
H-1 resepsi pernikahan Li An.
Xin Er sedang mencoba baju baru yang diberikan Li An, sebuah blouse putih motik bunga cetak yang dipadankan dengan skinny jeans berwarna coklat tua. Cukup lama wanita itu berdiri menatap pantulan dirinya di cermin. Kepercayaan dirinya mulai ciut, Xin Er tak yakin pantulan dirinya yang mengenakan model pakaian aneh itu terlihat seperti dirinya atau justru seperti orang lain. Li An menghampirinya sembari tersenyum, ia menopangkan dagunya pada pundak ibunya seraya bermanja.
“Ibu tampak sangat cantik dan kelihatan lebih muda. Ayah pasti terkejut melihat cantiknya ibu yang awet muda.” Puji Li An, tidak sekedar pujian namun itulah kenyataan yang ia lihat.
Xin Er tersenyum malu, “Kamu pintar memuji, tapi ibu merasa tidak cocok dengan pakaian ini. Sebaiknya ibu ganti dengan baju bawaanku saja ya, lebih nyaman dipakai.”
Li An menggelengkan kepalanya lalu tersenyum, ia menatap ibunya dari pantulan kaca. “Ini cocok banget sama ibu, percayalah. Li An tidak mungkin menyarankan ibu memakai baju yang memalukan. Ibu hanya belum terbiasa, ayolah … Banyak orang seumuran ibu di sini yang gaya busananya seperti ini.” Li An prihatin melihat penampilan ibunya yang condong ketinggalan zaman. Xin Er selalu setia mengenakan baju cheongsam dengan kancing lurus dan
banyak yang semakin membuatnya terkesan tua. Pilihan busana yang ia berikan pada ibunya itu lebih terlihat menarik dan modern, hanya saja Xin Er yang masih kaku dengan perubahan baru itu.
Maksud Li An memang baik, ketika ia sangat berkecukupan sekarang dan punya banyak kesempatan belajar makeup, fashion dan segala hal yang ia inginkan, Wen Ting selalu mendukungnya. Suaminya itu bahkan menfasilitasi apapun yang Li An inginkan, termasuk mengijinkan Xin Er tinggal di rumah mereka sampai kapanpun Xin Er itu mau.
“Kamu yakin ini tidak memalukan kupakai?” Xin Er memastikan ulang, ia menoleh menatap putrinya yang berdiri di belakang.
Li An mengangguk mantap, “Percayalah padaku, ibu. Baiklah, sekarang ibu sudah siap kan? Kita harus ke bandara menjemput kak Li Mei.”
Xin Er tersenyum lebar, kepercayaan dirinya terkumpul sudah walaupun masih agak canggung dengan celana yang menurutnya terlalu menampilkan lekuk tubuh. Ini kali pertama ia mengenakan celana panjang, selama ini hanya rok panjang lebar yang ia kenakan.
“Bagaimana dengan ayah dan adikmu? Mereka tidak perlu dijemput?” Tanya Xin Er heran.
Li An tersenyum nakal, matanya mengerling menggoda Xin Er. “Ibu sudah tidak sabar mau ketemu ayah kan? He he ….”
Xin Er malu-malu menepis tebakan Li An, padahal memang benar namun ia enggan terang-terangan mengaku. “Ya, biar sekalian jemput mereka daripada bolak-balik ke bandara.”
“Tenang saja, ibu … Mereka pakai jet pribadi ke sini. Nanti mereka turun di atas rumah ini, jadi tidak perlu repot menjemput mereka. Tinggal tunggu saja kedatangan mereka nanti kisaran jam satu siang.” Seru Li An.
Xin Er manggut-manggut, “Benar juga, kenapa ibu tidak kepikiran kalau Jun punya jet pribadi. Ah, syukurlah kalau begitu akhirnya keluarga kita akan berkumpul lengkap sesaat lagi. Semua ini berkat usahamu, Li An. Kamu sangat beruntung berjodoh dengan Wen Ting, kehidupanmu berubah total. Kelak semoga kalian selalu bahagia dan tidak akan terpisahkan.”
Li An sangat bahagia mendengar doa ibunya, ia mendekap wanita yang melahirkannya itu seraya membisikkan sebuah ungkapan terima kasih.
***
Di sela syuting yang tinggal beberapa scene terakhir, Weini tampak selalu mencuri kesempatan untuk mengecek ponselnya. Ia begitu bersemangat lantaran Haris memintanya datang dan akan menunggu kedatangannya besok di Beijing. Tiket pesawat pun sudah dibooking oleh Xiao Jun, ia hanya perlu mempersiapkan diri untuk terbang menyusul kekasih dan ayahnya besok.
Ayah, semoga perjalananmu menyenangkan. Sampai jumpa besok.
Weini mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Haris, setelah itu ia membuka chat Xiao Jun lalu mengetikkan pesan yang kurang lebih sama.
Xiao Jun, hati-hati di jalan. Aku titip ayahku ya, maaf merepotkanmu.
Iya, sayang. Wo ai ni.
Weini tak lagi membalas pesan itu, dengan senyuman yang masih merekah, ia menyimpan ponselnya lalu bergegas beranjak dari studio. Dina melihat Weini beranjak dari kursi kemudian segera berdiri menghampiri artis itu.
“Mau ke mana non?” Tanya Dina, kepo.
“Ke toilet, mau bareng kak?” Weini hanya basa-basi menawarkan managernya, namun malah ditanggapi serius oleh Dina. Gadis itu membuntuti langkah Weini dengan girang, satu job telah selesai dengan sempurna meskipun pada awalnya banyak kendala. Yang pasti, Dina sangat optimis film layar lebar perdana Weini akan tembus box office.
Ketika Weini mendorong pintu toilet, terasa ada kekuatan yang menarik dari dalam. Betapa terkejutnya ia saat tahu bahwa Grace yang sedang menarik pintu agar terbuka juga. Kedua gadis itu mematung sejenak di depan pintu keluar yang setengah terbuka, namun Weini lebih dulu bereaksi memberikan senyuman ramah pada Grace. Senyuman yang tidak pernah berubah, sejak awal terlibat satu proyek kerjaan dengan Grace, Weini lah yang pertama menawarkan persahabatan.
Dina menjadi saksi bisu yang melihat reaksi Grace, sayangnya ia tidak bisa melihat raut wajah Weini karena posisinya yang di belakang. Namun yang lebih mengejutkan saat Dina mendapati Grace tersenyum, cukup manis dan bukan seringaian sinis yang biasa gadis itu sunggingkan pada Weini. Omo … Keajaiban telah terjadi, si cantik jutek hari ini bisa tersenyum pada Weini. Seru Dina dalam batin, logat Korea abal-abalannya tercetus gara-gara kecanduan menonton drama Korea baru-baru ini.
Senyuman Weini masih belum hilang, bahkan semakin merekah saat melihat respon Grace yang di luar dugaan. Akhirnya, setelah satu bulan lebih berkutat dengan kerjaan yang sama nyaris setiap hari bertatap muka, Grace mulai membuka hati untuknya. Hanya sebuah balasan senyum saja sudah dianggap kemajuan oleh Weini, meskipun setelah itu Grace tetap berlalu dan mereka tidak berbicara sepatah katapun.
Hingga Grace menghilang dari sana dan Weini masuk ke dalam toilet, barulah Dina berani berkomentar yang sejujurnya. “Non, kayaknya dia mulai baik deh. Udah nggak gimana ngeselin tuh orang, mungkin udah menyerah
ngejar cinta Xiao Jun.”
Weini mematut diri di depan cermin, ia melirik Dina yang berdiri di sebelahnya lewat cermin. “Entahlah, tapi bagus kan dia sudah mulai terbuka pada kita. Punya musuh itu nggak enak kak, ya walaupun bukan kita yang mau.”
Dina mengangguk setuju, “Iya non, enakan berteman syukur-syukur bisa akrab. Tapi jangan mau dimadu ya non. Non tetap jadi istri satu-satunya milik Xiao Jun.” Celoteh Dina.
Weini meliriknya sungguhan, tanpa bantuan cermin. “Apa sih kak, ngomongnya ngelantur deh.” Ungkap Weini lalu tertawa bersama Dina.
***
Grace berjalan dengan tatapan kosong menuju studio, hatinya terasa lega bisa membalas senyuman Weini. Hanya kelegaan saja, tidak ada rasa yang lebih dari itu. Tidak ada salahnya memberikan kesan terakhir yang baik untuk seseorang yang pernah ia benci, lebih tepatnya ia cemburui. Ia masih harus menyelesaikan beberapa hal lagi, agar hatinya plong dan pergi tanpa beban apapun. Grace akan mengikhlaskan segalanya, tanpa penyesalan, tanpa dendam. Dan berharap pengorbanannya ini dapat mengakhiri segala konflik yang tak disangka akan melibatkannya terlalu dalam.
Sebuah pesan masuk dari Chen Kho kembali menghantuinya, Grace menatap layar ponselnya dengan raut menyedihkan. Ia berhenti sejenak dan bersandar di dinding koridor hanya untuk mengatur suasana hatinya. Kesan
terakhir harus sempurna, ia harus jadi orang yang bahagia untuk terakhir kalinya.
Isi pesan Chen Kho : Semua sudah siap, kamu harus segera lakukan tugasmu!
***
Hi Readers, kira-kira apa maksud kesan terakhir dari Grace? Ada yang tahu apa yang akan Grace lakukan?
***