
Lisa memeriksa riasannya dari cermin portable mini dalam tasnya. Ia paling cerewet soal make up, jangan sampai wajahnya terlihat berminyak sedikitpun dan ia akan berteriak minta di retouch. Metta baru nongol setelah disuruh menyelesaikan satu misi. Ia langsung menghampiri Lisa untuk laporan.
“Gimana?” bisik Lisa penasaran.
“Beres kak.” Metta mengacungkan jempol. Ia bangga pada dirinya yang bisa diandalkan.
“Jangan lupa janji kakak habis ini.” Ujar Metta mengingatkan kembali kesepakatan mereka.
“Bawel amat. Gue nggak pernah ingkar janji!” bisik Lisa ketus, ia benci diragukan oleh orang lain.
Metta menunjuk ke arah depan dengan menyodorkan dagu. Lisa mengikuti arahan dan melihat seseorang yang memuakkan hadir. Dia mendorong Metta sebagai perwakilannya membereskan musuh bebuyutannya.
Segelas es jeruk yang disiapkan untuk para talent diraih Metta, sembari membawa minuman yang masih penuh itu ia berjalan menghampiri Weini. Lisa tak berkedip menyaksikan pertunjukan menarik di depan mata sesaat lagi, ia menaruh harapan besar pada tangan kanannya.
Langkah Metta sengaja dipercepat, ia berusaha mepet di dekat Weini dan berniat menyenggolnya.
“Ups… sorry aku nggak tahu ada orang.” Dina gelagapan setelah menubruk Metta hingga jatuh dan tubuhnya basah kena tumpahan minuman. Ia menjulurkan tangan bersiap membantu gadis itu bangun. Alih-alih menerima
bantuan, dengan kesal Metta menepis tangan itu.
“Kak Dina hati-hati, lihat dia sampe basah gitu.” Ujar Weini sok prihatin.
Dina sudah membaca situasi, ia yakin Metta berniat mengguyur Weini dengan minuman di tangannya. Sebelum itu terjadi, Dina berpura-pura menyenggolnya jatuh. Mungkin inilah yang dinamakan senjata makan tuan.
Lisa menggertakkan gigi, geram melihat betapa payahnya Metta. Baru ia sadari, terlalu mengandalkan orang lain ternyata tidak baik. Lebih baik ia pura-pura tidak peduli daripada dikira bersekongkol dengan Metta.
“Lu wanita jalang! Bangs*t! kenapa selalu muncul di hidup gue. Nggak di sekolah, di sini ketemu lu mulu. Bikin sial gue!” pekik Metta emosi. Lebih baik ia lampiaskan amarah yang sekian lama tertahan lagipula sudah terlanjur malu seperti ini.
“Eh, kok malah ngegas sih. Kan aku yang senggol kamu, bukan Weini.” Dina membela Weini, ia tak terima artisnya dipermalukan di depan semua kru.
“Eh, Lont* nggak usah ikutan. Nggak tuan nggak majikan sama bangs*tnya!” cecar Metta, kali ini ditujukan pada Dina.
Weini geleng-geleng kepala, tabiat asli gadis sombong itu terkuak juga. Pasti sangat lelah harus berpura-pura polos selama ini. “Udah kak, nggak usah diladeni.” Weini menarik Dina menjauhi sumber percekcokan.
“Lu takut ama gue? Hahaha… syukur lu tahu diri, tempat lu bakal selalu di bawah kaki gue. Jangan mimpi terlalu tinggi mentang-mentang lu lagi nikmati pamor sesaat.” Cecar Metta.
Weini berhenti, lalu menoleh ke Metta. “Itu manusia apa bangkai sih? Busuk amat hatinya!”
Usai mengucapkan kata yang menohok itu, Weini berpaling dan berjalan menjauh seakan tak terjadi apa apa.
“Lu…” Metta geram, ia kehabisan kata-kata.
Dina lebih kaget mendengar kata-kata Weini, gadis yang ia kenal sopan bertutur kata dan ramah berprilaku itu bisa juga melontarkan kalimat sadis. Dina makin kagum, ia angkat topi untuk Weini.
Plok plok plok… Bams bertepuk tangan. “Udah nih shownya? Gue briefing bentar buat syuting kali ini. Semua cast berkumpul di tengah.” Pekik Bams pakai toa. Ia tidak tertarik menggubris Metta yang terlunta-lunta dan kusut layaknya gelandangan.
***
“Non tadi keren banget loh. Pertahankan ya, soalnya dunia entertainment itu keras. Jangan beri celah buat rival atau mereka bakal nindas terus.” Dina memuji kebolehan Weini saat silat lidah dengan Metta. Ia belum sempat mengutarakan kekagumannya lantaran setelah cekcok itu Weini terus syuting dan mereka baru santai saat di mobil sekarang.
“Dia memang sentiment sama aku dari kelas 1 SMA kak. Nggak tahu kenapa padahal aku nggak pernah ngusik dia. Tapi yang paling nggak habis pikir, ngapain dia kemari nempelin Lisa? Dan juga kok Lisa bisa berpengaruh banget ya sampe Bams aja nggak berani nyentil?” tanya Weini, ia memendam pertanyaan itu sekian lama dan berharap menemukan jawabannya sendiri tanpa perlu bertanya, namun sepertinya tidak ada petunjuk yang bisa menunjukkan fakta selain Lisa punya back up yang kuat.
“Lisa itu udah cukup lama berkecimpung di showbiz, chanelnya juga banyak. Trus dia kabarnya punya sponsor.” Seru Dina sembari memanaskan mesin mobil.
“Sponsor? Iklan?” tanya Weini polos.
“Hahaha… non bisa aja. Dia tuh kabarnya nih berani berkorban loh jadi sugar babynya pengusaha. Trus tinggal merengek aja dapat deh suntikan modal.” Celoteh Dina semangat.
“Owh… kasian ya. Segitu banget.” Weini merinding membayangkan posisi Lisa.
“Lah dia nikmat kok kita yang harus kasianin dia? Nggak paksaan juga, lagian dia hobi hidup foya foya kalo cuman ngandalin bayaran sinetron, mana cukup non.”
“Iya sih.” Weini manggut manggut.
“Btw, non udah denger desas desus PH kita yang terancam kollaps?”
Weini yang baru mencoba memejamkan mata mendadak semangat gara-gara obrolan Dina. “Hah? Kak Dina tahu darimana? Bukannya sinetron kita lagi naik daun dan belum lama ini dapat penghargaan. Kok bisa terancam bangkrut?”
“Non, divisi PH kita nggak cuman sinetron aja, masih banyak genre lainnya dan nggak ada yang survive. Sekarang yang diandalkan hanya sinetron ini aja, itupun investor sahamnya 45 persen dipegang sugar daddynya Lisa.
Itu sih yang aku tahu, kalo rating sinet ini turun maka udah nggak ada harapan lagi buat kita.” Dina kali ini serius bercerita tentang ancaman di masa depan PH yang membesarkan nama Weini jika tidak bisa memperbaiki nasib.
“Lalu kita gimana kak? Kru lapangan, kak Bams dan lainnya?” Weini mulai sedih, mereka sudah seperti keluarga saking seringnya menghabiskan waktu bersama.
“Non sih aku yakin masih punya masa depan cerah, artis pindah PH itu biasa non. Kru lainnya juga, bisa berpaling ke perusahaan lain. Yang kasian ya CEO nya aja sih. Udahlah non gak usah dipikirin, tambah mumet toh kita nggak bisa bantu apa-apa.” Seru Dina, ia menjalankan mobil meninggalkan pelataran parkir.
Ketika mereka memasuki kawasan slipi, Weini mulai gelisah membuang muka menghadap luar jendela. Hati dan pikirannya tengah adu ngotot antara menemui Xiao Jun atau tidak.
Pergi temui dia sekarang, lebih baik kamu tahu hasilnya daripada dipendam sendiri.
Tidak! jaga harga dirimu, perempuan itu dikejar bukan ngejar laki2. Perempuan itu ditunggu, bukan menunggu!
Malaikat dan iblis terus menghasut, Weini menggeleng kepala dengan kencang. Ia mulai pusing dengan pikirannya sendiri.
“Kak, mampir ke apartemen Xiao Jun ya.”
***