OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 269 PERTEMUAN KEDUA SANG RIVAL YANG SENGIT



Stevan menunggu di ruangan yang khusus disediakan untuk para bintang utama dalam kantor managemen artis ini. Baru ia yang mengisi ruang tersebut hingga ia perlu mengecek keberadaan Weini lewat chat. Semenjak tak lagi berada dalam naungan managemen, Stevan bernasib lebih beruntung daripada Weini. Ia masih wira wiri untuk beberapa tayangan reality, namun proyek layar lebar inilah yang paling ia nantikan. Sepak terjangnya di dunia seni


peran akan kembali ia jalani bersama Weini, mereka masih berjodoh menjadi pasangan dalam film.


“Udah sampai mana? Buruan, gue sendirian nih.” Ujar Stevan saat panggilannya diangkat oleh Weini.


“Nih udah di parkiran kak, bentar lagi ya.” Jawab Weini seraya bersiap turun dari mobil. Ia menatap dengan seksama kantor managemen artis yang mendapuknya sebagai pemeran utama tanpa casting, begitu besar dan megah.


Dina melirik Weini yang masih asyik mengagumi gedung yang akan mereka masuki itu, “Gimana non? Keren kan? CEOnya udah kontak aku loh buat nawarin non jadi artis di managemen mereka. Setelah mereka dengar kalau


non udah nggak terikat dengan managemen sebelumnya. Kesempatan sebagus itu mending diambil aja non, kita agak kesulitan loh dapat job kalau nggak ngandalin managemen. Tahu sendiri kan, gimana ketatnya persaingan sekarang.”


Weini menoleh pada Dina, dua gadis itu masih berdiam di dalam mobil. “Kak Bams gimana kabarnya ya sekarang? Dia kerja di mana kak?”


Dina nyaris pingsan kesal mendengar pertanyaan Weini. Bisa-bisanya artis itu mengabaikan pertanyaannya dan malah mengkhawatirkan orang lain. “Dia mah udah senior, di mana aja dia bisa survive. Nggak usah pusingin dia non, mending mikirin diri sendiri. Yuk, masuk! Keburu diteror Stevan lagi nih kita.”


Kedatangan Weini disambut hangat oleh staf di sana. Kendati sudah jarang muncul di layar kaca pasca berakhirnya tayangan sinetronnya, Weini tetap layak disebut primadona yang bersinar di kancah entertainment. Ia dan Dina dituntun menuju ruangan yang sudah dipersiapkan untuknya, sambil menanti instruksi selanjutnya. Sebuah pintu yang ditempeli kertas bertuliskan nama Stevan dan Weini itu didorong oleh Dina, di dalam sana tampak Stevan duduk menyilangkan kaki dan melipat tangan.


“Lelet banget lu pada.” Gerutu Stevan yang bosan sendirian sekian lama. Air mukanya masih sewot melirik Weini dan managernya yang mengambil tempat duduk di sofa sampingnya.


“Lu yang kerajinan datang awal. Kami kan nggak telat, lagian cast pendukung yang lain belum tentu udah datang.” Ledek Dina tak mau disalahkan.


“Manager lu mana?” Timpal Dina setelah menoleh ke sana kemari dan tidak mendapatkan sosok pria yang dicari.


Stevan menggeser duduknya menjadi lebih dekat pada Weini, “Gue suruh tinggalin aja daripada bete nunggu seharian ntar. Lu nggak mau cabut? Mau jadi satpam jaga barang di ruang ini?” Ledek Stevan, aslinya ia ingin punya waktu berdua dengan Weini sebelum mereka mulai bekerja. Namun sepertinya harapan itu mustahil, Dina begitu setia lengket pada artisnya.


Dina mencibir aktor itu, “No, gue udah biasa menunggu.”


Stevan tak lagi tertarik beradu argumen dengan Dina, matanya berupaya mengintip isi chat yang sedang diketik Weini dengan wajah tertunduk menyembunyikan senyum. Tanpa perlu melihat lebih jelas, Stevan tahu dengan siapa Weini sedang bertukar kabar.


“Ehem, ada bau-bau pasangan yang baikan nih.” Celetuk Stevan, suara deheman yang dibuat-buat itu terdengar konyol bagi Dina.


Weini membalikkan layar ponselnya dan ditutupi di atas paha. Wajahnya agak tegang dan menatap Stevan, seperti orang yang kepergok melakukan kesalahan. Dina bergegas menetralisir suasana, ia langsung mendekati Weini seolah ingin mencari tahu juga.


“Yang bener nih? Wah, non sama bos muda udah baikan ya?” Tanya Dina sok polos, padahal ia hanya sedikit bersandiwara agar tidak kebongkar kedoknya.


Weini hanya diam, memberikan seulas senyuman yang menawan. Dari binar wajahnya saja tak bisa dibohongi bahwa ia begitu bahagia. Dina menyikut pelan lengan Weini, membujuknya memberikan klarifikasi pada kedua sahabatnya. Sementara Stevan menopang dagu dengan posisi tangan yang beralaskan lutut, menanti sebuah jawaban.


“Begitulah.” Jawab Weini singkat dan sangat pelan, untung saja telinga kedua sahabatnya cukup tajam dan dapat menangkap maksudnya. Spontan Dina dan Stevan langsung mengeroyok Weini dengan siulan dan sorakan.


“Ciyeee, yang baikan.” Goda Stevan seraya tertawa kecil menatap wajah merah bak tomat ranum milik Weini. Menta gadis itu memang belum kuat menghadapi candaan yang melibatkan perasaan pribadi.


Dina bertepuk tangan sambil bersiul, “Aku nunggu traktirannya, syukuran pertunangan wajib digelar ya non. Wajib!” Pekik Dina penuh semangat, ia sangat tergiur membayangkan makan enak yang dibayari oleh Xiao Jun.


Dina langsung jingkrak kegirangan, membuat Stevan menggelengkan kepala melihat kehebohannya yang berlebihan. “Beneran loh non, nggak pake tunda karena patah hati lagi ya kali ini.”


“Hush, ngomong yang baik. Doain aja biar cepat dilamar, nanggung kalau cuman pesta tunangan.” Gumam Stevan, dengan cepat matanya yang melirik sewot ke Dina langsung beralih menatap Weini dengan lembut beserta


suguhan senyuman.


“Yang akur ya, adikku!” Stevan mengacak rambut Weini, mengacaukan sedikit tatanan rambut curly panjangnya yang sudah rapi.


Weini terharu dengan perhatian lembut Stevan, kali ini ketulusan Stevan menyayanginya hanya sebatas perasaan antara kakak adik. Pria itu sungguh menganggapnya tak lebih dari seorang adik sekarang.


“Yeks, enyahkan tangan lu dari sono. Ancur ntar rambutnya!” Dina menyingkirkan tangan Stevan lalu mengumpat seraya merapikan lagi rambut Weini.


Gurauan mereka yang heboh itu terpaksa berhenti saat seorang kru mengetuk pintu lalu masuk menyampaikan arahan agar kedua bintang utama segera memasuki studio. Dina melambaikan tangan pada Weini yang menoleh


sejenak kepadanya sebelum meninggalkan ruangan. Manager itu memberi isyarat agar Weini terus semangat, “Fighting!”


Weini membalas lambaian tangan Dina, dari lekuk bibirnya menyuarakan balasan dengan suara berbisik. “Thank you.”


***


Derap langkah Weini yang begitu mantap dengan suara hak sepatunya terdengar seperti bom waktu yang dihitung mundur dimulai pada detik ke sepuluh. Kendati suara itu tak berarti bagi yang lainnya, namun pada hati yang membenci justru terdengar sangat memuakkan. Weini tak merasa mempunyai musuh, tetapi bukan berarti tak ada yang mengganggapnya sebagai orang yang patut disingkirkan. Lingkaran persaingan cinta yang berat bisa membutakan mata hati siapapun, memunculkan keberanian yang tak pernah terpikirkan oleh si empu pembenci. Dan bunyi hak sepatu Weini yang samar pun sanggup ditangkap oleh indera pendengarannya, dari kejauhan si pembenci itu menghitung mundur seiring suara yang didengarnya.


Tiga … Dua … Satu … Gumam si pembenci itu, senyum liciknya mengembang saat hitungannya tepat bersamaan dengan suara pintu yang dibuka dari luar.


“Selamat bergabung, Weini … Stevan.” Sapa sutradara yang berdiri menyambut kedua pelakon papan atas tanah air itu.


Stevan dan Weini dengan kompak tersenyum ramah membalas sambutan hangat dari orang-orang yang akan bekerja sama dengan mereka. Senyuman yang tidak bertahan lama, kala sebuah tatapan sinis dan seringai


ditujukan pada Weini dari seorang wanita yang tak ia harapkan, Weini spontak mematung sejenak.


Selamat datang, musuh besarku!


Ucapan selamat yang hanya diungkapkan dalam hati, dari seorang gadis yang sedang digerogoti iri dan benci.


***


Hi, Readers … Kalian pasti tahulah siapa dia ^^


Terimakasih atas dukungan kalian berupa like, komentar, vote, semua yang kalian sarankan selalu jadi masukan dan dukungan yang berarti bagi author. Tanpa kalian, author juga bukan siapa-siapa.


***