OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 166 PERJUANGKAN DIA!



Jawaban bernada pesimis dari Xiao Jun sukses membuat hening suasana. Ia dan Li An memilih menyantap makanan dengan diam menikmati pikiran masing-masing. Xiao Jun menghabiskan makanan dalam mangkuknya hingga bersih, bukan hanya karena lapar namun ia lebih menghargai jerih payah kakaknya yang susah payah memasak. Fasilitas dalam rumah ini jauh dari kata sederhana, Li An masih menggunakan kayu bakar untuk memasak.


“Kak, apa kerjaanmu sekarang? Kau pasti kesulitan hidup sendirian.” Tanya Xiao Jun hati-hati takut menyinggung perasaan kakaknya.


Li An meletakkan sumpit di atas mangkuknya yang sudah kosong. Ia tersenyum menatap Xiao Jun sebelum menjawab pertanyaan itu, “Kamu nggak berubah ya, tiap kali bertanya yang serius pasti dengan suara pelan dan takut-takut. Tenang aja, aku nggak bakal marah kok. Jun, sejak kita terpisah aku dan kak Li Mei sudah


terbiasa hidup susah. Kami berjuang bersama, bertahan hidup di asrama yang sangat kekurangan. Untungnya, tuan Li San mengijinkan kami sekolah. Lalu kak Li Mei lebih beruntung, ia pintar dan bisa dapat kerjaan yang lebih baik.”


Xiao Jun mengernyit, setiap cerita dari Li An selalu ia bayangkan sehingga hatinya sangat terpukul membayangkan penderitaan dua saudaranya. “Kakak juga pintar, jangan berkecil hati.” ujar Xiao Jun menghibur diri Li An.


“Kamu memang pandai menghibur, ha ha ha … tapi belum lama kak Li Mei kerja, utusan tuan Li menemui kami dan meminta kami pulang ke kota. Karena usia Kak Li Mei sudah cukup umur menikah, dia akhirnya dijodohkan. Untungnya suami kak Li Mei sangat baik dan cocok jadi hidup kak Li Mei tidak perlu menderita lagi.” Li An tersenyum getir mengenang kakak pertamanya, ia bukannya tidak senang dengan kehidupan Li Mei yang sudah membaik namun menyayangkan nasibnya yang tak seberuntung saudaranya.


“Lalu kenapa kakak pulang ke sini?” tanya Xiao Jun penasaran, ia tahu sedikit cerita tapi dari versi Lau. Lebih baik mendengar dari nara sumber utamanya.


Li An menunduk, “Itu … aku juga nggak tahu kenapa kedua nona tidak menyukaiku. Tuan Li mengusirkan kemari dan melarangku punya kehidupan sosial. Demi menyambung hidup, aku diam-diam mencari kerja serabutan yang penting tidak ketahuan tuan Li. Aku bisa jadi tukang cuci piring di restoran, kadang jadi tukang cuci baju di tempat laundry, asalkan bukan kerjaan yang menonjol di muka umum pasti tak akan ketahuan tuan Li.”


“Keterlaluan.” Komen Xiao Jun singkat dan geram. Li San sungguh keterlaluan, mengurung Li An di rumah lama tanpa penghasilan sama saja membunuhnya pelan-pelan.


“Ah, jangan marah adik. Kau jangan menyinggung perasaan tuan Li, nanti kita dihabisi dia.” Li An mencegah Xiao Jun mengamuk dan mencari masalah sepulang dari sini.


“Kak, aku nggak tega sama kamu. Melihat kondisimu sekarang, sangat menyakitiku. Penghasilan seperti itu pasti masih kurang untuk makan, apalagi untuk kebutuhan lainnya. Kak, aku pasti menolongmu.” Ujar Xiao Jun bersungguh-sungguh. Ia tak sampai hati membiarkan penderitaan Li An berkelanjutan setelah ia mendengar langsung betapa tersiksanya hidup si kakak.


Li an tersenyum, betapa indahnya persaudaraan yang ia miliki setidaknya di dunia ini dia tak sendiri. “Jun, bagi kakak yang paling membuatku bahagia adalah melihat orang yang kusayangi bahagia. Aku tidak akan iri dengan kehidupan kalian yang lebih baik, mungkin ini takdirku dan tak bisa menyalahkan siapapun. Dan aku tidak mau menjadi penyebab penderitaan orang-orang yang kucintai, kau paham maksudku? Jangan karena ingin menolongku malah kau yang menanggung akibatnya. Lihat dirimu, aku dengar kau dipaksa bertunangan dan kau menolak sehingga tuan Li mengancammu dengan nyawa ibu kan?”


Sesungguhnya dalam waktu yang singkat ini, banyak hal penting yang ingin dibahas Xiao Jun bersama Li An, termasuk membahas tentang Chen Kho. “Kak, ada yang ingin aku tanyakan, apa hubunganmu dengan Li Chen Kho?” Xiao Jun langsung pada inti pembahasan, ia harus memastikan sejauh mana kedekatan Li An dengan pria licik itu.


Raut wajah Li An merona merah ketika mendengar nama pria itu, Xiao Jun mengamati perubahan ekspresi kakaknya dan langsung menangkap perasaan itu. “Dia … aku kekasihnya. Dia baik, perhatian dan membuatku merasa hidup ini tidak melulu tentang kesedihan. Aku menyukainya…” ungkap Li An mengakui perasaannya.


Sudah Xiao Jun duga, Li An terlanjur memiliki perasaan pada pria yang salah. Ia tak tega mematahkan harapan kakaknya, namun jika semakin dibiarkan maka masa depan yang suram itu dipastikan akan terjadi pada Li An. “Kak, aku paham perasaanmu. Setelah aku mengerti rasanya mencintai, aku tahu betul seperti apa posisimu. Tapi jujur kukatakan, dia bukan pria yang tepat buatmu. Kak, jangan habiskan waktu dengan dia lagi. Berhenti secepatnya sebelum terlambat.”


Saran Xiao Jun yang di luar perkiraan membuat Li An seakan patah hati, ia kira akan mendapat dukungan positif namun justru didukung untuk meninggalkan orang yang paling ia cintai. “Kenapa aku harus berhenti? Dia tidak pernah mengecewakanku, dia satu-satunya yang paling baik. Jun, apa kau lebih suka melihatku kesepian?”


Xiao Jun menggeleng cepat, menepis pikiran buruk Li An yang menganggap ia kelewatan jahatnya hendak memisahkan dua orang yang saling mencintai. “Kak, tolong pikirkan sebelum menjawab! Apa kau yakin dia sungguh mencintaimu? Tak pernah membuatmu sedih? Selalu memperhatikanmu? Memberikanmu apapun yang kau butuhkan tanpa diminta? Apa hanya kamu satu-satunya wanita yang dia cinta?”


Pertanyaan todongan itu menyurutkan rasa percaya diri Li An, ia sendiri tidak yakin bahwa dirinya dianggap paling penting oleh Chen Kho. Beberapa bulan inipun, harus ia yang inisiatif mencari Chen Kho. Ia juga sadar kehadirannya selalu disambut dengan terpaksa oleh pria itu. Dari segala alasan itu, Li An tetap berusaha


memungkirinya. Kenyataan bahwa ia sudah tidak dicintai Chen Kho sangat menakutkan untuk diakui.


“Dia Juga bukan siapa-siapa kak, jangan terlalu mengagungkan dia. Kakak hanya menutupi kekurangannya, tapi aku bisa menilai sebagai seorang pria. Dia tidak serius padamu, jika dia mencintaimu mana mungkin dia biarkan wanitanya menderita. Kau bahkan memakai baju lama ibu, kalau dia cinta kenapa tidak membelikanmu pakaian yang layak? Dia punya uang loh kak, lain cerita kalau sama-sama kekurangan. Cinta itu pasti saling merindukan, satu jam tanpa komunikasi saja rasanya sangat tersiksa. Aku tahu betul perasaan itu, apalagi berhari-hari berminggu-minggu? Dia betah tak berkabar denganmu? Dia punya ponsel paling canggih dan tak memberikanmu sebuah ponsel murah sekalipun agar bisa bertukar komunikasi. Aku mohon kak, jangan bohongi hatimu. Kau tahu


kebenarannya tapi tak mau menerima kenyataan.” Xiao Jun melembutkan suaranya, mencoba menyadarkan Li An agar tak dibutakan cinta.


Kedua mata Li An mulai berkaca-kaca, Xiao Jun membongkar kartunya secara blak-blakan. “Aku tahu, tapi aku cinta dia Jun.” ia menitikkan air mata, berat mengabulkan permintaan Xiao Jun untuk mengakhiri perasaan yang terlanjur dalam meski pada pria yang salah.


Tangan Xiao Jun mendekap Li An dalam pelukannya. Ia lebih baik adu otot ketimbang adu perasaan dengan saudaranya. Air mata dari seorang wanita yang ia sayangi sangat meluluh-lantakkan hatinya. “Kak, pelan pelan saja lepaskan dia. Kamu hanya perlu alasan kuat untuk berani mengakhiri lebih dulu. Aku saudaramu, darah di tubuh kita dari sumber yang sama. Aku bersumpah pada ayah dan ibu untuk menjaga kalian, dan apa yang kusarankan ini berdasarkan bisikan hatiku. Tidak sedikitpun maksud merampas kebahagiaanmu. Kelak pasti datang pria yang tepat untukmu, bersabarlah sebentar lagi. Ku mohon ….”


Li An merangkulkan kedua tangannya pada punggung Xiao Jun, badan adik laki-lakinya jauh lebih besar darinya sekarang. Ia bisa merasakan kasih sayang, kehangatan yang sesungguhnya. Hanya itu yang peka ia rasakan, kasih sayang tulus seorang saudara. “Akan kucoba Jun. Beri aku waktu ….”


“Pasti kak.” Xiao Jun merenggangkan pelukan, ia bersyukur mendapat pengertian dari Li An hingga tidak perlu bersitegang.


“Kau sudah mau pulang?” tanya Li An yang mengira Xiao Jun melepas pelukannya karena hendak pamitan. Masih banyak yang harus ia ceritakan, ia ingin menahannya lebih lama.


“Sepertinya belum, dia belum datang. Kak, dia mengantarku ke sini dengan tujuan khusus agar aku mencintai adiknya. Seorang pemaksa seperti dia tidak akan mengerti ketulusan cinta itu datang dari lubuk hati, tak bisa dipaksakan. Kau harus buka mata dan hati lebar-lebar, hempaskan pria itu sebelum dia yang melakukannya


padamu.”


Li An terkejut, suasana haru dan rindu membuatnya lupa bagaimana cara Xiao Jun datang. Rupanya Chen Kho yang punya andil mendatangkan Xiao Jun, ia teringat pembicaraan mereka kemarin. Xiao Jun benar, pria itu memang berencana memaksa Xiao Jun menerima adiknya dan meminta bantuan Li An untuk meyakinkan. Yang paling Li An sayangkan, Chen Kho enggan mampir sejenak melihatnya padahal ia jelas-jelas sudah sampai kemari.


“Ya, dia memintaku membujukmu menerima perjodohan itu. Jun, apa kau mencintai gadis lain?”


Xiao Jun tersenyum, pertanyaan Li An mengingatkannya pada wajah Weini. “Ya, sangat mencintai gadis lain itu.”


Senyum Li An merekah, “Kalau begitu perjuangkan dia!”


***


Tidak penting seterjal apapun jalan yang kau tempuh, sedalam apapun jurang pemisah itu


Selama kamu meyakini dia adalah belahan jiwamu, dan dia juga mencintaimu


Kamu hanya punya satu pilihan, Perjuangkan dia!


_Quote of Li An_