OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 383 FIRASAT IBU



Sirine mobil polisi yang memagari police line di halaman kantor managemen Xiao Jun yang menjadi sumber kericuhan. Laporan dari asisten Bams tentang tindakan brutal yang belum diketahui motifnya itu, memang menjadi alasan kedatangan tim penegak kebenaran itu. Tetapi yang menjadi pusat perhatian sebenarnya adalah sumber ledakan dasyat yang berasal dari lantai atas gedung bertingkat empat itu. Ledakan yang mengguncang seluruh belahan dunia, karena di waktu bersamaan usai dengungan aneh itu berhenti, seluruh media di dunia membicarakannya. Tanpa perlu diundang, rekan pers dari media manapun telah berkumpul mengepung batas police line. Para pihak berwajib itu masih melakukan evakuasi korban yang masih tertahan di dalam gedung, termasuk Bams.


“Pemirsa, saat ini saya melaporkan dari tempat perkara. Kejadian yang menggemparkan masyarakat dengan


ledakan aneh yang diduga berasal dari gedung entertainment ini, masih dalam tahap investigasi tim penyidik. Suara gema yang aneh dan cahaya merah dari langit itu tidak hanya menggemparkan warga lokal, namun sampai berita ini diturunkan, sudah ada sembilan negara yang menayangkan berita tersebut lantaran mengalami hal serupa. Tidak ada kerugian material, namun di beberapa tempat disebutkan bahwa mereka sempat mengalami gelap total sepanjang dengungan terjadi. Perangkat listrik maupun alat komunikasi tidak dapat berfungsi pada saat itu, dan juga semua yang mendengar suara aneh tersebut merasakan kesakitan yang luar biasa pada telinga mereka.” Seorang reporter wanita melaporkan dari tempat kejadian yang disiarkan secara langsung di stasiun televisi swasta.


Bukan hanya satu reporter, tetapi banyak yang juga menyiarkan dengan versi masing-masing. Mereka masih menunggu klarifikasi dari nara sumber yang bisa dipercaya, namun hingga kini Bams belum juga menampakkan diri. Keramaian di sekitar gedung kantor itu menyebabkan lalu lintas lumpuh total, terlebih gara-gara dengungan tersebut, banyak aktivitas yang terpaksa dihentikan sejenak.


Sinyal sihir yang diledakkan Weini menyedot tenaga listrik sebagai penghantar, tak pelak jika ada sebagian tempat dengan tegangan tinggi ikut padam ketika ledakan itu terjadi. Beberapa helikopter terdengar berisik di atas langit demi mencari tempat pendaratan. Rombongan pencari berita dari luar negri pun ikut berkumpul memburu berita yang menggemparkan seluruh dunia itu. Dan mungkin Weini sendiri tidak pernah menyangka kekuatannya akan menghebohkan jagat raya, namun konsekuensinya sangat fatal, kini seluruh dunia pasti menyoroti dirinya, cepat atau lambat.


Bams berjalan dikawal oleh seorang polisi yang berhasil menemukannya di lantai atas dalam kondisi terlentang lemas. Pak sutradara itu bersiap memberikan keterangan di kantor polisi terkait apa yang terjadi di tempat kerjanya. Ketika keluar dari pintu kaca, langkah Bams terhenti begitu melihat ramainya kerumunan pers yang menyorotinya dengan kamera. Bams bergeming, ia merasa terkepung situasi yang tidak menguntungkan.


“Pak, tolong amankan mereka dulu. Saya belum siap beri keterangan pada pers.” Pinta Bams memohon jaminan keamanan pada polisi di sampingnya. Permintaan itu ditanggapi lalu dengan sigap para polisi menenangkan pers agar Bams bisa lewat dengan lancar hingga masuk ke dalam mobil.


Bams menghela napas berat, ia sebenarnya masih bingung tentang apa yang terjadi. Siapa kawanan pria berbaju hitam itu? Mengapa mereka menculik Weini? Lalu di mana Dina serta Xiao Jun yang sampai sekarang tidak bisa dihubungi? Dalam kondisi kacau balau seperti ini, Bams justru merasa berat harus menghadapi sendiri.


Ketika Bams dibawa pergi bersama mobil polisi, Stevan dan Fang Fang baru saja tiba di parkiran kantor. Mereka bersama demi mencari Weini, tetapi dalam perjalanan ke kantor, mereka mengalami insiden fenomenal dari suara dengungan itu. Berita yang simpang siur soal ledakan dari kantor mereka, membuat Stevan menduga bahwa


Weinilah penyebabnya. Alasan itu juga yang membelenggu pikiran Stevan, ia mencemaskan Weini andaikata memang gadis itulah sumber kekacauan besar itu.


“Gawat banyak wartawan di luar, kamu tidak boleh turun kalau begitu.” Ujar Fang Fang melirik ke arah luar dari kaca mobil.


Stevan memukul setir mobilnya dengan kesal, ia tak mungkin menyerahkan diri kepada wartawan dengan nekad berjalan masuk ke dalam kerumunan mereka. “Tapi Weini?” Stevan bimbang harus bertindak apa, ia harus mencari akal segera.


“Biar aku saja yang masuk, mereka tidak mengenalku. Nanti kukabari kalau sudah menemukan Weini.” Ujar Fang Fang yang langsung meraih tas slempangnya lalu turun dari mobil tanpa menunggu persetujuan Stevan.


Stevan enggan berpangku tangan, diraihnya ponsel untuk mencoba menghubungi Weini, Dina, tetapi tidak ada respon. Ia makin kesal karena merasa kehilangan dua sahabatnya, terlebih di saat Xiao Jun dan Grace jauh dari sini. Ponselnya terasa bergetar, Stevan mengeryit saat melihat panggilan masuk dari seseorang yang juga ia tunggu sejak tadi. Segera diterimanya panggilan itu, setidaknya ada secerca penghibur lara di kala ia dilanda gundah.


“Sayang, kamu ke mana saja seharian?” Tanya Stevan dengan nada khawatir.


***


Grace menggigiti jari telunjuknya yang ditekuk saat menunggu telponnya tersambung pada Stevan. Setelah Xiao Jun beserta pengawal dan kakak iparnya pergi tanpa pamitan, tinggallah Grace serta kedua orangtua Weini yang kebingungan dengan sikap Xiao Jun. Hanya Stevan satu-satunya harapan Grace untuk mencari informasi, sebenarnya apa yang sedang terjadi di sana, terutama dengan Weini.


Senyum Grace merekah saat mendengar jawaban dari seberang. Stevan langsung menodongnya dengan


“Aku sibuk dengan orangtuaku tadi. Stev, bagaimana keadaan di sana? Apa kamu sudah menemukan Weini?” Tanya Grace langsung pada inti permasalahannya. Di sebelahnya ada Liang Jia yang harap-harap cemas menantikan informasinya.


Terdengar helaan napas dari Stevan, menyusul jawaban dengan suara yang agak berat dilontarkan. “Maaf sayang, aku belum menemukannya. Di sini tadi terjadi ledakan besar dan sekarang pers sedang mengepung kantor managemen kita. Firasatku buruk, ku rasa Weini ada hubungannya dengan ledakan itu.”


Grace terperanjat kaget, ia tak menyangka ternyata ada masalah besar di sana. “Ledakan? Maksudmu gimana


Stev? Di tempatku barusan terjadi dengungan aneh dan cahaya merah di langit. Lalu apa kaitannya dengan Weini?” Tanya Grace bingung. Untung saja Liang Jia tidak mengerti apa yang dikatakan Grace lantaran gadis itu berbincang dengan bahasa Indonesia.


“Hah? Di tempatmu juga terasa dengungan itu? Di sini juga seperti itu pasca suara ledakan besar. Polisi sedang menyelidiki dan aku tidak bisa masuk ke dalam kantor, jadi Fang Fang yang masuk menggantikanku mencari Weini.” Jelas Stevan.


Grace tak menyangka kesamaan kejadian aneh itu, ia bergegas menyalakan televisi dalam kamar itu dan mencari saluran berita. Liang Jia kebingungan melihat tindakan Grace namun ia belum berani bertanya lantaran gadis itu masih dalam posisi menelpon. Dan benar saja, berita ledakan itu sedang viral juga di Hongkong, bahkan sudah ada yang mengabarkan kondisi terkini dari sumber ledakan. Grace terperanjat melihat kantor managemen barunya diliput dan judul berita yang tertera di layar televisi itupun terbaca oleh Liang Jia.


“Ledakan itu dari Jakarta? Seluruh dunia mengalami kejadian aneh tadi? Grace... Apa yang terjadi? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku tentang Yue Hwa?” Tuding Liang Jia dengan raut wajah sedih, guratan keriput di bawah matanya kian terlihat jelas saat ia mengerutkan dahi. Hatinya terus bergejolak, ia tak bisa tenang barang


sedetikpun.


Grace membisu sejenak, ia tak tahu harus bagaimana menjelaskan sesuatu yang tak pasti ia ketahui. Yang ia tahu tentang Weini adalah gadis itu memang bukan gadis biasa. Dua kali nyawanya tertolong berkat Weini dan bukan mustahil jika Weini mempunyai kekuatan yang ia rahasiakan, namun masalahnya di mana sekarang Weini berada? Ia sulit menjelaskannya pada ibu kandungnya yang setengah mati mencemaskannya. Tapi kini Grace paham mengapa Xiao Jun begitu khawatir dan pergi terburu-buru tanpa sepatah kata, sayangnya Xiao Jun tetap terlambat, Weini entah ke mana dan mungkin sudah tertangkap oleh Chen Kho.


“Tante... Yue Hwa hilang.” Lirih Grace dengan berat mengungkapkannya.


Liang Jia terpuruk mendengarnya, firasatnya ternyata tidak salah. Baru saja ia bahagia membayangkan berkumpul lagi dengan putrinya, namun ternyata kebahagiaan itu belum mengijinkan mereka memilikinya.


***


Hai, kita update lagi nih, lumayan buat mengobati penasaran kalian. Biar nggak digantung kelamaan ya hehe^^


Untuk minggu ini temanya rada tegang-tegangan ya, anggap saja melatih kesabaran, setelah minggu lalu kita mewek berjamaah. Nanti akan datang waktunya kita kompakan tersenyum bahagia. Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk pembaca setia novel ini, yang kabarnya panjangnya udah kayak tembok China aja hihihi... (padahal ada loh yang lebih panjang ceritanya dari ini). Pokoknya makasih banget ya atas apresiasi kalian,


author senang banget kalian bisa hanyut dalam cerita karena nggak mudah loh bikin pembaca ikut merasakan feel dalam cerita, entah itu haru, sedih, bahagia, bahkan marah.


Yup, bagi yang suka genre romantis komedi (yaa ceritanya lebih ringan dari si Weini deh) boleh dong baca novelku yang berjudul COWOK KOREAKU NYASAR DI JAKARTA, dijamin ngakak sendiri pas baca.


Akhir kata, sampai ketemu di update bab berikutnya besok ya.