
Fang Fang membuka pintu setelah mendengar suara bel, ia sudah tahu siapa tamu yang membunyikannya namun tetap saja terkejut saat mendapati dua gadis di depannya kerepotan membawa sesuatu. Sontak ia mengambil alih panci yang dibawa Weini. “Ya ampun Gong Zhu, kenapa tidak bilang kalau mau bawa makanan, aku kan bisa datang bawakan. Jadi merepotkan Gong Zhu seperti ini, maafkan aku dan nonaku.” Ujar Fang Fang yang merasa tak enak dan takut Weini menyalahkan dirinya dan Grace.
Weini malah tersenyum lebar, tangannya sudah lega karena bawaannya diambil alih oleh Fang Fang. “Nggak kok Fang, sama sekali nggak repot. Namanya juga kejutan, masa kasih kamu tahu dulu he he... mana Grace?” tanya Weini celingukan.
“Eh, iya silahkan masuk Gong Zhu, Dina, nona Grace sudah menunggu sejak tadi.” Fang Fang menyingkir dari pintu, membiarkan kedua tamu itu masuk.
Weini sudah bisa melihat Grace dari penglihatannya, calon pengantin itu duduk dengan mengenakan gaun merah yang simpel namun terlihat anggun dan elegan. Grace berdiri saat menyadari kehadiran sepupunya, senyumnya tak kalah lebar untuk menyambut kedatangannya.
“Selamat ya Grace.” Kata pertama yang tercetus dari Weini.
Grace menjulurkan kedua tangannya, bersiap menyambut Weini dalam pelukannya. Dua gadis itu berpelukan erat dengan hati yang sangat girang. “Makasih ya Hwa, kamu dan Dina mau datang malam ini. Setidaknya aku merasa masih punya keluarga.” Lirih Grace terharu.
“Tentu saja kami datang untukmu karena kita memang keluarga. Oya, kedua ibuku memasakkan kamu makanan yang khusus disajikan bagi calon pengantin. Kamu harus mencicipinya ya, ibu membuatnya dengan penuh semangat. Beliau juga menitip salam untukmu.” Jelas Weini.
Grace tersenyum penuh haru, masih tak mempercayai kalau Liang Jia begitu memperhatikannya. “Terima kasih banyak, Hwa... sampaikan pada tante rasa terima kasihku. Aku tidak menyangka akan mendapatkan perhatian ini, ku pikir tante....” Grace sedikit menunduk, tak berani menyelesaikan perkataannya.
Weini jelas tahu apa yang diresahkan Grace, ia pun harus meluruskan agar gadis itu tidak terus kepikiran. “Grace, ibuku tidak seperti yang kamu pikirkan. Beliau hanya perlu sedikit waktu untuk berpikir, dan semua sudah kembali oke kok. Tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi, aku pastikan beliau akan biasa saja jika bertemu ayahmu nantinya.”
Grace ternganga, nyaris tak percaya apa yang didengarnya saking bahagianya. “Sungguh? Aku sangat bersyukur mendengarnya Hwa. Hmm... aku punya satu permintaan yang sejak kemarin aku pikirkan, tapi saat melihat reaksi tante tadi siang, aku jadi ragu untuk memintanya.” Gumam Grace takut-takut.
“Apa itu Grace? Katakanlah....” Pinta Weini lembut.
Grace memandangi wajah sepupunya sejenak, kemudian mengutarakan isi hatinya. “Besok pas resepsi pernikahan, tidak ada wali yang mewakilkan ibuku. Ayah akan sendirian di atas pelaminan, aku berharap dan berandai jika tante bersedia bersama ayahku untuk duduk di sana. Tapi... sudahlah Hwa, jangan sampaikan pada tante, aku takut nanti ia kembali marah padaku dan ayah.” Ujar Grace yang dengan cepat menggelengkan kepalanya, menepis apa yang ia inginkan.
Weini yang melihat kesungguhan dari sorot mata Grace pun ikut trenyuh, tak bisa tinggal diam untuk membiarkan gadis itu menahan rasa kehilangan di tengah pestanya besok. Ia tersenyum, belum berani memberi janji berlebihan namun akan mencoba meyakinkan Liang Jia agar harapan Grace terkabulkan.
❤️❤️❤️
Hari beranjak subuh, Grace bahkan belum sempat memejamkan matanya meskipun acaranya semalam bubar pukul sepuluh. Weini dan Dina sudah pamit pulang demi memberi waktu pada Grace agar beristirahat lebih awal. Maksud hati mereka yang baik itu nyatanya tak bisa dimanfaatkan oleh Grace, ia malah terjaga sepanjang malam hingga waktu yang dijanjikan untuk make-up pun tiba. Kini ia tengah duduk pasrah, membiarkan tim Make-up Artis menyolek wajah dan rambutnya. Ia akan disulap menjadi pengantin wanita dalam beberapa jam lagi.
Debaran kencang dalam dirinya, rasa tegang karena akan menjalani hari penting yang ia harapkan terjadi sekali seumur hidup saja. Membayangkan itu saja membuat kantuk Grace hilang total, untungnya ia pun tidak merasakan lelah karena tak sempat memejamkan mata sampai sekarang.
Dalam hitungan jam pula, Stevan akan menjemputnya kemari. Sesuai permintaan Kao Jing yang ingin menjalankan ritual pernikahan tradisional, maka waktu di mana Grace melangkahkan kaki keluar dari apartemen itu juga sudah ditentukan, pukul tujuh pagi. Ia akan diboyong ke kediaman Stevan tentunya setelah penghormatan kepada lelulur yang akan Kao Jing pindahkan altarnya dari kamarnya ke ruang tamu. Semestinya dalam ritual ini, keluarga dari pihak mempelai wanita akan datang agar kedua mempelai bisa memberikan penghormatan. Tapi Grace tak bisa berharap banyak, ia sadar diri bahwa keluarganya di sini, meskipun sudah jauh-jauh kemari dari Hongkong, namun belum tentu bersedia datang di saat penghormatan. Grace pun tak bisa apa-apa, memang kesalahan fatal di masa lalu yang harus membuatnya menelan pahit seperti ini.
“Sempurna... wah, anda cantik sekali nona.” Puji penata rias Grace setelah menyapukan sentuhan akhir pada wajah dan rambut Grace. Mereka terkesima melihat kecantikan Grace yang bikin pangling ketika dirias sebagai pengantin, sangat berbeda dengan riasan sehari-hari Grace yang memang kerap bermake-up.
Grace sendiri takjub melihat pantulan wajahnya di cermin, tak menyangka kalau ia bisa secantik ini. “Terima kasih.” Balas Grace pada empat wanita yang meriasnya.
Kini ia berdiri, siap berganti pakaian dengan gaun kebesarannya sekarang. Gaun putih panjang berekor yang dihiasi taburan swarovski yang berkilauan terkena pantulan cahaya. Betul-betul indah dan menjadi gaun impian Grace yang terkabulkan. Dibantu oleh para penata rias, Grace telah menjelma menjadi bak seorang ratu cantik yang menunggu jemputan rajanya untuk naik ke atas singgasana mereka.
“Nona....” Fang Fang tersentak, terpukau dengan penampilan Grace yang begitu cantik, sempurna dalam balutan gaun putih hingga membuatnya melupakan sejenak niat kedatangannya kemari.
Grace melihat wajah Fang Fang yang terkesima hingga mulutnya sedikit ternganga, membuatnya tersenyum gemes pada gadis pelayannya. “Ya Fang?”
Fang Fang menggeleng segera, menyadarkan dirinya bahwa ia harus segera menyampaikan kabar pada nonanya. “Gong Zhu, nyonya besar, nona kedua serta keluarga tuan Li Jun sudah datang. Mereka menanti anda siap di ruang tamu.”
Grace terkesima, saking senangnya sampai tersenyum lebar lalu menutupi mulutnya dengan kedua tangan. “Sungguh? Aku mau keluar, bawa aku ke sana Fang.”
“Eh jangan nona, belum waktunya anda keluar. Tunggu pengantin pria datang dulu, biar menjemput anda dari kamar.” Ujar Fang Fang mengingatkan agar ia dan Grace tidak melakukan kesalahan.
Grace manyun, andai tidak terikat tradisi mungkin ia sudah berjalan keluar menghampiri keluarganya yang sudah menunggu. “Fang, apa ayahku juga menemani mereka? Hmm... bagaimana dengan nyonya besar?” tanya Grace penasaran.
Tak berapa lama, Liang Jia, Weini dan Xin Er masuk ke dalam kamar Grace. Mereka terpukau mendapati Grace yang terlihat bak putri raja. “Wah, kamu cantik sekali Grace.” Puji Liang Jia spontan.
Grace dan Fang Fang menoleh, semakin girang melihat siapa yang hadir di sana. “Tante, ibu... Hwa, terima kasih sudah mau datang. Grace bahagia sekali.” Gumam Grace menyapa satu persatu dari mereka. Ia pun mulai memanggil Xin Er dengan sebutan ibu, sejak Stevan resmi diangkat anak oleh Haris. Secara tidak langsung pula ia menjadi menantu dari Haris dan Xin Er.
Liang Jia menganggukkan kepala, senyuman masih melekat jelas di bibirnya. “Tidak perlu berterima kasih, kedatangan kami memang khusus untuk hadir di acaramu. Tenang saja, jangan tegang ya. Hari ini sepenuhnya hari baikmu.” Ujar Liang Jia yang disetujui yang lainnya dengan senyuman.
Weini sejak tadi mengagumi wajah Grace yang cantik, aura gadis itu terpancar keluar sepenuhnya ditunjang gaun yang ia kenakan. “Grace, aku yakin kak Stevan pasti terkesima melihatmu.” Ujar Weini tersenyum.
“Hwa, kamu juga nanti pas resepsi pakai gaun internasional saja ya. Ibu juga mau merasakan pesta yang modern, mana kakak-kakakmu pakai acara adat semua.” Pinta Liang Jia yang terinspirasi setelah melihat Grace.
Semuanya tersenyum mendengar permintaan Liang Jia, begitupun Weini. “Terserah ibu saja, Hwa dan Jun sih oke oke saja.”
Dina datang tergopoh dan langsung berseru, “Pengantin pria datang... pengantin pria datang. Eh, Grace ya ampun cantiknya.” Fokus Dina langsung beralih, menatap keindahan dari penampilan Grace yang memukau. Melupakan sejenak informasi penting yang disampaikannya.
“Makasih Din.” Jawab Grace tersipu malu karena sejak tadi mendapatkan pujian bertubi.
Tim penata rias beranjak keluar kamar, berganti tim dokumentasi yang masuk karena sebentar lagi Stevan akan masuk. Weini dan yang lainnya masih tertahan di kamar, menjadi saksi pertemuan pertama kedua mempelai setelah menjalani masa pingit. Makcomblang sudah muncul dengan segala kebawelannya, meneriakkan arahan yang harus Stevan jalani untuk bertemu pengantinnya. Terlihat Stevan masuk, diapit oleh Xiao Jun yang bertugas sebagai pengapit pengantin pria.
Ketika dua pasang mata itu beradu, Stevan tak sanggup menutupi ekspresi kagumnya pada Grace, begitupun sebaliknya. Meskipun Grace mengintipnya dari veil yang menutupi wajah, namun tidak sepenuhnya menghalangi penglihatannya pada pria yang juga memakai jas putih itu. Hingga tiba saatnya Stevan membuka penutup wajah mempelainya, di saat itu sorak sorai dan tepukan terdengar riuh menggoda sampai wajah keduanya bersemu merah, malu-malu.
❤️❤️❤️
“Din, kamu yang bawa kopernya ya. Nanti dapat angpao.” Ujar Fang Fang memberi perintah, karena ia kebagian menjadi pengapit Grace yang sekaligus membawa payung saat Grace akan masuk ke dalam mobil pengantin.
Mendengar bayaran yang bebau uang, lagi-lagi sifat matre Dina kumat. “Angpao? He he... baiklah, aku datang.” Pekiknya girang. Ia pun berjalan menarik koper Grace yang sudah disiapkan, pertanda bahwa Grace telah melangkah keluar dari rumahnya untuk memasuki keluarga baru, keluarga suaminya.
❤️❤️❤️
Serangkaian prosesi ritual telah dilakukan, dan kini Stevan dan Grace telah resmi menjadi pasangan suami istri. Mereka pun bersiap untuk menggelar resepsi secara tertutup di ballroom. Hanya tamu undangan yang diijinkan masuk, security telah mensortir tim pencari berita agar tidak merusak jalannya pesta yang dihadiri oleh tamu penting – Weini dan Liang Jia.
Liang Jia menghampir Kao Jing yang tampak berdiri sendiri, bersiap untuk memulai pesta. Pria tua itu terkejut dengan kedatangan Liang Jia yang tampil anggun dengan gaun panjang berwarna rose gold. “Aku akan mewakili sebagai wali ibu Grace, tidak keberatan kan?” tanya Liang Jia yang telah membuka hati untuk memaafkan kakak iparnya.
Kao Jing terkejut dan terdiam beberapa saat saking shock dengan apa yang ia dengar, seraya mengusap air mata yang menitik karena haru dan bahagia, ia pun menjawab Liang Jia. “Terima kasih, Jia. Terima kasih....”
Liang Jia hanya mengangguk, berdiri di samping Kao Jing dan bersedia duduk di sampingnya di atas kursi pelaminan sampai acara selesai.
Semua tamu telah berkumpul, musik pun dimainkan dengan alunan klasik dan romantis. Host acara pun mulai memandu acara yang akan berlangsung tiga jam dengan meriah.
Weini dan Xiao Jun berjalan masuk setelah rombongan orangtua menduduki singgasana mereka. Sepasang kekasih itu berjalan pelan sambil bergandengan tangan dan melambaikan tangan seiring jalan. Begitu bahagia, dan merasa bahwa ini ajang latihan sebelum mereka berdua yang berjalan bersama menuju pelaminannya.
Semua pasang mata terkagum, edisi langka bisa melihat pasangan nona penguasa dan calon suaminya tersenyum, berjalan mesra sebagai pengiring pengantin. Namun sayangnya tidak ada yang diperkenankan mengabadikan momen mereka dengan kamera pribadi karena sudah menyetujui sebelumnya untuk tidak mengambil foto Weini untuk koleksi pribadi.
Setelah Weini dan Xiao Jun menyelesaikan bagiannya, tiba giliran semua perhatian tertuju kepada pemilik pesta yang sesungguhnya.
“Dan kita sambut dengan tepuk tangan yang paling meriah, atas kehadiran raja dan ratu kita malam ini, Stevan dan Grace Li....”