OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 246 DUKUNGAN DARI SESAMA PRIA



Seorang karyawan pria yang dipercayakan untuk melayani Weini terlihat sangat tegang dan kebingungan. Dalam ruangan bersuhu dingin saja, pria itu mengucurkan keringat di dahinya. Raut wajahnya yang menyedihkan antara bingung harus bagaimana lagi atau meneruskan usahanya yang sia-sia. Kegagalan begitu jelas terbaca dari sikap gusarnya, dan membuat Weini dan Dina saling bertatapan.


“Ehem, bisa nggak mas?” Dina menyentil lewat deheman yang sangat jelas terdengar dibuat-buat. Ia mewakili suara hati Weini yang terungkap saat mereka saling bertatapan.


Pria itu sedikit kelabakan, namun ia tetap mencoba lagi menggunting cincin berlian itu menggunakan mesin pemotong. Lagi-lagi alat pemotong itu mental, seolah tumpul dan tak berguna untuk menyelesaikan masalah


kliennya. Pria itu menyeka keringat dinginnya, ia bingung dan takut karena sepertinya ia akan mengakui kekalahan pada misi ini.


“Nggak apa-apa kok, Mas.  Kalau memang nggak bisa, aku nggak bakal bilang ke bosmu.” Ujar Weini dengan ramah, ia menatap kasian pada pria itu. Sebenarnya Weini kesal, cincin yang melingkari jari manisnya itu memang sangat menyusahkan.


“Hah? Tetap nggak bisa dipotong? Terbuat dari apa sih tuh cincin?” Stevan nimbrung berkomentar, ia pun ikut geram dengan cincin yang menurutnya biasa saja modelnya itu. Malah terlihat agak kuno dan lebih layak jadi barang antik.


“Udah, nggak apa apa kak. Sorry ya mas, udah repotin.” Weini inisiatif menyudahi usaha pria itu dan tetap memberinya apresiasi meskipun gagal.


“Maaf banget Mbak. Nggak perlu dibayar ya, nanti saya laporkan ke bos kalau tidak berhasil” Ucap si pria penuh sesal, terlebih kliennya adalah artis terkenal yang harusnya bisa jadi langganan di kemudian hari apabila servisnya memuaskan.


Weini tersenyum ramah, “Tidak perlu, nanti saya selesaikan administrasinya. Mas sudah berusaha, gagal juga bukan salah anda.” Weini sadar betul bahwa yang bermasalah adalah cincinnya. Rupanya benar, dengan cara


apapun bahkan dengan kecanggihan teknologi saja tidak sanggup menggores sedikitpun cincin itu. Entah terbuat dari apa sehingga baja pun tak mampu menembusnya.


Pria itu terkesima mendengar kebaikan Weini, ia tak menyangka Weini sangat pengertian bahkan bersedia memberinya imbalan meskipun tidak berhasil. “Terima kasih banyak, Mbak. Semoga karier anda semakin lancar


dan makin terkenal.” Pria itu menyelipkan doa untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Weini.


“Kak Dina, tolong selesaikan administrasinya.” Weini hanya tersenyum sebagai balasan dari doa pria itu, kemudian ia berlalu bersama Stevan. Membiarkan Dina mengurus pembayaran sementara mereka kembali menunggu


di parkiran.


“Lu pengen banget lepasin itu ya? Trus sekarang apa rencana lu? Nggak coba minta tolong ayah Haris?” Stevan iba melihat raut sedih Weini yang tak berhasil menyingkirkan benda itu dari jarinya.


Weini menggeleng lemah, entah jawaban mana dari tiga pertanyaan Stevan yang diwakilkan dengan isyarat jawaban itu. “Aku pikir bisa lebih tenang kalau tidak memakainya, tapi sepertinya semesta tidak mengijinkan.” Weini menengadah sembari tersenyum lapang, mengikhlaskan yang masih mau menjadi miliknya meskipun tidak lagi diinginkan.


“Sebenarnya gimana ceritanya kalian sampai bertengkar lagi? Gara-gara cewek itu? Kamu udah pastiin itu bukan salah paham aja?” Stevan tak berani memberi saran selama ia belum mengetahui jelas duduk perkara dua sejoli itu. Bagaimana mau dibantu kalau permasalahan saja masih blur.


Weini menatap Stevan dan memberikan senyuman yang seakan menunjukkan bahwa ia sangat tegar. “Aku berada dalam posisi harus dipilih, sayangnya aku bukan pilihan. Gadis itu dijodohkan padanya, dan dia memintaku untuk menunggu.”


Stevan manggut-manggut, herannya ia tidak terlihat shock mendengar curhatan Weini. “Menurut gue, dia udah ambil keputusan dan tetap milih lu, makanya dia minta lu nunggu. Sorry ya, gue bukan bela dia, tapi lu nggak bisa nilai masalah dari satu sisi. Naluri gue sebagai cowok berkata kalau gue juga bakal melakukan hal yang sama, andai gue ada di posisi dia. Gimana porsi gue meyakinkan pilihan gue ke orangtua, agar nggak dianggap durhaka,


semua pasti harus ada prosesnya. Dan buat lu yang terus dia perjuangkan, makanya dia hanya bisa minta lu percaya dan nunggu sampai dia dapatin solusi buat semuanya.”


Weini tergugah dengan pemikiran Stevan, alih-alih mendukungnya justru pria itu seperti berada di pihak Xiao Jun. “Trus cewek itu gimana? Dia bakal diam saat tahu tersisihkan? Aku bisa lihat betapa dia mencintai Xiao Jun dari sorot matanya. Terus terang, aku nggak tega menyakiti gadis lain hanya karena mencintai seorang pria yang sama.”


“Dan lu inisiatif mengalah? Ha ha ha, Weini … Gue juga tersisihkan, kok lu gak kasian ama gue? Kalau cinta bisa didasarkan karena kasian, itu bukan cinta sejati namanya. Yang cintanya berbalas lah yang bakal jadi pemenang, dan itu nggak bisa dipaksakan. Jelas?” Ungkap Stevan dengan penuh kemantapan, ia mendadak berlagak seperti konsultan cinta.


Yang paling sulit kutakhlukkan bukanlah kehidupan ini, namun hatiku sendiri.


_Quote of Weini aka Yue Hwa_


***


Fang Fang sedang menerima panggilan dari Lau, setelah ia mengirimkan pesan yang bersifat pribadi dan mengulik urusan pribadi tuan muda mereka.


“Baiklah, tuan. Saya mengerti, akan saya sampaikan pada nona. Terima kasih.” Ujar pelayan itu di ujung pembicaraan. Ia memegang ponselnya persis di depan dada, mengumpulkan segenap tenaga untuk menyampaikan


apa yang diperintahkan tuan sesungguhnya.


Grace masih bermalas-malasan di atas ranjang, masih dengan pakaian yang sama dikenakan saat ke kantor. Ia belum menyentuh makanan yang disuguhkan pelayannya di atas meja, dan Fang-Fang menggeleng lemah saat


menyadari itu ketika dia masuk.


“Nona, saya sudah mendapatkan infonya.” Ujar Fang Fang saat berdiri di samping Grace.


Grace langsung membalikkan badan ketika mendengar kabar baik itu, tumben sekali pelayan itu bisa diandalkan. “Cepat katakan!” Perintah Grace tak sabaran.


Pelayan itu menunduk, ia harus memainkan sandiwara sesuai instruksi Lau. “Saya bertanya pada karyawan di kantor tuan muda, katanya nona Weini tidak pernah ke kantor sebelumnya, dan urusan mereka hanya soal


bisnis karena nona Weini itu artis terkenal di sini.”


Grace memincingkan matanya, tak puas dengan kinerja pelayannya itu. “Trus? Masa hanya itu saja?”


Fang Fang mengangguk, “Tidak banyak yang tahu kehidupan pribadi tuan, ia sangat serius di kantor jadi hanya itu yang saya dapatkan, nona.”


Grace meremas selimutnya, ia kecewa terlalu mengandalkan gadis pelayan itu. “Hanya hubungan bisnis? Siapapun yang melihat pasti tahu ada hubungan khusus di antara mereka. Buat apa Xiao Jun belain kejar dia kalau


hanya demi bisnis?” Pekik Grace kesal.


Pelayannya hanya diam, yang penting ia sudah melakukan sesuai yang Lau anjurkan. Dan memang bukan ranah dia mencampuri urusan pribadi majikannya, terlebih ia bekerja untuk Xiao Jun. Seprihatin apapun ia kepada Grace, profesionalitasnya tetap harus dipegang. Lau bercerita bahwa Weini adalah gadis pilihan tuan mereka, dan tugas Fang Fang adalah menjaga Grace agar tidak berbuat sesuatu yang melampaui batas, terutama kepada Weini. Dan ia pun tahu betapa mereka saling mencintai hingga Grace benar-benar di posisi wanita pengganggu hubungan orang. Namun di mata Fang Fang, nonanya adalah korban dan tak patut dibenci.


“Pergi kamu, dan bawa pergi makanan itu. Aku nggak napsu makan.” Grace mengusik lamunan Fang Fang, ia tak lagi berniat mengandalkan siapapun. Berbekal sebuah nama dari orang terkenal, tidak akan sulit baginya untuk mencari informasi lewat internet.


Grace meraih ponselnya dan mulai berselancar di sana dengan mengetik kata kunci “Weini”.


***