
Haris menunggu di gerbang paviliun Li San, kabar bahwa jet yang membawa Lau dan yang lainnya telah mendarat lah yang membuat dia berdiri menunggu tamu-tamu itu datang. Hingga ia melihat Lau dari kejauhan, menyusul sosok yang lainnya yang membuat Haris tersenyum lega.
Lau memberi hormat pada Haris ketika sampai di hadapannya. "Hormat kepada tuan Wei."
Haris mengangguk pelan, "Kalian pasti lelah, selamat datang Dina dam Stevan, silahkan berikan barang bawaan kalian pada pelayan. Mari ikuti saya ke dalam untuk memberi penghormatan." Seru Haris ramah.
Stevan terbengong melihat Haris, rasanya sangat familiar namun ia baru bertemu pria tua itu sekarang. Lagipula dari mana pria tua itu bisa tahu namanya? Stevan bingung dengan pertanyaan itu namun hanya bisa diam memendam rasa penasarannya dulu. Ia harus mengikuti aturan di tempat ini, dan pastinya akan mencari kesempatan untuk bertanya pada tuan Wei itu.
Dina merasa lega karena barang bawaannya sudah berpindah tangan, ia sangat menyayangkan kenapa tidak dari tadi saja ada pelayan yang menjemputnya. Tetapi yang membuat Dina merasa aneh adalah pakaian yang dikenakan semuanya terlihat seragam dengan warna putih polos. Ia menjaga sikap dan mulutnya lalu ikut masuk tanpa banyak bertingkah. Hatinya tak sabar lagi ingin bertemu Weini, ya... Weini yang baru.
Liang Jia serta anak-anaknya berdiri berjejer menyambut tamu yang datang dan memberi penghormatan pada Li San. Sebagai anggota keluarga, mereka akan membungkukkan badan saat ada yang berdiri di depan altar Li San. Ketika tamu itu pergi, Weini pun bisa meluruskan tubuh lagi, tatapannya tertuju ke luar lalu berbinar seketika saat melihat siapa yang sedang berjalan mendekati altar Li San.
Pandangan Weini dan Dina saling beradu, tampak jelas Dina sangat bahagia dan tak sabar ingin segera mendekat pada Weini. Sambil terus berjalan mengikuti rombongan, Dina memanggil Weini dengan gerakan bibir tanpa suara.
"Non Weini...." Begitu lah yang terbaca dari bibir Dina.
Weini hanya tersenyum tipis lalu mengangguk pada Dina sebagai jawabannya. Setidaknya mereka baru bisa berbicara setelah Dina melakukan ritual seperti tamu lainnya yang datang melayat.
Haris menunjukkan cara pada Dina dan Stevan hingga mereka bisa mengikuti dengan baik. Setelah itu, mereka menutup mata dan merapalkan doa untuk Li San.
Pikiran Weini masih tertuju pada Kao Jing, sebelum meninggalkan pria tua itu yang terus merutuki dirinya, Weini memberitahu bahwa ia mengijinkan Kao Jing melihat ayahnya. Kapan pun Kao Jing siap, akan ada pengawal yang membawanya datang. Namun sampai sekarang pria tua itu belum terlihat, mungkin dia berubah pikiran dan lebih berkabung atas kematian Chen Kho. Weini pun tak bisa menyalahkan nya jika memang pamannya seperti itu. Biarlah dia menenangkan dirinya.
"Apa mereka berdua temanmu, Hwa?" bisik Liang Jia menyadarkan Weini.
"Iya, ibu. Mereka teman baikku di Jakarta." Jawab Weini pelan.
Liang Jia tersenyum melihat Dina yang terus menatap Weini, seakan begitu kangen padanya. "Temui lah mereka dulu, sepertinya banyak yang mau disampaikan padamu." Pinta Liang Jia yang sangat pengertian bahwa putrinya perlu waktu sebentar bersama temannya.
"Terima kasih, ibu. Aku akan segera kembali jika mereka sudah istirahat." Jawab Weini sebelum ia berlalu.
Stevan terus menatap Haris, tentu saja Haris merasakannya meski tidak melihat langsung. Haris merasa kasihan pada Stevan dan Dina yang belum tahu kenyataan bahwa ia masih hidup, mungkin nanti ketika ia melihat ada kesempatan tepat, maka Haris akan mengatakan yang sebenarnya.
Dina berbinar-binar saat tahu Weini sedang berjalan mendekatinya. Paras cantik Weini begitu memukau, ini kali kedua Dina melihatnya. Namun ini kali pertama Stevan dan Fang Fang melihat Weini. Antara yakin dan tak percaya, Stevan tak berani menebak bahwa gadis cantik yang sedang berjalan menghampiri mereka adalah Weini.
"Itu siapa?" bisik Stevan di telinga Dina yang berdiri di sampingnya.
Senyum Dina terjeda sejenak karena pertanyaan Stevan yang merusak suasana hatinya.
"Nona gue dong, gue orang pertama yang lihat wajahnya. Tapi sekarang dia lebih cantik." Balas Dina tanpa berbisik, ia enggan memalingkan mata dari Stevan. Weini terlalu indah untuk diabaikan.
Stevan ternganga, sosok yang disebut Dina itu sungguh sulit dipercaya. Wajah Weini yang asli berkali-kali lipat lebih cantik daripada yang ia kenal. "Beneran cantik." Gumam Stevan memuji Weini dengan jujur. Namun kejujuran itu disalah artikan oleh Grace yang mendengarnya.
"Ehem...." Suara Grace sengaja mendehem agar Stevan tersadar dari kecantikan Weini yang melenakan.
Stevan terkesiap, lalu menoleh pada Grace yang ada di sampingnya. "Aku nggak ada maksud apa-apa sayang, dia memang cantik dan aku bangga punya adik secantik itu." Jelas Stevan agar Grace tidak salah paham.
"Kak Dina, Stevan, Grace, Fang Fang, apa kabar kalian? Weini yang lebih dulu menyapa sahabatnya, ketika Stevan masih menatap Grace, dan hanya Dina yang menyimak betul gerak gerik Weini hingga sampai di hadapannya.
Setidaknya suara Weini yang tidak berubah serta cara bicaranya yang khas itulah yang semakin membuat Stevan yakin bahwa gadis cantik itu adalah Weini. Meski masih terasa canggung, namun Stevan sudah yakin bahwa teman seprofesinya, gadis yang sudah ia anggap adik itu benar-benar berwajah baru dan luar biasa cantik.
"Non Weini... hiks... aku kangen." Ujar Dina yang seketika lupa diri dan bicara tanpa mengontrol volume. Sontak sekeliling menatapnya, apalagi bahasa Dina tidak dimengerti oleh orang di sana. Stevan langsung mencubit tangan Dina agar diam, namun parahnya Dina malah menjerit sakit.
"Dina, lu cari mati ya? Kan udah dibilangin jaga sikap di sini." Celetuk Stevan mengingatkan Dina.
Dina langsung menutup kedua mulutnya, ia ketakutan apalagi dilihatnya sekeliling menatap dengan berbagai ekspresi padanya. Dina merasakan seketika ada udara dingin yang berhembus ke tubuhnya, suasana yang mengerikan.
Weini tersenyum tipis, tak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata, betapa bahagianya Weini saat ini. "Kita ngobrol di luar yuk, kalian pasti capek habis perjalanan, sekalian bisa istirahat." Ujar Weini dengan lembut.
Ajakan yang tidak disia-siakan oleh Dina CS, terutama Dina yang sedari tadi serba salah mengontrol tingkahnya. Weini membawa teman-temannya meninggalkan aula utama setelah berpamitan dengan Liang Jia. Dina dan Stevan makin takjub melihat keanggunan ibu Weini yang tampak kharismatik di usia senja. Mereka pun spontan bersikap kaku, diam dan mengangguk hormat pada Liang Jia, mengikuti apa yang dilakukan Weini.
"Nah, kalian masuk dulu, kita langsung ke villa tamu saja." Ujar Weini pada Dina dan yang lainnya agar masuk lebih dulu ke dalam mobil.
Dina mengangguk dengan senyum lebar dan bergegas masuk duluan disusul Grace, Fang Fang dan terakhir Stevan.
"Non, ayo masuk." Pekik Dina yang terhimpit di dalam karena Stevan enggan duduk di belakang dan tega berdesak-desakan dalam satu barisan di jok tengah.
"Aku di depan aja ya kak, kalian makin susah bergerak kalau ditambah aku." Canda Weini lalu mengambil posisi di samping supir.
Setelah Weini masuk dan memberi perintah pada supirnya, mobil pun melaju meninggalkan halaman aula utama. Meskipun terhimpit, Dina tetap merasa beruntung karena duduk di samping kaca mobil hingga ia bisa leluasa memandang ke luar.
"Jauh ya non villanya?" Celetuk Dina yang matanya masih jelalatan mengagumi betapa mewahnya kawasan hunian Weini. Banyak bangunan yang khas oriental dan berkesan seperti jaman kuno, bisa dikatakan Weini dan keluarganya tinggal di museum antik atau bahkan punya dunianya sendiri yang tidak tercampur kehidupan luar.
"Hmm lumayan kak...." Jawab Weini singkat, ia membiarkan Dina dan Stevan menikmati suasana baru itu.
"Nah, itu tempat tinggal Jun." Ujar Grace seraya menunjuk ke luar jendela di sebelah kanannya. Sontak Dina dan Stevan menatap ke arah yang dimaksud telunjuk Grace.
Dina mengerutkan keningnya saat melihat gerbang besar dengan ukiran tulisan Mandarin. Tapi tidak heran lagi lantaran setiap bangunan di sana memang banyak ukiran aksara Mandarin.
"Di dalam gerbang itu masih ada rumah?" Tanya Stevan polos.
Grace tersenyum kecil, "Ya, itu kan hanya tampilan luarnya. Di dalam sangat luas, bisa dikatakan sebagai istananya Jun. Dia tinggal di sana bersama pengawal dan pelayannya."
Dina manggut-manggut terkagum, "Keren ya, udah kayak putra mahkota jaman dulu. Trus yang lainnya tinggal di mana?" Tanya Dina yang tak perlu jaga image lagi.
Grace terdiam sejenak karena tempat yang dituju belum terlihat, andai mereka tidak menggunakan mobil, mungkin akan lelah mengelilingi kawasan kediaman Li yang luar biasa luas itu. Weini cukup paham dan baik menjamu tamunya, dulu waktu Grace pertama kali datang sebagai calon tunangan Xiao Jun, ia justru disuruh berjalan kaki dari satu paviliun ke paviliun lainnya. Awalnya sangat berat dan tak jarang Grace mengeluh, namun lama-kelamaan ia pun terbiasa.
"Nah, kalau itu kediaman nyonya besar, ibunya Weini, Eh... nona Yue Hwa." Grace segera meralat saat dianggap salah mengucapkan nama Weini.
Dina manggut-manggut terkagum, jika dipandang dari luar bentuk gerbang paviliun Xiao Jun dan Liang Jia memang sama, yang membedakan hanyalah aksara Mandarinnya yang tidak dimengerti Dina.
"Apa kau sudah berganti nama? Kami harus memanggilmu bagaimana?" Tanya Stevan yang menaruh perhatian serius pada nama yang tadi diralat oleh Grace.
Weini menoleh ke belakang lalu tersenyum pada Stevan, senyum yang bisa saja melelehkan pria manapun yang menatapnya. Namun Stevan tentu tidak menyalah artikannya, baginya sampai kapanpun perasaannya pada Weini adalah antara kakak adik.
"Kalau di sini, kalian lebih baik memanggil nama asliku, tapi jika aku ke Jakarta, tidak masalah panggil saja nama lamaku. Apa kalian keberatan?" Tanya Weini lembut.
Dina dan Stevan terdiam sejenak lalu kompak menjawab, "Tidak."
"Ya sudah kalau begitu panggil dia, nona Yue Hwa. Jangan lupakan gelarnya juga." Seru Grace mengajarkan pada dua tamu baru itu.
"Salam hormat untuk nona Yue Hwa." Ujar Fang Fang memberi contoh.
Tak perlu waktu lama, Dina dan Stevan pun mencontoh apa yang Fang Fang ucapkan. Mereka sudah diwanti-wanti bahwa dalam kediaman Li punya aturan yang harus dipatuhi selama meraka berada di sini.
Weini mengangguk membalas salam dari mereka, walaupun terlambat namun tidak jadi soal baginya. Sekarang Weinilah penentu kuasa, namun ia juga harus fleksibel dan tetap tegas pada kondisi yang diperlukan. Ia tidak akan melupakan dari mana asalnya, seperti apa sikap seorang pemimpin dan bagaimana didikan Haris padanya. Weini telah kembali pada jati diri aslinya, dialah nona penguasa klan Li, Li Yue Hwa.
❤️❤️❤️