
Suasana canggung begitu kentara sejak Xiao Jun masuk ke rumah kekasihnya. Weini memang duduk menemaninya, berikut secangkir teh hangat yang masih mengepul uap hasil buatan sang gadis. Namun rasanya atmosfer dalam ruangan itu begitu dingin, tidak ada kehangatan seperti biasa. Bahkan Haris pun belum menunjukkan diri, padahal biasanya pria itu yang paling antusias menyambut kedatangan Xiao Jun.
“Minumlah, Jun.” Lirih Weini mempersilahkan kekasihnya meneguk teh manis hangat itu.
Xiao Jun tersenyum kemudian menuruti Weini, diraihnya cangkir gelas itu. “Ng, ayah di mana?” AKhirnya Xiao Jun bertanya tentang Haris setelah tak kuat lagi memendam rasa ingin tahu.
Weini terlihat gugup, bola matanya tampak bergerak ke kiri kanan seperti tengah berpikir. “Ng … Mungkin sudah tidur.” Jawab Weini kaku. Pasca perdebatan menegangkan tadi siang, Haris dan Weini memang mengurung diri di kamar masing-masing. Mereka menjalani sesi perenungan dan belum bertatap muka lagi hingga sekarang. Ketika Xiao Jun datangpun, hanya Weini yang keluar menyambutnya.
Xiao Jun mengernyitkan dahi, ada yang tidak beres dengan ayah dan anak itu. Tetapi ia enggan memperpanjang pertanyaan lagi karena dilihatnya wajah Weini yang masih tampak pucat. Mengkhawatirkan kondisi Weini jauh lebih penting saat ini. “Yakin nggak perlu diperiksakan ke dokter? Wajahmu pucat banget loh.”
Weini menggeleng pelan, “Besok juga baikan, aku hanya perlu istirahat saja.”
Xiao Jun mengangguk, “Kalau begitu aku pulang dulu, biar nggak ganggu waktu istirahatmu. Lagian aku sudah tenang bisa melihatmu, maaf ya baru datang semalam ini.” Ujar Xiao Jun pelan kemudian hendak berdiri dari duduknya.
Weini mencegah Xiao Jun berlalu, digenggamnya pergelangan tangan pria itu kemudian menatap dengan pandangan yang sedih. “Tunggu! Jun, aku masih perlu teman bicara. Bisakah kau tinggal sebentar lagi?” Pinta
Weini sungguh-sungguh.
Xiao Jun tak kuasa menolak, lagipula ia masih rindu pada gadisnya dan tak akan keberatan untuk berduaan lebih lama lagi, asalkan tidak mengganggu Weini. “Tentu.” Jawab Xiao Jun kembali duduk di samping Weini.
Weini tersenyum getir, sulit baginya menarik seulas senyum yang lebih lebar lagi walau untuk Xiao Jun. “Thanks.”
“Apa ada yang ingin kamu ceritakan? Aku bersedia jadi pendengar yang baik.” Ujar Xiao Jun dengan tulus.
Weini tampak menggigiti bibir bawahnya, ia tengah mengumpulkan keberanian untuk melakukan hal nekad yang ada dalam benaknya. Haris bersikukuh menolak, parahnya lagi ia sungguh menegaskan status pada Weini. Keadaan
mungkin akan sulit kembali seperti semula, dan Weini terpaksa harus keras kepala juga mempertahankan keinginannya.
“Jun... Kamu lahir dan besar di Hongkong kan?” Tanya Weini sembari menatap serius pada Xiao Jun. Pria itu terheran sejenak kemudian mengangguk pelan sebagai jawaban. Namun justru Weini yang kembali ragu untuk
meneruskan pertanyaan, ia menundukkan kepala sejenak lalu mendongak sembari menarik napas.
“Papamu pengusaha di sana kan? Dan kamu pasti banyak mengenal orang berpengaruh di sana.” Jelas Weini lalu menggigit bibir bawahnya lagi.
“Iya, kenapa sayang?” Jawab Xiao Jun. Jantung Xiao Jun berdebar kencang lantaran harus menutupi kebenaran. Anehnya lagi jawaban itu tercetus begitu saja tanpa dipikir ulang.
“Apa kamu kenal tokoh paling berpengaruh di Hongkong? Beliau bermarga Li, sama sepertimu. Namanya Li San Jing.” Weini berhasil melontarkan pertanyaan berat itu, ia sepenuhnya mengandalkan kemampuan kekasihnya untuk memberi bantuan.
Bukan main terkejutnya Xiao Jun mendapati pertanyaan itu, kini ia kesulitan mempertahankan raut tenangnya dan berusaha memikirkan jawaban terbaik. “Tentu. Siapa yang tidak mengenalnya, Beliau adalah figur penguasa yang paling berpengaruh. Tapi kenapa kamu menanyakannya?” Tanya Xiao Jun, ia pun penasaran mengapa Weini tiba-tiba membahas tentang ayah kandungnya.
“Berarti tidak sulit bagimu mendapatkan informasi tentang beliau. Apalagi kamu pasti punya orang yang bisa diandalkan di Hongkong. Jun, apa kamu mau membantuku mencari kabar tentangnya?” Pinta Weini, kedua tangannya sudah memegangi Xiao Jun dengan kuat.
Xiao Jun semakin bingung, dalam hati ia terus mencoba berkomunikasi dengan Haris. Berharap mendapat petunjuk dari ayahnya, apa yang harus ia lakukan sekarang? Karena pembicaraan Weini semakin menjebaknya. “Ng … Apa yang ingin kamu ketahui tentang dia?” Tanya Xiao Jun basa basi. Ia hanya sedikit mengulur waktu.
Ayah, keluarlah … Apa yang terjadi dan aku harus bagaimana ini? Batin Xiao Jun mencoba telepati dengan Haris.
“Tolong carikan info keberadaannya, keadaannya, keluarganya bagaimana sekarang. Ah… Jun, kamu punya pesawat pribadi dan leluasa mengakses negara itu. Bisakah kamu bawa aku ke sana sekarang? Ah, besok pun tak
“Kamu mau ke Hongkong? Ehem … Apa ayah setuju? Apa kamu tidak ada jadwal syuting?” Xiao Jun bertanya balik, ia mendadak kehabisan ide untuk menghadapi Weini.
Weini menggelengkan kepala, “Kumohon Jun, bantu aku kali ini. Sangat penting, aku tidak bisa menunda pergi. Ayah pasti setuju kalau kamu yang menemaniku.” Desak Weini.
Xiao Jun menghela napas dengan berat, ia melepaskan tangan Weini yang memegangnya lalu balas menggenggam jemari lentik gadis itu. “Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu ngotot ingin tahu tentang orang itu? Apa sangat penting
bagimu?” Tanya Xiao Jun dengan lembut, suaranya bahkan menggetarkan hati Weini, membuat gadis itu menunduk dan matanya berkaca-kaca sekarang. Xiao Jun bukan tidak tahu jawaban pertanyaan itu, ia hanya berusaha terlihat netral.
Weini terkesiap, rasa takut menguasai hatinya, seolah menggodanya untuk mundur dari sikap nekadnya. “Dia … Ah, Jun … Apa kamu percaya denganku?” Weini mencoba mencari kebenaran dari tatapan Xiao Jun, memastikan apa pria itu sungguh akan mempercayai ceritanya jika ia membuka rahasia tentang jati dirinya.
Xiao Jun mengangguk, “Aku selalu mempercayaimu.”
Weini tersenyum getir, perlu sedikit keberanian lagi yang harus dikumpulkan untuk mengatakan semuanya. Cepat atau lambat kebenaran ini harus terkuak, Xiao Jun wajib tahu yang sebenarnya karena ia berniat serius menjalani masa depan dengannya.
“Li San Jing … Dia … dia adalah ayahku. Aku adalah putrinya yang hilang, Li Yue Hwa.” Ungkap Weini dengan mantap, tatapannya serius tanpa kedipan pada Xiao Jun.
Sebaliknya Xiao Jun yang sudah lama tahu kebenaran itu justru sangat terkejut, ia tak menyangka akan seperti ini jadinya. Segala yang direncanakan Haris tampak berantakan, bukan mereka yang akan menceritakan kebenaran pada Weini tetapi gadis itu lebih dulu mengambil sikap.
“Aku tahu ini terdengar konyol, tapi itulah kenyataannya. Kelak kau akan jadi suamiku, jadi aku rasa kamu perlu tahu. Tidak ada rahasia di antara kita bukan?” Weini mencoba meyakinkan karena ia melihat Xiao Jun tampak sangat terkejut.
“Jadi ayah Haris itu ….” Gumam Xiao Jun terbata.
“Dia sebenarnya pengawalku, tapi aku sudah menganggapnya ayah.” Lirih Weini sedih, terlebih sorot matanya yang sangat sendu.
Xiao Jun menelan ludah, mempermainkan jakunnya naik turun lantaran kegelisahannya.
“Jun, kumohon bawa aku pulang! Aku harus menyelamatkan keluargaku, ini sangat mendesak.” Rengak Weini, ia
sungguh-sungguh dengan tekadnya. Air mata pun turut memberi andil atas keseriusannya.
Xiao Jun masih bergeming, ia terjebak dalam dilemma yang membuatnya tak banyak berkutik. Haruskah menuruti ayahnya di saat situasi tak lagi kondusif seperti yang mereka rencanakan? Ataukah harus menuruti keinginan Weini? Di sisi lain, kata kata Grace tentang kebohongan yang menyakitkan terus mengusik pikirannya. Weini telah jujur, namun Xiao Jun entah sampai kapan memendam kebohongan besar itu.
Weini, ayahmu adalah ayah angkatku. Ayo kita tolong mereka! Ingin rasanya Xiao Jun meneriakkan itu, dan kata kata itu masih tersangkut di tenggorokannya.
“Jun? Apa kamu marah karena kebohonganku? Aku tidak bermaksud tapi ini adalah rahasia besar. Hanya kamu yang tahu jati diriku di sini, dan itu karena aku percaya padamu! Kumohon, tolong aku … Bawa aku pulang besok.” Desak Weini.
Xiao Jun menatap Weini tak kalah serius, desakan di hatinya pun seakan nyaris meledak. Diremas lembut jemari Weini untuk menguatkan diri, ia harus bertindak. “Weini … Sebenarnya aku ….”
***
Yaaa … Bersambung!
Sabar ya, dilanjut besok lagi. Thor mau istirahat dulu, love you all.
***