OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 217 KEMAMPUAN SIHIR WEINI YANG TAK TERDUGA



Dina melirik sewot kepada Weini yang tengah duduk pasrah membiarkan tiga pasang tangan meriasnya mulai dari wajah, rambut hingga ***** bengek lainnya. Setelah memperjuangkan jatah cuti Weini yang kondisinya kurang fit, dan di sinilah mereka berakhir – ruang make up studio. Bams dengan sangat memaksa Weini harus tetap hadir lantaran jadwal penayangan yang tidak bisa diganggu gugat, meskipun sudah memasuki babak terakhir sinetron itu tetap saja tidak ada kelonggaran untuk para cast.


“Capek gak non? Masih kuat nggak?” tanya Dina, nyaris setiap sepuluh menit sekali ia mengulang pertanyaan yang sama. Saking intensnya sudah boleh saingan dengan bunyi alarm yang di snooze. Bahkan para MUA yang sedang mempercantik Weini pun kena imbasnya, mereka mendapat peringatan dari Dina agar berhati-hati dan lebih


lembut memperlakukan Weini.


Weini geleng-geleng kepala sembari tersenyum, ia sadar Dina bersikap over protektif saking kuatir namun justru terlihat lebay. Ia menjulurkan tangannya untuk memanggil Dina dan dengan segera disambut oleh managernya itu. Dina sungguh mencemaskan Weini, reaksi apapun yang Weini lakukan tak luput dari pengamatannya.


“Kak, aku nggak apa-apa. Tenanglah, kasian mereka jadi gagal fokus.” Ujar Weini lirih. Tangannya masih berjabatan dengan tangan Dina.


Dina agak sewot, ia menggigit bawah bibirnya. “Tapi bener kan non udah enakan? Kalo ngerasa nggak enak harus bilang loh!” tegas Dina, ia bersedia diam hanya ketika mendapat kepastian dari Weini tentang kondisinya.


Weini mengangguk, ketika ia hendak tersenyum sebagai jawaban, tiba-tiba ada perasaan aneh dan getaran halus yang mengalir masuk ke tangannya. Getaran itu seperti setrum ringan yang berasal dari tangan Dina. Weini terkesiap mendadak merasakan hawa hangat masuk ke tubuhnya melalui sentuhan tangan Dina. Spontan ia menepis tangan Dina dengan kasar hingga membuat Dina ikut terkejut dan bingung.


“Kenapa non?” Tanya Dina dengan mimik heran, penolakan kasar Weini barusan serta ekspresi wajah si artis yang ketakutan jelas membuatnya bertanya-tanya.


Weini menggelengkan kepala dan memaksakan untuk tersenyum, “Nggak apa-apa kak, sorry. Aku sambil merem dulu ya.” Ujar Weini beralasan demi menghindari pertanyaan lanjutan dari Dina. Ia sendiri bingung dan ketakutan mengapa bisa menyedot energi dari Dina, hal aneh semacam ini bagaimana mungkin ia ceritakan ke orang


awam.


“Iya deh, sambil istirahat non.” Jawab Dina agak canggung, gara-gara sikap aneh Weini barusan membuat Dina berpikir yang tidak-tidak. Apa Weini tersinggung padanya tapi kenapa?


***


Stevan menunggu peran utama wanita siap sambil membaca scriptnya di studio. Alur cerita yang dirombak total lantaran diharuskan tamat dalam minggu ini, membaca scriptnya saja membuat Stevan pusing. Untung saja Bams dan tim penulis naskah cukup kreatif merubah jalan cerita hingga tidak terkesan maksa pada endingnya, namun lebih banyak adegan dramatisir yang menguras emosi dan air mata pemeran utama, khususnya Weini. Stevan menyeringai, ia menilai adegan nantinya cocok dengan suasana hati Weini yang masih mendung pasca digantung kekasihnya.


“Ya, semua udah kumpul. Harap siap pada posisinya, lima menit lagi kita mulai.” Teriak Bams dengan toa.


Stevan menyebar pandangan mencari sosok Weini, instruksi Bams barusan jelas menandakan si artis utama sudah hadir di lokasi. Senyum Stevan mengembang, gadis yang ia cari sedang membaca script ditemani Dina dan duduk di kursinya. Ia lekas berlari menghampiri mereka sambil membawa naskahnya.


“Hei, udah siap?” tanya Stevan lembut pada Weini.


Dina langsung pasang wajah satpam, sikap protektifnya kumat lagi. “Stev, kerjanya yang serius ya kali ini jangan banyak cut. Non Weini lagi nggak enak badan, biar cepat kelar dan pulang istirahat.”


Stevan langsung menatap wajah Weini, menurut penuturan Dina yang katanya gadis itu sedang tidak enak badan tetapi begitu Stevan lihat, Weini nampak segar dan sangat cantik. “Benar begitu Weini? Kok masih maksa kerja?” tanya Stevan cemas, ia baru sadar bahwa wajah segar dan cantik itu bisa jadi karena hasil make up.


Weini tersenyum lalu mengangguk, “I’m fine. Kalian berdua tenanglah.”


Suara Bams mengudara lewat toa, menginstruksikan seluruh cast bersiap karena syuting segera dimulai. Weini berdiri dan segera menuju tempat di mana ia harus berada di scene pertama, Stevan mengikuti langkahnya di belakang namun dihadang oleh Dina.


“Gue nitip Weini, dia beneran lagi sakit. Tadi pagi gue udah minta ijin ama Bams tapi ditolak. Om Haris sama Weini sakit barengan dan aneh, mereka nggak mau ke dokter. So, plis syuting kali ini lebih serius biar cepet bungkus.” Bisik Dina.


“Weini, are you okay?” bisik Bams yang mendekati Weini. Secara personal, ia mengkhawatirkan kondisi artisnya, tapi apa boleh buat profesionalitas tetap dinomor-satukan. Bams tidak leluasa bertindak lantaran tekanan dari atasannya yang bersifat mengikat.


Weini mengangguk dan tersenyum, “Aku kuat kak Bams, thanks udah perhatian.”


“Nice, Weini. Gue tahu lu pasti bisa. Semangat ya! Setelah ini selesai, lu terpaksa harus istirahat dulu sampai dapat kontrak baru.” Ujar Bams sedih. Berat rasanya harus mengakhiri apa yang sudah terlanjur nyaman dan akrab.


“Aku tahu kak, Thanks.” Jawab Weini singkat. Ia menyudahi chit chat dengan pak sutradara lalu mengambil posisi bersama Stevan. Menarik napas dalam-dalam demi mengumpulkan mood dan penjiwaan pada perannya. Ini adegan menyedihkan, semestinya tak terlalu sulit dilakukan dengan suasana hatinya yang memang belum


bisa senang.


“Rolling and ACTION!” pekik Bams.


Adegan dalam syuting ….


Weini berlari mengejar kekasihnya lalu memeluk pria itu dari belakang. Air mata berderai dengan isakan tangis yang sangat menyentuh perasaan. Weini menahan Stevan pergi begitu saja dari hidupnya, pasrah mengakhiri cinta yang jatuh bangun mereka perjuangkan.


“Jangan pergi ….” Lirih Weini terisak. Ia mendekap Stevan dengan erat dari belakang sementara pria itu tetap terdiam, tak berniat berbalik membalas pelukannya.


“Eh?” lirih Weini kaget. Ia kembali merasakan getaran dari tubuh Stevan. Aliran hawa hangat yang terasa seperti setrum ringan menjalar masuk ke tubuh Weini. Gadis itu tersentak kaget dan langsung mendorong tubuh Stevan hingga pria itu terhuyung karena tak siap mendapat serangan dadakan. Weini berdiri bengong, pikirannya kacau lantaran bingung apa yang terjadi padanya. Lebih aneh lagi, setelah hawa hangat itu masuk ke tubuhnya, Weini merasa tubuhnya makin fit.


Adegan Weini barusan sudah melenceng dari naskah, Bams berteriak kencang mengakhiri kerja para kru kamera. “CUT!”


“Weini, lu kenapa salfok? Adegan itu nggak ada dalam script. Ulang lagi dari awal, yang serius!” bentak Bams.


Stevan berjalan kembali ke posisi semula, mendekati Weini yang belum beranjak dari sana. “Lu kenapa? Kalo nggak kuat jangan dipaksa.” Tanya Stevan penuh cemas, tatapannya sangat dalam dan menenangkan.


Weini menggelengkan kepala, “Sorry.” Ia kembali ke posisinya, bersiap melakukan adegan kejar-kejaran lagi. Sebelum aba-aba dari Bams berbunyi, Weini memanfaatkan sisa waktu itu untuk berpikir apa yang harus ia lakukan andai kejadian tadi terulang? Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada kekuatannya, ini jelas berhubungan dengan sihir.


“ACTION!”


Dan lagi, Weini mengulang adegan dalam script. Ia kini terisak memohon pada Stevan agar tidak meninggalkannya, dekapan Weini dari belakang cukup erat sesuai dengan naskah. Gadis itu berusaha keras tetap fokus beracting, mengabaikan hawa hangat yang terus menjalar masuk ke tubuhnya. Ekspresinya mulai tak konsisten, ada gurat tak nyaman yang terlihat jelas oleh Bams dari layar monitornya. Sutradara itu hendak berteriak menghentikan adegan yang kurang memuaskan, namun sebelum sempat dilontarkan ia justru terhentak kaget melihat apa yang terjadi.


Bruk! Tubuh Stevan lunglai dan jatuh pingsan dalam pelukan Weini.


“Stevan?” pekik Dina dan Weini bersamaan, seiring dengan para kru yang sontak berlari mengerubuni aktor itu.


***


Ada apa dengan Stevan? Ada yang bisa menebak pikiran Thor? Ayo, ditumpahkan apapun imajinasi kalian dalam kolom komentar. ^^