
Stevan tinggal seorang diri di sebuah apartemen elit kawasan Jakarta selatan. Lukanya belum sepenuhnya sembuh, ia sekarang kesulitan mengganti perban di punggungnya. Berlama-lama di rumah sakit pun bukan pilihan yang menyenangkan, yang ada ia keburu mati bosan.
“Arrghh …” Stevan meringis menahan sakit saat tanggannya mencoba meraih perban di punggung. Kesabarannya mulai habis, dilemparnya gulungan kain kassa ke lantai saking kesalnya.
Ia sengaja merahasiakan insiden ini pada managernya dan harus membayar mahal pada pihak rumah sakit sebagai biaya tutup mulut agar tidak tersorot media. Weini akan disalahkan jika berita ini keluar dan dibumbui infotainment.
Bel rumahnya berbunyi, Stevan was-was antara managernya yang datang atau Dina. Ia buru-buru menyembunyikan alat medis yang berserakan lalu merapikan kamar yang seperti efek kena bom.
“Hei, kok lama bukainnya. Kirain pingsan lagi.” Dina meledek Stevan saat pintu dibukakan untuknya.
“Udah ni becandanya? Gue tutup nih pintu, Weini boleh masuk tapi lu pulang aja.” Jawab Stevan sewot.
Weini hanya tersenyum, ia menatap Stevan dengan lembut. Ada rasa bersalah setiap ia menatapnya, pria itu banyak berkorban untuknya namun tidak pernah ia gubris selama ini. Sebaliknya Stevan malah terkesima melihat wajah cerah Weini yang tampak berseri. Kemarin gadis itu terpuruk dengan wajah sembab, hari ini Weini
seperti tengah beracting.
Stevan serius dengan ucapannya, Dina tereliminasi keluar sementara Weini ditarik masuk ke dalam lalu pintu terkunci otomatis. Weini terkejut menyaksikan tingkah aneh Stevan yang spontan itu, sejak kapan aktor itu tidak bisa diajak bercanda. Apa mungkin ia sengaja menahan Weini di dalam biar bisa dimarahi sepuasnya?
“Kasian kak Dina, kenapa kamu nggak welcome ama dia?” tanya Weini hati-hati.
Stevan terdiam, ia tak peduli bel rumahnya berbunyi hingga jebol sekalipun. Ia belum mood membukakan pintu. Diliriknya Weini yang berdiri tertunduk sembari menjinjing sebuah kotak makanan.
“Ng … ini titipan dari ayahku. Nggak tahu isinya apaan, buka aja kak.” Weini sadar dipelototin Stevan dan bergegas menyodorkan titipan itu.
Stevan meraih plastik itu dan berbalik badan masuk ke dalam ruangan, “Thanks, masuklah. Nggak asik ngobrol di depan pintu.”
Weini menoleh ke belakang membayangkan sekeki apa Dina dibuang keluar dan masih berjuang untuk masuk namun diabaikan. Ia tak kuasa membukakan pintu, bagaimanapun ia juga tamu. Tuan rumah lah yang berhak menerima atau menolak tamunya. Weini harus segera beranjak dari sini jika Dina tetap tidak boleh masuk, ia tak betah berduaan dengan pria lain dalam sebuah ruangan pribadi.
“Apa ini?” Stevan membuka kotak dan menemukan sebungkus cairan berwarna kecoklatan dan berbau pekat seperti alkohol. Dalam kotak pemberian Haris itu ada beberapa cemilan ringan dan segera dilahap Stevan sebagai pengganjal perut.
“Ah, ini arak obat untuk meringankan luka memar. Sepertinya ayahku membekali obat tradisional untukmu. Oya, kak gimana lukamu? Kau keluar rumah sakit terlalu cepat, apa benar sudah membaik?” Weini merasa sangat bersalah, dari aura wajah Stevan yang pucat menunjukkan kondisinya yang jauh dari kata baik.
Stevan masih antusias dengan obat pemberian Haris, ia menjawab Weini tanpa mengalihkan pandangan dari obat itu. “Ya, oke-oke aja. Masih hidup kan gue, lu gimana? Lu lagi acting sok kuat kan? Gue gak bisa dikibulin kok ama topeng lu. Hehehe ….”
Deg! Weini terkejut, tak disangka Stevan bisa sepeka itu. Tampilan luarnya memang ceria demi menutupi luka dalam, tudingan Stevan memang benar bahwa ia sedang memakai topeng untuk menyembunyikan kepalsuan.
Weini tersenyum getir, “Yah … mencoba kuat kan nggak ada salahnya. Sorry ya kak, gara-gara depresiku malah bikin kamu jadi korban.”
Stevan tersenyum nyengir, otaknya sudah membludak menampung kata maaf dari Weini sejak dulu. “Gue nggak mau cuman dapat maaf secara lisan, mending lu lakuin sesuatu buat nebus rasa bersalah.”
Respon Weini yang cepat dan mantap itu terdengar seperti sebuah tantangan bagi Stevan. Ia segera membuka kemeja yang ia kenakan di hadapan Weini. Tingkah tak lazim itu membuat Weini kaget dan membalikkan badan, ia tak mau melihat tubuh bagian atas seorang pria yang bertelanjang dada.
“Mau ngapain? Cepat pake lagi bajunya!” Weini menutup wajah dengan kedua tangan lantaran merasa membalikkan badan saja tidak cukup untuk menutupi rasa risihnya. Stevan yang buka baju tapi ia yang merasa malu.
“Pikiran lu jangan ngeres deh, katanya mau menebus kesalahan. Bantuin gue ganti perban sekalian pakein obat.” Stevan nyengir melihat reaksi Weini yang berlebihan seakan ia akan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Weini membuka mata lalu menurunkan kedua tangannya, antara polos atau bodoh hingga ia bisa berpikir senegatif itu. Ia menoleh ke belakang dan mendapati punggung Stevan yang terbalut kain kassa yang mulai menguning karena obat. Weini menghampiri Stevan, meskipun ini kali pertama ia melihat tubuh lawan jenis namun rasa
canggungnya tertutup oleh rasa prihatin. Tubuh adalah asset berharga seorang pelaku entertain, sedikit saja lukanya sudah sangat memengaruhi pikiran sang selebriti. Apalagi Stevan termasuk aktor papan atas yang digilai fans wanita, apa jadinya jika sampai tubuhnya cacat gara-gara insiden kemarin.
Kassa itu digunting oleh Weini, ia tengah berhati-hati melepaskan perban lama. Stevan terdiam membiarkan Weini melakukan pekerjaan itu. “Ng, lukanya cukup dalam. Apa nggak sebaiknya kita balik ke rumah sakit biar ditangani dulu? Aku takut ntar infeksi loh kak.” Weini meringis melihat sayatan luka sepanjang 7cm namun terlihat dalam dan masih terbuka. Kulit punggung Stevan yang putih kian menambah kesan mengerikan pada luka itu lantaran warnanya yang terlihat kontras.
Weini tak sengaja menekan luka itu ketika ia melepas kain kasa yang melekat hingga Stevan agak meringis menahan sakit. Weini berusaha menahan air mata, melihat kondisi Stevan mungkin perlu waktu dua minggu untuk pulih sedangkan jadwal syuting mereka sangat padat.
“Nggak papa, gue percayakan ke elu buat urus. Ini rahasia kita, gue aja nggak mau manager gue tahu. Makanya Dina gue ungsikan di luar sebentar biar lu bisa bantuin gue kasih obat. Ingat deh resiko kerjaan kita, makin sedikit yang tahu makin aman rahasianya. Walaupun orang terdekatpun kita tetap harus waspada.” Ujar Stevan membeberkan alasannya bersikap tega pada Dina.
“Aku mengerti. Sorry udah salah paham sama kamu. Eh, arak obat dari ayahku bagus loh buat luka kayak gini. Aku pakein aja ya? Tapi nggak boleh dicampur dengan obat dari dokter, gimana?” Weini baru ngeh Haris rupanya tahu kondisi Stevan dan membekalinya obat-obatan yang ia racik sendiri. Ia terus mengingat apakah sudah menceritakan insiden semalam pada Haris dan sepertinya ia yakin bahwa belum mengatakan apapun soal kejadian yang menimpa Stevan. Bagaimana Haris bisa mengetahuinya?
“Boleh juga. Sepertinya obat dari ayahmu lebih meyakinkan, ya sudahlah pakai itu aja siapa tahu lebih cepat kering lukanya.” Stevan menyetujui tanpa ragu, Haris terlihat jenius dan tidak sembarang bertindak maka ia yakin pemberiannya pasti lebih bermanfaat.
Selang beberapa saat kemudian sensasi dingin terasa masuk hingga ke tulang punggung saat Weini menempelkan kasa yang dibasahi arak obat. Stevan terlihat nyaman tanpa berkelit hingga Weini selesai membalut lukanya.
“Udah beres kak, jangan kenain air dulu. Tapi kau harus rutin mengganti perban dan memberikan obat lagi.” Seru Weini sembari tersenyum.
Stevan mengenakan kembali kemejanya, “Gitu ya? Ya udah gue bakal sedikit repotin lu sampe gue bisa mandiri ngobatinnya.”
Weini meringis, seakan senjata makan tuan, saran yang ia berikan malah menjadi tanggung jawab barunya. Apa boleh buat, ia harus bertanggung jawab sampai Stevan bisa mandiri sesuai ucapannya. “Baiklah. Sehari sekali aku akan datang ganti perbanmu.”
Stevan tersenyum puas, “Thanks, btw … apa dia belum ada kabar? Aku harus buat perhitungan dengan dia.”
Kehendak ingin melupakan, apa daya kondisi seringkali mengingatkan. Weini sudah berusaha menepis beban pikiran tentang dia, tetapi justru ada saja pihak yang mengungkitnya. Mungkin inilah takdir yang tak bisa terelakkan, sekuat apapun berusaha melupakan maka ia akan semakin mengakar dalam pikiran.
Weini terdiam, ia kehabisan kata-kata sebagai jawaban. Biarlah sikap diam ini yang mewakili jawaban yang ingin Stevan dapatkan.
***