OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 483 PEGANG JANJIMU!



Lambaian tangan dan senyuman yang lapang terlihat dari Dina yang kini berdiri tegar mengantarkan kekasihnya pergi. Mereka yang paham perasaan dua orang yang tengah hangat dimabuk asmara itu memilih diam dan membiarkan mereka mengekspresikan perasaannya. Dina menurunkan tangannya, jet yang kini meninggi itu telah menghalanginya menatap Ming Ming. Ia hanya sanggup mengekorinya dengan tatapan sejauh ia sanggup memandang.


“Dina....” Weini menghampiri Dina lalu memangilnya pelan dari belakang.


Dina menyadari suara siapa itu, kemudian ia menoleh kepada si pemilik suara. “Nona....” panggil Dina singkat.


Weini tersenyum, baru kali ini ia melihat Dina segalau itu karena seorang pria. Di saat Weini sedang terluka dan hilang semangat karena Xiao Jun, Dina lah yang dulu berkoar paling keras menyemangatinya, meminta Weini menganggap masalah percintaan sebagai hal yang biasa. Tetapi setelah gadis itu merasakan sendiri suka duka jatuh cinta, Weini yakin Dina pasti mengerti apa yang ia rasakan waktu itu setelah ia mengalaminya sendiri.


“Sabar ya, nanti juga ketemu lagi kok.” Ujar Weini menghibur Dina.


Dina hanya mengangguk pelan, ia percaya akan ada pertemuan berikutnya dengan Ming Ming. “Tapi bukan itu saja yang membuat aku sedih, nona.” Lirih Dina sedih.


Weini mengerutkan dahinya, “Ada masalah apa lagi?”


Dina menatap sendu ke arah Weini, sekarang Weini tahu sumber kesedihan di hati Dina sebelum gadis itu mengungkapkannya.


“Kenapa aku harus berpisah dengan dua orang kesayangan di saat bersamaan. Hiks... kan lebih bagus kalau dia pergi tapi masih ada nona di dekatku. Hiks....” Lirih Dina yang sebenarnya tidak menangis, tapi bertingkah seakan menangis. Namun kesedihannya bukanlah kepalsuan, dia benar-benar terpukul harus merasakan perpisahan.


Weini tersenyum tipis sembari menatap lembut pada Dina yang sedikit menunduk. “Kak Dina, ada awal pasti ada akhir. Selalu ada dua sisi yang saling beriringan, aku juga berat harus berpisah dengan kalian. Hari-hariku selalu penuh dengan kalian....” Weini tersenyum mengenang masa-masa indah saat bersama Dina dan Stevan, suka duka yang mereka lalui saat menekuni profesi keartisannya.


Dina terpaku diam namun ikut tersenyum mengenang masa lalu yang disebutkan Weini.


“Jika ingat masa lalu, aku merasa waktu berjalan sangat cepat. Dulu aku menjalani hari tanpa tahu kapan hari seperti ini akan datang dalam hidupku. Aku sangat mengharapkan berkumpul lagi dengan keluargaku, tetapi setelah semua itu terwujud, aku mendapati satu kenyataan yang tidak bisa dihindari. Kita tidak bisa memiliki semuanya, sekalipun sangat ingin mendapatkannya. Melepaskan yang satu demi mendapatkan yang lain, dan beginilah aku sekarang.” Ujar Weini pelan, ia pun baru bisa mengutarakan maksud hatinya sekarang.


“Nona... aku akan selalu merindukanmu dari sana. Aku harap kita akan segera bertemu lagi. Aku... aku pasti sulit terbiasa tanpa kamu, dasar aku nya yang udah biasa ngatur jadwal nona. Ha ha ha....” Tawa Dina terdengar sangat dipaksakan, ia tertawa tapi matanya malah menangis. Sontak ia menghapus air matanya dan meminta maaf pada Weini karena telah mengacaukan suasana.


Weini meraih Dina dalam pelukannya, membiarkan sejenak mereka mengekspresikan segala rasa yang tertumpuk dalam batin mereka. Dina tak kuasa lagi menahan tangisan, ia tak peduli air matanya membasahi pundak Weini.


“Nona jaga diri baik-baik ya, jangan suka menangis sendirian lagi di kamar. Aku akan jagain tuan Xiao Jun di sana, aku akan laporin apapun tentang Stevan dan Grace dan juga tuan Xiao Jun. Pokoknya aku akan tetap berguna untukmu di mana saja aku berada.” Ucap Dina dalam sela isakannya.


Weini lebih tenang, ia menangguk pelan dan tersenyum. Betapa beruntungnya ia mempunyai seorang sahabat yang kesetiaannya telah teruji. Sahabat yang tidak bisa dicari dengan materi namun mampu bertahan setelah melewati ujian waktu.


“Kak, makasih atas semuanya... makasih... aku tak akan pernah melupakan kebaikanmu.” Lirih Weini. Hanya itu yang bisa ia ucapkan sementara ini, belum ada yang bisa ia janjikan pada Dina untuk hal yang lebih di masa depan.


Setelah puas melepaskan rasa di antara dua hati, Dina dan Weini pun memisahkan diri. Masih banyak yang harus Weini temui sebelum mereka meninggalkannya sendiri. Grace, Stevan, Fang Fang, Kao Jing sudah terlihat datang dari kejauhan. Di tempat yang sama inilah mereka akan berpisah entah sampai kapan. Weini melepas Dina dengan tatapannya, kemudian beranjak menghampiri empat orang yang baru saja bergabung.


Fang Fang segera memberi penghormatan formal pada Weini, namun Grace dan yang lainnya hanya membungkuk pelan. Weini tersenyum menanggapinya, perlakuan yang awalnya membuat ia risih, akhirnya ia pun mulai bisa beradaptasi.


“Paman, selamat tinggal... semoga paman segera betah di tempat yang baru dan hidup tenang.” Ucap Weini lembut pada Kao Jing. Tak peduli bagaimana buruknya masa lalu di antara mereka, Weini tetap tidak bisa menanggalkan tata kramanya untuk menghormati yang lebih tua.


Kao Jing bergerak hendak berdiri dari kursi rodanya, Stevan yang mengetahui maksud pria tua itu segera membantunya berdiri. Untuk pertama kalinya Kao Jing menatap secara dekat pada keponakannya yang telah naik tahta, berbeda dengan saat mereka bertemu di penjara. Kao Jing membungkukkan kepala, memberikan penghormatan serta menghaturkan rasa terima kasihnya pada Weini.


“Gong Zhu, terimalah hormatku.” Ujar Kao Jing sopan.


Weini menanggapi niat baik pamannya, ia membalas dengan anggukan sebagai bentuk hormatnya pada pria tua itu. “Jangan sungkan paman.”


Kao Jing menggeleng pelan, ia merasa ini saat yang tepat baginya untuk mengakui kesalahan. “Aku harus mengucapkan terima kasih padamu, atas pengampunanmu setelah apa yang aku perbuat. Maafkan kekacauan yang telah aku lakukan, sehingga membuatmu menderita sejak kecil. Dosaku mungkin tak termaafkan lagi, aku tidak akan menampakkan diri lagi di hadapan kalian. Ini sebagai cara ku menghukum diri yang berdosa ini.” Sesal Kao Jing, ia tulus mengucapkan penyesalannya.


Weini tersenyum, ia tetap mengendalikan perasaannya dengan tenang. “Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, paman. Aku percaya itu! Semua yang terjadi pasti ada alasannya, dan paman tak perlu terus terbebani rasa bersalah. Aku ingin semua keluarga Li mendapatkan hidup yang bahagia, kita semua adalah keluarga, kita satu darah, paman.” Ungkap Weini dengan bijak.


Kao Jing malah mengeluarkan air mata, ia tersentuh dengan kebaikan yang Weini berikan padanya. Semakin ia pikirkan, semakin ia merutuki dirinya yang penuh dosa. Betapa kejam ia menghasut Li San untuk menghabiskan anak sebaik ini, anak yang akan membawa masa depan klan Li menjadi lebih baik.


Grace menenangkan ayahnya, tindakan yang membuat Weini merasa iri sesaat. Setidaknya Grace masih punya ayah untuk berbakti, namun Weini berpikir ulang bahwa posisi Grace pun tidak jauh lebih baik darinya. Weini masih memiliki Liang Jia, dan Grace hanya memiliki Kao Jing sebagai orang tua yang tersisa.


“Gong Zhu... Xie Xie ni (terima kasih).” Lirih Grace, ia mendekati Weini hendak memberikan salam perpisahan.


Weini tidak mengatakan sepatah katapun, yang ia perlukan sekarang adalah sebuah pelukan. Ya... ia memeluk sepupunya, memberinya dorongan semangat agar ia pun segera mendapatkan kebahagiaan, seperti yang Weini harapkan bahwa semua keluarganya harus berbahagia, apapun caranya.


Grace menggeleng pelan, hatinya sungkan menerima terlalu banyak dari Weini. “Setelah seluruh tabungan rupiahmu kau berikan, rumahmu bahkan teman-temanmu yang baik, aku tidak kurang apapun lagi, Gong Zhu. Itu saja sudah lebih dari cukup.” Balas Grace mengikuti cara Weini dengan bisikan.


Weini tertawa kecil, Grace menyebutkan semua itu secara blak-blakan. “Tapi bagiku belum cukup, itu hanya sebagian aset yang kuhibahkan padamu. Baik-baik jalani kehidupan di sana, aku akan pasang badan untukmu kapanpun kau perlukan. Dan juga... aku titip dua sahabatku ya, terutama Stevan. Tolong bahagialah dengan dia, kalian sangat serasi.” Bisik Weini lagi.


Giliran Grace yang tertawa, Weini tetap punya sisi humoris yang bisa diselipkan dalam suasana haru ini. Kedua gadis itu kompak tertawa, membuat beberapa pasang mata yang menatap gelak tawa mereka dipenuhi tanda tanya. Lelucon apa yang mereka bicarakan hingga tertawa selepas itu.


Stevan mendekati Weini setelah urusan dengan Grace selesai. Sangat penting baginya untuk meminta waktu sejenak untuk beberapa patah kata menjelang perpisahan. Pria itu menatap lekat sahabatnya yang kini telah menjelma menjadi orang baru dengan wajah yang mulai terbiasa diterima oleh Stevan.


“Boleh nggak aku lancang sekali saja?” Tanya Stevan pelan.


Weini mengerutkan dahinya, “Apa itu katakan saja.”


Stevan belum bersuara, ia menatap lekat wajah Weini dan ingin memasukkannya dalam ingatannya. Belum pernah ia bermimpi akan mengenal dekat seorang gadis penguasa, benar benar cantik dan penuh kharisma. Stevan akan menjadikan Weini sebagai kenangan berharga dalam hidupnya.


“Ijinkan aku memanggilmu Weini, sekali saja.” Ucap Stevan menyuarakan permintaannya.


Weini tertawa lebar, ia mengira permintaan Stevan cukup serius namun ternyata sesimpel ini. Weini memberikan anggukan mantap, “Silahkan.” Dan jawaban singkat nan jelas.


Raut wajah Stevan kini berubah serius, seserius apa yang ia ucapkan saat ini. “Seumur-umur aku nggak pernah membayangkan dalam hidupku bisa mengenal seseorang sehebat kamu. Benar saja kata hatiku sejak awal melihatmu, kamu bukan gadis biasa. Sekarang setelah apa yang kita lewati bersama, akhirnya kita sama-sama menemukan kebahagiaan kita. Aku dengan caraku, kamu dengan caramu. Selamanya aku tetap menganggapmu saudara, dan kita satu ayah... Ayah Haris.”


Weini mengangguk setuju, apa yang dikatakan Stevan tadi sama dengan yang ia pikirkan. “Ya... kita selamanya bersaudara kakak Stev.” Jawab Weini lirih.


“Okelah, Xie Xie Ni... Gong Zhu.” Ujar Stevan yang mulai hapal kata terima kasih itu walaupun logatnya terdengar kaku.


Weini terkekeh, reflek karena merasa lucu dengan bahasa Stevan. “Katanya mau panggil Weini saja?”


“Kan udah tadi hanya minta ijin panggil satu kali.” Jawab Stevan dengan cepat, ekspresi seriusnya sudah berganti dengan raut wajah yang santai dan tenang seperti biasanya.


Weini masih tertawa kecil hingga matanya tertuju pada Xiao Jun yang berjalan bersama Lau yang membawa koper mereka. Di saat itulah tawanya meredup, ini bagian yang berat di antara yang lainnya. Meskipun bukan kali pertama ia dan Xiao Jun terpisah jarak, namun kali ini setelah semua masalah terpecahkan, Weini merasa makin berat untuk berjauhan dengan Xiao Jun. Tapi apa daya? Kepergian Xiao Jun pun demi kebaikan mereka bersama, demi kelangsungan salah satu aset peninggalan ayahnya juga.


Mereka yang tadi sudah mendapatkan porsi dari Weini pun otomatis menyingkir, mereka cukup tahu diri untuk memberikan kesempatan pada Weini dan Xiao Jun. Satu persatu dari rombongan itu pun menaiki jet, sengaja mengosongkan tempat agar tidak ada penghalang di antara keduanya.


Xiao Jun tersenyum menatap wajah kekasihnya, wajah yang selalu segar dan cantik setiap waktu. Begitupun Weini yang masih terpaku diam, seolah mereka berdua sedang bicara dengan suara hati.


“Aku berangkat dulu... jaga dirimu, Hwa.” Lirih Xiao Jun. Kata-kata yang terlampau sederhana, namun ia tidak bisa berbasa basi lagi. Semua yang perlu ia sampaikan sudah disampaikan tadi pagi. Xiao Jun merasa tak perlu mengulang berkali kali, kesungguhannya hanya perlu pembuktian, bukan sekedar ucapan.


Weini mengangguk pelan, “Ya... kamu juga hati-hatilah.” Jawab Weini singkat.


Xiao Jun hanya mengangguk pelan dalam diam, kemudian ia melangkahkan kakinya dengan berat. Rombongannya sudah menunggu di dalam, tinggal menunggu kesiapannya untuk berangkat. “Sampai jumpa lagi, Yue Hwa.” Lirih Xiao Jun sebagai kata terakhirnya.


Xiao Jun melangkah mantap, ia tak mau menoleh lagi ke belakang atau hatinya akan goyah. Weini terpaku diam, memikirkan sejenak bahwa kali ini ia melepas kekasihnya secara langsung, berbeda dengan perpisahan beberapa kali yang tak bisa disaksikannya. Dan ini sungguh terasa berat, hatinya berguncang hebat.


“Wei Li Jun!” Pekik Weini lantang.


Xiao Jun mendengar nama aslinya diteriakkan, sontak ia menghentikan langkahnya lalu menoleh perlahan menatap gadis yang memanggilnya.


“Pegang janjimu! Aku tunggu kamu kembali....” Lanjut Weini meneriakkan namun tidak selantang sebelumnya.


Dua insan itu saling berpandangan, Weini bahkan menyuggingkan senyumannya sehingga Xiao Jun ikut menarik seulas senyum. Senyuman yang penuh rasa optimis, pria itu mengangguk mantap, meyakinkan bahwa ia akan datang kembali memenuhi janjinya... segera!


❤️❤️❤️


Aih... baper deh, Xiao Jun dan Weini... we love you.