OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 460 STRATEGI DINA



Sekelompok pers sudah berkumpul di ballroom yang telah ditentukan oleh Lau. Sesuai kesepakatan yang telah Dina rencanakan, ia harus muncul dan mewakili Weini untuk bicara tentang kisruhnya masalah yang makin keruh. Dua tim pengacara duduk di sisi kiri Dina, dalam kesempatan ini Lau mempercayakan penuh pada Dina dan dua ahli hukum yang ditunjuknya. Dina terlihat sangat tenang, sedari tadi ia sangat murah senyum karena terus terhubung dengan Ming Ming via chat.


Terdengar suara host membuka konferensi pers, Dina segera berpamitan sejenak dengan Ming Ming lalu menyimpan ponselnya. Dina menegakkan kepalanya serta memasang raut wajah serius, ia membawa keoptimisan dalam perjuangan kali ini. Bukan tanpa alasan, namun karena persiapannya yang sudah matang direncanakan bersama Bams.


Mikrophone di hadapan Dina kini dengan nyaring memperdengarkan suaranya, ia baru saja berbasa basi


sejenak di muka pers sebelum masuk ke inti masalah. “Saya tahu banyak pertanyaan dari kalian tentang di mana saya ketika masalah itu terjadi. Kalian juga pastinya sudah mencari tahu bahkan dari perkembangan berita yang saya ikuti, investigasi kalian cukup liar. Hmm... Jadi apa yang perlu saya jelaskan lagi kalau semua sudah bisa  menyimpulkan.” Ucapan Dina yang tegas namun dibawa santai itu berhasil membungkam media, memang tujuan utama Dina mengadakan acara ini bukanlah untuk klarifikasi namun ada maksud terselubung lainnya.


“Kalian pasti masih ingat presscon sebelumnya yang dihadiri sutradara Bams dan aktor ternama Stevan. Saat itu untung saja saya tidak ikut terlibat, kalian tahukan apa yang terjadi pada mereka setelah itu? Saat selesai klarifikasi pada kalian, dalam hitungan menit saja mereka sudah tergeletak di jalanan. Apa kalian tidak mengusut dan menyambungkan benang merah kejadian itu? Hmmm... saya tidak sedang menakuti kalian, ini bukan masalah yang bisa dibuat candaan, sebercanda berita-berita yang kalian buat. Saya punya sesuatu untuk kalian, supaya lebih


yakin kalau apa yang saya sampaikan ini bukan hoax seperti yang kalian jual.”


Dina menyuruh host untuk menyorot proyektor dan ia mulai menghubungi saksi utama untuk bicara. Seluruh


perhatian wartawan tertuju pada layar putih yang kini menampakkan video call antara Dina dan Bams. Mereka terkejut melihat kondisi Bams yang terbaring dengan balutan perban di kepala dan di tangan. Cidera kecelakaan yang dialaminya terlihat cukup mengenaskan.


“Kak Bams, ini teman-teman media mau sapa kakak. Gimana kabar kakak sekarang?” Tanya Dina mencairkan suasana tegang.


Bams tampak dibantu oleh tangan seseorang untuk mengarahkan dirinya di depan kamera, “Ya seperti inilah, udah mulai baikan sekarang. Tapi belum bisa aktivitas.” Jawab Bams pelan.


Dina tersenyum menyeringai, “Oh... kami turut prihatin ya kak atas musibah ini. Maaf juga aku belum sempat jengukin.” Ujar Dina, dalam hati ia meralat perkataannya barusan. Jelas-jelas ia baru menjenguk Bams dan sekarang sedang memainkan sandiwara.


“Ya.” Jawab Bams singkat.


“Kak Bams, boleh cerita dikit ke teman-teman. Kenapa sih sampai mengalami kejadian naas itu?” Dina memancing pembicaraan yang sesuai skenarionya.


Bams tampak diam sesaat kemudian hingga membuat yang lain penasaran menunggu jawabannya. “Aku juga tidak yakin, tapi yang pasti setelah keluar dari ballroom usai preskon, mobil Stevan diikuti dari belakang. Mereka bersenjata dan mulai menembakkan peluru, Stevan panik, kami panik... Mereka menabrak mobil kami lalu... kecelakaan itu tidak terhindarkan.”


Dina pasang wajah shock dan ketakutan, “Oh... mengerikan sekali kak, aku tidak bisa membayangkan betapa paniknya kalian saat itu.”


“Bukan main takutnya, aku pikir akan mati saat itu juga. Aku tak menyangka akibatnya akan sefatal ini.” Lirih Bams.


“Maksud kakak? Apa kakak tahu motif pelakunya?” Tanya Dina makin melengkingkan suaranya, ia mengeluarkan


kemampuan actingnya yang tak tersalurkan sebagai artis.


Bams menghela napas lalu tampak mengangguk di layar, “Ini semua konsekuensi kami karena menyampaikan fakta tentang Weini. Kami tak menyangka musuh yang dihadapi sungguh semenakutkan itu. Sasaran mereka adalah kami yang sudah bicara terlalu banyak, Dina untung saja saat itu kau tidak di sini, hati-hatilah mulai


sekarang, mungkin kamu juga masih diincar.”


Dina pura-pura ketakutan, ia mengedarkan pandangannya ke semua pers di depannya. “Oh... gimana ini? Telat kak, aku terlanjur sebar percakapan kita di depan pers. Aku harus gimana sekarang?” Tanya Dina kelabakan.


“Astaga aku lupa kalau kita lagi telponan di depan media. Sorry banget Din, aku nggak maksud gitu. Mendingan mulai sekarang lu sembunyi, jangan bicara apapun tentang Weini, aku yakin mereka nggak akan berhenti gitu aja.” Ujar Bams.


Dina tampak sok panik, “Tapi kak, media udah umbar ke mana-mana, lebih parah pula gosipnya. Kalau aku diincar, aku bakal bilang ke penjahat itu buat teror mereka duluan. Bukankah mereka lebih sok tahu? Pelintir berita ke sana sini, kayak nggak ada beban moralnya. Yakin deh kak, kalau aku yang jadi sasaran, aku bakal kasih list nama mereka biar diteror dulu.”


Perkataan Dina dalam sekejap mengheningkan mereka yang masih memegang kamera. Para pers mulai saling


berpandangan satu sama lain, bahkan ada yang sudah tanggap dan menurunkan kameranya. Awalnya mereka sangat menantikan preskon ini, tetapi setelah melihat klarifikasi yang melenceng dari perkiraan itu, nyali mereka satu persatu mulai menciut.


Senyuman puas tersungging dari lekuk bibir Dina, tampak jelas bahwa rencananya akan berhasil, tinggal memainkan skenario lanjutan. Ia menutup percakapan dengan Bams, lalu kembali melirik tajam pada pers. Seringainya tampak betul hingga suasana dalam ruangan yang sudah dingin itu bertambah dingin.


“Aku punya saran gratis buat kalian, jangan coba-coba menantang musuh yang kalian belum tahu kekuatannya sekuat apa. Masalah Weini itu murni bukan settingan, bukan cari sensasi dan ini menyangkut konflik keluarganya. Status keluarganya sendiri kalian pasti sudah tahu kan? Sekarang terserah kalian, mau milih nasib yang sama seperti Stevan dan kak Bams, atau mengikuti permainan nasib yang aku siapkan. Pihak Weini serius akan mengangkat masalah ini ke jalur hukum, bagi siapa saja yang dengan sengaja atau bertujuan khusus untuk menjatuhkannya, merusak nama baiknya. Kami sudah memberikan peringatan di awal tapi tampaknya kalian meremehkannya. Terpaksa, kami akan tegas mengambil tindakan lebih lanjut. Daftar nama dan media kalian


sudah ada di tangan kami, dan tunggu saja surat cinta dari kepolisian.” Kecam Dina dengan suara tegas dan lantang. Ia melipat tangannya sambil berdiri menatap lantang pada mereka yang mulai gentar.


Dina menatapnya tajam, “Kenapa tidak? Apa mentang-mentang kalian pers lalu boleh seenaknya melanggar kode etik? Apa yang kalian ulas itu hanya opini yang sudah digoreng, bukan fakta dan investigasi yang akurat. Masalah ini akan jadi serius atau tidak, tergantung kalian saja yang menentukannya. Belum terlambat untuk berhenti, mau lanjut juga silahkan, kami tunggu di meja hijau.” Ketus Dina.


Hening beberapa saat lalu terdengar bisikan-bisikan dari mereka yang tengah berdiskusi. Akhirnya mereka mundur teratur dari berita yang terlalu beresiko itu. Dina tersenyum puas, rencananya berhasil dengan lancar.


“Saya minta kesadaran kalian untuk menghapus berita tidak benar yang telah kalian tayangkan. Kami tidak melarang kalian memberitakan masalah ini, namun isi berita diharapkan sesuai dengan fakta, bukan sekedar gorengan infotainment. Adalah benar bahwa artis kami, Weini adalah putri seorang bangsawan tersohor di Hongkong. Mengenai keberadaan Weini sekarang, ia sedang berkumpul bersama keluarganya. Masalah keluarganya juga sudah selesai, tidak menutup kemungkinan kelak saat Weini senggang, kami akan meminta dia untuk klarifikasi kepada teman-teman. Sampai di sini saja, saya harap kalian mengerti dan bersedia kerja sama dengan baik.” Ujar Dina menutup acara kali ini, ia benar-benar puas bisa menjadi manager yang berguna bagi Weini.


Beberapa wartawan mulai mengemasi peralatan mereka, setidaknya masih ada berita yang bisa diangkat dari hasil prescon ini. Mereka harus berpuas diri lebih dini daripada pulang dengan tangan kosong. Sayangnya ketenangan Dina yang yakin bahwa ia sudah menang, rupanya meleset setelah seorang pers yang masih penasaran dan tak


puas itu mencari referensi berita luar negri. Pria itu terkejut lalu sontak meneriakkan pertanyaannya.


“Guys, ada berita dari luar, katanya penguasa bernama Li San Jing yang juga ayah kandung Weini meninggal barusan.” Pekik pria wartawan itu, kemudian semua pers yang ada di sana sibuk menelusuri berita dari ponsel mereka.


Dina tersentak kaget, ia shock mendengar berita duka itu kemudian segera meronggoh ponselnya. Bukan untuk


mencari berita di internet, tapi untuk mendengarkan dari nara sumber yang lebih terpercaya – Lau.


“Mbak Dina, benar nggak berita ini? Tolong jelaskan dikit dong.” Pinta pers.


“Iya, mbak tolong keterangan yang resminya sebagai perwakilan dari Weini. Ini berita terbaru loh, masa mbak managernya nggak tahu.” Ketus salah satu pers yang tampak seperti balas dendam pada Dina yang dianggap sok tahu itu.


Dina tidak menanggapi mereka, ia sibuk menghubungi Lau dan terus berharap agar tersambung. Tak pernah


ia sangka akan ada berita duka di tengah perjuangannya membereskan masalah Weini di sini. Dina mulai mengigiti jarinya, berusaha sabar hingga percakapan dengan Lau terhubung.


“Halo, om Lau?” Ujar Dina buru-buru.


Lau langsung menyampaikan berita penting yang membuat Dina ternganga. Ia menutup mulutnya dengan satu tangan, sementara tangan yang lainnya masih memegang ponselnya. Tampak Dina mengangguk berkali-kali, “Baik, aku mengerti om.”


Pembicaraan itu sangat singkat, dan Dina kembali menatap serius pada pers yang menagih penjelasannya. “Semuanya, tolong dengarkan! Pihak keluarga Weini pasti akan menggelar preskon dari Hongkong. Saya akan kabari lebih lanjut jika sudah dikonfirmasi jadwalnya. Jadi untuk saat ini, cukup sampai di sini pertemuan kita. Sekian dan terima kasih.”


Tanpa menunggu respon dari pers lagi, Dina berlari keluar dari ballroom. Masih ada hal penting lain yang harus ia perbuat sekarang dan ia tidak mau membuang waktu, atau resikonya ia akan ditinggalkan.


***


Grace menangis tanpa sungkan di hadapan Stevan, ia baru saja sampai di sana dan hendak menyuapi pria itu bubur. Saat itu juga Lau menghubunginya dan menyampaikan berita duka, Stevan yang melihat air mata kekasihnya yang masih mendengarkan ponsel pun ikut takut, entah apa yang terjadi sampai membuat air mata gadis itu mengalir.


“Ada apa sayang?” tanya Stevan yang sejak tadi menunggu Grace selesai menerima panggilan.


Raut wajah sedih serta sorot mata yang sendu itu menatap Stevan, ia menarik napas agar tenang kemudian merespon pertanyaan itu. “Ayah Weini... pamanku itu meninggal.” Lirih Grace sedih.


Stevan terkejut, ia ikut terpukul mendengar berita duka itu.


“Paman Lau mengajakku untuk segera bersiap, kami akan kembali ke Hongkong sekarang. Kamu baik-baik di


sini ya, setelah urusan di sana beres, aku akan segera kembali.” Gumam Grace sedih, berat memang untuk meninggalkan Stevan namun jauh lebih berat dan terpukul menerima kenyataan pamannya telah tiada.


“Aku ikut dengan kalian! Akan ku minta managerku mengurus untuk keluar rumah sakit sekarang!” Ujar Stevan mantap, ia segera meraih ponsel di meja lalu mengubungi managernya.


Grace menatapnya dengan dua mata yang membulat, keputusan Stevan sungguh mengejutkannya namun Grace tampak tak yakin kekasihnya bisa keluar rumah sakit dengan kondisi seperti ini. Apa ini tidak terlalu nekad?


***