
Lau mengetuk pintu ruangan kantor Xiao Jun, langkahnya ringan dengan senyuman santai yang akan ia perlihatkan kepada tuannya. Xiao Jun baru saja menyelesaikan sebuah berkas penting yang ia pelajari, dan fokusnya pun langsung beralih pada ketukan pintu.
“Masuklah paman.” Ujar Xiao Jun.
Lau muncul dari pintu itu sambil terheran, “Kenapa anda bisa tahu saya yang datang, tuan?”
Xiao Jun tersenyum simpul, “Dari cara mengetuk pintu saja, aku sudah tahu siapa yang datang paman.”
Lau manggut manggut dengan bangga menatap tuannya. “Sehebat itu kepekaan anda, luar biasa tuan.”
“Ada apa paman? Apa yang perlu paman sampaikan?” Tanya Xiao Jun mengingatkan tujuan kedatangan Lau yang teralihkan karena pembahasan iseng tadi.
Lau terkesiap, “Oh iya sampai lupa, maaf tuan. Hmm... ada dua kabar yang akan saya sampaikan, anda mau dengan kabar baik atau kabar kurang baik dulu? Ah... bagaimana kalau kabar baik?” Tanya Lau yang rasanya sia-sia mengajukan pertanyaan lantaran langsung ia yang memutuskannya.
Xiao Jun tersenyum geli melihat tingkah Lau yang tumben bisa sekonyol itu. “Apa saja boleh paman, tetap harus disampaikan kan.”
Lau mengangguk, “Baik Tuan, yang pertama tentang nona Grace dan Stevan yang akhirnya melangsungkan lamaran barusan. Stevan mencari kembali orang tuanya yang hidup terpisah jauh dengannya kemudian mengajaknya datang melamar Grace. Mereka sedang mencari hari baik untuk pernikahan dan rencananya akan digelar di Jakarta.” Jeda Lau.
Xiao Jun manggut-manggut mendengarnya, senyumnya pun mengembang penuh. “Baguslah, ini berita bagus yang aku tunggu. Akhirnya mereka mengambil keputusan yang tepat, syukurlah. Lalu berita kurang baiknya apa paman?”
Lau mengangkat alisnya sebentar dan agak ragu mengatakan pada tuannya. “Hmm... lalu anda kapan tuan? Kapan mau lamaran pada nona Yue Hwa?” tanya Lau sungguh-sungguh.
Tawa kecil Xiao Jun pecah bersamaan dengan Lau yang tampangnya melengos karena ditertawakan. “Jadi ini yang paman maksud berita kurang baik?”
Lau terdiam sejenak, masih belum mengumpulkan moodnya untuk menjawab. Setelah Xiao Jun puas tertawa, barulah ia melanjutkan. “Itu pertanyaan pribadi yang saya ajukan ke tuan, bukan menyangkut kabar kurang baik yang saya maksud. Ya sebenarnya itu juga kurang baik sih menurut saya, anda terlalu lama mengambil sikap tuan.” Seru Lau yang kini mulai berani berceloteh pada Xiao Jun dengan lebih terbuka.
Xiao Jun menunduk sejenak, memikirkan kata-kata Lau yang memang ada benarnya. “Setelah ini pasti giliranku, paman. Jangan khawatir ya, aku tahu kamu mencemaskanku tapi tenang saja. Aku mau memberikan yang terbaik untuk Yue Hwa.” Gumam Xiao Jun serius.
“Syukurlah, saya percaya anda pasti memikirkan semua itu dan inginkan yang terbaik. Apapun itu saya siap membantu anda.” Seru Lau antusias.
Xiao Jun hanya mengangguk pelan tanpa memberikan respon lagi, ia menatap teduh pada Lau lantaran tahu masih ada yang ingin pria itu sampaikan.
“Ah iya, kabar kurang baiknya adalah tentang nona Yue Hwa.” Lanjut Lau pelan.
“Yue Hwa? Kenapa dia?” Tanya Xiao Jun penasaran.
Lau mengangguk, “Baru saja direktur di perusahaan Hongkong mengabariku bahwa nona Yue Hwa mengalami kendala dalam menangani bagiannya. Nona mengaku frustasi menghadapi bisnis yang tidak ia pahami sama sekali.”
Xiao Jun terpaku diam beberapa saat kemudian tawa kecilnya terdengar. Bisa ia bayangkan wajah Weini yang cemberut ketika melihat setumpuk pekerjaan dengan istilah yang tidak ia mengerti. Lau malah terbengong karena respon Xiao Jun malah tertawa, semula ia mengira tuan mudanya akan prihatin dan berinisiatif membantu kekasihnya.
“Ada apa tuan, ada yang lucukah dengan perkataan saya?” tanya Lau terheran.
Xiao Jun menggeleng dan menyudahi tawanya yang ditanggapi salah paham oleh pengawalnya. “Tidak, maaf paman, aku hanya teringat sesuatu yang lucu. Begini saja, tolong minta salah satu staf yang handal untuk mendampingi Yue Hwa di sana. Aku rasa dia akan lebih mudah menguasainya jika ada yang mengajarinya langsung.” Perintah Xiao Jun yang tampak serius.
Hwa... aku bisa bayangkan kamu pasti sedang berteriak pusing sekarang. Batin Xiao Jun dalam hatinya dan mulai tersenyum lagi.
“Baik Tuan.” Jawab Lau patuh.
“Ah, paman Lau.” Seru Xiao Jun.
Baru saja ia hendak membalikkan badan dan meninggalkan Xiao Jun, namun namanya malah dipanggil lagi oleh tuan muda itu. “Ya, tuan?” tanya Lau lagi menunggu perintah selanjutnya.
“Apa aku masih punya jadwal setelah rapat nanti?”
Lau tampak berpikir sejenak, ingatannya muncul dan mendata agenda Xiao Jun sepanjang hari nanti. “Hmm... tidak ada tuan, tapi besok anda punya janji dengan calon investor asing.” Ujar Lau mengingatkan.
Xiao Jun tersenyum dan mengangguk mantap, “Hmm... baiklah, kalau begitu tolong undur lagi sebentar janji pertemuannya. Aku ingin mengambil cuti dua hari saja, tolong kerjasamanya ya paman.” Gumam Xiao Jun tersenyum penuh arti pada Lau.
Lau menangkap sinyal senyuman tuannya, ia tahu apa maksudnya tanpa perlu dijelaskan. “Ah... baik tuan, saya pasti melaksakannya dengan baik. Percayakan padaku dan... selamat bersenang-senang tuan, sudah saatnya pula anda rileks sejenak.” Gumam Lau yang tak lupa menyelipkan doa muluknya.
Xiao Jun tersenyum tipis, betapa beruntungnya ia memiliki seorang pengawal seperti Lau yang sangat mengerti dirinya. “Terima kasih paman.”
❤️❤️❤️
Weini masih kelabakan dengan apa yang harus ia kerjakan, meskipun orang kiriman Xiao Jun sudah tiba dan memberinya pengarahan, tetap saja semua yang disampaikan seolah mantul dari otaknya. “Ah, sudah dulu ya, beri aku waktu lima menit.” Ujar Weini yang merasa penat sedari tadi bergelut dengan pekerjaan barunya. Meskipun rasanya belum setengah jam mereka memulai, bahkan asistennya pun belum selesai menjelaskan. Namun siapa yang berani melawan perintah sang nona penguasa, bagaimanapun juga asisten itu akan memilih menuruti perintahnya.
“Baik Gong Zhu.” Ujar asisten wanita itu.
“Kamu bersantailah sejenak, minum dulu tehnya.” Gumam Weini memberi perintah. Tangannya mulai memijit keningnya yang terasa pusing di sana. Kepalanya terasa panas, pikirannya kusut dan ia tak sanggup lagi rasanya untuk melanjutkan.
Huft... walau aku paksakan juga percuma, aku benar-benar nggak bakat di bidang ini. Andai saja mempelajari ini semudah aku mempelajari sihir. Hah?
Weini terkesiap, ketika memikirkan itu terasa seperti ada getaran sihir yang sedang bekerja. Memproses apa yang ia ucapkan barusan. Weini menegakkan posisi duduknya, ia terus menaruh perhatian pada apa yang aneh dalam dirinya.
Andai saja aku bisa meniru kepintaran orang dengan sekali bersentuhan dengannya... ah tidak, apa yang sedang aku pikirkan. Weini menggeleng sendiri, menepis pikirannya yang tercetus begitu saja.
“Gong Zhu ada apa?” tanya asisten yang kebetulan sedang melihat ke arah Weini dan heran mengapa gadis itu terus menggeleng.
“Ah tidak, apa kau sudah selesai minum tehnya? Ayo kita lanjutkan saja.” Ujar Weini mengalihkan topik serta pikirannya yang kacau itu.
Asisten itu membungkuk hormat kemudian mendatangi tempat duduk Weini lagi. Ia tengah serius menjelaskan namun Weini tidak mendengarnya. Weini sibuk mengontrol pikirannya yang aneh itu, kemudian tangannya mulai bergerak lepas dari kontrolnya. Tangan Weini menyentuh tangan asisten yang sedang menjulurkan tangannya untuk menunjukkannya sesuatu. Saat itu pula keduanya terkejut dan saling bersitatap.
Weini merasakan ada aliran chi yang menjalari tangannya, sesuatu yang terserap dari tubuh asisten itu terus merambat ke kepalanya. Tidak... aku sedang mencuri sesuatu darinya! Apa yang aku pikirkan sekilas, kenapa bisa menjadi kenyataan?
Weini tidak bisa memindahkan tangannya ketika aliran chi itu masih bekerja. Waktu terasa terhenti saat itu, Weini bisa menyadari saat melihat asisten itu tidak bergerak. Bahkan jantungnya berhenti berdetak saat itu, tetapi Weini bisa memastikan bahwa orang itu masih hidup. Chi-nya masih terasa kuat meskipun ada sedikit yang terserap Weini. Tangan itu akhirnya terlepas, Weini bergegas bersikap biasa seolah tidak ada yang terjadi.
“Gong Zhu tidak apa apa?” tanya asisten itu ketika kesadarannya sudah kembali.
Harusnya aku yang bertanya seperti itu, maafkan aku... tanpa kamu sadari aku telah melukaimu. Gumam Weini dalam hatinya.
❤️❤️❤️