
Hidangan di atas meja makan membuat Weini takjub, sepagi ini sudah tersaji masakan yang tampak menggoda selera. Melihat masakan itu membuat Weini merasa lapar, ia bahkan lupa kapan terakhir ia makan. Setelah tersadar di rumah bawah laut, ia tidak menyentuh masakan yang disajikan gadis pelayan itu. Mungkin terakhir ia
memasukkan makanan dalam perutnya adalah saat sarapan bersama Haris sebelum kejadian menggemparkan itu.
Xin Er mengambilkan nasi dalam piring kemudian memberikan pada Haris lalu pada Weini. “Nona, silahkan dicicipi....” Gumam Xin Er dengan lembut dan penuh rasa keibuan.
Weini menatap wanita tua itu lekat, wanita yang kini sepadan dengan Haris yang juga menua sesuai aslinya. Ia mengatupkan kedua tangannya kemudian tersenyum pada Xin Er. “Ibu, berhentilah memanggilku nona, panggil saja namaku. Aku lebih nyaman mendengarnya.” Pinta Weini serius.
Keadaan hening sejenak, Xin Er tampak canggung. Di sisi lain ia merasa tak nyaman lantaran sudah terbiasa memperlakukan keluarga Li dengan formal. “Maafkan ibu... Ibu tak terbiasa.” Ujar Xin Er menundukkan kepala.
Haris melihat suasana yang canggung itu kemudian mengambil alih pembicaraan. “Nona Yue Hwa memang
sudah menganggapku sebagai ayah, meskipun canggung tapi mungkin ini yang terbaik, kita harus membiasakan diri mulai sekarang. Aku akan memanggilmu Yue Hwa, sesuai permintaanmu.” Ujar Haris tenang.
Weini tersenyum lalu mengangguk puas, “Terima kasih ayah, terima kasih ibu, kakak dan yang lainnya.”
Xin Er dan yang lainnya tersenyum dan membalas anggukan Weini. Haris merasa lega melihat kecanggungan yang mulai mencair. “Mari kita makan.” Ajak Haris memulai acara makan mereka.
Saat keluarga Haris dan Weini mulai asyik makan bersama, suara pintu utama yang terbuka menghentikan sejenak aktivitas di ruang makan. Lau langsung tanggap dan berdiri untuk menyambut seseorang yang datang. Ia yakin pasti Grace yang kembali dari rumah sakit.
“Itu pasti Grace.” Gumam Li An saat melihat Weini sepertinya heran.
Dan benar saja, Weini meletakkan sendoknya. Makanannya tersisa sedikit di piring, namun antusiasnya berganti memikirkan Grace. Suara Lau yang menyapa gadis itu terdengar di ruang makan, menyusul derap langkah yang berlari memasuki ruangan tempat Weini berada. Grace muncul dengan senyuman bahagia, ia mengangguk sebentar pada Haris dan Xin Er kemudian bergegas menghampiri Weini.
“Weini, kamu Weini? Ah... kamu... Aku tidak bisa mengenalimu lagi.” Tanya Grace dengan mata berkaca-kaca, ia terkesima melihat gadis cantik yang ia yakini adalah Weini.
Weini berdiri, ia tersenyum getir pada Grace lalu tak menunda lama, ia menari Grace dalam pelukannya. Dua gadis itu saling merapatkan diri dengan erat, dan Weini tak sanggup menahan tangisnya. Grace bingung tetapi ia menikmati keakraban itu dan mengelus pundak Weini lembut. Dibiarkannya Weini menangis membasahi pundaknya.
“Syukurlah kamu pulang dengan selamat, aku lega....” Gumam Grace tenang.
Weini tidak menjawabnya, ia tetap menikmati sejenak kehangatan pelukan itu. Sulit bagi Weini untuk menyampaikan nasib tragis Chen Kho, ia sungguh belum sanggup buka mulut. Weini merenggangkan pelukan, lalu menyeka air mata di ujung matanya. “Makan yuk, kamu pasti belum sarapan kan.” Ajak Weini.
Grace mengangguk setuju, ia memang belum makan apapun sejak tadi malam. Weini bahkan mengambilkan piring kosong untuk Grace dan melayaninya, ia berusaha keras menyembunyikan perasaannya dari Grace, namun nyatanya Grace cukup peka merasakan ada sesuatu yang belum bisa Weini katakan. Firasatnya pun berkata
buruk, bahwa sesuatu itu pasti bukan hal baik yang bisa didengar.
***
Dina enggan beranjak dari kamarnya, meskipun cuaca di sana cukup cerah siang ini. Ia sengaja mogok agar Ming Ming menghubungi tuannya dan memberitahukan bahwa ia ingin segera pulang.
“Dina... Sudahlah, tunggu saja kabar dari tuanku. Setelah kondisi di sana membaik, pasti dia mengijinkan kita pulang. Apa kamu mau pindah tempat berlibur? Katakan saja, tuan bilang ke manapun kamu mau pergi, dia tidak keberatan menanggung akomodasinya.” Bujuk Ming Ming yang masih tak menyerah meyakinkan Dina. Atas permintaan Dina pula, ia memanggil nama gadis itu meskipun agak canggung.
Dina sewot, ia melirik pria tampan itu dengan malas lalu kembali membuang muka. “Ke mana aja sama, aku
nggak bisa tenang kalau nggak jenguk teman-temanku dulu. Pokoknya aku mau pulang, ngapain jadi pengecut di sini, aku nggak mau sembunyi lagi. Cepat beritahu tuanmu, atau jika perlu aku saja yang bicara langsung dengannya.” Kecam Dina antusias.
Ming Ming mengerutkan dahinya, permintaan Dina sungguh tidak dipikirkan ulang. “Kamu yakin mau bicara
langsung dengan tuanku? Dia tidak mengerti bahasamu loh.” Gumam Ming Ming sedikit meledek.
Dina terdiam, ia baru sadar bahwa komunikasi dengan Wen Ting pasti sia-sia karena kendala bahasa. Ia kembali
memanyunkan bibir dan memelankan nada bicaranya, “Kalau begitu kau saja yang sampaikan. Cepat, hubungi dia sekarang!” Desak Dina.
Ming Ming melihat jam tangannya, lalu menggeleng lemah. “Jangan sekarang, aku takut dia belum bangun.
“Pokoknya sekarang, kau coba saja dulu. Kalau dia masihtidur juga pasti tidak diangkat, kau mana tahu kapan dia bangun. Waktu itu saja dia tidak tidur semalaman, aku yakin dia mungkin tidak tidur.” Desak Dina, ia benar-benar keras kepala dan egois. Tak tinggal diam begitu saja, Dina pun berdiri dan merengek di hadapan Ming Ming layaknya anak kecil.
Ming Ming menghela napas berat, lelah juga mengurus seorang gadis. Ia merasa menjadi pengawal Dina seperti mendapatkan hukuman, lebih baik ia menghadapi bahaya, mengintai musuh yang nyata, daripada disuruh menenangkan hati seorang wanita bawel seperti Dina. “Baiklah, aku hubungi tuanku sekarang. Kau puas?” Seru Ming Ming.
Dina mengangguk dengan senyum lebar penuh kemenangan.
“Kalau begitu lepaskan aku.” Lanjut Ming Ming seraya nyengir, saking antusiasnya Dina sampai memeluk lengan Ming Ming dengan erat.
Dina sadar dari kekonyolannya lalu bergegas melepaskan kedua tangannya dari lengan kekar Ming Ming. “Sorry....” Gumam Dina malu tapi gengsi, ia membuang pandangannya lalu memanyunkan bibirnya.
Ming Ming gemas melihat sikap kekanakan Dina, tapi harus ia akui bahwa sikap itu justru membuat Dina terlihat menarik di matanya. Pria itu segera meronggoh ponselnya dan menghubungi Wen Ting. Tak seperti dugaannya yang mengira bos muda itu masih tidur, panggilan itu justru sangat cepat tersambung.
***
Para pria berkumpul di ruang tengah, sementara para wanita berpencar. Ada yang di kamar Xin Er dan ada pula yang di kamar tamu yang ditempati Grace.
“Kalian mengalami kejadian yang mengerikan, aku tidka bisa bayangkan jika aku ada di sana.” Gumam Wen Ting merinding mendengar cerita Xiao Jun tentang perjuangannya menyelamatkan Weini.
“Itulah kenapa ayah melarangmu ikut, kami di sana benar-benar taruhan nyawa. Kasihan Su Rong yang
beberapa kali hampir celaka.” Gumam Xiao Jun.
Su Rong yang sedang dibahasi itu kini sedang beristirahat di kamar Lau. Tubuhnya tidak sekuat tubuh Xiao Jun dan Haris yang punya basic sihir, pria itu pasti sangat kelelahan.
Wen Ting manggut-manggut paham, tak bisa ia bayangkan rumah di dalam lautan, meskipun penasaran namun ia tidak punya nyali untuk datang ke tempat seperti itu. “Tapi aku tertarik dengan rumah di bawah laut, tak kusangka klan Li punya aset seberharga itu. Hmm... Lain kali aku akan coba investasi dengan proyek bangunan
seperti itu. Lumayan juga punya rumah dalam lautan.” Seru Wen Ting antusias.
Ketika Xiao Jun hendak berkomentar, suara telponnya menghentikan obrolan para pria saat itu. Wen Ting meminta waktu sebentar ketika meliha nma pemanggil dari layarnya. Ia berdiri membelakangi Xiao Jun dan Haris yang tak tertarik menguping pembicaraan mereka, sampai akhirnya Wen Ting sendiri yang menghampiri Xiao Jun dan berbisik padanya.
“Gadis manager itu mendesak untuk pulang, bagaimana menurutmu?” Tanya Wen Ting.
Xiao Jun tersenyum kecil, ia hapal betul bagaimana sifat Dina dan memang aneh jika gadis itu betah tanpa kebawelannya. “Berikan padaku ponselmu, biar aku yang bicara langsung dengannya.”
Wen Ting menyerahkan ponselnya, kemudian Xiao Jun agak mengatakan hal yang sama pada Ming Ming,
hingga panggilannya sungguh terhubung dengan Dina.
“Bos... Kau sudah kembali? Nonaku bagaimana?” Suara Dina melengking dari seberang, ia terdengar penuh semangat mengetahui Xiao Jun sudah kembali.
Xiao Jun tersenyum kecil, “Ya Dina, kami sudah kembali. Nonamu baik-baik saja. Tapi apa kau
sungguh tidak betah liburan?”
“Ya, aku ingin segera pulang, hari ini juga bos. Aku mau ketemu non Weini.” Ujar Dina tak sabaran.
“Kau tidak menyesal melewatkan liburan gratis ke manapun kau suka? Bukankah Ming Ming terlihat sesuai kriteriamu?” Tanya Xiao Jun menggoda iman Dina.
Namun tidak perlu waktu lama mendengar jawaban, Dina melengkingkan jawabannya. “Aku mau pulang bos, sekarang.”
***
Hi guys, author bakal crazy up. Tapi tetap minta support like, komen dan votenya ya. Plis bantu author untuk semangat berkarya.