OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 412 ISYARAT HATI



Jangan salahkan aku jika tak berperasaan padamu...


Tak peduli siapapun itu, dia yang telah merenggut nyawa orang tercintaku


Seperti itulah aku akan merenggut nyawanya....


_Suara hati Weini aka Yue Hwa_


πŸ’Ÿ


Tatapan yang dalam dari sepasang mata Chen Kho, seolah hendak menguliti objek di depan matanya. Seorang gadis yang entah bagaimana ceritanya bisa membuatnya tergila-gila. Layaknya pria normal, sulit baginya menahan hasrat yang bergejolak. Pundak yang terbuka memamerkan kulit putih nan mulus, tubuh yang tertutup selimut dan hanya perlu menyingkapnya saja, maka ia bisa menjadi miliknya.


Tidak! Aku tidak mau bersamamu. Jangan mimpi aku sudi denganmu! Enyah dari hadapanku! Batin Weini memberontak, ia tahu apa yang hendak dilakukan pria jahat yang tak lain adalah sepupunya itu.


Air mata Weini menetes, sekuat tenaga ia berusaha membuka mata, bahkan menggerakkan jarinya saja belum bisa. Jiwanya merintih, ia tak sudi tangan kotor menjamah raganya.


Sekelebat memori dalam ingatan Weini berputar, wajah tenang Haris, senyum pria tua itu, bahkan suaranya terasa memenuhi otak Weini.


Nona Yue Hwa... Nona... Mulai sekarang nona harus jaga diri....


Kata-kata Haris itu terngiang terus, bersamaan dengan bayangan Haris dan Weini kecil, kenangan puluhan tahun silam saat mereka berusaha kabur bersama.


Syukurlah, Jun akan menggantikanku menjagamu....


Weini kian gelisah, hatinya memberontak keras terlebih saat ingatan detik-detik kematian Haris di depan matanya.


Tidak! Pembunuh ayahku... Ku balaskan dendam ayahku. Akan ku bunuh kau!


"Aaarrgghhh!"


Bruk!


Jiwa Weini yang meronta dasyat hingga alam bawah sadarnya melakukan perlawanan. Sinar dari cincin di jari manis Weini pun mengeluarkan sihirnya, ikatan batin dan fisik yang sudah bertuan itu tak akan bisa disentuh yang lain.


Tubuh Chen Kho terpental tinggi lalu jatuh tengkurap di lantai. Ia meringis sakit merasakan hantaman sihir dari Weini yang tertidur itu. Dari tempatnya tersungkur itu, Chen Kho menatap tajam Weini yang terbaring diam.


"Belum sadar saja kau sudah menyusahkan, ternyata sihirmu tetap bekerja saat tidak sadarkan diri." Gerutu Chen Kho kesal, ia tertatih-tatih untuk bangkit.


Ditatapnya sekali lagi wajah polos Weini yang seperti tertidur pulas, cincin yang masih bersinar itupun menjadi perhatian Chen Kho. Sekarang ia bisa menebak bahwa sihir di cincin itulah yang melindungi si pemakainya.


"Apa hubungan kalian sedalam itu? Dia tak cocok untukmu. Lihat aku! Sejak kecil kita sudah ditakdirkan berjodoh, harusnya kita yang menikah dan meneruskan klan leluhur kita." Pekik Chen Kho, hatinya tak rela Weini dimiliki oleh Xiao Jun.


Chen Kho mengerang sambil memukul dadanya, hasrat tak tersalurkan ditambah Weini yang kecil harapan ia miliki sekarang, membuat pria itu frustasi.


Ia kembali mendekat di sisi ranjang, meskipun tak bisa menyentuhnya tapi bukan berarti ia takut mendekat.


"Belum terlambat untuk memulainya, Weini... Ah, itu bukan namamu kan? Kau ingin aku memanggilmu apa?"


Chen Kho mulai bicara sendiri, ia yakin Weini pasti bisa mendengarnya.


Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu!


Kecam Weini dalam hatinya.


Lirih Chen Kho, ia tak pernah seserius ini terhadap wanita. Weini adalah yang pertama dan satu-satunya yang bisa meluluh lantakkan hati Chen Kho hingga menjadi buta cinta.


Aku rela mati asal tidak bersama pembunuh ayahku. Ah... Bagaimana caranya aku bangun? Aaarrgghhh!


πŸ’ŸπŸ’Ÿ


Jet yang ditumpangi Dina bersama seorang pengawal tampan itu akhirnya mendarat di sebuah pulau yang jauh dari tempatnya berasal, dan tentu saja sangat indah. Tempat wisata yang sudah lama diimpikan Dina, bahkan sejak kecil ia bercita-cita melancong kemari, ternyata kesampaian juga untuk dikunjungi.


Dina mencubit pipinya, berharap bukan dalam mimpi, nasib mujurnya justru datang di tengah konflik Weini dan Xiao Jun. Ia bisa meregangkan otot, merilekskan pikiran dan mengisolasi diri dari publik yang mengenalinya dengan aman.


Pengawal di sampingnya mencuri senyum saat melihat Dina melakukan hal konyol yang menyakiti dirinya. Berjam-jam di perjalanan bersama gadis itu, mulai membuat Ming Ming dan Dina lebih akrab.


Dina melirik tajam pada Ming Ming yang belum juga berhenti cengegesan. Merasa ditertawakan, Dina dengan sengaja menyikut lengan pengawal itu.


"Aaww... Aduh...." Tetapi yang meringis kesakitan justru Dina, bak senjata makan tuan, serangan yang ia berikan malah mental pada dirinya sendiri karena menyerang otot kekar pengawal itu.


"Nona nggak apa-apa?" Spontan Ming Ming inisiatif menolong Dina, tetapi sikap cepat tanggapnya justru mengundang kesal Dina kian menjadi-jadi.


"Nona lagi... Udah berapa kali aku bilang, panggil Dina saja. Ah, nona... Nggak asyik banget didengar." Gerutu Dina, panggilan kehormatan itu membuatnya canggung, seperti ada kasta di antara mereka saja.


Ming Ming mengangguk pelan dengan raut menyesal, "Maaf, Di... Na...." Jawabnya canggung hingga terdengar terbata-bata.


Dina tersenyum puas, ia ikut mengangguk. "Gitu dong, bagus! Lama-lama kamu juga bakal biasa manggil namaku. Oya, kita nginap di mana nanti? Aku udah capek nih, pengen selonjoran bentar di kamar." Tanya Dina sambil menguap, tidurnya tak pulas bahkan bisa dikatakan ia terjaga sepanjang malam yang panjang itu. Kini saatnya balas dendam untuk memulihkan tenaga, sebelum nantinya menguras tenaga lagi untuk jalan-jalan.


"Tuan Wen Ting sudah menyiapkan hotel untuk anda selama yang anda mau, no... Eh, Dina." Jawab Ming Ming kikuk.


Dina nyengir saja mendengar kecanggungan pria itu, meskipun wajah Ming Ming tampan, namun sifatnya terlalu kaku, ia seperti robot saja kalau sedang bicara. Aura tampannya baru totalitas keluar saat ia sedang serius atau diam, dan itulah yang membuat Dina seperti jatuh cinta saat pertama kali memandangnya.


"Hmmm... Okelah, kita langsung ke hotel saja. Istirahat sepuasnya, lalu kita mulai kelilingi pulau ini." Ujar Dina penuh semangat, ia berteriak sambil melangkah pergi.


"I love Hawaii...." Teriak Dina setengah berjingkrak, menghirup udara di pulau impiannya saja sudah sangat menyenangkan, apalagi diijinkan menikmati liburan sepuasnya.


Ming Ming mengekor Dina dari belakang, hingga langkah gadis itu berhenti lalu menoleh ke belakang. Ming Ming mengangkat sagu alisnya, bingung dengan peringai aneh Dina. Tiba-tiba gadis itu balik badan dan berjalan mendekatinya.


"Aku nggak suka diikutin dari belakang, nggak enak soalnya. Kita jalan bareng aja ya, awas kalai berani nolak!" Seru Dina yang tanpa basa basi sudah merangkul Ming Ming.


Langkah Dina begitu ringan di setiap gerakan kakinya, seringan senyum serta hatinya yang berbunga-bunga. Andai ia bersedia melirik ke samping sebentar saja, ia pasti akan menyadari bahwa pria itu nyaris pingsan lantaran tak siap menerima perlakuan manis darinya.


Apakah ini akan menjadi kencan pertama Dina?


πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ


Hi guys, selamat datang kita ucapkan pada bulan Agustus yang baru hadir. Hehe, ini update pertama di bulan delapan ya, udah ada yang kangen belum?


Bagi yang suka genre misteri/horor, boleh dong mampir ke ceritaku yang judulnya : "Aku Ingin Cantik"


Percayalah ceritanya menarik, nggak selebay judulnya yang kayak genre romance 😊.


Buktikan aja, dari episode satu pasti sudah ketahuan serunya.


Makasih ya πŸ’ŸπŸ’Ÿ