
Tiada pesta yang tidak usai, semeriah dan semewah apapun hajatan itu digelar tentu terbatas oleh waktu yang menyadarkan kenyataan tetap tidak terelakkan. Pasca menghadiri resepsi pernikahan Grace dan Stevan, tidak ada alasan lagi bagi Weini dan keluarganya untuk menunda kepulangan mereka. Bagaimanapun kurang baik meninggalkan kediaman mereka kosong selama berhari-hari, maka Liang Jia meminta Weini untuk pulang bersamanya keesokan harinya. Terkecuali Yue Fang yang meminta ijin menetap lebih lama karena ia belum puas menjelajahi Jakarta.
“Ingat ya Fang, jangan repotin pengawal Lau dan Jun di sini. Mereka juga sibuk kerja loh setiap hari.” Liang Jia kembali mengingatkan putrinya, padahal sudah dua kali ia mengatakan hal yang sama dana rentang waktu yang tidak lama.
Weini dan Yue Fang yang mendengarnya pun hanya tersenyum geli, tidak berani membantah apalagi menertawakan ibu mereka. “Baik ibu.” Jawab Yue Fang lembut.
“Ibu, coba lihat itu... dulu aku sering naik bis dari halte ini buat ke sekolah.” Weini menunjuk ke halte trans Jakarta, menunjukkan pada Liang Jia tempat bersejarahnya pada jaman menderita. Mereka tengah berada di dalam mobil yang dikemudikan Xiao Jun, hendak mengunjungi rumah lama Haris di kawasan Grogol. Hanya Haris, Xiao Jun, Weini, Xin Er, Liang Jia dan Yue Fang yang ikut. Yang lainnya memilih beristirahat, dan Dina diminta menemani Li An di apartemen. Wen Ting tidak mengijinkannya naik mobil karena takut kelelahan. Terlebih Weini dan yang lainnya hanya sebentar saja mampir sebelum pulang menggunakan jet masing-masing. Li An dan Wen Ting akan langsung terbang ke Beijing, sedangan yang lainnya kembali ke Hongkong.
Liang Jia menatap antusias, begitupula dengan Yue Fang. “Wah, kamu keren banget Hwa, bisa jalan sendirian dan naik angkutan umum. Aku ingin mencobanya juga nanti.” Gumam Yue Fang.
“Tidak boleh. Atau kamu langsung ikut ibu pulang.” Liang Jia mendelik ke arah Yue Fang, menyerukan larangannya saking merasa cemas melihat anak gadisnya hendak bertindak sendirian.
Yue Fang langsung manyun, “Baiklah ibu.” Lebih baik menurut daripada ijin tinggalnya dicabut oleh ibunya.
Xiao Jun dan Haris yang duduk di depan hanya senyum saja, enggan menanggapi keseruan para wanita di belakang. Xiao Jun sendiri akan ikut pulang ke Hongkong sampai urusan pernikahannya selesai. Sama halnya dengan Weini, ia pun akan menjalani masa pingit hingga hari H pernikahan mereka. Mungkin setelah ini, ia akan sangat merindukan Weini yang belum boleh ia temui. Namun jika teringat bahwa hanya tinggal satu langkah lagi, mereka akan resmi menjadi suami istri, di saat itulah hati Xiao Jun terasa berseri-seri.
Mobil yang Xiao Jun kemudikan akhirnya membawa mereka sampai di halama rumah Haris. Lingkungan yang sudah diamankan oleh Lau, membuat mereka merasa nyaman karena dijaga ketat oleh keamanan dan tidak diusik siapapun. Haris menoleh ke belakang, mendapati penumpang di sana tengah melihat antusias pada rumah sederhana yang telah ia tinggalkan.
“Nyonya, Xin Er, nona Yue Fang, inilah rumah yang kami tempati. Lumayan kecil tapi cukup hangat, di sinilah nona Yue Hwa dibesarkan.” Ujar Haris lembut.
Setelah memperkenalkan rumah itu, kini mereka semua turun untuk melihat secara langsung. Liang Jia dan Xin Er berdiri bersamaan, menatapi bangunan rumah itu dari luar. Mereka mempunyai penilaian masing-masing dan belum sanggup mengutarakan maksud hatinya.
“Mari, kita lihat di dalamnya.” Ajak Xiao Jun yang sudah membuka pintu yang terkunci itu. Langkahnya pun disusul oleh Weini dan Yue Fang yang berjalan beriringan. Kakak Weini itu terlihat takjub dengan kesederhanaan tampilan rumah itu.
Pintu terbuka, memperdengarkan suara engsel yang mulai karatan dan belum diganti oleh penjaga rumahnya. “Wah, aku harus mengingatkan paman Lau untuk mengabari pengurus rumah ini. Pastikan semua perabot dan kondisi rumah harus terawat.” Gumam Xiao Jun yang merasa luput dari satu hal kecil itu.
Ruang tamu yang minimalis, bersih, rapi dan suasana yang hangat seperti yang dikatakan Haris. Kini telah dibuktikan oleh mereka yang baru menginjakkan kaki pertama kali di ruangan ini. Liang Jia masih menyimpan kata-katanya sampai ia melihat sebuah benda mencolok di sudut ruangan. “Hwa, kamu juga punya alat musik itu?”
Weini menghampiri ibunya seraya menjawab, “Iya bu, aku baru memilikinya setengah tahun lalu. Ketika ada kesempatan untuk belajar dan ketika aku sangat merindukanmu. Aku memainkannya.” Jawab Weini polos.
“Wei, terima kasih atas semua jasamu membesarkan Yue Hwa. Dengan cara apapun rasanya aku tidak akan bisa membalas budi baikmu. Setelah melihat keadaan tempat ini, aku yakin tidak mudah bagi kalian untuk melewati kehidupan dalam kurun waktu yang lama. Terima kasih sudah mendidik putriku menjadi gadis yang tangguh dan masih mengerti budi pekerti.” Liang Jia membungkuk hormat pada Haris untuk pertama kalinya. Penghormatan yang tulus ia berikan itu mendapatkan balasan serupa dari Haris dan Xin Er yang membungkuk bersama.
“Nyonya jangan terlalu dipikirkan, tidak ada hutang budi yang perlu dilunaskan. Kita tidak pernah tahu bagaimana jodoh manusia, nyatanya putraku dan tuan putri berjodoh. Jadi anggap saja selama ini saya menjaga jodoh putraku dengan baik. Betulkan Hwa? Jun?” ujar Haris yang akhirnya bisa membuat semuanya tertawa bersama.
Liang Jia pun ikut menarik seulas senyuman, “Bagaimanapun tidak berlebihan jika aku mengucapkan terima kasih kepada kalian. Rasanya sangat beruntung karena putra putri kita berjodoh. Li Jun tetaplah putraku, ya... anggap saja aku juga sudah melihat dan mengenal baik calon menantuku di masa depan sejak dia kecil. Kita sama-sama beruntung Wei, Xin Er.” Ungkap Liang Jia kemudian ikut tertawa lepas bersama yang lainnya.
Yue Fang memilih berkeliling di dalam rumah, ia sampai di depan pintu kamar Weini kemudian bertanya dengan antusias. “Ini kamar siapa?”
Weini yang melihat kakaknya berdiri di muka pintu segera menyambanginya, “Ah itu kamarku kak. Kakak mau lihat ke dalam?”
Yue Fang mengangguk, kemudian Weini mengajaknya masuk ke dalam kamarnya. Masih sama seperti dulu, bahkan masih utuh pakaian yang disimpan dalam lemari bajunya. “Wah, kamarmu nyaman juga. Aku suka.” Seru Yue Fang yang sudah selonjoran di atas kasur.
Weini yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala saja. “Oya kak, ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan kepadamu.” Seru Weini.
Yue Fang menegakkan tubuhnya, menatap antusias pada adiknya. “Apa itu Hwa?”
Weini tidak menjawab dengan kata-kata, namun dengan memperlihatkan sihir di hadapan kakaknya yang sontak terpukau melihat cahaya keemasan yang menerangi setiap gerakan tangan Weini. “Wah... ini yang namanya magic ya Hwa?” tanya Yue Fang terkagum-kagum.
Weini mengangguk, ia baru saja membuka tempat penyimpanan di dimensi gaib untuk menunjukkan salah satu benda berharganya. “Iya kak, aku menyimpan barang berhargaku di dalam sini. Lihat! Ini foto yang aku print dari internet, ketika kak Yue Yan menikah.” Weini menyodorkan selembar foto yang sudah ia laminating dan bingkai dengan bagus. Foto yang ia klaim sebagai foto keluarga yang terlihat sangat memaksakan kehendaknya.
Yue Fang ingin tertawa tapi tersendat, air matanya malah menetes tanpa ia sadari. Untung saja tidak mengenai kaca foto dan bisa ia seka secepatnya. Di satu sisi, tindakan nekad Weini terlihat lucu karena ia sangat nekad mengedit foto asli dengan menempelkan sosok dirinya di tengah keluarga yang tengah berkumpul dan memang minus dirinya. Di sisi lain, Yue Fang bisa merasakan betapa sedihnya Weini saat itu, ingin berada bersama keluarga yang merayakan hari bahagia namun ia malah bersembunyi dan menatap keluarganya tanpa berani mengatakan di mana keberadaannya.
“Hwa....” Yue Fang memeluk Weini spontan. Pelukan yang sangat mengharukan karena Weini pun bisa membaca isi hati kakaknya. Weini hanya ingin menunjukkan betapa ia menyayangi keluarganya, berharap dapat berkumpul dan merasa sangat bersyukur karena bisa bersama lagi. Itulah sebabnya ia akan mengambil lagi foto keluarga yang ia buat itu sebagi kenang-kenangan bahwa ia pernah berfoto dengan kelurganya secara lengkap, ada Li San di sana. Meskipun hanya editan, tapi itu sudah sangat membahagiakan hatinya.
❤️❤️❤️