
Stevan sudah mencarikan tempat parkiran yang pas, semestinya cukup aman dari sorotan orang luar. Ditambah dengan kaca mobil berwarna hitam yang tak tembus pandang, privasi penumpang pun terjamin aman. Namun Xiao Jun tetap gusar, ia belum memberikan arahan pada yang lainnya untuk langkah selanjutnya. Menunggu orang selesai lalu lalang pun tidak mungkin, kawasan mall memang cukup ramai walaupun ia sudah membooking cafe ternama di atas tapi ia tidak bisa seenaknya menghentikan akses di mall ini sepenuhnya. Akan lebih mencurigakan bila ia menyewa satu mall ini hanya demi Weini, akan lebih memancing perhatian yang lainnya.
“Dina dan yang lainnya keluarlah dulu. Tunggu kami di tempat yang sudah dipesan itu.” Ujar Xiao Jun memandangi Dina dengan serius.
Dina paham kode tuan muda itu, senyum Dina melebar dan dengan girang ia menjawabnya. “Siap tuan! Ayo yang lainnya, ikuti aku!” Ujar Dina bersemangat.
Grace melirik Weini dengan bingung, sepertinya ia mulai bisa menebak apa yang akan Xiao Jun lakukan. “Kalian mau masuk pakai sihir lagi?” Tanya Grace polos.
Weini menatap pada Xiao Jun kemudian mendapatkan anggukan darinya. “Ya, terpaksa harus pakai cara itu lagi.” Jawabnya pada Grace.
Grace menatap Weini penuh takjub dan rasa kagum, “Oh My God! Kalian berdua pasangan yang keren! Jadi iri nih!” celetuk Grace seraya membayangkan andai dirinya seperti Weini.
Satu persatu dari mereka pun keluar dari mobil dan meninggalkan Weini berduaan dengan Xiao Jun. Saling bertatapan lalu mengangguk mantap, tanpa dikomando siapapun, mereka berdua paham apa yang harus dilakukan dan tubuh mereka pun kembali transparan.
“Ayo Hwa.” Ajak Xiao Jun dengan tangan yang terjulur menantikan balasan. Tanpa sedikitpun keraguan, Weini menerima uluran tangan kekasihnya. Tersenyum bersama kemudian melangkah dengan ringan.
❤️❤️❤️
Dina memesan minuman ekstra untuk dirinya sendiri, setelah penat seharian yang ia lakoni, serta tugas penting yang Xiao Jun embankan untuknya. Belum kelar sebenarnya, tapi setidaknya sudah sampai di tahap ini dan ia sudah boleh lega sejenak.
"Buset Din, lu yakin muat perutmu habisin segini?" Tanya Stevan yang shock melihat Dina memesan es kopi ekstra, tiga gelas sekaligus.
Dina sewot melirik Stevan, ia pun menyeruput es itu dengan bahagia. "Gue haus, lu kalau mau pesen ya pesen aja. Tenang ada bos." Seru Dina enteng.
Stevan hanya geleng-geleng kepala saja, belum pernah rasanya ia menaktrir Xiao Jun, selama ini selalu bos itu yang meronggoh kocek setiap kali mereka keluar bersama.
"Kali ini gue yang traktir deh, gantian." Seru Stevan mantap.
Dina ternganga, pasalnya Stevan mungkin tidak tahu bahwa Xiao Jun menghabiskan dana besar untuk acara kumpul ini. "Serius lu? Fee main filmmu bisa ludes loh buat bayarin ini." Gumam Dina mengingatkan ulang sebelum Stevan bertingkah lebih jauh.
Stevan mengernyitkan keningnya, melirik lagi pesanan mereka yang ia rasa harganya tak seheboh yang Dina katakan. "Buat pesanan gini doang pakai habisin gaji gue? heh, masa sih?" Celetuk Stevan tak percaya.
Dina menggeleng lagi, "Masalahnya bukan cuma ini saja. Bos Jun tuh udah...." Belum kelar Dina bicara, orang yang sedang ia bicarakan tiba tiba muncul di hadapan mereka, bersama Weini yang tampak polos karena pembicaraan Dina tadi luput oleh perhatiannya.
Semua kembali terkejut, belum terbiasa dengan kemunculan Weini dan Xiao Jun yang bisa dadakan dan di mana saja.
Xiao Jun berdehem, mengakhiri ketegangan Stevan dan Dina yang nyaris membongkar rahasianya.
"Wah, aku tetap saja terkejut padahal sudah tahu kalian bisa tahu tahu muncul ha ha...." Guman Grace tetap dengan tatapannya yang penuh rasa kagum.
"Hmm, maaf ya kalau kami aneh." Ujar Weini yang juga merasa aneh lantaran ia harus muncul dengan cara seperti ini.
"Tidak masalah yang penting aman. Oke selagi semua sudah berkumpul, ayo kita makan makan. Kali ini aku yang traktir ya, anggap saja jamuan sebelum nikahan." Seru Stevan dengan lantang dan lagak.
"Ng, makasih Stev, tapi untuk traktiranmu bisa diganti lain waktu saja, atau di pesta malam lajang saja bagaimana?" Ujar Xiao Jun mencoba penawaran, pasalnya ia sudah punya rencana lain dan tidak enak saja harus membebankan pada orang yang sebenarnya ingin ia jadikan saksi saja.
"Eh? itu kan lain cerita bos. Nggak apa apa pokoknya yang kali ini aku yang jadi bosnya." Ujar Stevan tetap keras kepala.
Grace yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala saja. Tidak akan ada habisnya kalau tidak ada yang mau mengalah. "Stev, udahlah biar Jun aja. Kan dia yang ajak ke sini." Seru Grace.
Stevan tetap menggelengkan kepalanya, "Biasanya dia yang ajak dan dia yang bayar, gantian lah sesekali. Nggak masalah kan sayang?"
Grace mengangkat bahu, "Terserah kamu aja dah."
Xiao Jun hanya tersenyum, apa boleh buat jika sudah begitu. "Baiklah, sesuai maumu saja bro."
Makanan ringan pun keluar, menemani tongkrongan mereka di siang menjelang sore ini. Sesekali Xiao Jun melirik Weini, ia perlu mengalihkan rencana ke plan B.
Siapkan jet di atas mall x.
Xiao Jun mengirim pesan pada Lau, sembari memikirkan hal lainnya. Namun bukan balasan dari Lau yang ia terima, melainkan pesan singkat dari Dina.
Bos, sorry ya soal Stevan, di luar dugaan.
Xiao Jun langsung membalasnya. Tidak masalah, aku udah atur ulang rencana.
Usai membalasnya, Xiao Jun menyimpan lagi ponselnya kemudian meronggoh sesuatu keluar dari saku jasnya.
"Ehem... Semuanya, aku punya sesuatu untuk kalian dan harap kalian menerimanya." Xiao Jun menampakkan apa yang dia sembunyikan di balik telapak tangannya, beberapa lembar kertas angpao kecil yang jumlahnya sama dengan jumlah teman temannya di sini. Ia pun memberikannya sesuai nama masing-masing.
"Wah, dalam rangka apa nih bos kasih angpao?" Celetuk Dina yang tak melewatkan rejeki nomplok, hanya saja ia merasa heran, tidak sesuai dengan rencana yang dirundingkan dengannya.
Weini melihat bolak balik angpao itu, motifnya cukup ia kenali dan rasanya pernah lihat di mana namun ia lupa.
Ia melirik Xiao Jun, heran saja dengan tingkah pria itu.
"Bukalah, semoga sesuai dengan yang kalian inginkan sekarang." Gumam Xiao Jun.
Fang Fang serta dua pengawal lainnya mendapatkan liontin berharga dari kediaman Li. Liontin yang hanya dipahami oleh orang yang bekerja di tempat Weini, dan itu adalah pemberian yang sangat istimewa bagi mereka karena menandakan pangkat mereka di naikkan.
"Hah?" Weini terkesiap, saat mendapati bagiannya. Tak menyangka bahwa Xiao Jun memberikan itu kepadanya sehingga ia mendongak menatapnya. Xiao Jun tersenyum tulus, meyakinkan Weini bahwa apa yang ia berikan memang mewakili isi hatinya.
❤️❤️❤️
Apaan tuh?