OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 48 YOU LOOK SO BEAUTIFUL IN BLACK



Ada masa ketika kamu mencari namun tidak menemukan


Mengharap tapi tidak mendapatkan


Kadang tanpa dicari, kamu malah dipertemukan


Tanpa mengharap, pintamu justru dikabulkan.


Hidup kadang selucu itu…


_Quote of Weini aka Yue Hwa_


***


Mobil Dina terdengar berhenti di depan rumah. Meskipun wanita itu belum menampakkan diri, Haris sudah berteriak pada Weini agar segera menghampiri managernya di luar.


“Aku pergi dulu, ayah!” seru Weini sembari melambaikan tangan. Haris membalasnya dengan lambaian tangan pula.


Dina berdiri di luar pagar lalu mengurungkan niat untuk masuk ketika melihat Weini berlari keluar. OMG apa ini kostum buat kencan? Dina merutuki dirinya setelah melihat betapa cueknya penampilan Weini dalam balutan sweater rajut merah dan celana Jeans panjang sobek-sobek. Ia harus melakukan sesuatu sebelum kencan yang diaturnya dimulai.


“Ayo kak.” Weini bergegas masuk ke mobil.


Mesin mobil menyala, sebelum pergi Dina membunyikan klakson serta melambaikan tangan pada Haris yang berdiri di depan pintu.


“Kita langsung ke butik desainer ternama itukan?” Tanya Weini tanpa rasa curiga.


“Yaa… begitulah.” Sebenarnya fitting bisa dilakukan dua hari lagi, tapi demi menjebak Weini, Dina terpaksa memajukan jadwal dan menyodorkannya pada Xiao Jun nanti.


“Kita sepertinya juga perlu beberapa out fit untuk keperluan on air. Sekalian belanja saja ntar Non.” Sambung Dina. Padahal ia tak sabar ingin melucuti setelan yang terlalu simpel itu dari Weini.


“Hmm… kau urus saja deh kak.”


Dina hanya memberi acungan jempol kepada Weini. Hatinya tengah kegirangan, satu persatu rencana akan ia lakukan demi memberikan yang terbaik pada bos muda yang royal itu. Dalam alunan lagu Rude yang diputar


dari radio,  keduanya hanyut dalam imaji masing-masing.


***


Chen Kho sudah berdiri satu jam lebih di depan pintu rumah Li An. Langit seakan menertawakannya dengan guyuran hujan deras tanpa jeda. Payung yang dipegang Chen Kho bahkan tidak berfungsi lagi, seluruh pakaiannya basah kuyup hingga rambutnya mulai meneteskan air.


Dari sudut jendela kamar, Li An sesekali mengintip keluar. Pria nekad itu masih saja betah mematung di sana, Li An menggelengkan kepala melihat betapa keras kepalanya pria itu. Suara petir bersahutan dengan suara yang menggelegar. Li An menutup telinga saking kerasnya dentuman itu. Ia kembali melirik keluar, Chen Kho tak bergeming dan masuk serius menatap pintu.


“Jika diteruskan dia bisa sakit, atau bahkan pingsan di sini. Lalu Tuan besar Li akan menghukumku lagi?”


Krieeet…. Pintu berdecit ketika Li An membuka separuh pintu kayu lapuk. Chen Kho tampak senang melihat gadis yang ia tunggu akhirnya membukakannya pintu.


“Tuan muda, sebaiknya anda segera pulang. Jangan menambah masalah untuk saya, mohon belas kasihan anda.” Li An tidak menawarkan pria yang basah kuyup itu untuk berteduh sejenak.


“Nona percayalah,aku tidak akan membuatmu dapat masalah. Dengarkan aku, saat ini ibumu dibawa berobat ke Guangzhou oleh tanteku. Awalnya paman sangat menentang, tapi aku berhasil meyakinkannya.” Chen Kho menggigil kedinginan, suaranya terbata bata saking dinginnya.


Mata Li An membesar saat ibunya disebut. Ada rasa rindu dan cemas yang menyatu dalam hatinya. “Ibu sudah berobat. Syukurlah… terima kasih tuan muda.” Jika memang Chen Kho yang berjasa, maka ia pantas


mendapatkan terima kasih dari Li An.


“Ng… aku akan menjaga ibumu…” Chen Kho mulai limbung, kesadarannya semakin melemah. Perlahan sosok Li An mulai kabur lalu hilang bersamaan dengan ambruknya tubuh kekarnya ke tanah.


“Tuan mudaaaa…”


***


Hampir satu jam Weini bolak balik mencoba berbagai dress dan setelan formal yang disodorkan langsung oleh desainernya. Dina bahkan terlihat serius memilih yang paling cocok untuk artisnya. Weini terkagum melihat kepiawaian Dina, ia bersyukur wanita itu menjadi managernya.


“Oke Weini, semua koleksi gue sangat cocok ama lu. Next jadi model gue ya buat koleksi terbaru.” Desainer ternama itu memuji dengan tulus. Ia sepertinya jatuh cinta pada Weini saat bertemu langsung. Biasanya Weini


hanya terlihat di layar kaca, baru kali ini mereka berkesempatan bertatap muka.


“Boleh banget, kirimin aja penawarannya ntar kita pertimbangkan.” Dina mencegat jawaban Weini dengan cepat. Weini bahkan terbengong dengan jawaban blak-blakan Dina. Luar biasa ia mendapatkan job padahal tujuan utama kemari hanya untuk fitting.


“Siap! Gue jadi bergelora mendengarnya hahaha.” Ujar desainer muda itu dengan berapi-api.


“Btw, mumpung lagi di sini, kita beli satu dress sekalian non.” Dina mulai siasatnya agar Weini berganti kostum. Tinggal setengah jam lagi waktu yang ia janjikan dengan Xiao Jun, dan ia harus menyulap Weini terlihat paripurna.


“No no no! Buat my angel Weini semua free! Free!” kicau Desainer pria itu, ia terlanjur ngefans dengan Weini.


“Eh, jangan kak. Aku belum perlu dress baru.” Bagi Weini menerima kebaikan orang sama saja menyimpan hutang. Ia tidak terbiasa mendapat perlakuan spesial Cuma-Cuma. Sayangnya desainer itu menyodorkan sebuah dress satin berwarna hitam.


Dina terbahak dalam hati, ia hanya perlu menyulut api dan menyiram bensin lalu membiarkan orang lain yang meniupkan angin. Sekarang Weini pasti tidak punya alasan menolak, dan ia hanya perlu selangkah lagi


mempercantiknya.


“Ng… kakak terlalu baik. Aku jadi nggak enak.” Weini menatap Dina, berharap mendapat bala bantuan. Tapi Dina justru mendukungnya segera berganti dress itu.


“Thank ya, Non Weini pasti sangat cantik memakainya. Buruan dipakai Non!” Dina mendorong Weini ke fitting room.


***


Weini memilih diam, setengahnya ia ngambek karena Dina tidak pro padanya hingga membuat dirinya terlihat seperti hendak ke pesta dalam balutan long dress hitam bermodel tank top. Mirisnya lagi, pakaian yang ia kenakan waktu berangkat dari rumah ditinggalkan begitu saja di butik. Tinggal dress ini satu-satunya busana yang harus menempel di tubuhnya sampai pulang nanti.


“Non, demi profesi mulai sekarang non tidak bisasembarangan berpakaian. Aku akan mensortir koleksi baju non saat libur selanjutnya. O ya, non cakep banget sekarang. Kak Bams pasti pangling.” Dina mencoba mencairkan suasana, ia tahu Weini sedang tak senang.


“Ngapain ke kantor, kita nggak ada jadwal kok. Aku mau pulang saja kak.” Ujar Weini sewot. Ia berencana ngambek dengan bicara sekenanya saja.


“It’s Okay. Lets go home!”


Grok… grok… laju mobil terasa ngadat disertai bunyi mesin yang terdengar kasar. Weini menatap Dina dengan serius, mobil yang tadinya baik tiba-tiba mengalami kendala.


“Ada apa kak?”


Dina mencoba fokus untuk menstarter ulang mobil. Namun berkali-kali mencoba, mobil itu enggan menyala. “Mogok nih non. Duh…”


“Bengkel jauh nggak ya, apa kita panggil mobil derek?” weini berusaha memberi solusi meskipun ia buta soal mobil.


“Nggak usah deh, aku bisa atasin sendiri. Yang penting sekarang gimana nganterin non balik nih?” Dina memukul setirnya, rautnya terlihat sangat kesal.


“Aku naik taksi saja kak. Tapi masa ninggalin kamu gitu aja?” Weini balik cemas pada Dina.


“Jangaaan! Bahaya banget naik taksi sendiri. Hemmm…” Dina berpikir keras. Tiba-tiba sebuah mobil yang tak asing di seberang menarik perhatiannya.


“Eh, itukan mobil tuan Xiao Jun. Kebetulan banget!” Dina menunjuk mobil hitam yang terparkir di seberang jalan.


Weini mengikuti arah telunjuk Dina demi memastikan dugaan Dina benar. Dari plat mobil itu memang milik Xiao Jun. Weini terheran, apa yang dilakukan Xiao Jun di sekitar sini?


“Bentar ya non, aku minta tolong sama dia aja.” Tanpa mendengar jawaban, Dina sudah bergegas keluar dari mobil dan menyeberang.


Weini mengurungkan niat untuk menyusul Dina, sebaiknya ia menunggu managernya kembali daripada membuat keributan di luar. Dari balik kaca, Weini mengintai gerak gerik Dina.


“Eh, kenapa kak Dina masuk ke mobil Xiao Jun?” ponsel Dina bahkan tertinggal di mobil, percuma jika Weini menelponnya. Mobil Hitam itu berlalu dari jalur seberang. Weini mengira Dina menumpang mobil Xiao Jun


untuk mencari pertolongan. Tak begitu lama, mobil hitam itu berhenti persis di depan mobil mogok Dina. Dina turun dari sana disusul Xiao Jun.


Deg! Darah Weini mendesir saat melihat Xiao Jun dari kejauhan. Wajahnya yang terlihat serius itu justru terkesan sangat tampan bagi Weini. Debaran kencang di dada membuat Weini merasa sesak. Pria itu kian mendekat,


Weini tak tahu apa yang harus dilakukan.


“Non, pindah ke mobil tuan Xiao Jun ya. Dia bakal anter non balik. Non nggak usah cemasin aku, bentar lagi tukang Derek datang dan sebaiknya non tidak terlihat oleh mereka.” Dina meyakinkan Weini bahwa itu adalah jalan keluar terbaik.


Xiao Jun menunggu di luar, tepat di depan pintu mobil tempat Weini duduk. Pria itu mengetuk kaca agar Weini segera keluar.


“Ya sudahlah. Aku pergi dulu kak.” Weini keluar dengan perasaan campur aduk. Mungkin ia sudah kehilangan muka di hadapan Xiao Jun saking gugupnya. Penampilannya sekarang mungkin terlihat norak di mata pria itu.


Xiao Jun bergegas mengarahkan Weini menuju mobilnya. Mereka melangkah dengan cepat, namun Weini justru tersandung karena tak terbiasa memakai heels. Xiao Jun menahan tubuh Weini hingga ia tak tersungkur jatuh.


“Ng… trims.” Wajah Weini memerah. Ia meronta agar Xiao Jun segera melepaskannya.


Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil, Weini bernapas lega. Hanya berjalan empat meter saja sensasinya seperti mendaki puncak Bromo. Ia baru sadar hanya ada dirinya dan Xiao Jun di sini. Semula ia pikir Lao yang mengemudikan mobil, ternyata tebakan itu meleset.


“Udah aman sekarang.” Ujar Xiao Jun sembari menstarter mobil. Ia juga berusaha menghindari tatapan mata dengan Weini. Gadis itu berdandan lain dari biasanya, ia terlihat sangat cantik dalam balutan dress hitam. Xiao Jun tak mengira akan secanggung ini saat melihat penampilan tak biasa dari Weini.


“Thanks.” Ujar Weini.


Beberapa saat Xiao Jun terdiam antara ragu dan nekad. Namun ia mantap mengutarakan isi hatinya sekarang.


“You look so beautiful in black…”


Meski tanpa bertatapan, kata-kata itu telah membius keduanya dalam rasa bahagia. Weini tersipu malu mendengar pujian itu. Tapi ia memilih diam, membiarkan dirinya dan pria di sebelahnya larut dalam perasaan masing-masing.


***