OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 328 KEBAIKAN YANG TAK TAMPAK



Jantung Stevan serasa copot saat melihat dokter dan dua orang suster berlari tergesa masuk ke ruang ICU. Pria itu pun tak sempat menghadang dokter untuk bertanya apa yang terjadi di dalam karena saat melihat ekspresi


wajah tim medis yang begitu tegang.


“Ini bukan pertanda baik, aku bingung harus menyampaikan pada keluarga. Mereka pasti tidak akan terima.” Gumam Lau sedih.


Gumaman pesimis dari Lau itu membuat Stevan yang memang sedang sensitif seketika tersinggung. Pria itu mendekati Lau kemudian menarik kerah kemejanya. “Enteng sekali bicaramu! Kau ngomong seakan Grace akan


mati!” Geram Stevan yang tersulut emosi.


Fang Fang reflek melerai keduanya, dengan sekali dorongan pada pundak Stevan saja sudah cukup membuatnya terpental. Meskipun hanya seorang gadis berpenampilan lugu, namun soal kekuatan fisik, Fang Fang tidak bisa diragukan.


“Bisakah kamu tidak menambah kacau?” Cecar Fang Fang pada Stevan yang akhirnya membungkam pria itu.


Stevan menyadari kesalahannya, ia pun mendekati Lau dengan raut sedih dan menyesal. “Maaf paman.” Lirihnya singkat.


Lau hanya tersenyum, ia cukup pengertian tentang gejolak emosi anak muda yang menyangkut orang yang dicintai. Egois dan sangat meletup, seperti yang pernah Xiao Jun alami dan Lau paham betul itu.


Weini keluar dari ruangan tempat Grace dirawat, tatapannya kosong serta raut yang tak dapat dijelaskan antara sedih, kecewa, kaget, bercampur aduk dalam ekspresi wajahnya. Stevan yang mendapati Weini muncul langsung menghampirinya, setidaknya ia punya seseorang yang bisa dipercaya untuk ditanyai.


“Gimana dia?” Stevan menodong kepastian dari Weini. Sayangnya Weini terlihat belum siap, pandangan matanya seperti orang kebingungan namun sekilas dilihat lagi seperti orang yang kesakitan.


“Weini, gimana kondisinya? Kamu bisa menolongnya kan?” Stevan mengguncang pundak Weini, akal sehatnya mulai tak terkontrol dengan terang-terangan bertanya seperti itu. Lau dan Fang Fang yang mendengar itu langsung mengernyit heran, dalam benak mereka bertanya-tanya mengapa Stevan mempercayakan kesembuhan Grace yang mustahil itu pada Weini.


Weini menatap Stevan dan tetap membisu, lidahnya masih kelu untuk sekedar berbicara sepatah kata. Hanya air mata yang kemudian luruh membasahi kedua pipi mulus Weini, yang langsung disalah artikan oleh Stevan. Pria itu langsung terisak tangis lalu berteriak kencang meluapkan kepedihan.


“Kalau sama saja tidak ada harapan, aku menyesal memberikan kesempatan terakhir bicara dengannya padamu.”Kesal Stevan kemudian kembali melampiaskan kemarahannya pada dinding yang tidak bersalah. Pria itu


melayangkan tinju pada benda mati itu, tak peduli dengan tangannya yang lecet dan berdarah sebagai ganjarannya.


Lau menatap Weini heran, tidak biasanya gadis yang ramah itu hanya diam dan pasif. Terlebih air muka Weini yang tampak seperti orang yang memendam kekecewaan berat. Namun pengawal Xiao Jun itu tidak berniat mengusik kekasih tuannya, dibiarkannya Weini berjalan menjauh dari mereka. Dari semua kenyataan yang mungkin akan pahit ujungnya.


***


Aku tak pernah membayangkan hidup yang kata sebagian orang itu penuh keindahan, ternyata tak pernah indah kurasakan. Setiap kali kebahagiaan mulai datang, selalu tergantikan dengan kepedihan yang lebih dalam.


Kapan semua ini berakhir? Kapan kebahagiaan sungguh berpihak kepadaku?


***


Weini menepikan diri di sudut lorong rumah sakit yang sepi, ia terduduk lemas di lantai dengan tatapan yang masih kehillangan semangat. Untuk saat ini, ia sungguh ingin menyendiri, merasakan ngilu di ulu hatinya dengan sensasi panas seperti terbakar. Hidup memang panggung segala sandiwara, dengan banyak tokoh yang memakai aneka ragam topeng kehidupan. Terkadang berbuat baik pun tak luput dari amukan, disalahkan bahkan dipelintir seakan


punya motif kejahatan. Padahal tak ada yang paham seberapa besar pengorbanan yang diberikan demi membantu seseorang, dan bahkan kadang beresiko membahayakan nyawa diri sendiri.


Tak akan ada yang mengerti apa yang baru saja Weini lakukan. Memberikan segenap energinya dan menyerap racun dalam tubuh Grace ke dalam tubuhnya. Dan sekarang Weini tertatih sendiri merasakan dampaknya. Dalam


kesunyian, tiba-tiba ia mendengar derap langkah serta suara dua orang wanita yang sedang berbincang. Seketika itu pula Weini mengerahkan sisa tenaganya untuk mangkir dari kenyataan. Ia menciptakan lingkaran sihir yang menutupinya hingga tidak terlihat oleh orang yang lewat. Sihir yang belum lama ia kuasai dan belum Haris ketahui.


Dua orang perawat berjalan melewati Weini yang duduk menyandar pada dinding. Ia terabaikan, sihirnya sukses setelah sebelumnya membuat Weini sedikit berdebar jika gagal. “Aku tidak bisa lama-lama di sini, lebih baik aku pulang mencari ketenangan dan obati diri.” Ujar Weini kemudian berdiri dan menampakkan diri setelah kondisi kembali sepi.


Dengan langkah tertatih, Weini lagi-lagi harus berjuang kembali ke rumah dalam keadaan tubuh yang terluka. Dan kali ini jauh lebih parah ketimbang sepulang dari hotel, ia tak yakin sanggup menyetir sendiri hingga sampai ke rumah. Napasnya tersengal saat berhasil masuk dan duduk di belakang setir. Weini merasa kondisinya tak memungkinkan lagi baginya untuk pulang, reaksi racun itu sudah mulai meronggoti tubuhnya.


***


Nyaris setengah jam para dokter berjuang menyelamatkan nyawa Grace, akhirnya mereka keluar dari ruang ICU dengan wajah lega. Saat pintu terbuka, mereka disambut dengan tatapan cemas dari Stevan, Lau dan Fang Fang. Stevan dengan sigap mencegat dokter pria yang usianya tampak sebaya dengan Lau. “Dokter, bagaimana kondisinya?” Tanya Stevan gusar.


Dokter itu terdiam sejenak menatap Stevan yang serius dan tegang. Raut wajah dokter yang masuk dengan tegang itu sedikit melunak, sedetik kemudian ia memberikan senyuman yang melegakan. “Saya sebenarnya bingung mau menjelaskan, kondisi pasien sudah kecil harapan hidup, tapi setelah kami masuk lagi dan memeriksa pasien yang kesusahan bernapas, ternyata masa itu seperti keajaiban, paru-paru dan jantungnya membaik dengan cepat. Ini sungguh mukjijat, pasien bisa tertolong dan melewati masa kritisnya.” Jelas dokter itu yang setengah bingung dan separuh takjub karena pasien lolos dari kematian.


Mata Stevan berkaca-kaca seketika, senyumnya bahkan masih berat untuk disunggingkan. Ia tak menyangka Weini sungguh membawa keajaiban, kini Stevan justru merasa sangat bersalah telah salah paham pada Weini. Saat gadis itu keluar memperlihatkan raut tegang dan sedih, Stevan mengira gadis itu gagal menyelamatkan nyawa Grace. Namun yang terjadi justru sebaliknya.


“Terima kasih dokter.” Gumam Stevan yang akhirnya bisa tersenyum. Dokter itu berlalu dengan mendapatkan rasa hormat dari Lau dan Fang Fang atas kerja kerasnya.


“Weini? Di mana dia?” Stevan celingukan mencari Weini yang tidak kunjung kembali. Lau dan Fang Fang pun baru menyadari bahwa gadis itu menghilang di tengah kepanikan mereka tadi.


Lau terheran dan membisu, dalam benaknya menerka-nerka sesuatu yang menarik dari Weini dan tidak ia ketahui. Stevan mempercayakan Weini menolong Grace? Dan Grace sungguh lolos dari kematian, apa benar ini berkat Weini? Tapi apa yang bisa dilakukan gadis itu? Apa tuan tahu kalau kekasihnya itu punya kemampuan yang berbeda dari kebanyakan orang? Gumam Lau dalam hati.


Sementara Fang Fang terdiam, ia pun punya pemikiran yang sama dengan Lau. Untuk kedua kalinya, ia mendapati keajaiban pada Grace lewat Weini. Pertama mungkin masih bisa disebut kebetulan, tetapi kali ini mustahil jika ini hanya kebetulan.


Stevan tak berhasil menghubungi Weini, kini ia menyesali kata-kata kasarnya dan mengkhawatirkan Weini. Semoga lu baik-baik saja, Weini.


***