
Xin Er menyodorkan kembali ponsel pada Li An, percakapan yang terputus sepihak oleh Liang Jia jelas mengacaukan hatinya.
"Ibu, ada apa? Sepertinya bukan berita yang baik." Tanya Li An perhatian. Ia mengambil kembali ponselnya lalu memegangi tangan keriput Xin Er.
"Nyonya bilang, tuan Li San sedang koma. Kondisi keluarga mereka sangat kacau, ibu tidak tega membiarkan nyonya menghadapi ini semua sendiri."
Xin Er memegangi dadanya yang terasa berdebar kencang.
Li Mei serta Li An yang mendengar itu sontak terkejut, mereka mendekati ibunya untuk sekedar menenangkan. "Tapi kita harus menunggu ayah dan yang lainnya kembali dulu bu, semoga saja mereka bisa membawa nona Yue Hwa pulang juga. Setelah itu kita bisa berangkat ke Hongkong bersama." Ujar Li An menghibur Xin Er.
"Adik benar, untuk sementara ibu bisa menenangkan nyonya besar dengan menghubunginya. Kita sama-sama berjuang juga, kita di sini berharap nona muda selamat." Gumam Li Mei.
Xin Er terdiam memikirkan pendapat putri-putrinya, memang ada benarnya dan ia pun tak bisa pergi begitu saja tanpa sepengetahuan Haris. "Baiklah, kita hanya bisa berdoa agar semua cepat membaik. Agar ayah kalian segera kembali membawa nona Yue Hwa dan tuan besar segera sembuh." Lirih Xin Er pasrah.
Mereka bertiga baru saja terdiam, dalam rumah itu sebenarnya masih ada Haris yang menjaga mereka sembari mengatur perusahaan. Sebuah ketukan pintu terdengar, Li An hendak membukakan pintu itu namun kakaknya mencegahnya.
"Biar aku saja, kamu jangan banyak bergerak dulu. Palingan itu paman Lau." Ujar Li Mei mengambil alih urusan itu.
Li An tersenyum, ia bersyukur memiliki keluarga yang pengertian. Li Mei membukakan pintu dan tercengang melihat siapa yang ada di depannya.
"Paman Lau, kenapa tidak masuk?" Tanya Li An yang belum melihat siapa di sana.
Li Mei terdiam, terlebih pria itu melarangnya menjawab ajakan Li An. Ia pun menggeser badannya agar tidak menutupi pintu, dan betapa terkejutnya Li An saat melihat orang yang dikira Lau ternyata suaminya.
"Surprise...." Ujar Wen Ting dengan senyuman manisnya.
Li An segera berdiri dan berjalan cepat menghampiri suaminya, Wen Ting yang melihat ketidak-sabaran Li An pun bergegas mendekati dan merangkulnya. "Hati-hati, jangan terlalu lincah." Ujar Wen Ting yang cemas dengan kondisi janin Li An.
Xin Er menatap heran pada Wen Ting, apalagi melihat ternyata menantunya datang sendirian.
"Kok cepat banget sudah pulang? Apa yang lain juga pulang? Urusan kalian sudah selesai?" Tanya Li An yang sekaligus mewakili pertanyaan yang lainnya.
Wen Ting menggeleng pelan, ia menatap istrinya kemudian beralih pada ibu mertuanya yang juga tampak memerlukan penjelasan.
"Ibu, aku pulang duluan. Ayah menyuruhku kembali dan menjaga kalian. Ayah dan Xiao Jun sudah berhasil membajak jet milik musuh. Mereka sedang dalam perjalanan ke sana, dan pengawalku membuntuti mereka. Ibu tenang saja, ayah dan Xiao Jun sangat cerdas, mereka punya banyak trik untuk menang." Jelas Wen Ting dengan nada optimis.
Xin Er mengangguk lega, kali ini ia memang lebih mempercayai dan yakin bahwa Haris akan baik-baik saja. "Syukurlah, ibu yakin mereka akan kembali dengan selamat. Baguslah kalau kamu ada di sini, Li An jauh lebih membutuhkanmu. Dia sedang hamil muda, badannya rentan lemas, ibu cemas kalau dia sering kepikiran padamu."
Wen Ting tersenyum, ia menatap wajah Li An yang menunduk malu. "Benar itu yang dikatakan ibu? Kamu memikirkanku terus?"
Li An membuang pandangannya, malu ditatapi seperti itu. "Aku... Ah entahlah."
Lau muncul bersama seseorang yang cukup Li An dan Xin Er kenali, kedatangannya pun tidak terduga namun pas di saat Li An kelabakan mengelak dari perasaannya.
"Tuan Wen Ting sudah kembali, selamat datang." Sapa Lau membungkuk hormat pada Wen Ting.
Xin Er melihat Grace dengan tatapan lembut, Grace yang agak serba salah hanya tersenyum kikuk. Ia tak nyaman berada di tengah keluarga Xiao Jun yang sedang berkumpul, terutama ada Li An. Pertemuan terakhir mereka berdua tak berakhir dengan kesan baik, Grace takut Li An masih membencinya.
"Nona Grace, apa kabarmu? Saya tidak menyangka berkesempatan bertemu anda lagi di sini." Ucap Xin Er dengan lembut, selembut senyumannya.
Grace membalas keramahan Xin Er, "Ibu, aku baik-baik saja, ibu bagaimana? Apa sudah pulih sepenuhnya?" Tanya Grace dengan canggung.
Xin Er mengangguk, "Saya sudah baikan, nona. Terimakasih telah bersedia membantu Jun mendapatkan obat penawarnya. Saya memang menanti pertemuan ini untuk berterima kasih padamu secara langsung.
Grace tersenyum tipis, ia merasakan kehangatan di dalam kerumunan itu. Ia merasa diterima oleh mereka. Terutama Li An yang tersenyum ramah padanya saat mereka saling berpandangan.
"Tidak perlu berterima kasih, Bu. Aku yang harus minta maaf karena semua kekacauan ini... Karena mereka." Gumam Grace sedih.
Semua terdiam, tak bisa dipungkiri bahwa musibah ini terjadi karena ulah keluarga inti Grace, tetapi mereka tidak bisa menyalahkan Grace yang nyata-nyata berbeda dengan keluarganya.
"Grace, tinggallah di sini, kita bisa saling menjaga." Pinta Li An yang menghampiri Grace dan meraih tangan gadis itu.
Grace terpukau, ia sampai tak percaya bahwa Li An memperlakukannya dengan baik. Grace membalas genggaman tangan Li An dengan lembut, betapa bahagianya ia mendapatkan sambutan hangat dari Li An.
"Li An benar, lebih baik nona tinggal di sini sampai keadaan membaik atau setidaknya sampai Jun dan ayahnya kembali." Pinta Xin Er.
Grace terharu, meskipun ia gagal menjadi bagian keluarga ini, tetapi mereka tetap memperlakukannya dengan baik. "Baik ibu, kak Li An, paman Lau sudah menceritakan padaku saat ia mencari aku di rumah sakit. Aku akan tinggal di sini bersama kalian, semoga aku tidak merepotkan dan membebani kalian." Ucap Grace sungguh-sungguh.
"Kami tidak pernah merasa direpotkan apalagi dibebani. Grace, aku minta maaf tentang masa lalu yang tidak menyenangkan bagimu. Kita bisa berteman kan?" Tanya Li An seraya menatap tulus pada Grace, tatapan yang penuh harap akan sambutan persahabatan.
Grace tak bisa berkata apa-apa lagi, ia mengangguk dengan cepat. Tawaran yang sangat berarti baginya dan tak akan ia lewatkan. Dua wanita itu berpelukan, disaksikan beberapa pasang mata yang turut senang.
🌹🌹
Jet yang ditumpangi Xiao Jun dan lainnya sedang melintasi lautan, mereka tidak tahu kemana jet itu membawa mereka, namun yang pasti mereka berharap jet Wen Ting mengikuti jejak mereka untuk jaminan keselamatan.
"Aku yakin ini benar tempatnya." Tiba-tiba Su Rong angkat suara.
"Apa kau serius? Kita berada di atas lautan, bagaimana kamu bisa yakin ini arah yang benar?" Tanya Xiao Jun heran, sementara Haris hanya diam menyimak.
Su Rong melihat jendela lalu menunjuk ke bawah, "Tuan, aku yakin ini arahnya. Air laut di sekitar pangkalan itu berwarna hijau, dan kita sedang melintasi laut berair hijau. Sepertinya sebentar lagi kita akan sampai tujuan."
Xiao Jun dan Haris melihat apa yang dijelaskan Su Rong, mereka saling bertatapan dan tersenyum optimis. Akhirnya sudah ada titik terang dari tempat Weini disembunyikan.
Weini, tunggulah sebentar lagi. Aku pasti datang membebaskanmu....
🌹🌹🌹