
Semenjak malam itu, di mana Grace dan Xiao Jun terlibat pembicaraan serius, kehidupan mereka seakan berjalan normal. Grace membuktikan tekadnya, dimulai dari hari itu ia nyaris bersikap seperti orang asing bagi Xiao Jun. Bahkan ketika mereka berpapasan di koridor apartemen, Grace memilih menunduk dan tak menggubris Xiao Jun. Mereka bertingkah layaknya orang yang saling tidak mengenal.
“Tuan, saya rasa sikap nona Li sudah di luar prediksi kita. Saya takut dengan kekuatan di belakangnya, dia
merencanakan sesuatu untuk menjebak anda.” Lau yang paling gusar tentang sikap Grace, terlebih semenjak ia menekankan pada Fang Fang agar professional bekerja, pengawal wanita itu kerap melaporkan tindak tanduk Grace tanpa ada yang ditutupi.
Xiao Jun menikmati hari minggunya dengan tenang di apartemen, ia bahkan belum berencana berkencan walaupun Weini punya waktu longgar. Dahinya mengernyit menatap Lau yang berdiri tak tenang, “Paman, apa yang kau cemaskan tentang dia? Kenapa kau berasumsi dia akan bertindak seperti itu?”
Xiao Jun bukan ragu pada Lau, ia pun punya pertimbangan dan kekhawatiran terhadap Grace. Pengaruh gadis Li itu memang besar, ditambah kakaknya yang suka campur tangan bahkan berani mengusik Weini saat ia tidak di sini. Di antara sekian banyak alasan masuk akal untuk mencurigai Grace itu, hati kecil Xiao Jun tetap berfirasat bahwa gadis itu tidak akan melangkah terlalu jauh apalagi sampai membahayakannya.
Lau menunduk, menyembunyikan rautnya yang kaku. “Itu … Fang Fang bilang bahwa nona Grace sering berhubungan dengan kakaknya, tuan Chen Kho. Dia juga bilang, pernah mendengar percakapan mereka yang menyinggung tentang nona Weini.”
Tubuh Xiao Jun yang awalnya bersandar santai di sofa sambil membaca buku, akhirnya duduk tegak setelah mendengar itu. Ia menutup buku dalam tangannya kemudian menaruhnya di atas tumpukan kedua lutut. Raut wajahnya serius menatap Lau, menyelidiki kebenaran dari apa yang barusan diungkapkan pengawalnya.
“Beraninya mereka menjadikan Weini bahan pembicaraan! Si otak licik itu tidak mungkin berbelas kasih, apa yang dia lakukan pada Weini waktu itu saja cukup berdampak buruk. Apa mungkin sikap manis Grace belakangan ini juga salah satu siasatnya?” Xiao Jun berasumsi sendiri, ia menopang dagu seraya memikirkan apa yang mungkin Chen Kho rencanakan.
“Maaf tuan, selama beberapa waktu mengenal nona Grace, saya merasa dia bukan orang yang tega menjahati seseorang, kecuali ada yang menghasutnya.” Lau berhati-hati menyampaikan kata-kata terakhir itu, dengan kepala sedikit menunduk ia mengintip reaksi Xiao Jun dengan ekor matanya.
Xiao Jun melirik Lau, “Tenang saja, paman. Apa yang paman katakan memang masuk akal, aku juga merasa sesuatu yang terlihat tenang justru mencurigakan. Grace begitu agresif dan tidak pandai mengelola emosi, melihat dia yang sekarang justru terasa aneh. Minta Fang Fang untuk lebih mengawasi Grace, terutama seberapa intens ia berkomunikasi dengan kakaknya.”
Problema yang menyangkut masalah cinta memang tak pernah sederhana. Dikatakan kecil, namun tidak bisa disepelekan. Dikatakan besarpun, akan lebih baik diselesaikan dengan menganggap konflik itu hanya secuil yang perlu ditiadakan. Namun tak semua mempunyai kebesaran hati untuk berkorban perasaan, mengalahkan ego masing-masing untuk saling mempertahankan. Xiao Jun dan Weini juga pernah mengalami semua itu, sebelum akhirnya mereka semakin dikuatkan oleh masalah yang hingga kini pun belum berujung penyelesaian.
Sebuah pesan masuk dari Weini menderingkan ponsel Xiao Jun, dengan lincah pria itu memainkan jemarinya di
atas layar sentuh ponselnya untuk membalas pesan itu. Senyumannya menyungging, meskipun Weini tidak akan tahu bahwa ia tengah tersenyum sembari membalas pesannya. Mereka saling berbalas pesan dengan cepat, Weini mengabarkan bahwa dirinya hanya di rumah seharian dan tidak punya rencana keluar. Sementara Xiao Jun ingin beristirahat dan belum berniat mampir ke rumah gadisnya. Ia ingin menepikan sejenak urusan percintaan dan memberi sedikit ruang untuk dirinya agar tetap fokus dalam misi utama.
Xiao Jun meletakkan ponsel ke atas meja, buku sihir warisan leluhurnya yang sudah lama tidak ia sentuh adalah
misinya hari ini. Kejadian yang teringat waktu di rumah lamanya, suara dari leluhurnya yang memberinya sesuatu namun masih tersimpan dalam dimensi lain itu, Xiao Jun perlu mempelajari sampai di tingkat itu. Tangannya dengan
hati-hati membalikkan halaman demi halaman dari kertas lapuk itu. Saking usangnya, banyak tulisan yang memudar dan huruf yang sulit dikenali.
klan Wei yang memiliki kemampuan sihir timur tingkat tertinggi, sungguh disayangkan bila ilmu tersebut lenyap begitu saja bersama satu-satunya orang yang menguasainya. “Di dunia ini, hanya tersisa ayah yang mewarisi sihir klan Wei. Kehebatan sihir ini pasti membantu ayah bertahan hidup, tapi kenapa dia masih sembunyi? Mau sampai kapan keadaan berjalan datar begini?”
Xiao Jun menghela napas, pertanyaan itu sejak dulu belum ada jawabannya. Ia hanya bertanya tanpa ada siapapun yang memberinya secerca harapan tentang itu. Sepasang mata tajamnya membesar saat mendapati tulisan pada halaman yang baru ia buka, tulisan dengan aksara Mandarin itu berisi mantera tentang sihir menyimpan dan mengeluarkan barang dari dimensi lain. Xiao Jun mengernyitkan dahi ketika mendapati cara berlatih yang tak bisa ia pahami meskipun sudah tertera dalam buku.
Tak berhenti sampai di sana, ia membalikkan halaman berikutnya dari buku using nan tebal itu. Setiap jurus ilmu
di dalam sana berhasil membuatnya ternganga takjub. Ia antusias membuka hingga di penghujung halaman yang mungkin tersisa tiga lembar. Dari sekian banyak ilmu, tidak sampai separuh yang berhasil Xiao Jun kuasai, jumlahnya bahkan masih bisa dihitung dengan jari. “Perlu waktu seumur hidup untuk belajar tanpa guru, kecuali ayah kembali.”
Ingatan tentang Wei Ming Fung segera ditepis oleh Xiao Jun, ia mengalihkannya dengan membalik halaman selanjutnya. Tersisa dua halaman terakhir yang mungkin merupakan ilmu sihir terakhir dari keturuan mereka. Dahi Xiao Jun mengkerut ketika membaca tulisan itu, tulisan di halaman terakhir yang ia kira adalah jurus sihir ternyata malah berisi informasi yang sangat penting dan terdengar tak masuk akal. Meskipun ia tahu bahwa segala yang
berbau sihir pun sudah tidak realistis namun tulisan itu lebih tak mampu dicerna nalarnya.
Ular berganti kulit, manusia berganti rupa. Sihir keabadian, hidup satu abad lamanya.
Kata kiasan itu membuat Xiao Jun semakin tertohok, bulu kuduknya merinding membayangkan bahwa leluhurnya punya ilmu seperti ini. Xiao Jun tergesa-gesa membalik satu halaman terakhir dari buku itu, berharap mendapatkan penjelasan lebih tentang sihir tersebut. Bola matanya membesar, membaca dengan seksama apa yang tertera dalam kertas usang itu. Dan ia dipaksa puas dengan ending yang menggantung, hanya dua bait cara yang tertulis
dan selebihnya pudar.
Xiao Jun duduk terkulai lemah di lantai, tubuhnya ia sandarkan pada samping ranjang. Ia perlu waktu untuk
memikirkan semua ini, apakah tudingannya benar? Pria itu mengatur napasnya, lalu melirik pada aksara yang menggoreskan tentang sihir merubah rupa itu.
“Apa ini ada hubungannya dengan hilangnya ayah bersama gadis kecil Li itu? Ayah … Apa kamu sudah berganti
wajah?” Xiao Jun menggelengkan kepalanya dengan pelan, separuh semangatnya hilang terbawa rasa shock yang belum sanggup ia kendalikan.
***