
Syuting episode terakhir sinetron perdana yang membesarkan nama Weini di jagat hiburan, sedang berlangsung dengan serius. Semua cast dan ekstras memainkan perannya dengan semangat, namun juga terselip kesedihan. Sekian lama bersama di lokasi syuting telah mengakrabkan satu sama lain, hanya ketika ada judul baru dengan tim yang sama lah yang akan mempertemukan mereka kembali.
Dina bertanggung jawab menjaga barang pribadi Weini selama artis itu bekerja. Sudah kebiasaan pula, Weini mengatur mode silent saat masih berada di lokasi syuting. Jelas saja pesan masuk dari seseorang yang paling dinantikan Weini, luput dari pantauan Dina. Ponsel itu tersimpan dalam tas jinjing Weini yang diletakkan di atas kursi khusus untuk sang artis beristirahat.
“CUT! Perfect! Bravo bravo!” pekik Bams menggunakan toa, suara aslinya cukup nyaring ditambah alat pengeras suara, maka habislah sudah berpuluh pasang telinga yang mendengar pekikannya. Saking semangat, Bams
meneriakkan rasa puasnya. Sutradara itu berlari memeluk Weini, Stevan dan beberapa artis pendukung lain yang masih berada di posisi mereka beracting.
“Thanks atas kerjasamanya! Kalian semua pemeran yang luar biasa!” seru Bams pada semua pemainnya.
“Buat ngerayain keberhasilan kita bertahan sampai episode terakhir dengan rating memuaskan, besok siang kalian semua datang ke kantor, gue traktir makan minum sepuasnya!” teriak Bams tanpa toa.
Seluruh kru yang sedang membereskan alat langsung bersorak-sorai, jerih payah selama ini memang pantas dirayakan. Stevan pun menatap Weini dengan tatapan yang begitu dalam, ikut senang melihat senyuman Weini.
“Congrate ya Weini, habis ini tinggal nunggu syuting buat film layar lebar.” Ucap Stevan yang menghampiri Weini dan Dina.
Weini mengambil tas jinjingnya lalu memangku agar ia bisa leluasa duduk di kursi itu. Dina sedang pergi mengambilkan jatah makan mereka bertiga, ia dengan senang hati meladeni Stevan juga padahal actor itu punya manager pribadi. Stevan menarik sebuah kursi pendek lalu duduk di samping Weini, posisi mereka berdekatan namun tak sama tinggi lantaran ukuran tempat duduk.
“Yup, dan kita bakal ketemu lagi di sana.” Weini tertawa kecil, dunia selebar daun kelor baginya, di mana ia masih tetap dipertemukan dengan Stevan di proyek selanjutnya. Padahal ia mengira akan mendapatkan tantangan baru bermain dengan actor lain yang jauh lebih senior darinya.
Stevan tersenyum lirih, “Btw, gue denger peran pendukung wanitanya belum dapat loh. Ribet amat ya, nyari pemain kedua saja susahnya melebihi pemeran utama.”
Weini mengernyit, “Oya, emangnya cari yang kriterianya gimana?”
Steven mengangkat bahu, “Katanya sih nyari yang berwajah kebulean dan pintar bahasa inggris, padahal udah lumayan banyak yang casting tapi belum ada yang nyantol.”
“Nyari yang kayak gue, gitu?” tiba-tiba Dina nimbrung dan dengan percaya diri celetuk seperti itu. Stevan sampai mual mendengarnya, pria itu segera mengambil jatah makannya yang masih berada di tangan Dina.
Weini tertawa kecil melihat perubahan ekspresi Stevan dan Dina yang tak terima dengan ejekan pria itu. Setelah menerima kotak makanannya, Weini belum berniat memakannya sekarang, ia letakkan kotak itu di bawah kemudian tangannya mulai meronggoh tas, mencari ponselnya.
“Lucu? Jadi menurut lu, gue nggak bisa jadi artis? Jiaaah … kalau cuman acting doang mah, kecil!” Dina masih tidak terima, padahal Stevan sudah enggan membahasnya. Makanan di hadapan jauh lebih menggoda ketimbang
meladeni kekonyolan Dina yang hanya bikin tenaga terkuras.
Weini menggeleng kepala, gara-gara memperhatikan kedua sahabatnya itu sampai ia lupa tadi mau berbuat apa. Akhirnya ia malah meletakkan tasnya di bawah kursi, lalu mengambil jatah makannya. Masakan cap cay yang tercium lezat itu mengingatkan Weini pada sesuatu, sebelum kembali lupa, ia bergegas mengatakannya.
“Oya kak Stev, nanti pulang mampir ke rumahku bentar ya. Ayahku mau bertemu denganmu.” Ujar Weini dengan senyuman yang membuat Stevan terkesima, saking manisnya.
Weini hampir saja lalai menyampaikan ajakan Haris pada pria itu. Sudah beberapa hari ayahnya meminta agar Weini mengajak Stevan ke rumah, tetapi ia kerap lupa setiap kali selesai syuting dan pulang begitu saja. Setelah melihat wajah Haris, ia baru teringat pesan itu dan seperti itu terus berulang kali.
Stevan berbinar mendengar ajakan itu, “Tumben om mau ketemu gue? Ada misi apa nih?” stevan merasa sangat terhormat bisa mendapat ajakan dari Haris. Belum pernah ia diminta datang seperti tamu kehormatan saja.
Weini agak bingung menjawabnya. “Ng entahlah. Kalau kau sempat aja kak, lain kali juga nggak masalah.” Jawab Weini cepat. Ia aslinya segan terpaksa berbohong pada Stevan. Hanya karena ia tahu niat Haris mengundang Stevan datang. Padahal menurut Weini, Stevan cukup bisa dipercaya, nyatanya semenjak kejadian itu tidak sekalipun Stevan mengungkit masalah itu. Seolah tidak pernah terjadi apapun di antara mereka, Stevan malahan tidak bertanya kabar Weini setelah berhasil mengembalikan energi yang ia sedot ke tubuh pemiliknya. Jadi, Weini pribadi tidak mendukung niat Haris menghilangkan ingatan Stevan yang berhubungan dengan sihirnya. Itulah sebabnya, Weini kerap lupa menyampaikan pada Stevan. Tetapi Haris terus menagih, jika begini terus apa boleh buat, ia tetap harus mengundang Stevan datang.
“Okay, ntar malam gue mampir. Lagian syuting udah kelar, kita bisa pulang lebih awal.” Kilah Stevan senang.
Dina yang biasanya bawel, mendadak jadi pendiam. Sejak hari di mana ia mencurigai Weini, hatinya terus bertanya dan mencari kesempatan untuk menemukan bukti keanehan Weini. Sejauh ini, tidak ada yang mencurigakan,
Weini tetap seperti gadis biasanya. Dina malah yang menjadi aneh, lantaran terlalu menaruh curiga pada sesuatu yang masih belum pasti. Ia seperti penebar hoax saja jika keukeh dilanjutkan.
Weini tersenyum datar, sorry kak Stev, ayah punya rencana khusus untukmu.
Ia menyelesaikan makannya dengan cepat, ingatannya yang belakangan ini sedang payah akhirnya kembali fokus untuk mengeluarkan ponsel dari tas. Nyaris tujuh jam tanpa memegang ponsel, Weini memang sengaja tak ingin mengecek ponsel terlalu sering. Lagipula tidak ada yang akan menghubunginya, dalam keadaan penting Haris bisa menelpon lewat Dina. Semenjak Xiao Jun tak berkabar, ponsel Weini nyaris lumutan. Smartphone itu layaknya pajangan yang fungsinya sebagai penunjuk waktu saja, Weini sungguh tak berselera memainkannya.
Saat layar ponsel dihidupkan, sebuah pesan masuk dari nama yang sudah bertahta di hati dan menjarah pikirannya, terpampang jelas di sana. Weini terkesiap, ia membaca ulang sekali lagi untuk memastikan ini bukan halusinasi. Orang yang ia kira sudah mati rasa padanya, yang ia kira telah menganggapnya tidak ada, kini mengirim pesan singkat padanya.
Dipencetnya pesan itu agar terbuka, meskipun Weini bisa membaca tanpa klik opsi baca pesan. Ia hanya ingin memastikan bahwa pria itu sedang aktif atau tidak, hati terasa tak karuan seolah mendapatkan surat
cinta yang sekian lama menanti balasan. Bahkan suara Dina yang berbicara dengannya pun mental dari pendengaran, fokus pikiran Weini seluruhnya terpatri pada pesan yang teramat singkat itu.
Weini tersenyum sendiri, ada debaran cinta yang kembali berdentum. Ia memang sangat mencintai pria itu. Pria yang mengirimkan pesan seperti teka-teki.
Satu pesan masuk, Xiao Jun : ‘I mis’
***