
Serangkaian penyambutan yang dipersiapkan Li San atas kedatangan saudara serta keponakannya terkesan sangat berlebihan bagi Xiao Jun. Secara perhitungan kasar dari pengamatannya saja, Li San berani menggelontorkan 500000 HKD (setara 913 juta Rupiah) untuk dekorasi, catering, kostum keluarga (seragam Li San, Liang Jia, Xiao Jun dan kedua putri Li San) dan acara hiburan. Pemborosan yang terlalu mubajir mengingat konteks acara hanya sekedar kepentingan pribadi, tak ada keuntungan apapun yang bisa diperoleh dari sikap pamer Li San ini selain demi menunjukkan ego serta kemampuannya menakhlukkan segala hal dengan uang.
Tarian pembuka dari puluhan pengawal muda barusan berakhir, sejumlah 30 pria yang membentuk enam barisan itu bubar teratur keluar dari barisan. Suara tambur masih mendominasi suasana mengiringi formasi para pengawal yang undur diri dari hadapan sang tuan. Tiada lagi penghalang yang menutupi pandangan di depan, walau berdiri sejauh jarak belasan meter Xiao Jun sanggup melihat sosok gadis yang berdiri diam sendirian.
Li San dan Kao Jing penuh inisiatif saling merangkul dan tertawa girang, meninggalkan Liang Jiang dan Xiao Jun yang berdiri jauh di belakangnya. Tambur yang dimainkan dengan ritme pelan kian mendebarkan perasaan dua orang yang tak saling mengenal itu.
“Jun, datangi dia. Bersikaplah sopan, ingat mengontrol perasaanmu.” Liang Jia melirik ke belakang menatap Xiao Jun yang hanya berjarak sejengkal dengannya tanpa menoleh. Kendati disampaikan dengan bisikan, Xiao Jun mampu mendengar perintah Liang Jia secara jelas.
“Baik, Ibu.” Hanya sesingkat itu jawaban yang dilontarkan Xiao Jun. Kemantapan lisan yang tidak sebanding dengan kemantapan hati, nyatanya setelah menjawab perintah Liang Jia, ia belum juga menggerakkan kaki selangkahpun. Hanya tatapan sedikit menyipit yang Xiao Jun lakukan untuk mengamati tampilan fisik wanita pilihan Li San itu.
Xiao Jun tak punya komentar tentang wanita itu, selain nama Grace yang ia ketahui. Liang Jia kembali melirik Xiao Jun yang belum juga bertindak setelah jawaban tercetus, dengan berat hati Xiao Jun yang tak punya pilihan lain pun mulai menapakkan langkah demi langkah mendekati wanita yang terkesan pasif menanti.
Grace makin merasakan tekanan berat di dadanya ketika ia menarik napas, setiap jengkal pergerakan pria dengan tatapan teduh itu mendekat maka degub jantungnya seakan hampir meletus. Penampilan serta gaya elegan pria yang dijodohkan dengannya itu melambungkan angan Grace, betapa ia berterima kasih atas usaha keras dan sikap tegas ayahnya yang memaksa agar ia merubah penampilan dan busana. Andai ia tetap ngotot dengan tampilan sebelumnya, tak sanggup Grace bayangkan konyolnya penampilan seksi casualnya ketika bersanding dengan pria
tampan, gagah dengan setelah jubah tradisional yang elegan. Dress Cheongsam Grace akhirnya serasi dengan jubah Xiao Jun yang berwarna keemasan.
“Ni hao, xiao jie (apa kabar, nona?” Sapaan ramah dan sopan ini yang terucap dari bibir Xiao Jun, lengkap dengan sunggingan senyum manis. Meski agak susah menarik sudut bibirnya melengkungkan senyum, namun Xiao Jun tetap berusaha menjaga muka Li San. Ia tetap teringat kesepakatan mereka sejam lalu, semua tindak tanduknya terhadap wanita itu akan jadi penilaian Li San. Xiao Jun menganggukkan kepala pelan setelah sapaannya selesai.
Grace sedikit kebingungan, tata krama yang terlalu formal itu membuatnya terlihat kaku dan kehilangan kecerdasan dalam sekejab. Di mana hasil belajarnya selama ini? Nilai-nilai tinggi, sertifikat penghargaan berjenjang Internsional yang berderet menghias lemari kamarnya seolah tiada arti. Wanita cerdas itu kehilangan akal untuk menjawab pertanyaan sesimpel itu, ia menyesali kemampuan bahasa Mandarinnya yang payah karena terlalu angkuh belajar bahasa asli leluhurnya walau sudah sering diajarkan Kao Jing.
“Yes, hao …” setelah berpikir satu menit, nyatanya jawaban yang diucapkan dengan gamang itu sukses membuat Grace terlihat konyol. Jawaban seperti apa itu? Separuh bahasa Inggris dan Mandarin secara singkat tanpa penataan bahasa yang lebih baik. Grace seketika menundukkan wajah, ia tak yakin masih punya muka untuk menghadapi pria tampan itu.
Xiao Jun reflek tersenyum kecil setelah mendapati balasan yang lucu itu, terlebih Grace bertingkah seakan hendak lenyap saat itu juga dari hadapannya saking canggungnya. Mimik seperti itu tiba-tiba mengingatkannya dengan Weini, sesekali Weini yang panikan memang bisa terlihat polos dan canggung, persis wanita di hadapannya sekarang.
“Selamat datang, nona. Mari masuk, pesta penyambutan di dalam sudah menanti.” Xiao Jun menyodorkan siku tangan sembari sedikit menundukkan badan. Sikap demikian adalah cara formal seorang pria mengajak pasangannya berjalan bersama.
Grace sedikit terkesima mendapati kelanjutan sambutan yang begitu hangat dari Xiao Jun. Walau terkesan basa-basi, namun ajakan dengan cara seperti ini membuatnya diperlakukan bak seorang putri raja. Ia mengalihkan pikiran dari jawaban memalukan barusan dan berfokus menggandengkan lengannya pada siku Xiao Jun yang
masih menanti rangkulannya.
Kao Jing yang sedari tadi berbincang hangat dengan Li San hingga melupakan sejenak kondisi sekitar, kini terpukau dengan adegan pasangan yang belum resmi dijodohkan itu. Ia memberitahu Li San agar menyaksikan bersama perkenalan kedua anak mereka yang tampak mulus.
“Kau Lihat, Chemistry mereka mulai tampak. Baru jalan bersama saja sudah mengalihkan perhatian semua orang, apalagi setelah mereka menikah. Leluhur kita pasti merestui mereka.” gumam Kao Jing yang tampak sangat puas dengan kesediaan Grace pada putra adiknya.
Li San mengangguk setuju, ia menyaksikan dengan mata kepala seperti apa sikap baik Xiao Jun pada keponakannya. Hati kecilnya bangga pada calon penerus tahtanya yang selalu bisa diandalkan. “Mereka seolah telah ditakdirkan berjodoh. Langit dan bumi pasti merestuinya.”
“Aunty, apa kabar?” Grace menyapa Liang Jia ketika sampai di samping nyonya besar keluarga Li itu, tanpa gesture hormat dan dengan percaya diri menyapa dengan budaya barat yang kental dalam dirinya.
untuk wanita pilihan Li San. Seminus apapun nilai si wanita di mata Liang Jia tak akan ada pengaruhnya bagi sang penguasa, selagi Li San masih menyukai pilihannya itu.
“Kabar baik, ayo kita masuk.” Liang Jia tersenyum sekenanya dan mengambil posisi memimpin langkah menuju aula.
Chen Kho menyelinap masuk di antara kemurunan para pengawal yang berjejeran di tepi, mengelilingi para pemeran utama yang barusan mementaskan drama pertemuan pertama. Susah payah menerobos padatnya lalu lintas demi menyaksikan langsung bagaimana perkenalan adiknya dengan si pria angkuh itu namun tetap saja ia
terlambat. Sepertinya ia tak perlu terlalu khawatir, hasilnya tak seburuk yang ia kira. Li San dan Kao Jing masih terlibat obrolan santai sembari menyusul ke aula.
“Kalau dilihat sih mereka berdua memang serasi, aku memang nggak suka Xiao Jun tapi harus aku akui dia jadi pria tampan penuh wibawa. Nggak kayak waktu kecil, sok dingin dan tertutup.” Yue Xiao mengungkapkan penilaian pribadinya terhadap Xiao Jun. Semenjak diadopsi Li San waktu kecil, Xiao Jun dan ke empat putrinya sudah
dipisahkan. Bisa dibilang inipun menjadi pertemuan perdana Yue Xin dan Yue Xiao dengan adik angkatnya semenjak sama-sama dewasa.
“Aku setuju, mereka sangat cocok secara fisik. Satunya berparas tampan, satunya cantik kebulean. Semoga cepat nikah aja, aku penasaran kayak apa anak mereka ha ha ha ….” Seru Yue Xin masih enteng bercanda di tengah keseriusan Yue Xiao.
Celotehan konyol itu terdengar oleh Chen Kho, banyak pihak yang pro akan hubungan Xiao Jun dan Grace. Secinta apapun Xiao Jun pada gadis di Jakarta itu, Chen Kho yakin cinta itu hanya akan menjadi impian terpendam. Bak pungguk merindukan bulan, takkan pernah kesampaian. Ia tersenyum puas, mungkin tidak perlu mengaturkan pertemuan dengan Li An lagi agar Xiao Jun menerima perjodohan, segalanya pasti berjalan sesuai kehendak Li San. Dan ia hanya perlu menyiapkan tiket VIP menonton dari dekat segalanya masuk perangkap tanpa sadar itu adalah jebakannya.
***
Hi, pembaca setia novel Open Your Mask, Princess!
Thanks atas kesabarannya menanti masa update, autthor menaruh perhatian penuh pada alur cerita dan karakter setiap tokohnya. Semoga feelnya terasa oleh kalian semua ya ^^
Tak lupa dalam kesempatan ini, hehe author sedikit nyolong perhatian. Mohon kiranya memberikan dukungan nyata, berupa like, komen dan Vote agar reputasi novel ini semakin naik dan makin dikenal pembaca lainnya.
Berikan bintang 5 juga ya ^^
moga-moga reader semua juga makin lancar rejekinya, kesehatannya dan semakin bahagia.
yup, sampai ketemu dengan Weini di next episode.
Sincerely,
Author Chantie Lee