
Saat semua skenario ciptaan manusia mengintimidasi hidup manusia lainnya, di saat itu juga sang penguasa palsu itu tengah menciptakan petaka bagi dirinya.
Quote of author hehe sesekali **
Kediaman keluarga Li disemarakkan dengan ritual pernikahan Li An dan pengusaha asal Makau. Berbeda dengan pernikahan nona pertama Li, hari baik ini terlihat begitu sederhana dan sepi. Yue Xin diantar menuju aula utama dengan wajah tertutup veil merah. Ia masih punya waktu menutupi kesedihannya dengan kain penutup itu, sebelum nanti akan disibak suaminya ketika mereka berada dalam kamar pengantin. Yue Xin hanya pasrah menguatkan
hatinya untuk menapaki babak kehidupan barunya bersama seorang pria yang belum ia ketahui wajahnya sampai detik ini.
Liang Jia duduk dengan tegang, meskipun riasan di wajahnya cukup sempurna menutupi wajah kusam dan sembabnya, namun polesan luar itu tak sanggup memoles bagian terdalam di hatinya. Momen yang semestinya
mengharukan ini, di mana ia harusnya tersenyum bahagia dan menangis haru melepaskan putrinya untuk dipersunting orang, nyatanya hanya impian belaka. Liang Jia dengan susah payah menahan air mata, agar tidak mengacaukan segalanya, terlebih ia tak ingin membuat Kao Jing murka dan berdampak pada Yue Xiao dan Li San. Ia harus kuat bersandiwara untuk menjadi ibu yang berbahagia dan merestui putrinya menikah. Hanya Liang Jia seorang, tidak ada Li San yang duduk di sampingnya. Yang ada justru Kao Jing yang mengatur segalanya, bahwa ia adalah wali pengganti Li San dan menikahkan Yue Xin dengan restunya.
Segala ritual berjalan lancar dan cepat, dan yang tampak paling berbahagia adalah Kao Jing dan Chen Kho. Ayah dan anak itu tampak sangat menikmati pesta itu, kini mereka melayani para tamu dari Makau termasuk suami Yue Xin untuk minum bersama. Kesempatan ini digunakan Liang Jia diam-diam masuk ke kamar pengantin putrinya dan mendapati Yue Xin duduk sendirian di tepi ranjangnya dengan wajah yang masih tertutup veil.
“Xin, ini ibu.” Lirih Liang Jia yang menjawab penasaran putrinya ketika mendengar suara pintu dibuka.
Yue Xin bersemangat kembali begitu mendengar suara ibunya, ia mengira yang barusan masuk adalah suaminya dan langsung merasa gugup. “Ibu … Untunglah ibu yang datang, aku merindukan ibu. Apa ibu baik-baik saja?” Tanya Yue Xin yang langsung menyibak kain merah di wajahnya.
“Astaga nak, jangan sibak kain itu! Hanya suamimu yang boleh membukanya.” Ujar Liang Jia kemudian membetulkan lagi posisi kain hingga menutupi wajah Yue Xin.
Yue Xin tertunduk sedih, penglihatannya kini terbatas objek merah itu lagi. “Kain ini menghalangiku melihat ibu, aku hanya ingin memastikan ibu baik-baik saja.” Desis Yue Xin.
Liang Jia meraih jemari putrinya, menggenggamnya erat seakan memberikan kekuatan lewat sentuhan lembut itu. “Ibu sehat, jangan khawatirkan ibu. Mulai sekarang kamu sudah jadi istri orang, ibu lihat suamimu orang yang baik. Dan pastinya ayahmu memilihkan pria terbaik untuk anak-anaknya, jadi jangan takut lagi ya. Jalani kehidupan pernikahanmu, semoga bahagia dan kamu bisa menjadi istri dan ibu yang baik kelak.” Ujar Liang Jia lembut serta mendoakan kebahagiaan putrinya.
Yue Xin mulai terisak, ia tak sanggup mendengar kata-kata ibunya yang menaruh harapan padanya. “Ibu, aku belum mau meninggalkanmu. Aku belum puas dekat denganmu, masih ingin menghabiskan waktu bersamamu. Kami tumbuh besar tanpa ibu, baru satu tahun kumpul bersama tapi sekarang disuruh berpisah lagi. Aku sungguh belum sanggup, ibu.” Isak Yue Xin yang langsung dipeluk oleh Liang Jia.
Hati Liang Jia terasa runtuh seketika, nalurinya sebagai seorang ibupun ingin selalu berada dekat dengan anak-anaknya, tapi apa daya? Terkadang hidup terkesan mempermainkan insan yang lemah, yang tak punya kuasa untuk mengatur kehidupan seperti yang diinginkan, dan Liang Jia lah salah satu insan lemah itu.
“Ibu juga ingin seperti itu, nak. Tetapi saat ini, kondisi tidak lagi memungkinkan. Ibu merasa lega setelah melihat suamimu, akan lebih baik kamu menikah dan tinggal jauh dari sini. Ibu datang kemari untuk mendoakan kebahagiaanmu, sekaligus memintamu agar menolong Yue Xiao. Bersikap baiklah pada suamimu, dan minta ia membawa serta adikmu ke sana. Tempat ini sungguh tidak aman lagi untuk ditempati.” Ujar Liang Jia, ia mengeratkan genggaman tangannya pada Yue Xin. Menaruh harapan besar pada putrinya itu.
Yue Xin mengangguk, “Aku mengerti ibu, akan kulaksanakan semua perintah ibu. Tolong ibu jaga diri baik-baik, kami ingin berkumpul lagi dengan ibu dan ayah suatu hari nanti. Kumohon, ibu harus tetap hidup.” Pinta Yue Xin, ia tak sanggup lagi menahan isakan tangisnya.
Liang Jia sejak tadi sudah menitikkan air mata, setelah mendengar isakan Yue Xin saat ini, ia pun tak mampu lagi pura-pura kuat. Kedua wanita itu berpelukan dalam tangisan yang sejadi-jadinya.
***
“Apa kau tahu hari apa ini?” Tanya Li San pada pengawalnya yang ikut terkurung bersamanya.
Pengawal itu terlihat lemah, ia terluka fisik akibat serangan Chen Kho serta kekurangan makanan dan minuman yang dapat memulihkan kondisi tubuhnya. Pengawal itu tampak menggeleng lemah, “Hamba tidak tahu tuan.” Jawabnya lirih.
“Harusnya putriku Xin akan menikah, tapi entah bagaimana kabar mereka sekarang. Liang Jia, Yue Xin, Yue Xiao, apa mereka aman di sana?” Desis Li San lemah. Ia tak pernah sehancur saat ini. Telah ia menangkan persaingan bisnis hingga menakhlukkan pesaing tangguh di negaranya, ia pun berdarah dingin memegang kuasa penuh dan kebal hukum selama setengah abad, tapi ia tak pernah merasa sehancur ini. Tak ada yang bisa menandingi sakitnya
dikhianati oleh saudara sedarah. Kepercayaan penuh yang Li San berikan pada kakaknya, rasa setia atas dasar persaudaraan itu ternyata tak ada harganya bagi Kao Jing. Li San sungguh menyesali betapa kasar perlakuannya pada Liang Jia, bahkan dengan kalap mata menyakiti wanita yang tak lain adalah istrinya itu demi membela saudaranya.
Li San mengeluarkan secarik kertas serta pulpen hitam yang ada dalam laci mejanya. Penjara ini membuatnya lupa waktu, namun tak akan pernah membuatnya lupa pada dosa besarnya. Dosa yang baru ia sadari adalah kesalahan terburuk yang pernah ia lakukan semasa hidup. Ia terprovokasi hendak membunuh darah dagingnya hanya karena termakan kebohongan dan hasutan dari saudaranya.
Li San menorehkan tulisan pada kertas putih itu, menumpahkan penyesalan terdalam serta suara hati yang ia harap akan tersampaikan suatu saat nanti.
Hongkong, ….
Teruntuk anakku, Li Yue Hwa.
Putriku, saat ayah menulis ini, ayah tidak tahu waktu, tanggal, bulan dan hari. Dalam kesunyian dan keremangan ruangan ini, akhirnya ayah punya kesempatan merenungi dosa-dosa ayah kepadamu selama puluhan tahun. Ingin sekali ayah menyampaikan langsung padamu, betapa menyesalnya ayah, betapa tidak becusnya aku menjadi ayahmu.
Setelah membuat penderitaan panjang padamu, ayah tidak tahu apakah kamu masih bisa memaafkanku. Ayah pun tidak tahu, apakah saat kamu membaca surat ini, ayah masih punya kesempatan melihatmu lagi?
Banyak hal yang ingin ayah lakukan untuk menebus semua kesalahan besar ini. Dan ayah sangat bersyukur kamu masih hidup bahkan tumbuh menjadi gadis yang cantikdan mandiri. Kamu harus tahu betapa ayah berharap bisa melihatmu sebelum jatah hidupku berakhir.
Jika masih ada kehidupan selanjutnya, ayah bersedia menebus dosa ini dan ikhlas menerima pembalasanmu. Apapun itu asal bisa membuatmu memaafkanku.
Putriku, hanya ini yang dapat ayah berikan sebagai wasiat dan permohonan maaf terbesar. Ayah ….
“Apa yang kau lakukan adikku?”
Belum selesai Li San menuliskan isi wasiatnya, suara Kao Jing yang masuk ke ruangan itu mengejutkannya. Li San terperanjat dan gelagapan menyembunyikan kertas di atas meja.
***