OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 378 I’M THE REAL PRINCESS! (1)



Dina serta Weini masih terdiam pada posisi mereka masing-masing, sejenak mereka perlu menenangkan diri terutama Dina yang baru tahu kabar buruk itu. Weini mulai bergerak dan bangun dari sofa, spontan Dina


mendongak ke arah gadis itu.


“Mau ke mana lagi non? Apa kamu mau mengurus pemakaman? Aku ikut!” Ujar Dina mencegat langkah Weini.


Weini terpaku diam, ia menoleh lemah kepada Dina. “Pemakaman sudah diurus langsung tadi sore.” Jawab Weini dengan suara terdengar sedikit parau.


Dina terbelalak lagi, Weini berhasil memberikan kejutan beruntun. “Secepat itu? Kenapa tidak memberitahuku, nona? Aku dan Stevan bahkan belum memberi penghormatan terakhir.” Pekik Dina, ia merasa sangat frustasi.


Weini menghela napas, perlu sedikit menata hati untuk meladeni protes Dina yang memang beralasan cukup kuat. Weini terkesan egois dengan sikapnya yang mengambil tindakan sendiri tanpa mempertimbangkan perasaan yang  lain, terutama perasaan Xiao Jun yang jelas lebih berhak mengatur pemakaman ayahnya.


“Aku punya alasan khusus, kak.” Lirih Weini, namun tak ingin menjelaskan lebih detail. Ia tak menghiraukan wajah tak puas Dina setelah mendengar jawaban itu. Dina berdiri demi menatap lebih dalam pada Weini, ia merasa ada yang disembunyikan dari gadis itu.


“Ada apa sebenarnya? Om Haris masih sehat saja tetapi kenapa bisa mendadak begini? Tolong berikan aku penjelasan yang lebih masuk akal, non. Aku nggak perca....” Dina belum menyelesaikan ucapannya lantaran mulutnya dibungkam oleh Weini secara tak terduga. Sepasang mata Dina bahkan melotot kaget, rasanya Weini


terlalu menakutkan sekarang.


Weini terpaksa membekap Dina agar diam, ia merasakan tanda-tanda sihir yang sangat kuat tengah


menghampirinya. Weini merasa ketakutan pada sesuatu yang belum pasti, tetapi ia yakin bahwa si pemilik sihir inilah yang telah menewaskan Haris. Kini incaran pembunuh itu tentu saja Weini, masalahnya Weini salah prediksi, ia terlalu lama bertele-tele di sini.


“Kak, ikut aku cepat!” Perintah Weini dan tanpa mau tahu kesiapan Dina yang sangat kebingungan itu, Weini sudah menarik managernya memasuki toilet pribadi dalam ruangan itu.


“Non? Ngapain?” Raut wajah Dina sudah kusut, matanya menyipit serta dahi yang tampak sangat mengkerut. Sulit sekali memahami tingkah aneh Weini saat ini, apa karena efek berduka cita yang mendalam sehingga batin Weini segitu terguncangnya?


Weini enggan menjawab pertanyaan beruntun Dina, ia malah tampak mengeluarkan sebuah benda tajam dari saku celananya. Benda tajam yang tak lain adalah pisau dari dapur rumahnya, yang ia gunakan untuk mencongkel chip sihir Haris. Pisau itu masih ia bawa demi menuntaskan rasa bersalah karena tindakan lancangnya pada Haris,


serta antisipasi jika tidak ada jalan lain lagi untuk kabur.


Intuisi Weini begitu kuat meyakinkan bahwa ia tak akan berhasil lolos, di manapun ia bersembunyi, si penyihir yang belum diketahui identitasnya itu pasti tetap menemukannya. Weini tak sepenuhnya yakin pula dengan apa yang dipikirkannya, tindakan nekad yang dilakukannya dalam kondisi terdesak, tanpa Haris lagi yang melindunginya, bahkan tanpa Xiao Jun yang entah bisa diharapkan atau tidak.


Dina shock berat melihat pisau di tangan Weini, spontan ia bergerak mundur dua langkah menghindari Weini hingga tubuhnya mepet pada pintu toilet yang terkunci. Pikiran buruk Dina membayanginya, seolah meyakinkan bahwa Weini yang sekarang mengacungkan pisau ke arahnya bermaksud menghabisi nyawanya. Dina reflek


berpikir, mungkin Weinilah penyebab kematian Haris dan segera menguburnya untuk menghilangkan bukti. Tapi mengapa? Rasanya sangat mustahil Weini melakukan tindakan keji itu pada ayahnya, bahkan terhadap Dina sekarang.


“Non, kamu... Buang pisau itu non!” Desis Dina ketakutan, ia sudah mepet menyandar pada pintu sementara Weini kian berjalan mendekatinya dengan pisau tajam itu.


Wajah Weini tampak gusar, tanda-tanda sihir itu semakin jelas ia rasakan. Tentu hanya ia saja yang peka merasakannya, dan Dina tak akan mengerti apa-apa meskipun dijelaskan. Percuma saja, hanya buang waktu untuk meladeni kepanikan Dina sekarang. Weini sampai di hadapan Dina, menatapnya lekat-lekat dan wajah yang serius.


“Kak, aku nggak punya waktu buat jelasin. Tapi tolong jangan bertanya lagi, cukup dengarkan dan bantu aku! Okey?” Pinta Weini dengan sungguh-sungguh hingga Dina tak kuasa menolaknya. Dina mengangguk walau takut-takut, melihat keseriusan Weini seakan menghipnotisnya untuk patuh.


“Pegang ini!” Weini menyodorkan pisau itu pada Dina. Semula manager itu ragu menerimanya, namun sorot mata tegas Weini pun menundukkan Dina hingga menerima pisau itu dengan tangan gemetaran.


Weini menyibak rambut panjangnya hingga semakin mempertontonkan kemolekan tubuh belakang bagian atasnya.


“Kak, tolong sayat bagian ini!” Perintah Weini, tangannya menunjuk sebuah titik di bagian tengah punggung.


“Apa?” Pekik Dina, ia menggeleng ketakutan sebagai reflek menolak perintah yang terdengar gila itu.


Weini melirik sekilas pada Dina lalu menoleh ke belakang, tanda-tanda sihir itu sudah terlalu dekat, mereka tak boleh buang waktu lagi. “Kak, plis lakukan saja apa yang aku minta. Ini menyangkut hidup dan matiku sekarang. Aku tidak punya banyak waktu lagi, jadi kumohon....” Mata Weini berkaca-kaca, ia sungguh terdesak dua kondisi yang tak mengenakkan. Di sisi lain, musuh yang mengincarnya kian mendekat, lalu Dina yang sangat sulit untuk diyakinkan.


“Hidup matimu?” Dina mengernyit heran, tetapi anggukan mantap Weini serta air mata yang sudah ikut andil itu akhirnya meyakinkan Dina untuk menuruti kehendak gila Weini.


Weini menarik napas dalam-dalam, matanya terkatup penuh dan kepalanya menengadah ke atas. Ia pasrahkan nasibnya pada Dina, tergantung kemampuan managernya itu untuk menyelamatkannya. Ini bukan kehendak Weini untuk melibatkan Dina, tetapi memang tak semua kenyataan akan berjalan sesuai harapan.


“Lakukan kak! Sayat di bagian bekas luka ini!” Perintah Weini tegas.


Dina menangkap maksud Weini, telunjuk Weini yang menunjuk sebuah bekas sayatan di punggung itu ditatapnya lekat. Pisau dalam genggamannya mulai diarahkan ke sana, walau dengan tangan yang masih gemetaran. Dina menyentuh kulit mulus itu dengan ujung pisaunya, begitu ia mulai menyayat, Weini menggigit bibir bawahnya untuk


menahan sakit. Namun Dina justru gentar saat melihat darah dari bekas sayatan tipis itu. Ia menghentikan sayatannya yang hanya menggores permukaan kulit luar saja.


“Cepat kak! Korek lebih dalam lagi sampai terlihat benda kecil di dalam!” Teriak Weini tak sabar lagi, musuh semakin mendekat. Ia sungguh bertaruh keberuntungan dengan nyawanya sekarang.


“I... Iya Non.” Jawab Dina lalu kembali mengeraskan hati untuk melakukan tindakan sadis itu. Ujung pisau yang memerah karena darah Weini itu tak dihiraukannya lagi, Dina menekan lebih kuat agar sayatannya semakin dalam. Di saat bersamaan, pekikan Weini yang kesakitan pun pecah. Dina terkesiap, pisau di tangannya terjatuh seiring


teriakan Weini.


“Cepat kak, teruskan! Jangan pedulikan aku! Waktu kita tinggal sedikit, mereka sudah mendekat!” Pekik Weini yang meringis kesakitan.


Dina mengangguk, keberaniannya terkumpul saat mendengar waktu yang terbatas itu. Pisau yang terjatuh kembali dipungut lalu dengan sadis ia lanjutkan sayatannya.


“Aaarghh!” Pekikan Weini memekakkan telinga. Sakit, perih, luka yang tak sekedar perih karena sayatan namun karena pengaruh sihir yang terus mempertahankan chip sihir itu berakar di tubuhnya.


***


Sementara itu, Chen Kho dan kawanan pengawalnya sudah mendekati kantor Weini. Bukan dengan tangan


kosong, namun dengan membawa senjata api yang siap menghabiskan siapa saja yang menghalangi langkah mereka.


***


Selamat memasuki episode yang menegangkan ya! Minggu lalu kita mewek, nah mulai minggu ini kita


tegang-tegangan dulu.