
Weini mengawali pagi di hari yang baru dengan melemaskan jemari di atas senar kecapi. Haris tak keberatan menjadi penikmat musik klasik itu, kursusnya sudah diliburkan mulai pekan ini lantaran sebagian muridnya
harus persiapan menjelang ujian nasional. Weini sungguh betah berada di rumah, sekalipun Haris mengajaknya bertamu ke rumah Felix, ia tetap lebih memilih berlatih kecapi dan kungfu sebagai pengisi waktu luang.
“Kemana managermu? Tumben kemarin tidak muncul, padahal biasanya paling gemar nempeli kamu.” Haris mulai mencari Dina, tak biasanya gadis blak-blakan itu begitu jinak seakan menghilang tanpa kabar.
Weini menghentikan permainannya, ia pun sepaham dengan Haris. Dina yang cerewet dan selalu bertanya kabar itu tidak menghubunginya sejak kemarin. Hanya pesan dari Xiao Jun yang intens mengirimkan kata-kata bijak yang tidak penting. Entah apa strategi pria itu berbaikan dengannya, yang jelas Weini merasa Xiao Jun tengah menyindirnya.
Kumpulan chat Xiao Jun yang jadi koleksi bacaan di ponsel Weini, dan yang pasti dikutip dari internet :
Chat tadi malam : Jìrán ài nán fēn shìfēi, jiù bié táobì yǒnggǎn miàn duì.
Karena cinta sulit membedakan yang benar dan salah, jadi jangan melarikan diri berani menghadapi.
Chat tadi pagi : Wǒ bù huì ài nǐ hěnjiǔ, zhǐshì wǒ shēngmìng zhòng de měi yī fēn yī miǎo éryǐ.
Aku tak akan lama mencintai mu, hanya setiap menit setiap detik dalam kehidupan ku.
Keadaan tidak bisa terus begini, harus melakukan sesuatu untuk perubahan. Lebih baik atau lebih buruk, yang pasti tidak terus berdiam diri. Tapi aku sebenarnya menunggumu muncul di hadapanku, kita perlu berdamai secara nyata. Keluh Weini dalam batin, ia tak peduli Haris mengupingnya. Tidak ada yang perlu ia tutupi tentang perasaan ini jika hanya Haris saja yang tahu, itu bukanlah hal yang tabu.
Apa kabar kak Dina?
Weini memilih mengirim sebuah pesan singkat kepada Dina ketimbang membalas Xiao Jun. Sikap managernya yang tak lazim ini membuatnya cemas, apa mungkin ia sakit dan sendirian?
***
Dina tergopoh-gopoh menuju mobilnya di garasi ketika ponselnya berbunyi. Ia bangun kesiangan, ditambah chat Weini yang mencemaskannya sehingga ia harus segera setor muka agar tidak membuat orang lain khawatir. Ia melengos saat membaca nama penelpon, tak mungkin pula orang ini diabaikan. Hanya saja kenapa waktunya bisa pas ketika ia sedang terburu-buru.
“Ya, tuan?” Seru Dina sembari menyalakan mesin mobilnya.
“Dina, kenapa kemarin nggak laporan?” Tanya Xiao Jun singkat.
“Ng, Sorry tuan, kemarin aku sibuk nyari job buat non Weini. Habis ini aku ke sana, ntar kukabarin.” Jawab Dina
gelagapan. Baru menghilang hari saja sudah banyak yang mencarinya, termasuk Stevan.
Xiao Jun tak lagi menyita waktunya terlalu lama, pembicaraan mereka berakhir setelah Dina membeberkan alasannya. Sekian lama sudah mobil Dina nganggur, selama ini ia lebih banyak menumpang di mobil Weini agar bisa datang dan pulang bersamaan. Ada kepuasan tersendiri saat ia kembali menyetir, dan ia begitu menikmati perjalanan dengan kecepatan tinggi seolah ialah penguasa jalanan.
Dina membunyikan klakson ketika ia tiba di depan rumah Weini. Sebenarnya tanpa perlu seperti itupun penghuni rumah sudah tahu kedatangannya, dan yang pertama menyambutnya adalah Weini. Artis itu tersenyum girang mendapati Dina turun dari mobil dengan sumingrah.
“Kangen aku ya, non?” Dina dengan percaya diri bertanya sebagai sapaan pembuka.
Weini mengangguk senang, ia memang merasa ada yang kurang tanpa Dina yang sudah ia anggap seperti saudara perempuan. “Kemana aja seharian kemarin kak? Kupikir lagi nggak enak badan.” Tanya Weini seraya mengajak
Dina masuk.
Begitu melangkah ke dalam ruang tamu, perhatian Dina langsung tertuju pada kecapi yang mencolok di pojok ruang
itu. “Wuaaah … Sehari nggak datang langsung ada mainan baru di sini.” Ungkapnya penuh takjub, ia langsung menghampiri alat musik itu dan iseng menyentuhnya.
Weini terdiam sembari memangku tangan, ia tertawa kecil saat Dina mulai kepo dan mencoba memetik beberapa
senar dengan tawa khasnya. Pertanyaan yang terabaikan itupun tak dipersoalkan lagi oleh Weini, biarlah yang penting Dina sekarang datang dan baik-baik saja.
yang tertunda. Ia menatap Weini dengan tatapan yang menenangkan, namun ada sedikit kekecewaan yang tersirat di sana.
Weini tertegun, Dina tetap keras kepala meskipun ia sudah pernah mengatakan tidak masalah harus menganggur dulu. Dari sorot mata pesimis itu, Weini bisa menebak hasilnya. “Lalu gimana kak?” Tanya Weini, walaupun tahu namun ia tetap ingin mendengar jawaban langsung.
Dina menggelengkan kepala, kecewa sekaligus sedih bercampur jadi satu. “Ada juga buat tayangan nggak mutu, nggak mungkin kita ambil.”
Weini menghela napas lalu menepuk pundak managernya, “Kak, makasih banget usahamu. Aku tahu kamu ingin yang terbaik buatku. Jangan terlalu dibebani ya, sabar sebentar lagi aku pasti kembali syuting.”
“Benarkah? Ada yang hubungin non ya?” Tanya Dina dengan wajah berbinar, ia mengira telah melewatkan berita dan Weini sudah ada pihak yang menawarkan kerjasama.
“Belum ada. Hanya feeling aja kak.” Jawab Weini tenang. Ia berjalan menuju kecapi kemudian menarik kursi kecil itu
untuk diduduki. Dina yang kembali memasang raut kecewa, mengekori gerak-gerik Weini dengan mata bulatnya.
“Mainkan dong non.” Pinta Dina.
Weini mengabulkan permintaan Dina yang memintanya tanpa menyebutkan judul lagu. Kini lantunan lagu time to say
goodbye dimainkan penuh penghayatan oleh gadis itu, tidak hanya piawan dalam lagu Mandarin, Weini hampir menguasai semua lagu klasik barat juga.
Dina terang-terangan merekam penampilan Weini. Selain karena kagum, ia merasa harus mengabadikan bakat terpendam Weini dan membagikannya ke akun sosial media artis itu. Sangat jarang ada artis yang multitalenta dan piawai memainkan alat musik tradisional itu. Sorak sorai dan tepuk tanganpun ia berikan saat di penghujung lagu.
“Bravo! Non, boleh tuh kita ntar cari sponsor buat rekaman.” Goda Dina sembari tertawa kecil.
“Hanya buat hobi kak, bukan buat kerjaanlah.” Tolak Weini halus, ia tak berniat menjadikan hobinya yang satu ini
sebagai lahan pengumpul rupiah.
“Sayang banget, padahal nggak ada loh artis yang bisa gitu selain non. Oya, btw non kursus di mana? Udah lama ya bisa mainnya, kok luwes banget gitu loh.” Dina mulai kepo, satu pertanyaan saja tak puas baginya.
Weini terdiam sejenak, ia teringat masa lalu saat guru musiknya mengajarinya bermain beberapa alat musik, namun
hanya kecapi yang lebih membuat Weini tertarik. Semua kemampuan Weini sekarang, tidak luput dari pelajaran yang ia dapatkan selama ia menjadi nona muda di kediaman sang ayah. “Guru les, waktu kecil kak. Udah lama banget sih.”
“Ooo … Hebat ya, kok baru sekarang loh ditekuni lagi. Aku iri sama non, udah cantik, pinter, banyak bakat bisa
kungfu, eh bisa main musik. Tapi orangtua non juga mendukung banget, masih kecil saja dikasih les musik, kalau aku boro-boro non, mau les balet aja nggak dibolehin katanya nanti dadanya jadi rata kena pakaian ketat. Kolot banget ya!” Gerutu Dina.
Weini tersenyum kecil mendengar kesewotan Dina, kadang sikap ceplas-ceplos ini yang membuat Dina dirindukan. “Ya, begitulah kak.”
“Ya non udah bersyukur banget, waktu kecil bisa belajar ini itu. Waktu aku kecil nih non, hampir tiap hari dengar
orangtuaku bertengkar. Makanya aku malas tinggal sama mereka sekarang, dipikir-pikir jadi non memang enak, cuman tinggal sama ayah yang sangat baik dan pengertian. Om Haris itu ayah idaman banget, sampe Stevan aja minta diangkat jadi anak. Btw lagi non, sorry nih … Ibu non kemana ya? Kenapa hanya non berdua aja dengan om
Haris?”
Dina menagih jawaban dari Weini lewat sorotannya yang haus akan informasi. Sementara Weini tampak canggung dan terdiam menatap Dina, ia tak pernah menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang menjurus ke hal privasi.
Ayah, aku harus menjawab apa?
***