
Pembahasan serius dengan Li An belum mencapai titik kesepakatan, Xiao Jun tidak berani memaksakan kakaknya memberi jawaban saat itu juga. Akhirnya ia dilanda penasaran hingga hari berganti dan Li An masih belum menghubunginya. Tamu pertama Xiao Jun pagi ini justru Lau yang juga belum memberikan laporan hasil
penyelidikan yang ia minta.
“Selamat pagi tuan, sarapan anda sudah siap di ruang makan.” Lau kembali menyiapkan segala keperluan Xiao Jun termasuk urusan perut. Beberapa minggu tidak mengabdi pada tuan muda itu membuat Lau kangen dengan kebiasaan rutinnya sehingga ia mengajukan diri sebagai koki khusus untuk sang majikan. Padahal dalam rumah Li
San, para koki professional dari negeri ini digaji khusus untuk menghidangkan makanan sehat dan lezat bagi para majikan.
“Ng, paman ikut makan bersamaku. Hari ini paman yang spesial masak ini semua?” tanya Xiao Jun takjub dan hapal masakan favoritnya ala koki Lau. Lau menunduk dan tersenyum, “Merupakan kehormatan bagi hamba dapat memasakkan untuk tuan muda.”
Xiao Jun tersenyum lalu menarik kursi kosong di sampingnya. “Mari gabung paman, seperti biasa kita makan bersama. Lama di penjara membuat paman kurus, pengawalku tidak boleh kurus loh.” Canda Xiao Jun.
Lau menuruti perintah Xiao Jun dengan senang hati, atmosfirnya serasa mereka tinggal di Jakarta. Makan bersama semeja tanpa perbedaan status, Lau malah cocok menjadi sosok ayah bagi Xiao Jun. Selayaknya ia menyayangi Xiao Jun seperti anaknya sendiri.
“Paman, apa sudah ada hasil dari yang aku minta?” di sela makan, Xiao Jun tak sabaran lagi membahas soal kerjaan. Urusan penting seperti itu lebih cepat diselesaikan lebih menenangkan.
Lau berubah mimik serius sebelum mengeluarkan suara, “Sudah tuan. Dokumen yang tuan minta sudah saya printkan. Setelah ini akan saya tunjukkan.”
“Ng, apa hasilnya? Ada bukti penyelewengan kekuasaan?” tanya Xiao Jun tidak sabaran menunggu nanti.
Lau awalnya ragu membahas perbincangan serius di tengah makan, namun pertanyaan dari tuan muda tidak mungkin diabaikan. “Maaf tuan, kami sudah mengulik segala informasi serta laporan keuangan perusahaan termasuk pengeluaran pribadi tuan Chen Kho tetapi tidak menemukan hal yang melenceng. Semua kas perusahaan masih dalam taraf normal, serta kegiatan foya-foya tuan Chen Kho murni menggunakan kantong pribadinya.”
Lau tahu apa yang ia sampaikan bukan berita bagus, Xiao Jun bahkan terlihat kecewa lantaran tuduhannya tidak terbukti.
“Lihai juga dia menyembunyikan kelicikannya. Paman, makin terlihat wajar justru makin tidak wajar. Suruh intel kita kroscek sekali lagi, cocokkan dengan data perusahaan finansial. Lakukan tanpa meninggalkan jejak mencurigakan.” Seru Xiao Jun yang merasa sesuatu yang janggal namun belum tahu apa yang dimaksud. Chen Kho pasti sudah mempersiapkan semuanya, ia tidak sebodoh yang dibayangkan.
“Baik Tuan.” Jawab Lau lantang.
“Dan, gimana dengan kakakku? Apa dia minta sesuatu pada paman?” tanya Xiao Jun, ia punya rencana mengunjungi Li An selepas dari kantor.
“Tidak ada, tuan. Nona Li An berkata semua yang diberikan sudah cukup. Dia hanya meminta diajarkan memakai ponsel barunya.”
Segala yang diberikan sudah cukup? Xiao Jun berpikir lagi apa saja yang sudah ia berikan pada Li An. Hanya puluhan setel baju ganti, kosmetik, ponsel, tempat tinggal sementara, “Astaga, aku lupa memberikannya kartu kredit atau uang cash. Dia mungkin tidak punya pegangan sama sekali paman.” Seru Xiao Jun gusar.
“Baik tuan, saya akan ke sana mengurusnya sekarang.” Lau inisiatif tanpa disuruh.
“Tidak perlu paman, biar aku yang urus. Ada yang harus kupastikan pada dia saat ini juga.”
***
Paska mempermalukan diri sendiri, Grace menumpahkan kekesalan dengan diam dan penurut pada semua perintah Bibi Gu. Sikap kalemnya yang tidak biasa itu mengundang perhatian sang pelatih. Keceriaan dan sikap semaunya Grace seakan menghilang dalam waktu satu hari.
“Perhatikan sikap saat berjalan, wanita terhormat tidak jingkrak saat melangkah. Harus anggun dan penuh perhatian, nona sudah mengulang puluhan kali tapi tetap ritme langkahnya kecepatan. Ulangi lagi, tapi setelah istirahat sepuluh menit.” Teriak bibi Gu dengan tegas, persis guru yang memekikkan murid yang susah diatur.
Di luar dugaan bibi Gu menyuguhkan teh untuk Grace, ia bahkan mengangkat gelasnya untuk mengajak minum bersama. Grace dengan keheranan ikut mengangkat gelas dengan canggung.
“Kupu-kupu yang indah tidak langsung memiliki sepasang sayap untuk terbang, sifat yang
berubah juga punya alasan kuat untuk mengikis sifat asli. Tidak ada yang berubah dalam semalam kecuali itu keajaiban.” Sindir bibi Gu dengan bahasa halus yang tidak dimengerti Grace.
Benar saja, gadis yan dibesarkan dengan pendidikan barat itu gagal paham dengan bahasa kuno bibi Gu. “Ng, bagus kata-katanya bibi Gu.” Ia bahkan bingung harus berkomentar apa lantaran tidak menangkap maksudnya.
Bibi Gu menghela napas, ia terlalu berharap pada gadis dengan kemampuan standar itu. Sampai detik ini menjadi pelatihnya, wanita tua itu belum tahu keahlian apa yang dikuasai Grace. “Kamu sepanjang hari diam sejak kemarin. Sikap cerewet dan manjamu hilang dalam satu malam, apa itu bukan mukjijat jika seterusnya sikapmu
sebaik ini?”
Ingin rasanya Grace mengumpat, apa daya ia tak bebas bersuara di sini. Tekanan dan peraturan ketat serta penolakan Xiao Jun membuatnya merindukan rumahnya, pelayannya serta kebebasannya. “Aku …”
“Kamu? Pasti ada sesuatu yang terjadi hingga semangatmu ciut.” Tuding bibi Gu tepat sasaran.
Grace pucat seketika, andai bibi Gu tahu kejadian memalukan kemarin bisa saja ia kehilangan nama baik atau bahkan pamannya akan memberi hukuman. “Bibi, bisakah kau mendengarkanku sebentar? Aku tidak punya teman bicara di sini, aku …”
kesepian yang Grace rasakan, tiada berteman di tengah kumpulan orang, tidak ada yang menanyakan perasaannya, ia betul-betul merasa seperti orang hilang.
Bibi Gu yang berpendirian keras nyatanya masih punya perasaan, ia sudah punya banyak andil mendidik banyak nona namun Grace adalah yang paling terkasihani. “Ceritalah, waktu kita tinggal 9 menit.” Ujar bibi Gu masih memegang prinsip kedisiplinan.
Grace tersenyum girang, ia harus memanfaatkan waktu yang sudah berkurang satu menit itu dengan sebaik mungkin. “Bibi, kau mengenal semua penghuni rumah ini tapi aku kesulitan memahami mereka, terutama calon suamiku. Apa bibi bersedia menceritakan sedikit tentang dia? Seperti apa sifatnya? Apa yang ia sukai dan
tidak sukai?”
Grace menaruh harapan besar pada bibi Gu, ia sangat ingin mengenal Xiao Jun agar tidak membuatnya ilfeel lagi. Itupun jika bibi Gu bersedia memberitahunya. Bibi Gu malah menatapnya dengan tajam, menunjukkan ketidak senangannya dengan pertanyaan itu.
“Dia tipe pemimpin yang baik, kelak klan Li pasti maju pesat di tangannya. Dia sejak kecil tertutup, tidak semua orang bisa mendekatinya. Kalau kau ingin lebih kenal dia, dekati pengawalnya atau ibunya.” Bibi Gu yang semula berperingai dingin malah membeberkan informasi penting pada Grace.
“Ah begitu… dia tipe introvert. Bibi, ada banyak pengawalnya yang mana yang harus aku dekati? Dan lagi, nyonya besar kurang menyukaiku, aku pesimis bisa mendekatinya.” Ujar Grace minder.
Bibi Gu menyeringai, gadis di hadapannya sungguh orang asing yang tidak tahu apa-apa. Namun cepat atau lambat ia harus mengetahui semuanya, ia adalah gadis terpilih sebagai istri penerus. Maka wajar jika Grace harus mengenal siapa ibu kandung calon suaminya.
“Pengawal yang banyak itu hanya pengawal biasa, yang luar biasa hanya satu orang. Dia selalu di sisi tuannya, namanya Lau. Dan nona, sepertinya kau harus tahu satu rahasia besar dalam keluarga ini sebelum kau jadi anggota keluarga sah. Tuan muda Xiao Jun memiliki dua orang ibu.”
Grace terkejut, pengakuan bibi Gu terlalu menggemparkan hatinya. “Maksud bibi? Ibunya bukan hanya nyonya besar? Lalu siapa?”
Bibi Gu tertawa kecil melihat betapa antusiasnya Grace, “Ya, tidak hanya nyonya besar. Ibu yang sesungguhnya adalah ….”
***