
Keringat sebesar bulir jagung membasahi sekujur tubuh Weini, bahkan Dina yang mendapat tugas berat dan tak masuk akal itupun ikut mandi keringat saking grogi dan takutnya. Teriakan Weini yang memekakkan kuping serta menggetarkan hati itu membuat Dina kian termotivasi untuk segera menyudahi bagiannya dengan lancar. Namun sayatan yang ia buat sepanjang nyaris lima centimeter dengan kedalaman yang tak bisa diperkirakan oleh Dina itu, belum juga menemukan titik terang. Dina belum melihat ada benda seperti yang dimaksud Weini, yang ada justru tangan Dina sudah berlumuran darah segar Weini.
Sungguh seumur-umur Dina tidak pernah menyangka akan dilatih seperti psikopat. Dengan terpaksa ia harus menyakiti orang yang begitu ia lindungi dengan tangannya sendiri, mental Dina mulai terganggu, terkadang ia merasa gentar dan tak ingin melanjutkan namun melihat penderitaan Weini menahan sakit membuatnya tidak tega
mengecewakan nonanya.
Weini setengah mati menahan sakit serta mengendalikan pengaruh sihir yang bergejolak antara kekuatan dirinya dan kekuatan chip sihir. Gadis itu mencegah kejadian serupa terulang lagi, saat Haris memaksa mengeluarkan chip itu dan terpental. Weini tentu tak akan membiarkan Dina terluka gara-gara dirinya.
“Non, apa benda itu ada sinarnya?” Pekik Dina buru-buru setelah melihat sesuatu yang mencolok karena bercahaya merah yang didapatnya. Ia ragu dengan penglihatannya lantaran berasumsi itu sebagai gumpalan darah atau benda yang dimaksud Weini, saking warnanya yang sama.
“Apapun yang kau lihat, cepat tarik keluar kak!” Perintah Weini, ia mulai tenang setelah Dina berhasil menemukan chip itu.
Dina mengangguk sembari mencongkel lebih benda itu, ia melihat benda itu tampak seperti mengeluarkan benang,
segera diraihnya tetapi justru meleset dari tangan Dina. “Non, nggak bisa ditarik, ada kayak benang tapi aku nggak bisa tarik.” Pekik Dina. Saking paniknya mereka berdua hingga berkomunikasi dengan teriakan padahal nyaris
tiada jarak di antara mereka.
“Mana kak?” Weini menjulurkan tangannya ke belakang, meminta Dina menuntunnya ke sumber benda itu.
Dina meraih tangan Weini kemudian menempelkannya pada benang yang dimaksud. Weini bisa merasakan
benda yang dimaksud benang oleh Dina itu seperti terhisap oleh tangannya. Kini Weini berhasil meraih benang halus itu lalu sekuat tenaga menariknya. Raut wajahnya mulai terlihat kesakitan, tubuhnya bahkan bergetar merasakan sakit yang seperti mencabik daging tubuhnya serta mematahkan seluruh tulangnya.
“Aaaarrrghhhh!” Pekikan histeris Weini yang berjuang sendiri mengeluarkan chipnya. Dina reflek mundur menjauhi tubuh Weini yang mengeliat kesakitan tanpa mengalihkan pandangan. Ia sungguh tak mengerti apa yang terjadi pada Weini dan mengapa harus melakukan hal aneh itu. Kepala Dina nyaris pecah memikirkan serta
mengkhawatirkan kondisi Weini. Apa yang harus ia lakukan andai terjadi sesuatu yang buruk pada Weini? Ia terkurung di tempat yang sama dengan Weini dan jelas-jelas ia ikut andil melukai gadis itu.
Aku tidak boleh mati! Pengorbanan ayah tidak boleh sia-sia! Lirih Weini dalam hati, berusaha terus memotivasi diri agar berhasil menarik keluar chipnya. Dan seiring jeritannya yang paling menyayat hati, chip itu berhasil ditakhlukkan. Weini terkulai lemas dengan tangan yang menggenggam kuat chip sihir itu. Ia memaksakan diri dan
mengerahkan seluruh tenaganya demi bertaruh dengan chip itu. Kini Weini menyadari bahwa kekhawatiran Haris memang beralasan, bukan perkara mudah untuk mengeluarkan benda sihir yang tertanam sekian lama dan sudah menyatu dengan darah dagingnya. Mengeluarkannya justru seperti tindakan bunuh diri, karena chip sihir itu otomatis mempertahankan kekuatannya agar tetap berada di sana begitu disentil. Sungguh tidak segampang ketika memasangkannya ke dalam tubuh.
“Nonaaa....” Pekik Dina shock dan segera menghampiri tubuh Weini yang terkulai lemas bersimbah darah.
Isak tangis Dina pecah tak tertahan, ia sangat takut... Sungguh takut akan kehilangan Weini.
“Tolong! Tolong!” Jerit Dina berharap ada seseorang yang menyelamatkan nonanya.
Weini meraih tangan Dina dengan tangannya yang kosong. Dina terkesiap sekaligus lega mendapatkan respon dari Weini yang ia kira sudah tidak sadarkan diri. “Jangan teriak kak... Jangan ada yang melihatku begini selain kamu....” Lirih Weini. Energi Weini terkuras banyak dan ia lupa bahwa ia tidak boleh menyentuh manusia manapun saat
ini. Secara otomatis energi Yang Dina tersedot sehingga Weini segera menepiskan tangannya begitu aliran hangat menjalar masuk lewat tangannya.
“Kenapa non? Kenapa harus seperti ini? Aku tidak mengerti....” Lirih Dina, ia sesengukan menangis saking tak tega melihat kondisi Weini yang sekarat tetapi enggan ditolong.
Weini hendak menjawab namun kata-katanya tertahan begitu ia merasakan sensasi aneh di area wajahnya.
Panas dan perih yang tidak bisa ia ungkapkan lagi rasanya, terlalu banyak luka dan sakit di sekujur tubuh sehingga ia sulit mendeskprisikannya lagi.
berguguran.
Weini tersenyum getir, teriakan Dina sudah jelas menandakan bahwa ia berhasil melepaskan topengnya. Ayah, apa kau melihatku? Aku berhasil... Aku berhasil melepaskan topengku. Lirih Weini dalam hatinya.
Belum hilang keterkejutan Dina yang menatap wajah Weini yang hampir maksimal terkelupas, Dina kembali shock mendapati tangan Weini pun ikut mengelupas bahkan bersinar. Saking shocknya Dina sampai ia menampar wajahnya berulang kali, mengira semua hanya mimpi dan ia berharap segera terbangun dari mimpi buruk itu.
Dina tak sanggup berkata-kata, dengan tangan yang masih ternodai darah Weini, ia mendekap dadanya. Mentalnya terguncang berat mendapati kejadian aneh yang menimpa Weini, sungguh tak bisa ia cerna dengan nalar. Ia menatap lekat wajah asing di hadapannya, yang semula adalah sosok Weini yang begitu ia kenal. Tetapi sekarang
seorang gadis berparas sangat cantik, putih mulus bahkan lebih putih daripada sosok Weini yang biasanya, berhidung mancung dan bagus bentuknya, dengan bingkai alis yang begitu bagus bentuknya, dan bibir yang tampak menawan meskipun sedang terkatup. Yang tidak berbeda hanya bentuk matanya saja, dan Dina hapal betul bagaimana bentuk mata Weini serta sorotnya.
Hanya saja, mahakarya Sang Pencipta yang mendekati sempurna itu terlihat asing bagi Dina. Ia tidak
mengenalinya sebagai Weini, meskipun tadi ia berjuang mati-matian bersama Weini namun gadis yang sekarang di tubuh itu bukan lagi Weini.
Weini paham keresahan Dina, terbaca betul suara hati managernya. Ingin sekali Weini menjelaskan apa yang terjadi, namun tampaknya ia harus berpuas diri karena masih bisa melepas topengnya dengan selamat. Di penghujung waktu yang kian mepet, Weini merasakan betul kehadiran si penyihir dengan kekuatan besar yang semakin dekat. Ia dan Dina belum sepenuhnya lepas dari ancaman maut, dan Weini harus berjuang lagi
dengan pertaruhan nyawanya.
“Kak, dengarkan aku... Aku tahu kamu masih shock tapi kumohon tolong aku sekali lagi. Inilah wajah asliku kak, tolong jangan ceritakan apapun pada siapapun kecuali pada Xiao Jun. Di luar sana ada yang datang mencariku, dan aku tidak bisa lolos darinya. Jadi kumohon... Berikan ini pada Xiao Jun. Aku sungguh mengandalkanmu kak....” Weini menatap melas pada Dina yang terguncang berat itu.
***
Suara tembakan menakutkan orang-orang di lantai bawah kantor managemen Weini. Beberapa security yang mencoba melawan pun sudah keok duluan karena baku hantam pengawal Chen Kho. Mereka menembakkan pistol ke udara serta ke setiap titik CCTV yang ditemui.
“Cepat siapkan jet, aku yakin betul dia ada di sini!” Perintah Chen Kho sembari menyeringai dan berjalan dengan langkah mantap menjemput Weini.
***
Yaaa... Pada akhirnya kita sampai di inti cerita ini. Sesuai judul novelnya, judul episode inipun sama. Auhor ucapkan terimakasih kepada teman-teman yang sudah partisipasi menyumbangkan komentar bahkan ikut menebak siapa orang pertama yang melihat wajah asli Weini. Terimakasih pada kalian yang sudah memilih Li San, Haris, Xiao Jun, Liang Jia, bahkan si musuh menyebalkan Chen Kho sebagai orang terpilih itu. Namun dari sekian banyak karakter yang berpeluang besar, ternyata orang terpilih yang author percayai untuk melihat wajah asli Weini untuk pertama kali adalah Dina. Sosok manager Weini ini tidak kalian duga kan?
Nah, mengapa author memilih Dina pun ada alasannya hehe... Ini menyangkut nasib Dina selanjutnya juga. Yaa... Author memperhatikan nasib setiap karakter di sini loh, nggak percaya? Baca terus pokoknya happy ending ^^
Gimana rasanya membaca novel bergenre romantis fantasi ini, namun serasa membaca novel horor atau bahkan serial silat, saking tegangnya.... ^^
Percayalah bahwa setiap respon positif kalian terhadap karya ini menjadi suntikan semangat author dalam berkarya. Di sini, ada level yang harus diperjuangkan agar terus bertahan loh. Yang jadi author pasti paham banget deh hehe... Maka dari itu, mohon berikan terus like dan komentarnya ya. Kalau bisa, rekomendasikan juga
novel ini kepada pembaca lainnya jika kalian merasa ini menarik dan pantas dibaca oleh lebih banyak pembaca lainnya.
Uppss... Udah kepanjangan curhatnya, ya sudah... sampai jumpa lagi ya. Diklik favorit ya supaya mendapatkan notif update episode barunya. Thanks....
***