
Dina tertegun mendengar perintah dari Xiao Jun yang dikiranya bisa menjadi solusi terbaik bagi Weini. Sepertinya hasil pertemuan antara bos muda dan pak sutradara tidak sesuai ekspektasi, alih-alih mau memengaruhi Bams, justru Xiao Jun yang di bawah kendalinya.
“Yang bener aja si bos, masa suruh Weini teruskan job itu. udah tahu Weini gak demen, eh… disuruh awasin latihan dansanya segala. Jangan bolos sekalipun, plus harus menyiapkan gaun terindah dan termewah untuk dipakai Weini. ini sih terdengar kayak idenya Bams.” Dina merasa sangat dongkol tapi apa boleh buat, ia tidak berdaya menolak tugas tak masuk akal itu. Selapang dada itukah Xiao Jun membiarkan gadisnya dirangkul mesra oleh saingan cintanya meskipun itu hanya sebatas kerjaan.
“Hah… sudahlah nurut aja. Cewek polos kayak aku mana ngerti permainan orang dewasa.” Ujar Dina menghibur diri, ia memusatkanperhatian lagi untuk mengatur jadwal Weini. Artis cantik itu seperti tengah musim panen, jobnya mengalir deras masuk hingga Dina merasa perlu asisten tambahan.
Baru mencoba fokus kerja, tiba-tiba ponselnya berbunyi dari notifikasi pesan masuk. Ia mengesampingkan kertas dalam pegangan kemudian meraih ponsel. Matanya menyipit persis bulan sabit, ia kembali menggerutu, “Apa apaan sih. Dia lagi senang lelucon kah!”
Sebuah pesan singkat dari Xiao Jun yang membuat Dina gagal move on dari dirinya. “Jangan lupa rekamin latihan Weini!”
Dina bergegas lari menuju studio, ia harus segera merapatkan diri ke sana sebelum Weini memulai sesi latihan atau ia akan kehilangan bonus bulanan dari bos muda. Dengan napas tersengal ia berhasil sampai tepat waktu, Weini dan Stevan baru saja saling berhadapan untuk pemanasan.
“Relax aja. Bayangin aja lagi dansa ama dia, kalo lu nggak nyaman ama gue.” Bisik Stevan saat merangkul Weini dalam gerakan. Ketidak-nyamanan Weini jelas terlihat, tidak ada ekspresi santai di setiap gerak-geriknya.
Weini semakin tertekan, sikap seperti apa yang membayangkan wajah kekasihnya saat berada dalam pelukan pria lain. Bukan berarti ia tidak bisa profesionalitas, sudah beberapa kali pula tuntutan peran mengharuskannya dipeluk Stevan, tapi kali ini berbeda ia akan berdansa berdua disaksikan ratusan pasang mata dan kamera yang menyorotinya. Bagaimana kalau gossip hubungan mereka sebagai pasangan cinlok semakin menjadi-jadi?
Ia tak memerdulikan perkataan Stevan, lebih baik ia memejamkan mata dan menggunakan feeling untuk menyamakan gerak dan langkah.
“Sabar ya non. Lima hari lagi udah terlalui kok. Jangan dipikirin, enjoy aja!” Dina tidak tahu harus bagaimana lagi menghibur Weini. Sepanjang menjadi managernya, ia sudah mengikuti jatuh bangunnya Weini namun tidak pernah melihat raut pesimis seperti ini.
“Ng… Kak Dina, anterin aku pulang ya. Aku nggak mau sama supir!” pinta Weini, ia butuh teman bicara untuk mengembalikan moodnya.
“Okelah, aku memang mau ajak non ke satu tempat dulu sebelum balik.” Seru Dina.
“Kemana tuh? Makan-makan?” tanya Dina antusias, sepertinya ide bagus kalau mereka melampiaskan rasa penat dan kesal dengan makan sepuasnya. Weini tidak pernah pusing dengan diet, tubuhnya seakan dirancang untuk menampung makanan tanpa batas dan kalorinya bisa terbakar tanpa perlu takut jadi timbunan lemak.
“Ikut aja deh!” Dina tidak berani membeberkan dulu, ia yakin Weini pasti menolaknya jika sudah tahu kemana tujuan mereka. Perintah Xiao Jun lebih penting dan wajib dilaksanakan, gimanapun akhir ceritanya nanti yang penting ia sudah berusaha melakukan tanggung jawabnya.
***
Mobil Dina berhenti di depan butik yang tak asing bagi Weini, ia masih bungkam tanpa berniat memberi penjelasan pada Weini.
“Kok ke sini lagi kak? Aku lagi nggak butuh baju baru.” Keluh Weini, di saat otaknya sudah disetting mode makanan, ia malah diajak melihat pakaian. Sepengalamannya sekali menginjak kaki dalam toko itu, setidaknya menghabiskan dua jam baru bisa keluar.
“Bentar aja non. Trust me lah!” Dina melepas sabuk pengaman dan segera keluar mobil. Ia harus bertindak duluan sebelum Weini merengek minta pergi.
“Iya, tapi ngapain ke sini?” Weini digandeng masuk oleh Dina yang mempercepat langkah. Digandengnya erat si artis supaya tidak kabur. Ia tak berniat menjawab apapun pertanyaan yang ditodong Weini.
“Hai cyn… cantiik udah lama nggak mampir.” Sambut si pemilik butik yanag selalu mengagumi Weini. Matanya berbinar semangat melihat kedatangan tamu tak terduga malam ini.
Dina seperti menyerahkan tahanan, didorongnya Weini ke depan pria gemulai itu untuk eksekusi selanjutnya. “Kasih dia gaun tercantik, termewah, terrrrrrr segalanya yang bikin dia jadi satu-satunya princess.”
Weini melirik tajam ke Dina, andai ia bukan manager sekaligus temannya mungkin ia sudah smack down gadis itu hingga minta ampun.
“Maafin aku noooon! Ini perintah atasan!” Pekik Dina sebelum kabur dari jangkauan Weini.
Bos, aku sudah mengirim video dan membawa non Weini memilih gaun. Tugasku selesai y abos, plisss.
Sebuah pesan singkat terkirim untuk Xiao Jun. Dina nyaris tak mampu melakukan tugas beratnya, di sisi lain ia tergiur uang namun sisi satunya ia ikut sedih melihat Weini tertekan, seperti menelan buah simalakama.
***
Dina tetap setia berdiri di samping Weini, mengamati setiap gerak-gerik para penata rias yang hectic dengan riasan wajah, rambut serta gaun Weini. Berkali-kali Dina menguap panjang, begitu lelah dan membosankannya hanya demi menjadi cantik.
Weini enggan merasakan lagi kantuknya, jenuhnya serta pegalnya duduk berjam-jam dan disolek sana sini. Ia hanya pergi ke prom night, kenapa rempongnya tidak kalah dengan seorang pengantin? Ia melirik Dina yang tidak beranjak sejengkalpun dari sisinya. Meskipun hanya berpangku tangan, managernya tidak membiarkan ia sendirian. Setidaknya Weini mendapat suntikan kekuatan dari Dina yang tak kenal lelah menemaninya.
“Sudah beres non. Wow… pangling akuu.” Andai mata Dina bisa mengeluarkan emoticon cinta, mungkin tatapannya dipenuhi lambang hati merah itu saking terpukau dengan pesona Weini.
Weini tersipu melihat hasil akhir make upnya, meskipun setiap hari ia selalu bersentuhan dengan kosmetik tetapi kali ini ia terlihat berbeda. Lebih cetar dan seperti putri raja. Gaun berwarna gold dengan model lengan Sabrina dan mengembang sempurna dengan peticon membuatnya seperti princess kerajaan.
“Ayo.” Ujar Weini semangat. Setelah malam ini ia akan terbebas dari beban sekolah. Ia akan menjadi Weini yang baru, yang selalu optimis dan tak perlu berada dalam lingkungan yang mengucilkannya.
Bye Sisi, Bye Metta, Bye my skul…
***
Poster dan spanduk wajah Weini dan Stevan terpajang besar mulai dari gerbang, lapangan hingga auditorium tempat berlangsungnya acara. Ciutan histeris dan tepuk tangan riuh membahana dalam penyambutan dua
selebritis papan atas. Ratusan pasang mata siswa laki-laki terpana dengan kecantikan Weini yang luar biasa. Banyak yang berbisik tidak percaya artis secantik itu bisa tidak mencolok di sekolah dan lebih menutup diri daripada
bergaul.
“Stevaaaan…. Weiniiiii….” Teriak para gadis-gadis yang hysteria. Untungnya penjagaan yang ketat memberi batas agar tidak sembarangan mendekati sang artis.
Weini dan Stevan secara professional melayani dengan ramah pada sesi foto bersama, tanda tangan fans serta kesan-kesan terhadap acara itu. Mereka otomatis selayaknya pasangan dalam sinetron, terlihat begitu serasi dan penuh chemistry. Hingga puncak acara yang dinantikan tiba, Weini bersiap menjadi pasangan dansa Stevan yang berpakaian serasi dengannya.
“Dan… saat yang kita nantikan segera dimulai. Untuk pesta dansa kali ini, prince Stevan akan mengajak princess Weini berdansa. Setelah satu tarian, maka kita semua bisa mengikuti dansa ini. So pastikan kalian sudah
mempunyai pasangan ya…” cuap host acara yang juga mendapuk presenter ternama ibukota.
Sebelum music dimainkan, Stevan mengacungkan tangan meminta perhatian dari host agar diberikan sebuah mic.
“Oke teman-teman, sebelum mulai saya ada permintaan khusus untuk princess Weini. pada umumnya dansa selalu dilakukan dengan bertatapan dengan pasangan, namun kami selama sesi latihan khusus untuk acara ini sudah menyiapkan sensasi menarik yang berbeda. Untuk itu mohon panitia menyiapkan sehelai kain untuk menutup mata princess. Kami akan berdansa dengan mata tertutup.” Ujar Stevan dengan penuh kharisma yang meluluh lantakkan hati gadis yang mendengar suara serta melihat senyumannya.
Apa-apaan Stevan, mentang-mentang aku selalu merem tiap latihan trus sekarang dia mau balas dendam? Gerutu Weini dalam hati.
Dina menghampiri mereka dengan sehelai kain hitam, setelah memastikan kain itu tidak transparan ia pun menutupi mata Weini. “Have fun nona.” Ujar Dina sebelum Weini menyadari langkah managernya kian menjauh.
Weini tidak bisa melihat apapun, hanya suara tepuk tangan riuh serta cuitan host yang memekakkan pendengaran. Music perlahan dimainkan, Weini mulai dengan ajakan dansa pada pasangannya lalu merasakan tangannya disambut hangat, disusul dengan sebuah rangkulan lembut yang melingkar di pinggangnya. Hatinya terasa bahagia, ia tidak merasa tertekan seperti sesi latihan. Kali ini ia merasa nyaman dan menikmati alunan music serta
gerakan yang kompak walau dengan mata tertutup. Seisi ruangan terdengar hening, tidak sebising sebelumnya. Kini hanya ada alunan music klasik serta gerak tubuh mereka yang tengah menari. Kemana mereka semua? apa ruangan ini masih ada penontonnya? Tanya Weini membatin.
Aroma tubuh ini… aku tahu aroma ini… Weini mulai curiga, Stevan tidak pernah memakai wewangian dan sejak tadi ia tidak mencium parfum dari tubuhnya. Di pertengahan dansa ketika Weini melakukan gerakan memutar, ia melepaskan kain penutup mata lalu berputar menghadap ke pasangannya.
“Kamuuu…”
***