Xiao Jun mengerti, ia pernah membaca cara berlatih yang tertera dalam buku sihir kuno warisan leluhurnya. “Terima kasih kakek, aku pasti giat berlatih. Tapi bolehkah kakek memberitahu, apa benar ayahku ada di Jakarta? Aku melacak kiriman sinyal dan yakin pengirimnya dari kota itu tetapi sesampai di sana kepekaanku hilang total.” Xiao Jun menyayangkan kekuatannya yang tidak mumpuni.
“Ya, hampir sepenuhnya tepat. Dia di sana, di dekatmu dan bersembunyi. Biarkan saja dia dengan sikap keras kepalanya. Kamu ingat pesan kakek, harus selamat di pertempuran akhir dan lanjutkan keturunan Wei berikutnya.”
Sesaat berakhirnya suara itu, ruangan yang berkilau keemasan kembali seperti sedia kala. Antara senang dan bingung, Xiao jun harus berpuas diri dengan teka teki terakhir yang ditinggalkan. Pertempuran akhir apa yang dimaksud? Siapa lawannya yang terdengar begitu mengerikan? Dan di mana tempat ayahnya bersembunyi di
dekatnya?
***