OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 329 ​JANJI YANG MEMBERATKAN



Dering ponsel Weini dalam tas sebenarnya ia sadari, namun tenaganya terlalu lemah untuk menjulurkan tangan meraih benda itu. Dibiarkannya berbunyi lama dan berhenti begitu saja, untuk saat ini pun ia tidak sanggup


berbicara dengan siapapun. Fokus Weini dicurahkan sepenuhnya untuk mengeluarkan racun yang ia serap dari Grace. Harus ia akui bahwa Grace punya keberanian yang luar biasa untuk sengaja menelan racun sekuat itu.


“Aku nggak biarkan kamu mati, aku pun tidak mau mati.” Lirih Weini menyemangati dirinya. Di dalam mobil ia berjuang sendirian, seandainya ada Haris di sini, mungkin ia tidak akan semenderita ini. Weini hanya mengandalkan kemampuannya meskipun sedang terluka, dari kepalan tangannya mengeluarkan keringat yang berkeliauan seperti permata. Itu hasil detox tubuhnya yang mengeluarkan racun. Gadis itu merasa mual dan bergegas membuka pintu


mobilnya, namun ia kalah cepat lantaran cairan dari lambung itu sudah kuat mendorong keluar.


Weini terpaksa memuntahkan darah di dalam mobilnya, saat cairan merah kental itu keluar, Weini merasa sedikit lega. Tubuhnya pun tak selelah sebelumnya. Jika Grace memuntahkan darah sebagai pertanda racun semakin


parah, berbeda dengan Weini yang justru menjadikannya sebagai pertanda baik. Dengan napas yang masih tersengal, Weini meyakinkan diri bahwa ini saat yang tepat untuk meninggalkan parkiran rumah sakit. Ia sudah punya sedikit tenaga untuk mengemudi, dan lebih baik memulihkan diri di rumah sendiri.


***


Suara monitor yang memacu infus Grace terdengar nyaring di tengah keheningan kamar. Ia tak lagi berada di ruang ICU, namun terbaring nyaman di bangsal kamar VVIP rumah sakit itu. Stevan sepenuhnya menahan kantuk dengan dua mata yang dipaksa tetap siaga mengawasi tidur Grace. Gadis itu masih belum sadarkan diri sejak dinyatakan melewati masa kritisnya. Stevan hanya ingin memastikan dirinya ada dan siaga ketika Grace siuman. Di dalam ruangan itu ada Lau dan Fang Fang yang mengambil tempat masing-masing untuk istirahat.


“Kamu bisa gantian denganku kalau sudah capek. Jangan sampai kamu yang jadi pasien berikutnya.” Ujar Fang Fang yang sudah berdiri di samping Stevan.


Stevan tersenyum mendengar perhatian Fang Fang yang tersamarkan lewat kata sindiran. “Terima kasih, tapi aku kuat menunggu dia bangun. Aku ingin jadi yang pertama ia lihat ketika membuka mata.” Jawab Stevan mantap.


Fang Fang hanya tersenyum tipis, cinta dan perhatian yang sangat menyentuh perasaan. Itulah sebabnya ia tidak ragu ketika Stevan mendatanginya diam-diam di sela syuting untuk meyakinkan agar Fang Fang bersedia menjadi perantaranya dalam mengejar cinta Grace.


“Dan terima kasih atas bantuanmu, aku tidak mungkin bisa mendekatinya tanpa dukunganmu.” Ucap Stevan tulus.


Fang Fang lagi-lagi tersenyum, ia meraa sudah melakukan hal yang tepat untuk berbakti pada nonanya. “Jangan pernah berpikir untuk menyakitinya, kamu akan babak belur karena tinjuku.” Ancam Fang Fang serius.


Stevan mengangguk tegas sebagai jawabannya tanpa mengalihkan pandangan dari Grace. Fang Fang pun berjalan meninggalkan mereka berdua, memberi sedikit ruang pribadi pada dua orang itu meskipun harus berbagi dalam satu tempat tanpa sekat.


***


Suasana malam yang seharusnya hangat dan romantis bagi Haris dan Xin Er. Setelah sekian lama hidup terpisah, malam ini mereka dapat kembali rebahan di ranjang yang sama. Xin Er menyadari fisiknya yang tampak renta, sedangkan suaminya masih cukup kencang untuk ukuran pria berusia senja. Pasangan tua itu hanya saling menatap dalam posisi tiduran dengan tangan yang saling berpegangan.


“Kamu yakin akan kembali secepat itu?” Tanya Xin Er dengan ragu. Ia berharap suaminya merubah keputusan dan tidak kembali ke Jakarta beberapa jam lagi. Padahal mereka direncanakan menghabiskan waktu bersama kisaran empat malam, yang terjadi justru hanya beberapa jam waktu yang tersisa untuk mencurahkan rasa rindu.


Xin Er menghela napas, cukup berat cobaan hidup yang mereka rasakan sejak muda hingga di hari tua pun belum bisa sepenuhnya menikmati hidup. “Baik, aku berjanji. Tapi kamu juga harus berjanji padaku, kelak harus kembali dengan selamat. Kamu tidak boleh mati dalam tugas ini, kita harus hidup bersama lagi.” Tegas Xin Er.


Haris sedikit ragu dan canggung, janji yang diminta istrinya terdengar berat untuk diucapkan. Namun tatapan Xin Er yang penuh harap itu mendesaknya untuk melontarkan jawaban manis sesuai yang ingin didengar wanitanya itu. “Baiklah, istriku. Aku berjanji akan tetap hidup dan menemanimu tua bersama.”


Xin Er tersenyum puas memamerkan sederet giginya yang mulai tak utuh karena faktor usia. “Langit dan bumi sebagai saksi, suamiku... Wei Ming Fung akan kembali padaku dalam keadaan hidup dan selamat. Aku akan


menunggunya sampai kapanpun, jika harus mati biarlah aku mati bersamanya.” Ikrar Xin Er dengan mimik serius, ia mengangkat tangan kanannya saat mengucap sumpah.


Sumpah baru yang dibuat Xin Er itu menggetarkan hati Haris, ia bukan tipe pria yang suka ingkar janji, terlebih pada orang yang sungguh berarti baginya. Hanya saja, manusia tak akan pernah bisa melawan kehendak takdir. Haris hanya berusaha semampunya, untuk terus hidup dan selamat dari pertempuran yang tak sanggup ia prediksi hasilnya. Ia meraih Xin Er dan mendekapnya dalam pelukan hangat. Biarlah tindakan nyata itu mewakili jawaban dan


isi hatinya. Xin Er pun tak pernah meragukan betapa besar cinta suaminya itu kepadanya.


Dering ponsel Haris membuyarkan kehangatan yang baru dirasakan bersama Xin Er. Haris dengan sigap beranjak dari posisi tidur lalu menatap Xin Er untuk meminta ijin. “Tidak banyak yang tahu nomorku, ini pasti nona Yue Hwa. Di malam selarut ini, hanya dia yang bisa menghubungiku.”


“Angkatlah, ini pasti penting.” Ujar Xin Er lembut.


Haris mengangguk mantap, ponsel di atas meja pun diraihnya. Benar dugaannya, Weini lah yang menelpon. Setelah puluhan kali telpon dari Haris yang mencoba terhubung dengannya karena khawatir, akhirnya gadis itu menghubunginya.


“Weini, kamu baik-baik saja?” Tanya Haris khawatir.


Suara Weini di seberang terdengar serak dan berat, “Ayah, aku nggak baik-baik. Tapi jangan cemas, aku bisa atasi sendiri. Hari ini banyak kejadian di luar perkiraan, maaf aku tak sengaja mengabaikan panggilanmu.”


“Bagaimana aku bisa tenang, Jun juga mencemaskanmu. Dua jam lagi kami akan terbang kembali ke Jakarta. Kamu masih kuat menungguku pulang? Kondisimu seperti apa sekarang? Apa Dina bersamamu? Jangan sendirian di


saat begini.” Haris bertubi-tubi bicara saking cemasnya.


“Ayah, aku udah baikan. Serius, aku sudah melewati masa kritis. Jangan cemaskan aku, setelah aku tidur dan bangun, aku jamin tubuhku kembali pulih. Ayah di sana saja, nikmati lagi liburanmu beberapa hari. Tapi maaf ayah, aku tidak bisa menyusul ke sana” Ujar Weini dengan suara parau, tenaganya nyaris terkuras semua. Dan ia menguatkan diri untuk menelpon demi memberitahu Haris bahwa ia tidak akan ke sana sesuai jadwal penerbangannya besok. Grace bersusah payah mencegahnya ke sana, Weini perlu menghargai pengorbanan gadis itu dengan mengindahkan permintaannya.


“Tidak perlu datang, kami akan kembali segera. Weini kamu harus bertahan ….” Ujar Haris dengan segenap keseriusannya.


***