
"Itu dia!" Seru Su Rong menunjukkan sesuatu yang dilihat dan dikenali betul.
Xiao Jun dan Wen Ting menatap pengawal muda itu secara bersamaan. "Kamu yakin itu jetnya?" Tanya Xiao Jun memastikan.
Su Rong mengangguk mantap, "Ya, tuan. Tidak salah lagi, memang itu jet pribadi tuan Chen Kho."
Xiao Jun kini menatap Haris, meminta pendapat ayahnya untuk tindakan selanjutnya. "Bagaimana menurut ayah? Kita sergap mereka sekarang mumpung kondisi memungkinkan."
Haris tersenyum simpul, ia masih diam dan memasang mata batinnya dengan baik. "Tidak perlu menyerang, musuh sudah ditaklukkan. Aku merasakan aura kematian di sana." Haris menunjuk ke arah jet.
Wen Ting dan Xiao Jun saling berpandangan, mereka tidak meragukan prediksi Haris, hanya saja merasa takjub dengan kemampuan ayahnya yang peka.
"Ayo, kita buktikan ke sana. Cukup Jun saja yang ikut denganku, kalian tunggu saja di sini." Seru Haris kemudian berjalan memimpin langkah.
Xiao Jun menyeimbangkan langkahnya dengan Haris, "Kita lewat sana saja ayah." Telunjuk Xiao Jun mengarah pada pintu jet yang terbuka, memang terlihat janggal namun melihat ketenangan Haris, membuat Xiao Jun percaya bahwa kondisinya memungkinkan.
Ayah dan anak itu menaiki tangga jet, Xiao Jun yang berjalan lebih dulu, pandangannya awas ke sekitar. Sekeliling sangat sepi, seperti tidak ada penumpang di dalam, atau mereka mungkin sudah keluar dari jet ini.
Saat pandangan Xiao Jun mengarah ke dalam, ia terkejut melihat sesosok tubuh pria dalam keadaan telungkup berlumuran darah. Xiao Jun langsung menyadari perkataan ayahnya yang ternyata tepat. Dilihat dari kondisinya, pria itu pasti sudah menjadi mayat.
"Ayah, ada yang mati di dalam." Ujar Xiao Jun pelan, ia membalikkan badannya menghadap Haris.
Haris mengangguk pelan, "Teruskan saja masuk, jangan bersuara." Perintah Haris.
Xiao Jun menyanggupi dengan anggukan, lalu langkahnya kembali bergerak masuk. Penuh hati-hati ia mendekati mayat pria itu, dari jas yang dikenakannya memang sama seperti jas yang dipakai Su Rong. Xiao Jun yakin pria yang tewas ini pasti anak buah Chen Kho.
Haris menepuk pelan pundak Xiao Jun dari belakang, ia memberi kode agar mereka segera keluar dari sini dengan membawa mayat itu turun. Xiao Jun mengangguk, mereka berkomunikasi dalam isyarat demi menjaga kesunyian.
Xiao Jun memapah tubuh pria itu, masih terasa hangat yang menandakan waktu kematiannya masih baru-baru saja. Jas yang dikenakan Xiao Jun terpaksa terkena bercak darah dari perut pria itu. Setelah mereka sampai di tangga jet, Haris melihat Xiao Jun kesulitan menggendongnya.
"Simpan saja tubuhnya di dimensi gaib. Kamu sudah bisa melakukannya dan sekarang saatnya mencoba." Bisik Haris mengingatkan Xiao Jun bahwa ia sudah mempunyai kemampuan sihir yang ditransferkan dari milik leluhurnya.
Xiao Jun baru tersadar, andai ia sejak tadi paham betul maksud ayahnya, tentu dia tidak perlu mengotori jasnya dengan darah pria itu.
"Baik ayah, maaf aku belum terbiasa dengan kemampuan baruku." Jawab Xiao Jun.
Haris tersenyum tipis, ia menyaksikan Xiao Jun mencoba sihir itu dan seketika jasad pria itu lenyap. "Ayo kita kembali ke mereka." Bisik Haris mengomando.
Wen Ting dan Su Rong menunggu dengan patuh, tak sekalipun mereka saling bicara walaupun berdiri berdekatan. Sampai akhirnya Wen Ting melihat dua orang yang ia kenali berjalan menghampiri mereka, ia baru menarik seulas senyum. Tetapi senyum itu memudar dan berubah panik saat melihat jas tosca Xiao Jun ada bercak darah.
"Jun, ayah? Kalian terluka?" Tanya Wen Ting segera berlari menghampiri mereka.
Xiao Jun menggeleng, "Ini bukan darahku, kakak ipar. Ayah benar, ada yang meninggal di dalam."
"Kita bicara di dalam saja, jangan terlalu mencolok." Ujar Haris yang berjalan masuk ke dalam mobil mereka yang terparkir agak jauh dari landasan jet.
Para pria itu berjalan cepat, dan sesampainya di mobil, Haris menatap Su Rong sejenak.
"Anak muda, coba perhatikan apakah dia teman komplotanmu?" Tanya Haris pada Su Rong.
Wen Ting dan Su Rong agak bingung dengan pertanyaan itu lantaran tidak tahu siapa yang dimaksud, namun begitu sesosok mayat tiba-tiba muncul di pangkuan Su Rong, spontan pria itu terkesiap hingga tak sadar setengah melonjak dari posisi duduk.
"Apa kalian membunuhnya?" Tanya Su Rong yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat, terlebih ia tak nyaman harus duduk memangku mayat.
"Tidak, dia sudah meninggal saat kami masuk. Orang lain lebih dulu menghabisi dia." Jawab Xiao Jun.
Su Rong mengangguk pelan, ia memandang seksama wajah pria yang meninggal dengan mata terbelalak itu. "Ya, aku kenal dia. Dia salah satu anak buah tuan Chen Kho." Jawab Su Rong seraya mengusap kelopak mata pria itu agar terpejam.
"Berarti kita sedang beruntung, pilot mereka belum tahu kejadian ini. Dia pasti menunggu misi pria ini selesai kemudian kembali ke markasnya. Su Rong, kami mengandalkanmu sekarang." Jelas Haris.
"Lepaskan jasnya dan bersihkan noda darahnya. Setelah itu pakailah dan masuk kembali ke dalam jet itu." Perintah Haris serius.
Su Rong mengangguk sekali lagi, ia tak akan membantah apapun. "Baik tuan."
"Bagaimana dengan kita ayah?" Tanya Wen Ting yang merasa belum mendapatkan bagiannya.
Haris menatap Wen Ting lalu tersenyum tenang, "Wen Ting, siapkan jetmu segera. Dan juga ayah perlu beberapa pengawalmu untuk ikut serta. Aku dan Xiao Jun akan membuntuti Su Rong ke dalam jet itu, dan pengawalmu akan mengikuti jejak kami di kejauhan. Yang penting kita tahu lokasi tepatnya." Ujar Haris membeberkan strateginya.
Wen Ting mengangguk paham, "Jadi aku dan pengawalku menjemput kalian pulang ya, ayah?"
Haris tersenyum tenang, "Lebih tepatnya, pengawalmu saja."
Wen Ting mengerutkan dahi, menyusul protes yang digencarkannya. "Aku mau ikut kalian, kenapa aku tidak diikutsertakan?"
"Ini misi yang sangat berbahaya, ayah tidak mau kamu kena resikonya. Bantuanmu sudah sangat berarti, dan sekarang ayah perlu kamu untuk menjaga ibu dan lainnya. Li An sangat membutuhkanmu sekarang, jaga dia baik-baik ya." Ujar Haris dengan tenang, ia tak mungkin membiarkan Wen Ting yang polos tanpa energi apapun untuk masuk ke dalam pertempuran yang jelas-jelas Haris tahu level musuhnya seperti apa. Membiarkan Wen Ting ikut, sama saja melihatnya menyodorkan nyawa ke tangan musuh. Haris dan Xiao Jun belum tentu bisa sepenuhnya melindungi dia.
"Kak, bantuanmu sudah sangat berguna. Ayah hanya tidak ingin kamu terluka. Yang kita hadapi ini bukan orang yang berbekal senjata nyata, pistol mungkin bisa diadu dengan pedang, tapi sihir hanya bisa dilawan dengan sihir." Xiao Jun angkat bicara, ia tahu Wen Ting masih belum lega diminta mundur secepat itu.
Wen Ting mengangguk, ia kembali tersenyum.
"Baiklah, aku mengerti. Aku tidak mau membebani kalian untuk menjaga keselamatanku di sana. Aku akan kerja sama seperti arahan ayah. Kalian harus kembali dengan selamat bersama Yue Hwa. Kami menunggu kalian di sini." Ujar Wen Ting dengan lapang dada.
Haris tersenyum tenang, dengan sekali anggukan ia menyuarakan perintahnya.
"Ayo mulai."
Su Rong melepaskan jas yang dikenakan mayat pengawal itu, ia bergegas turun dari mobio untuk membersihkannya di toilet. Sementara Xiao Jun kembali memasukkan mayat itu dalam dimensi gaib.
"Wow... Bagaimana caranya menyulap benda muncul dan hilang secepat kedipan mata?" Gumam Wen Ting penuh takjub.
Xiao Jun hanya tersenyum tipis, "Ini sihir kak, bukan sulap. Kak, aku titip ibu, kedua kakak, dan Grace padamu. Tolong jaga mereka sampai kami kembali." Ujar Xiao Jun mengulangi permintaan Haris.
Wen Ting menepuk pundak Xiao Jun, "Tenang adik, pikirkan saja keselamatan kalian."
Su Rong masuk lagi ke dalam mobil dengan jas yang basah, ia terkejut saat melihat mayat itu sudah menghilang. Wen Ting tampaknya sadar keterkejutan pengawal itu, karena iapun mengalaminya.
"Dia sudah disimpan di tempat yang aman. Okelah, aku pergi dulu. Kalian berhati-hatilah!" Seru Wen Ting. Kepergiannya diantar dengan tatapan teduh Haris dan Xiao Jun, hingga menghilang dari pandangan mata.
"Kemarikan jasnya." Perintah Haris.
Su Rong menyerahkan jas itu pada Haris, kemudian tidak sampai satu menit di tangan Haris, jas itu disodorkan balik ke Su Rong.
Pengawal itu terlihat bingung sekali lagi, bagaimana mungkin jas yang tadi basah kuyup bisa kering secepat itu?
"Kamu harus terbiasa dengan keajaiban yang kamu lihat, aku tidak sembarangan memakainya. Tapi kau pasti tidak nyaman memakai jas basah." Gumam Haris yang paham betul sikap heran Su Rong.
Xiao Jun hanya tersenyum tipis. "Ayo, jangan buang waktu lagi."
Dan mereka pun beraksi.
🎬🎬🎬
Bersambung besok lagi ya.
Tinggalkan jejak kalian di like dan komentar ya 😘