OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 144 GAGAL MOVE ON



Weini mengemasi perlengkapan pribadinya ke dalam koper kecil yang biasa ia bawa ke lokasi syuting. Aroma masakan Haris tercium masuk ke kamar, ia tergoda dan seketika merasa lapar. Dipercepatnya mengemasi beberapa baju dan handuk lalu menutup koper. Ia perlu segera menyusul Haris ke dapur, perutnya tengah meminta


pertanggung-jawaban atas wangi masakan sedap itu.


“Ayaaah … aku mencium aroma masakan enak. Kapan matang nih? Perutku udah konser.” Seru Weini sambil menepuk perutnya.


Haris melirik Weini yang sudah berpenampilan rapi sepagi ini, “Tumben jam segini udah cantik? Bukannya syutingmu agak siang?”


Weini dengan cepat menggeleng, “Ng, aku mau mampir ke apartemen kak Stevan dulu. Ntar bareng dia pergi kerja. Mulai kemarin sampai lukanya sembuh, aku bertanggung jawab merawatnya.” Ujar Weini bersemangat. Raut wajahnya yang mulai ceria sedikit melegakan Haris.


“Lah, kok kamu yang harus repot urus dia? Bukannya dia punya manager?” tanya Haris sembari menyiduk masakan yang sudah matang ke dalam mangkuk sup.


Weini penuh inisiatif menyiapkan alat makannya dan mengajak Haris makan bersama. “Dia nggak percaya penuh ama orang lain, bahkan nggak mau balik ke rumah sakit buat kontrol. Kemarin aku yang gantiin perbannya dan pakaikan arak obat dari ayah.”


Bicara soal arak obat, memori Weini teringat lagi tentang rasa penasarannya. “Ah, ngomong-ngomong ayah tahu dari mana kalau kak Stevan lagi cidera? Aku udah ingat betul belum cerita ke ayah. Kok bisa kebetulan banget ayah berikan dia obat?” Weini menodong Haris dengan pertanyaan beruntun.


Haris terlihat berpikir sejenak, ia tidak mungkin memberitahu yang sebenarnya bahwa ia dengan sengaja membaca pikiran Weini. Rasa bersalahnya begitu jelas terbaca. “Dina yang bilang waktu kami ke pasar, tanpa ditanya ia banyak cerita kejadian kemarin denganmu.” Dalam hati, Haris mengucapkan maaf telah menjadikan Dina


kambing hitam.


“What? Kak Dina? Ember juga. Pantesan aja kak Stevan nggak berani sepenuhnya percaya pada managernya, lah kak Dina aja sering keceplosan.” Weini menggeleng kepala, entah harus berkomentar apalagi tentang managernya.


“Kau tidak perlu memarahinya, dia hanya cerita padaku. Lagian dia orang yang bisa dipercaya, waktu kau terpuruk juga selalu dia yang pasang badan buat kamu.” Haris menebus rasa bersalah dengan membicarakan kebaikan Dina supaya Weini tidak mempertanyakan pada managernya, atau habislah kebohongan Haris terkuak.


“Hmmm … ya sudahlah, tiap orang ada kekurangannya. Aku juga banyak repotin dia. Selamat makan ayah.” Lauk di piring Weini sudah tak kuasa diabaikan, sebelum keburu  dingin lebih baik ia menyantapnya segera.


Haris tersenyum lalu ikut makan sesuai ajakan Weini tetapi kurang seru rasanya membiarkan momen bersama dengan berkonsentrasi pada makanan. Ia perlu membahas sebuah topic sebagai teman makan. “Jadi kau yang jadi perawat Stevan? Apa nggak risih lihatin cowok berdada terbuka? Apa perlu ayah saja yang gantikan kamu? Rahasia dijamin aman!” seru Haris menawarkan diri merawat Stevan sampai sembuh.


Tawaran Haris terdengar menggiurkan, tinggal menyetujuinya maka Weini bisa lepas dari satu tanggung jawab. Andai ia memang punya hati setega itu, “Maunya sih gitu, tapi aku nggak mau terbebani hutang budi sama orang. Ayah juga yang ajarkan aku untuk berani berbuat, berani bertanggung jawab. Jadi … biarkan aku saja yang


urus dia, ayah.” Weini menolak niat baik Haris tanpa menyisakan penyesalan.


Haris menghela napas lalu menebar senyum, “Baiklah kalau itu maumu, siapa tahu kau malah jatuh cinta sama dia. Ayah kan dulu mendukungmu dengan Stevan, hahaha ….”Haris masih saja bisa bercanda serenyah itu, mana mungkin Weini begitu mudah berpaling hati hanya karena mengurus seorang pria yang jatuh cinta padanya.


“Nggak lucu, ayah!” jawab Weini sewot. Ia memilih bergegas menghabiskan masakan Haris ketimbang meladeni candaan garing itu.


Haris hanya menatapnya dengan lembut, secara logika ia pun tidak akan membiarkan gadis pilihan putranya berpaling hati pada pria lain. Itulah sebabnya, ia bersedia menggantikan posisi Weini dalam hal merawat luka Stevan. Hanya saja Weini lebih kuat pada prinsip dan enggan lempar tangan, maka Haris tetap harus


menghormati keputusannya.


***


Sesuai janji, Weini mampir ke apartemen Stevan tanpa dikawal Dina. Ia tidak akan tega membiarkan Dina mengalami perlakuan yang sama seperti kemarin – disuruh jadi satpam depan pintu – sampai managernya kepanasan dan menggerutu diperlakukan tidak adil.


Stevan menyambut kedatangan Weini, kali ini ia lebih mempunyai persiapan dengan merapikan apartemennya sebelum tamu agungnya menginjakkan kaki ke dalam. Mereka masih mempunyai waktu kurang lebih satu jam sebelum berangkat kerja, dan waktu itu lebih dari cukup untuk menyelesaikan misi Weini.


“Gimana lukamu?” tanya Weini saat ia sepenuhnya berduaan di dalam ruangan milik Stevan.


Weini mengambil kotak obat beserta perlengkapan medis di atas meja, tak perlu menunda pekerjaan yang memang ia niatkan. Perban lama Stevan terlihat mengering kecoklatan bekas arak obat yang kering. Penuh hati-hati ia menggunting kain kassa yang melekat di punggung kekar Stevan yang putih.


“Iya, lukanya udah mulai kering tapi belum nutup. Nggak dikenain air kan?” tanya Weini.


Stevan nyengir, “Lu ngingetin gue kalau belum mandi. Ini hari kedua gue musuhan sama air, jangan heran kalau badan gue bau kecut.”


Weini gagal menahan tawa, pengakuan itu begitu transparan tercetus dari Stevan. Pria itu pasti sangat risih dengan kondisi tubuh yang belum dibersihkan. Sayangnya hal yang terdengar lucu itu malah membuat Stevan kian sewot.


“Yak! Malah ngetawain gue!”


“Sorry kak, sorry. Maksudku jangan kena air kan bukan seluruh badan yang gak boleh tapi di area luka aja. Kan bisa bersihkan bagian tubuh lain dengan kain lap.” Weini menerangkan maksudnya, ia yakin Stevan salah kaprah dengan sarannya kemarin.


Stevan terdiam, antara mengerti atau masih bingung. Ia mengira pantangan kena air itu berasal dari pemakaian obat buatan Haris. Saking ingin segera sembuh, ia tak berani bertindak sembarangan sampai melanggar pantangan. “Ya, gue kirain. Haiz udah deh, udah kadung. Lagian gue gak bisa ngelap punggung sendiri kecuali lu


mau bantuin.” Ujar Stevan sengaja memancing respon Weini.


Nyali Weini menciut saat mendapat tugas baru yang lebih dari sekedar mengganti perban, tiba-tiba ia merasa menyesal menolak tawaran Haris. Apa jadinya jika Stevan khilaf? Ia bisa menumbangkannya dalam sekali pukulan, namun bisa dipastikan pertemanan mereka akan retak setelah itu.


“Ng … aku siapkan air hangat, kamu bisa kok lakukan sendiri. Abaikan bagian punggung, bersihkan saja area lain.” Ujar Weini dengan fokus yang belum teralihkan dari urusan perban. Ia membubuhkan arak obat pada kassa baru.


Stevan tidak menolak pun tidak mengiyakan saran Weini, ia meresapi dinginnya obat yang meresap ke dalam kulit. Sensasi dingin yang menyejukkan tanpa rasa perih, diam-diam ia mengagumi kehebatan Haris. Suasana kembali hening lantaran mereka sibuk dengan pikiran sendiri. Stevan mulai berpikir untuk membahas soal Xiao Jun lagi pada kesempatan ini.


“Itu ... soal bos itu, gue pernah bilang bakal rebut lu dari dia kalau sampe dia nyakitin lu. Dia dengan pede seolah nggak bakal kejadian. Nyatanya nggak lama kalian jadian, dia malah menghilang nggak kasih kepastian.” Stevan mulai serius dalam pembicaraan, sementara Weini tak merespon dan tetap berusaha menyelesaikan kerjaannya.


Stevan tahu bahwa Weini tidak tertarik membahas masalah ini, namun ia perlu memberitahu kesungguhan hatinya. “Weini, gue nggak pernah main-main soal perasaan dan apapun yang gue katakan bisa dipegang. Andai pria itu nggak balik atau nggak nunjukin kesungguhan sama lu, jangan salahin gue kalau masuk lagi dalam kehidupan lu.”


“Cukup kak. Stop plis!” Weini tak sanggup mendengar lagi, semakin ia mengabaikan terasa percuma jika Stevan mengira sikap diamnya adalah bentuk respon positif  baginya. Weini enggan memberi lampu hijau pada Stevan, ada atau tanpa pengaruh Xiao Jun.


“Stop bagian mana? Sorry Weini, segimana lu punya hak menolak, gue juga punya hak mencintai siapapun termasuk elu! Lu nggak berhak nyuruh gue berhenti, ini hati gue. Kalo dia nggak becus, asal lu tahu aja hati gue tetap terbuka buat lu.” Stevan berbalik badan, kini mereka bicara saling berhadapan.


Mata Weini mulai berkaca-kaca, andai hatinya tak sebeku es untuk pria lain mungkin ia sudah luluh seketika mendengar pengakuan Stevan. Pria itu berparas tampan, tak kalah dengan Xiao Jun dan punya cinta yang luar biasa untuknya. “Tapi aku nggak bisa kak. Maaf banget, aku nggak mau beri harapan palsu. Jangan buang


waktu menungguku, sebaiknya kau mulai buka hati buat yang lain.”


Tarikan napas Stevan terdengar berat, ia membuang pandangan dari hadapan Weini. Tatapan dengan mata berkaca-kaca milik Weini terasa mengundang emosinya.


“Maka lu nggak perlu buang waktu di sini lagi. Mulai besok suruh Dina aja yang gantiin lu!” Seru Stevan penuh emosi. Ia tidak bisa melampiaskan amarah pada Weini, segila apapun ia kini.


Mendengar pengusiran secara halus, Weini bergegas berdiri dan bersiap meninggalkan si pemilik rumah. Tidak ada yang perlu ia jelaskan, mungkin inilah yang terbaik buat mereka. Persahabatan yang ternodai oleh cinta hanya seperti bom waktu, siap meledak ketika tersulut emosi.


“Dan satu lagi, jangan panggil gue kakak! Gue bukan siapa-siapa lu!” tegas Stevan ketika Weini telah memakai sepatu dan bersiap keluar dari rumah.


Weini hanya tersenyum getir, ia datang disambut senyuman dan pergi diantar kemarahan. Hidup tak pernah bisa diprediksi, kapan naik kapan surut. Sama halnya dengan perasaan, bahkan si pemilik hatipun tidak akan pernah tahu kapan cintanya akan padam, atau bahkan hidup kekal dalam hati. Weini meyakini bahwa ia akan seterusnya gagal move on dari Xiao Jun, biarpun ada cinta lain yang lebih dasyat hendak menggesernya. Weinilah yang tak bersedia menghapus Xiao Jun dari hati. Dan ia melenggang pasti keluar dari rumah Stevan tanpa sebuah kata


balasan.