
Sesampainya di rumah sakit, Weini lebih mempercepat langkahnya dan memimpin jalan bersama supir pribadi Li San. Perasaan serta pikiran buruknya lenyap begitu ia menginjakkan kaki ke sini. Semakin dekat jarak Weini dan keluarganya, terasa ikatan batin yang menariknya agar cepat sampai di hadapan mereka. Xiao Jun mengejar langkah Weini agar bisa menyeimbangkan kecepatannya. Sementara Haris dan Xin Er hanya mengekori dari belakang dengan tenang, membiarkan anak muda yang mengambil peranan penting saat ini.
Supir itu menunjukkan ruangan di mana Li San dirawat, setelah itu membungkuk hormat lalu menyingkir sejenak lantaran tugasnya sudah selesai. Weini menatap sejenak pintu yang tertutup itu, tangannya diletakkan di depan dada, merasakan debaran kencang di dalam sana. Xiao jun sudah di sampingnya, menatap serius ke arahnya dengan cemas.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Xiao Jun dengan napas sedikit tersengal habis berlarian.
Weini menggeleng mantap, “Tidak. Aku harus masuk sekarang!” Ujarnya mantap kemudian tangannya meraih gagang pintu.
Pintu perlahan terbuka, memperdengarkan derit yang otmatis menyita perhatian orang di dalam yang mendengarnya. Pandangan Weini tertuju di depan, dalam sekilas bayangan ia melihat beberapa orang di sana dalam berbagai posisi, tetapi matanya hanya terfokus pada satu sosok yang paling ingin ia lihat untuk yang pertama, dialah Liang Jia – ibunya.
Mata Weini terasa panas, air matanya mendesak keluar lebih cepat daripada sepotong kata yang ingin ia teriakkan. “Ibuuu....” Suara Weini memanggil lirih hingga terdengar sedikit serak.
Wanita tua yang dipanggil itu sejak tadi sudah melihat sosok yang sangat ia rindukan, matanya berkaca-kaca lagi setelah menangis karena terbawa suasana sedih anak-anaknya yang merengek di hadapan Li San. Liang Jia tak berpikir panjang lagi, ia segera berlari mendekati Weini yang sudah menjulurkan tangan untuk menyambutnya ke
dalam pelukan.
“Anakku... Yue Hwa....” Lirih Liang Jia yang akhirnya mendarat dalam pelukan erat. Ia meraba pundak Weini, punggung kurus putrinya serta membelai lembut rambutnya. Semua terasa nyata, ini bukanlah mimpi lagi, Liang Jia telah menemukan kembali putrinya yang hilang.
Perhatian seluruh orang yang ada dalam ruangan itu tertuju pada ibu dan anak yang masih berpelukan penuh haru. Ke empat kakak Weini pun menatap takjub pada adik bungsu mereka yang terakhr kali terlihat saat masih kecil. Ke empat kakak perempuan yang tumbuh besar bersama namun tak pernah tahu bagaimana rupa adik bungsunya
lagi. Waktu yang terlampau lama memisahkan mereka pun melenyapkan ingatan tentang wajah Yue Hwa yang sebenarnya.
“Dia sangat cantik.” Gumam Yue Yan melontarkan pujian tulus pada adiknya. Yue Fang yang ada di sebelahnya ikut mengangguk setuju, mereka saling bertatapan kemudian sepakat untuk mendekati ibu dan adik bungsu mereka.
Yue Xin dan Yue Xiao saling berpandangan, semasa kecil mereka memang kurang dekat dengan Weini. Berbeda
dengan dua saudara yang lainnya yang lebih mengasihi Weini. Nyatanya mereka berdua pun mengikuti jejak Yue Yan dan Yue Fang untuk mendekati ibu dan adik bungsu mereka.
“Adik... Aku senang akhirnya kita bisa bertemu lagi.” Lirih Yue Yan membuka pembicaraan.
Liang Jia melonggarkan pelukannya, begitu pula dengan Weini yang kini menatap lekat pada ke empat kakaknya secara bergantian. Pelukan ibunya terlepas, kini Weini berdiri menghadap orang-orang terdekatnya yang telah bertumbuh dewasa. Weini sampai tak mengenali lagi kakak-kakaknya. Walaupun pernah melihat dalam
tayangan internet tapi tidak sejelas saat bertatap muka.
“Yue Hwa memberi hormat pada ibu dan ke empat kakak.” Lirih Weini lalu memberikan penghormatannya
secara formal. Ia tetap bisa menunjukkan kharismanya sebagai seorang nona dari kalangan terhormat.
Yue Yan mengabaikan sesi formal itu, ia segera menghambur memeluk Weini. Begitupula dengan Yue Fang
yang ikut memeluk dari samping. Yue Xin dan Yue Xiao yang melihat itupun langsung mengikuti jejak dua saudaranya. Biarlah kenangan buruk yang pernah ada terlupakan detik ini juga, mereka masih punya kesempatan menciptakan kenangan manis saat ini. Ketika takdir kembali mempertemukan lima bersaudara itu dalam keadaan yang berbeda, telah tumbuh dewasa dan memiliki garis kehidupan masing-masing. Dan setelah sang putri yang terbuang itu bisa membuktikan bahwa ia masih hidup dan sanggup bertahan dari penderitaannya, rasa takjub dan rasa sayang pun muncul dari hati Yue Xin dan Yue Xiao yang sebelumnya tak menyukai Weini.
Weini mengangguk pelan, ia kehabisan kata-kata untuk mengeluarkan isi hatinya. Bibirnya terasa lebih tebal karena terlalu banyak menangis, wajahnya pun tak perlu dijelaskan lagi bagaimana sembabnya.
“Adik... Aku merindukanmu, kamu tumbuh dengan baik. Syukurlah....” Timpal Yue Fang yang ikut menangis pula.
Weini melonggarkan pelukannya, ia ingin menatap lekat wajah kakak-kakaknya. “Kakak....” Lirih Weini sambil menatap satu persatu saudarinya secara bergantian.
Yue Xin tanpa berkata apapun langsung menarik Weini dalam pelukannya. Sejenak hanya dengan pelukan
dan tanpa kata pengantar apapun, hingga ia pun ikut bersuara. “Kamu tumbuh dewasa dengan sangat cantik, kamu benar-benar cantik Hwa. Secantik namamu, sebaik arti namamu.” Lirih Yue Xin.
“Kakak benar, kamu paling cantik di antara kita berlima.” Ujar Yue Xiao yang blak-bakan namun jujur. Ia ikut tersenyum haru melihat Yue Xin memeluk erat Weini, namun ia memilih berdiri di tempatnya dan tidak ikut merasakan kehangatan pelukan pelepas rindu saudaranya.
“Terima kasih... Kalian masih mengingatku. Terima kasih kalian masih menyambutku dengan hangat. Sudah
lama aku merindukan kalian, aku ingin bertemu, mungkin jauh dari yang kalian rasakan, aku memendamnya bertahun-tahun. Ibu... kakak... kita jangan terpisahkan lagi, ku mohon.” Ujar Weini yang mulai tegar dan menyudahi
tangisannya.
Liang Jia mengangguk pelan, senyumnya tak lepas sejak tadi ke arah Weini. “Apa yang sudah dipersatukan kembali, tak boleh terpisahkan lagi. Mulai hari ini kita akan berkumpul lagi, Hwa. Inilah tempatmu, kamu semestinya berada di sini.”
“Terima kasih, ibu....” Ucap Weini lalu menundukkan kepala penuh hormat.
Perhatian Weini berpindah fokus, kini ia menatap pada pria yang terbaring diam di depan sana. Para saudarinya sadar bahwa Weini hendak mendekati ayah mereka, spontan mereka membuka jalan untuk bubar dari kerumunan yang mereka ciptakan. Liang Jia menuntun Weini mendekati Li San, gadis itu terus berjalan tanpa mengedipkan
mata.
Li San masih bergeming dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak, Weini menatap banyak alat yang menopang hidup ayahnya, seolah hidup mati pria itu tergantung dari alat yang dipajang di sekujur tubuhnya. Weini menekuk lututnya, bersujud tepat di samping Li San. Tatapannya sendu melihati pria yang seingatnya masih muda dan
perkasa, kini telah menua dan terlihat lemah.
“Ayah.... Yue Hwa memberi hormat pada ayah.” Desis Weini, sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak menangis.
Haris dan Xin Er sudah bergabung dalam kerumunan, mereka berdiri agak jauh untuk menyaksikan Weini bertemu ayahnya. Konflik masa lalu yang harusnya bisa diselesaikan saat ini, andai Li San terbangun dan melihat betapa tulus putrinya memberi maaf padanya. Tiada dendam atas tindakan keji yang dilakukan seorang ayah pada darah
dagingnya. Weini mengampuninya, hanya dengan melihat penderitaan ayahnya sekarang, segala dendam yang sempat ia pendam di masa lalu pun terhapuskan.
***