
Flashback....
Chip dalam genggaman Weini bereaksi setelah mantera dirapalkan dan dilumuri darahnya sebagai penggerak energi agar dikerahkan sepenuhnya . Benda kecil itu mulai melayang dan berputar kencang layaknya gasing. Weini tak punya tenaga untuk menopang tubuhnya lagi, ia melakukan sihir dalam posisi terbaring lemah. “Pergilah,
sampaikan pada Jun!” Desis Weini memberi perintah . Chip itu mematuhi perintah Weini kemudian melesat ke atas dengan cepat, menerobos hingga meruntuhkan atap toilet itu agar tak ada lagi yang menghalanginya menuju ke langit.
Weini menjentikkan lemah jemarinya, membuat perisai sihir agar terhindar dari pulih reruntuhan bangunan. Selebihnya ia tak sanggup lagi bertindak, tenaganya terkulai lemas hingga kesadarannya perlahan melemah.
Chen Kho berjalan menghampiri tubuh Weini yang sudah tak sadarkan diri. Pria itu tersenyum menyeringai seraya menatap sejenak wajah Weini yang separuh tertutup rambut panjangnya. “Akhirnya aku menemukanmu, sepupu.” Gumam Chen Kho kemudian berjongkok demi meraih tubuh Weini.
Tanpa mengulur waktu, Chen Kho menggendong tubuh Weini lalu berjalan pergi meninggalkan toilet. Langkah kaki pria itu menginjak genangan darah Weini yang baru setengah mengering sehingga meninggalkan jejak berwarna merah darah di lantai. Dengungan dari langit masih terus berbunyi bagaikan alarm, namun Chen Kho tidak peduli.
Ia membawa pergi Weini dalam kondisi tidak sadarkan diri, tak peduli hidup atau mati nantinya gadis itu.
“Ayo cepat tinggalkan tempat ini!” Perintah Chen Kho pada dua pengawalnya yang kepayahan menahan sakit di bagian telinga. Mereka pun patuh meskipun harus tertatih menyusul langkah bosnya.
Sementara Bams hanya sanggup melihat Chen Kho menggendong seseorang lalu beranjak pergi. Meskipun
tidak melihat secara langsung wajahnya, tetapi Bams yakin bahwa Weini lah yang dibawa pergi. Percuma saja, Bams sadar tidak akan mungkin menang melawan mereka. Ia mengantar kepergian rombongan penculik itu dengan tatapan tidak berdaya.
Flashback off.
***
Dina berteriak kencang sembari menutupi telinganya, bak orang yang punya tekanan batin berat, seluruh emosinya terkuras total lewat teriakan itu. Dina tahu ia sedang bersembunyi, oleh karena itulah ia berada di dalam lemari pakaian dalam ruang ganti. Suara ledakan yang Dina anggap adalah bom membuatnya semakin ketakutan dan pasrah. Ia tak yakin bisa memenuhi janji pada nonanya, andai terus tersiksa dalam kondisi ini. Dengungan itu nyaris merusak gendang telinganya, ia pun akhirnya sadar bahwa bahaya yang mengintai Weini sungguh nyata.
***
Chen Kho menggendong Weini menaiki jetnya, ia mendongak sebentar menatap merahnya langit yang masih
belum sirna dari efek sihir Weini. Chen Kho menyibak rambut yang menutupi wajah Weini, senyumnya merekah menikmati wajah cantik Weini yang begitu memesona. Kendati sedikit kotor karena bercak darah, tetapi noda merah itu tidak mengurangi nilai kecantikan gadis dalam pangkuan tangannya. “Cantik.” Desisnya pelan.
Chen Kho mengernyit heran melihat jet belum juga meninggalkan atap kantor padahal semua penumpang sudah masuk. “Hei, apa yang kau tunggu! Cepat pergi dari sini!” Pekik Chen Kho geram. Namun tidak ada respon dari pilot hingga terpaksa Chen Kho menggeletakkan tubuh Weini sejenak di kursi penumpang, kemudian berjalan
menghampiri ruangan pilot. Ia tersentak mendapati satu-satunya orang yang bisa menjalankan jet ini pun terkena imbas sihir Weini. Pilot itu menutupi telinganya dan merintih kesakitan. Chen Kho mengepalkan tangan dengan kesal kemudian tak bisa berbuat apa-apa dan hanya menunggu sampai efek sihir itu lenyap.
***
Beijing, di kediaman Wen Ting.
Li An baru saja menyuapkan pil penawar kepada Xin Er yang terbaring lemah. Hingga saat ini Li Mei dan bayinya masih tinggal di rumah Li An demi jaminan keselamatan. Beransur-ansur wajah pucat Xin Er yang nyaris bak tidak punya aliran darah itu mulai merona. Li An dan kakaknya tersenyum senang melihat perubahan positif itu.
“Ibu, bagaimana kondisimu?” Tanya Li Mei was-was. Begitupun Li An yang antusias menunggu jawaban ibunya.
Xin Er tersenyum seraya mengangguk, “Ibu merasa jauh lebih enakan sekarang.” Jawab Xin Er yang merasa sesak di dadanya yang seperti dicekik itu beransur lega.
Li An serta Li Mei spontan memeluk ibunya bersamaan, mereka bertiga tersenyum bahagia telah lepas dari satu ancaman mengerikan. Xin Er pun demikian, ia yakin bahwa nyawanya bisa tertolong pun berkat campur tangan suaminya. Xin Er mendekap erat kedua putrinya yang sudah cukup terbebani karenanya beberapa hari ini.
“Di mana Wen Ting? Apa belum pulang?” Tanya Xin Er yang belum juga melihat menantunya.
Li An menggeleng pelan, “Ia menitipkan pada pengawalnya dan bilang akan menyusul setelah urusan di sana beres. Ibu tenang saja, Jun dan ayah punya siasat yang bagus. Li An yakin tidak lama lagi keluarga kita akan kembali utuh.” Ujar Li An yang sangat optimis.
Xin Er begitu senang mendengarnya, sudah lama ia menginginkan keutuhan sebuah keluarga lagi. Terlebih Haris pun sudah berjanji padanya untuk mewujudkan keinginan itu. Rasanya Xin Er kian yakin bahwa suaminya sanggup memegang janji itu, janji yang diucapkan saat pertemuan mereka waktu pernikahan Li An.
Ngung... Ngung....
“Aaarrghhh!” Teriakan dari Xin Er serta kedua putrinya, bahkan seisi rumah pun terdengar suara jeritan kesakitan. Dengungan yang mereka dengar itu menyakitkan telinga hingga mereka menutupinya, bahkan Li An sampai meringkuk tidak tahan dengan suara entah dari mana itu.
Xin Er terkesiap sambil menutupi telinga, ia tertatih beranjak dari ranjang dan hendak menuju pintu balkon. Li Mei melihat ibunya susah payah berjalan ke arah luar kemudian mengejarnya. Xin Er lebih dulu sampai di pintu lalu membuka dengan satu tangan, ia harus memastikan sesuatu yang meresahkan pikirannya. Pikiran yang terlampau
buruk untuk disebutkan dan ini mengenai Haris.
“Tidaaaak!” Jerit Xin Er dengan keras begitu melihat langit malam itu tercemarkan pancaran cahaya merah menyala yang berbentuk lingkaran besar seperti cincin berlapis. Lingkaran merah itu terlihat elastis membesar dan mengecil mengikuti tempo dengungan. Tanpa perlu penjelasan lagi, Xin Er cukup tahu apa maksudnya.
Xin Er hidup bersama Haris nyaris separuh usianya, menikah dan memberinya keturunan, dalam suka dan duka dijalani bersama. Dan ia sangat mengenal suaminya, termasuk tahu bahwa pancaran cahaya merah itu adalah sinyal sihir milik suaminya. Xin Er memang tidak peka pada sihir, dia hanya orang biasa yang berjodoh dengan seorang pria yang luar biasa. Ia pun tahu bahwa seperti apa ciri sihir suaminya serta pertanda dalam setiap kemunculan sihir itu. Dan kini, ia mendapati fakta yang menghancurkan perasaannya, Haris telah mangkir dari janjinya. Lewat sinyal sihir itu, Xin Er tahu bahwa Haris telah pergi.
***