OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 115 TAK SEMULUS JALAN TOL



Xin Er dan Liang Jia baru saja kembali ke Hongkong setelah menemui dokter yang rutin memeriksa Xin Er tiga bulan sekali. Kesehatan Xin Er beransur pulih, batuk membandelnya pun tidak lagi mengganggu aktivitas. Selain


kesehatan yang membaik, kebahagiaan Xin Er bersumber dari fakta yang ia ketahui bahwa suaminya masih hidup dan berjanji akan segera berkumpul lagi dengannya.


“Nyonya, saya sangat berterima kasih atas kebaikan nyonya. Kelak saya akan selalu mengabdi pada anda.” Xin Er mengutarakan perasaannya, jika bukan karena bantuan Liang Jia maka ia tidak akan bisa mendapatkan kebebasan sejenak kemarin.


Belum sempat membalas rasa terima kasih Xin Er, seorang pengawal menghadap mereka. “Nyonya, anda dan pelayan ini diminta menghadap tuan besar sekarang juga.”


Liang Jia dan Xin Er saling bertatapan, firasat buruk mulai membuat bulu kuduk mereka berdiri. Apa mereka ketahuan oleh Li San?


***


Di balik kebahagiaan itu, ada satu pihak di kediaman Li yang tengah murka. Puluhan lembar foto di atas mejanya serta rekaman video yang dikirim Chen Kho nyaris memutuskan urat syarafnya. Kemarahannya sedang membuncah, ia merasa telah dibodohi sekian lama.


“Sejak kapan kamu memata-matai Xiao Jun?” tanya Li San sembari mencoba mengontrol emosi. Ia marah besar namun berusaha tidak tersulut lebih dalam. Bagaimanapun keponakannya juga pantas dicurigai, ada konspirasi apa di belakangnya.


“Baru sepekan ini paman, saya merasa dia sangat mencurigakan dan paman terlalu memberinya kebebasan. Sekarang paman baru percaya kan kalau dia tidak sebaik yang paman kira. Apa ini sebuah kebetulan dia berada di Guangzhou bersamaan dengan tante dan pelayannya ke sana? walaupun tidak bertemu, tapi dia membawa kekasihnya juga. Hmmm… apa putra mahkota keluarga Li bisa bebas menentukan jodohnya?” Chen Kho mulai menghasut Li San. Sejak mendapatkan petunjuk dari rumah Li An, ia tidak berhenti mencurigai Xiao Jun.


Dugaannya ternyata tidak hanya isapan jempol, tindak tanduk Xiao Jun di luar sana memang sangat mencurigakan.


Li San mengambil selembar foto Xiao Jun yang sedang makan malam dengan Weini, saking geramnya foto itu lusuh diremas. Kedua tangan Li San gemetaran menahan marah. “Kurang ajar! Pengawal, panggil nyonya dan


pelayannya ke sini sekarang!”


Chen Kho yang paling antusias dan senang menantikan kelanjutan perseteruan suami istri sesaat lagi. Kelemahan Li San yang sangat mudah terpancing emosi memang mudah dimanfaatkan. Hanya dengan menjentikkan sumbu


api, amarah akan meludeskannya.


Liang Jia dan Xin Er masuk ke dalam aula utama, di mana Li San duduk layaknya seorang raja dan menatap mereka seakan hendak mengeksekusi mati. Liang Jia melirik ke Chen Kho sekilas, ia curiga ada peran besar dari pria licik itu. Chen Kho sadar dilirik sinis oleh Liang Jia, ia menebar senyum manis seolah malaikat tak berdosa.


“Suamiku, aku baru saja mau menemuimu tapi kau sudah memanggilku.” Liang Jia mencoba bersikap baik, walaupun ia merasa atmosfir dalam ruangan ini terasa menakutkan. Li San pasti akan marah besar sesaat lagi.


“Hmmm… benarkah kau mau menemuiku? Apa mau berbohong lagi bersama pembantumu?” cecar Li San.


Liang Jia menatap suaminya, mencoba masih bersikap tenang menutupi rasa takut. “Ah… aku tidak mengerti maksudmu. Apa ada yang menghasutmu dan memfitnahku?” Ia sengaja menyindir Chen Kho, pria itu pasti ada


andilnya jika tidak untuk apa ia duduk dengan santai melihat ia dimarahi.


Kepura-puraan Liang Jia semakin membuat Li San muak, puluhan foto di atas mejanya langsung diambil dan dilemparkan ke Liang Jia dan Xin Er. “Kau bisa jelaskan apa ini fitnah? Apa yang kalian rencanakan di belakangku?”


Puluhan foto Xiao Jun dan Weini berhamburan di lantai, beberapa foto itu bahkan diambil kemarin malam saat mereka makan di Guangzhou. Xin Er langsung berlutut memohon ampun, ia tidak mengira rencana yang begitu rahasia itu ketahuan oleh Li San. Liang Jia memunguti foto itu dan melihat potret Weini tanpa berkedip.


Jadi ini kekasih Xiao Jun? Kenapa aku merasa kenal dan sedih melihatnya? Batin Liang Jia, seketika ia lupa tengah menghadapi masalah besar. Sebuah foto dengan potret Weini yang tersenyum sangat menarik perhatiannya, ia merasa perlu menyimpan foto itu.


“Tuan, mohon belas kasih tuan. Xiao Jun… dia hanya pacaran…” Xin Er belum menyelesaikan pembicaraannya namun sudah disanggah Liang Jia.


“Suamiku, apa ada yang aneh dengan foto-foto ini? Kenapa kau menuduh kami padahal tidak satupun foto kami bersama mereka. Apa kau segitu tidak percaya kepadaku sampai menyuruh mata-mata membuntuti kami?” ujar Liang Jia berusaha kalem dan tenang.


Li San terdiam, ia Nampak berpikir. Memang benar tidak ada satupun foto yang menunjukkan kebersamaan Xiao Jun dan Xin Er, namun feeling Li San merasa ada kebohongan di belakangnya. “Sebagai nyonya besar, kau


pasti tahu bahwa perjodohan keturunan Li sudah diatur. Xiao Jun di belakangku berani berhubungan dengan gadis luar, dia hanya kuijinkan bisnis di luar negri, bukan mencari pasangan!” bentak Li San dengan keras.


Xin Er menangis, ia tidak mengira Li San akan mengetahui secepat itu. Akan jadi masalah besar jika Xiao Jun sampai dipaksa pulang atau Li San mengirim seseorang untuk menghabisi Wei dan Yue Hwa yang tidak ia kenali.


“Apapun alasannya, tindakan dia tidak dibenarkan. Dia menyalahgunakan kepercayaanku, kalaupun dia sudah memikirkan cinta, aku akan mencarikan yang layak jadi pasangannya. Dia tidak berhak memilih.” Cecar Li San


tegas.


Chen Kho mengulum senyuman, semakin sengit pertengkaran semakin membuatnya senang.


“Kapan kau berhenti membuatnya sebagai robotmu. Dia punya perasaan, apa pernah kau pikirkan itu! Kau selalu memaksakan kehendakmu, dia berhak memilih!” Liang Jia kehilangan kendali, ia tidak takut akibat dari


perlawanannya. Li San tidak mungkin berani membunuhnya.


Li San mendorong mejanya hingga tumbang, ia betul-betul marah atas sifat membangkang istrinya. “Diam! Aku perlu memberimu pelajaran agar tidak semakin lancang. Pengawal, kurung pelayan itu dan siapapun tidak boleh menjenguknya!”


Xin Er diseret oleh dua orang pengawal, ia tidak berani melawan dan terus berteriak “Tuan, mohon ampuni Xiao Jun. Ampuni Xiao Jun…”


Liang Jia menangis namun tidak bisa berbuat banyak, sedikit saja ia salah bertindak maka Li San akan semakin murka. Ia takut Xin Er terbunuh jika ia masih memancing emosi suaminya.


“Semakin tua kau semakin lancang, renungkan kesalahanmu. Pengawal, bawa nyonya kembali ke kamarnya dan jangan biarkan ia bertemu siapapun tanpa seijinku.” Bentak Li San, kali ini Liang Jia pun kena imbasnya.


Setelah mereka berlalu, Chen Kho kembali menghadap Li San secara dekat. Ia perlu melanjutkan misi berikutnya. “Lalu apa yang akan paman lakukan pada Xiao Jun?”


Li San terdiam, ia tidak sanggup menghukum Xiao Jun. Sejak pertama kali melihatnya, ia sangat mengasihi anak Wei itu. “Aku akan mencarikan jodoh untuk dia.” Ya, jalan itulah yang terbaik bagi Xiao Jun versi Li San. Ia memang salah, tidak menyadari usia Xiao Jun sudah memasuki masa akhir puber.


“Itu keputusan yang tepat, seorang putra pewaris klan Li tidak bisa sembarangan menjalin hubungan dengan orang, apalagi yang statusnya biasa.” Chen Kho mulai menyatakan pendapatnya tanpa diminta oleh Li San.


“Ya, aku akan mencari profil keluarga berpengaruh di sini, siapa tahu ada anak gadis yang sesuai untuknya.” Kilah Li San. Emosinya sudah stabil, ia puas sudah memberi pelajaran pada dua orang yang tidak bisa diberi hati itu.


“Paman, tanpa bermaksud lancang, aku hanya mau ingatkan kalau kita tidak bisa mengabaikan latar belakang Xiao Jun. walaupun paman mengangkat dia sebagai anak, tapi itu tidak menjamin kesetiaan dan kepatuhannya pada paman. Buktinya, dia berani main di belakang paman. Apa jadinya kalau semua kekuasaan sudah di tangannya, aku khawatir ia akan berbalik menyerang paman.”


Li San mengernyitkan dahi, walaupun terkesan sangat mencampuri urusannya namun yang Chen Kho sampaikan cukup masuk akal. Ia tidak bisa menebak isi hati Xiao Jun, jika suatu saat ia memberinya tahta dan harta,


siapa yang bisa menjamin Xiao Jun akan tetap menghormatinya?


“Jadi menurutmu aku harus bagaimana?” Li San akhirnya bertanya pada Chen Kho. Kesempatan ini lah yang Chen Kho nantikan, ia sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatur langkah selanjutnya.


“Dia bukan keturunan murni klan Li, tapi ikat dia dengan pernikahan dari klan Li murni maka dia pasti layak menjadi penerusmu.” Ujar Chen Kho santai.


Li San berpikir keras, menjadikan Xiao Jun sebagai klan Li murni? Layak jadi penerus? “Maksudmu siapa? Dia harus dijodohkan dengan siapa?”


Chen Kho tertawa, ia menggeleng sejenak sebelum menjawab. “Paman lupa kalau aku punya seorang adik perempuan? Hanya dia yang cocok dan bisa membuat Xiao Jun layak jadi penerus klan Li. Jika mereka menikah, Xiao Jun tidak akan diragukan lagi.”


“Seorang gadis klan Li murni dengan putra angkatku. Yaa… ini usul yang sempurna. Siapa nama adikmu, ah aku agak susah mengingat namanya.” Li San mengernyit, nama gadis itu terlalu kebaratan hingga susah dilafalkan


oleh lidah timurnya.


“Grace Li.” Seru Chen Kho. Ia mengawali kemenangan di babak awal, selanjutnya ia pastikan hidup Xiao Jun tidak akan semulus jalan tol.


Kita lihat kali ini siapa yang akan di bawah kendali, aku atau kamu Wei Li Jun!


***