
Syuting di hari pertama berjalan cukup lancar, meskipun yang jelas terlihat paling lelah adalah sang pemeran utama, Weini yang harus jungkir balik melakukan adegan fighting. Kendati ia piawai dalam adegan yang mengandalkan kekuatan fisik dan ketangkasan, namun Weini harus mengulang beberapa kali adegan sesuai permintaan sutradara. Setiap gerak-gerik Weini yang lincah sukses membuat Dina takjub, ingatannya juga sangat bersahabat kali ini.
Kepiawaian Weini dalam kungfu tak akan luput darinya, Dina sigap merekam dan mengirimkan kepada Xiao Jun. Manager itu menyicil pengiriman file menjadi beberapa bagian dan memberinya caption “Sesuai janji ya bos”.
Stevan menatap kagum pada Weini, harus ia akui bahwa belum ada satupun artis yang semulti-talenta Weini. Dia begitu profesional, adegan laga yang dilakoninya dilakukan secara nyata dan tidak memakai pemeran pengganti
untuk adegan berbahaya. Tali pengaman dan sejenis pengaman lainnya tampak tidak berguna dan hanya jadi hiasan saja, Weini seolah terbang sungguhan saking ringan tubuhnya. Stevan sempat melirik ke sekitar, telinganya mendengar decak kagum dari para kru dan pemeran pendukung yang memuji kehebatan Weini. Hanya ada satu orang yang paling diam, menepi dan seolah hilang di tengah keramaian, dialah Grace.
Entah apa yang terbersit di benak Grace saat melihat Weini yang memancarkan aura bintang, dari gurat wajah Weini pun tampak begitu tegas, menawan dan penuh wibawa. Ia bagaikan orang lain ketika memerankan perannya,
dan akhirnya Stevan sadar mengapa Weini dengan mudah mendapatkan tawaran peran ini tanpa perlu mengikuti casting. Sutradara itu sungguh jeli, mereka tahu hanya Weinilah yang paling pantas mendapatkan peran ini.
Stevan mencuri lirikan pada Grace lagi, posisi mereka berdiri cukup jauh tetapi tak menghalangi aktor itu untuk melihat dengan jelas ekspresi wajahnya. Beberapa kali Grace terlihat cemberut, terlebih ketika sorak sorai dan tepuk tangan ditujukan pada Weini saat berhasil berlaga. Kecemburuan dan rasa iri tampak jelas dari reaksi Grace meskipun tanpa disuarakan. Stevan menatapnya prihatin, perasaan semacam itulah yang menciptakan kesempatan untuk kebencian. Tidak hanya soal cinta, namun jika Grace serius ingin berkarier di bidang ini, Stevan khawatir bila artis baru itu menaruh iri dan dengki pada Weini.
Coba aja berani bikin kelicikan kotor buat jatuhin Weini, gue jamin lu bakal berakhir seperti Lisa meskipun Xiao Jun tak berani mengusikmu. Gumam Stevan dalam hatinya, ia tak akan membiarkan Weini dijebak seperti yang sebelumnya terjadi. Persaingan di dunia entertainment memang sengit, dan tak ada habisnya.
***
Haris tengah menyusun rangkaian bunga dan menaruhnya ke dalam vas, ketika ia mendengar suara mobil yang sedang parkir di depan rumah. Ia mengernyit heran, bukan karena penasaran siapa yang datang namun lebih ke pertanyaan mengapa tamu itu datang di saat sekarang? Ini bukan waktu bertamu, Weini pun sedang pergi bekerja, dan seharusnya si tamu juga disibukkan dengan urusan kantor, lalu kepentingan apa yang membawanya kemari?
“Ayah, apa kau sedang sibuk?” Xiao Jun menyapa Haris ketika pria itu keluar menyambutnya. Senyuman pria itu meluruhkan emosi yang sepanjang perjalanan menguras tenaganya.
Haris tersenyum lalu menggelengkan kepala pelan, “Tidak, justru karena tidak ada kerjaan, aku mengerjakan pekerjaan wanita, merangkai bunga.” Ujar Haris seraya tertawa kecil.
“Masuk.” Timpal Haris, saat Xiao Jun tertular tawa olehnya.
Xiao Jun mengangguk kemudian melepas sepatunya dan mengikuti langkah tuan rumah. Haris langsung menuju dapur, menyiapkan sesuatu untuk menyambut tamunya. Xiao Jun menempati sofa dan duduk dengan pikiran yang
kembali mengusik. Tujuannya kemari secara dadakan memang untuk menyelidiki Haris, menyibak rasa penasaran atas beberapa kejanggalan serta kesamaan Haris dan ayahnya, Wei Ming Fung.
Haris menajamkan telepatinya, berusaha menelusuri isi pikiran putranya. Menyiapkan minuman dan cemilan hanya alasannya untuk mengulur waktu, Haris perlu sedikit kesempatan untuk mengendus niat terselubung Xiao Jun. Dan ketika ia mendengar motivasi Xiao Jun yang sesungguhnya, Haris tersentak kaget. Kantong teh yang sudah ia seduh sempat terjeda sejenak sebelum berakhir di tong sampah, Haris tak menyangka mendapatkan kejutan yang sungguh mengejutkan di siang bolong.
Kamu mulai mencurigaiku? Astaga aku terlalu menganggap remeh kemampuanmu, nak. Gumam Haris dalam hati, ia menepis pikirannya lalu kembali fokus pada apa yang dikerjakan. Xiao Jun tidak boleh dibiarkan menunggu lama, sensivitas dan kecurigaan anak muda itu akan semakin menjadi-jadi.
“Weini mulai syuting hari ini, apa dia tidak mengabarimu? Ah … Apa kalian diam-diaman lagi?” Haris pura-pura menerka, aktingnya bahkan terlihat sempurna.
“Tidak, apa yang bisa dilakukan pria tua seperti aku? Kalau lagi libur kursus begini, waktu kosongku lebih banyak daripada waktu kerja. Karena kau sudah datang, santai saja sampai suasana hatimu membaik.” Ujar Haris ramah, seolah tidak tahu maksud kedatangan putranya.
Xiao Jun menghela napas lega, “Syukurlah, aku tidak begitu merasa bersalah mengganggumu kalau begitu. Ayah, kau masak apa hari ini? Aku rindu masakanmu.”
Haris mengangkat satu alis, “Weini syuting dan pasti pulang malam, aku hanya masak buat jatah sarapan bersama dia, selebihnya aku makan seadanya. Apa kamu lapar? Kamu ingin makan apa?”
Xiao Jun mengangguk, “Apa saja, yang penting masakanmu.” Gumamnya singkat dan penuh makna.
“Apa saja? Hmm … Tidak ada menu seperti itu.” Haris menunjukkan raut bingung namun hanya sesaat, kini ia berdiri dan tersenyum pada Xiao Jun.
“Aku akan masak sesuai bahan yang ada di kulkas, kamu tunggu di sini sebentar.” Haris membalikkan badan hendak meninggalkan putranya lagi di ruang tamu.
Xiao Jun ikut berdiri, ia tak ingin sendirian menunggu. Sudah terlalu lama menunggu, biarlah ia menikmati kesempatan yang langka bersama pria yang dicurigai adalah ayahnya. “Tunggu, aku ikut bantu. Ijinkan aku membantumu, ayah.” Pinta Xiao Jun dengan sungguh-sungguh.
Permintaan yang terdengar begitu manis, tak mungkin pula Haris tega mengatakan ‘tidak’ padanya. Pria tua itu mengangguk, “Baiklah, tapi aku tidak menanggung asuransi kalau telapak tanganmu jadi kasar ya.” Canda Haris.
Xiao Jun tertawa, “Aku juga bisa masak, tapi tidak sehebat paman Lau. Tapi untuk jadi asistenmu saja, aku pasti lebih dari sanggup ayah.”
Haris membuka pintu lemari es, sayangnya Xiao Jun tak bisa melihat senyuman pria itu. Kini ia sibuk memeriksa stok makanan dan memikirkan masakan apa untuk menjamu putranya. “Oke, kita lihat sejauh mana kemampuanmu sekarang. Nah, kupas semua itu untuk bumbu halus.” Haris menyodorkan bawang merah, bawang putih pada Xiao Jun, sementara ia mulai mencuci daging ayam dan bersiap mencacahnya.
“Mau masak apa ayah?” Tanya Xiao Jun penasaran, ia mengambil pisau lalu mengerjakan tugas pertamanya.
“Ifumie kuah. Apa kau suka?” Tanya Haris tanpa memandang Xiao Jun, ia tak peduli Xiao Jun suka atau tidak yang penting masakan itulah yang akan dibuatnya.
Xiao Jun tersenyum dan mengangguk, “Sangat suka, tolong dibuat sesuai cita rasa masakan Hongkong, ayah. Aku tahu kamu pasti bisa.”
Haris berhenti berkutat dengan pisau, begitupula dengan Xiao Jun yang berhenti mengupas bawang dan lebih memilih menunggu reaksi Haris.
Kamu sudah mulai menjebakku, Li Jun.
***