OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 207 SURPRISE FOR YOU, LI AN



Beberapa menit sebelum Wen Ting menghilang ....


Xiao Jun berlari mencari Li An dan Wen Ting yang masuk ke area permainan, jarak yang selisih cukup jauh membuatnya kesulitan menemukan mereka. Xiao Jun berhenti melangkah, memusatkan konsentrasi sejenak demi mencari arah yang paling tepat. Tiba-tiba telponnya berdering padahal ia sudah merasakan titik keberadaan kakaknya. Ia meraba saku celana, mengeluarkan ponsel dari dalam lalu mengernyit melihat nama panggilan masuk itu.


“Apa yang kamu rencanakan? Ini tidak masuk dalam rencana kita!” ujar Xiao Jun tegas. Wen Ting yang meminta bantuannya untuk mendekati Li An, tapi pria itu justru merubah rencana tanpa pemberitahuan.


“Ah, itu sorry aku berubah pikiran, caramu sudah terlalu biasa. Aku ingin memberinya kejutan yang lebih romantis. Aku tahu kamu membuntuti kami, tenang saja aku tidak akan menyakiti Li An. Jangan kacaukan rencanaku ya, cukup jadi penonton saja di sana.” Wen Ting menyatakan maksudnya dengan intonasi yang tenang.


“Kamu di mana?” tanya Xiao Jun cepat, ia mendengus kesal lantaran lawan bicaranya lebih dulu mengakhiri telpon. Wen Ting hanya berniat menyuruhnya tidak ikut campur tanpa mau Xiao Jun mengetahui keberadaannya.


Xiao Jun merasakan pundaknya ditepuk dari belakang, saat ia menoleh tiba-tiba si pemilik tangan dingin yang menepuknya langsung membekap mulutnya. Xiao Jun tidak diberi kesempatan melakukan perlawanan, orang misterius itu membekuknya.


***


Li An masih kelabakan mencari Wen Ting, ia berlari ke sana kemari namun semua orang yang ia temui acuh dan terkesan cuek. Gadis itu berpikir harus menemukan tempat pusat informasi untuk membantunya menemukan orang hilang, ia lebih kuatir jika sesuatu terjadi pada rekan bisnis Xiao Jun itu ketimbang memikirkan keselamatan


dirinya sendiri.


“Permisi, di mana kantor pusat informasi?” tanya Li An pada orang random yang ia temui, namun dari beberapa yang ia tanya, semua hanya tersenyum dan menunjuk ke arah yang sama tanpa bersedia bersuara. Li An mencoba menguji ke yang lain, kali ini targetnya adalah seorang gadis muda yang terlihat lebih muda dan modis dari dirinya.


Lagi-lagi, pertanyaan yang sama dengan jawaban yang sama seolah seluruh pengunjung hari ini tengah puasa bicara.


Li An heran dengan arah yang ditunjuk oleh orang-orang itu, mungkin di sanalah pusat informasi hanya saja orang-orang itu lebih suka menjawab sekenanya. Gadis itu berjalan menuju arah telunjuk yang ia tanya, tak terlihat ada pusat informasi yang ia cari. Li An menunduk kecewa, ia berbalik arah untuk mencari ke tempat lain. Mungkin lebih baik andalkan kemampuan sendiri, jangan bertanya pada orang yang tidak dikenal. Ia pun tidak berani menghubungi Xiao Jun, takut justru mengganggu di saat adiknya sibuk. Biarlah ia hadapi sendiri kesulitan ini.


Suara musik di arena bermain tiba-tiba berhenti, sekeliling langsung terasa senyap dan Li An baru menyadari tinggal ia seorang di taman bermain seluas ini. Kemana perginya orang-orang yang tadi lalu lalang? Li An berdiri diam, meskipun bingung namun ia takut untuk sembarang bertindak. Ini terlalu mencurigakan, Wen Ting yang


menghilang tiba-tiba, orang-orang yang bersikap aneh, lalu sekarang keanehanya berkelanjutan.


Dari arah belakang Li An, suara genderang, tambur, terompet memekakkan pendengaran. Li An langsung menoleh ke sumber suara, dengan tatapan bingung ia menyaksikan serombongan orang berkostum mickey dan minnie berjalan beriringan. “Apa ini lagi karnaval?”


Li An tetap antusias menantikan pertunjukan selanjutnya, sekelompok penghibur yang ia taksir berjumlah lebih dari seratus orang itu masih berdiri mematung. Suasana hening, Li An merasakan atmosfir ketegangan. Ia berhadapan dengan ratusan orang di balik kostum, dengan keheningan yang bahkan jika seekor lalat terbang pun bisa kedengaran saking sunyinya. Gadis itu mengira pertunjukan telah selesai, ia lebih baik bergegas pergi dari sini, toh hanya tinggal ia seorang yang tak berhasil menemukan Wen Ting.


Musik di seluruh karena tiba-tiba terdengar lagi, kali ini lagu yang begitu romantis dalam alunan musik klasik khas Disney. Li An menengadah dan menatap sekeliling, di belakangnya masih berdiri rombongan badut yang sudah merubah formasi. Li An penasaran dengan pertunjukan selanjutnya, tapi moodnya sudah hilang untuk kembali


menonton. Sebaiknya ia segera keluar dari arena ini dan menelpon Lau, pengawal Xiao Jun itu pasti bisa diandalkan. Andai Li An berani meminta nomor ponsel Wen Ting saat mereka bersama, pasti ia tidak kebingungan begini.


“Wei Li An ....”


Li An terperanjat, namanya dipanggil sangat jelas dan ia tahu suara siapa gerangan. Ia tersenyum lalu menoleh ke belakang, firasatnya mengatakan bahwa pria itu ada di sana. “Eh?” Li An kembali bingung, yang ia dapatkan tetaplah manusia dalam kostum.


“Kamu di mana Wen Ting?” lirih Li An, ia kesal, sedih, merasa dipermainkan.


“Aku di dekatmu, selalu di dekatmu, Li An.” Ujar suara yang diduga Wen Ting.


Li An berdiri terdiam, sekarang ia yakin ratusan orang berkostum badut di hadapannya itu salah satunya pasti adalah Wen Ting. Ia menahan senyuman, berusaha tetap tenang meskipun debaran jantungnya mulai mengalahkan genderang perang. Dalam benaknya berpikir, jika ini yang diinginkan Wen Ting, maka ia akan diam mengikuti permainannya.


Barisan badut mulai membuka jalan dari belakang, menyusul lanjutan pernyataan sang pangeran yang belum sampai pada poin utama. “Aku tahu ini terdengar gila, nekad, aneh, kita baru kenal satu hari tetapi aku sudah mantap memintamu untuk hidup bersamaku selamanya.”


Barisan badut yang membuka jalan sudah sampai pada pertengahan, dan Li An hampir lupa bernapas saking tegangnya mendengar pengakuan dari Wen Ting. Ya, suara itu memang dari Wen Ting, pria itu sedang menyatakan cinta. Tangan Li An mulai gemetaran, namun ia masih bertahan melihat kelanjutan. Seorang pangeran – dia memakai kostum dan topeng pangeran dalam tokoh Cinderella, muncul dari barisan para badut Mickey lalu berjalan mantap menghampiri Li An.


Seluruh badut yang berdiri di belakang otomatis membuat lingkaran besar seolah menutupi kedua orang yang tengah berjuang atas nama cinta itu agar tidak keluar dari lingkaran cinta yang mereka buat. Alunan musik romantis masih mendominasi backsound adegan mendebarkan itu. Wen Ting yang bersembunyi dalam wujud pangeran dalam tokoh kartun itu kini berdiri tepat saling berhadapan dengan Li An dalam jarak yang masih dibatasi kurang lebih terpisah dua meter.


Seorang badut menghampiri Li An dan langsung merangkul lengan Li An dan mengantarkannya ke hadapan sang pangeran. Li An tidak kuasa menolak, saat ia terkejut lalu tersadar tangan kekar si badut sudah mengapitnya ke sana. Sekarang gadis itu betul-betul berdiri dekat dengan Wen Ting yang masih dalam persembunyian.


“Aku tidak bersedia hidup bersama badut selamanya.” Tolak Li An sok tegas.


***