
Haris melakukan ritual untuk mengecek kondisi Lau di rumahnya. Selagi Weini belum pulang untuk makan malam, gadis itu berniat memenuhi keinginannya makan malam bersama Haris. Xiao Jun pun sudah menghubunginya dan mengatakan bahwa Lau telah kembali membawa kabar yang ia nantikan. Untung saja Weini masih disita waktunya oleh Grace, jadi mereka punya sedikit waktu sebelum Weini datang.
“Aku sudah mentransferkan energi pada tubuhnya, ini bukan penawarnya tapi bisa menghambat jalannya racun menyebar lebih jauh.” Ungkap Haris menyudahi ritualnya. Ia menepuk pundak Lau agar boleh membuka mata lagi.
Xiao Jun tampak sangat mencemaskan Lau, belum lagi kecemasan itu terbagi pada ibunya. “Paman, apa yang paman rasakan sekarang? Jangan dipendam sendiri kalau merasa kesakitan.” Tanya Xiao Jun dengan sorot mata yang cemas.
Lau terharu mendapati perhatian dari tuannya, ia membungkuk hormat. “Saya merasa baikan tuan, terima kasih atas perhatiannya.”
“Sebenarnya racun dalam tubuh Lau lebih ringan daripada yang diminum Grace. Sayangnya Weini belum pulih, tidak boleh memaksakan tubuhnya untuk menyerap racun lagi. Organ penting di tubuhnya bisa hancur kalau dia memaksakan diri lagi.” Sesal Haris, satu-satunya orang yang bisa diharapkan pun kini tak bisa memberi pertolongan.
“Ini tidak bisa dibiarkan lagi ayah, jangan ada korban lain lagi. Mereka berhati keji dan bisa melakukan apapun demi
ambisinya.” Kesal Xiao Jun.
Haris manggut-manggut, “Ya, kau mulai paham sekarang. Kalau kita mau dapat ikan, tentu harus melempar umpan. Umpan yang mereka mau adalah kamu, itulah kenapa ayah memintamu untuk menuruti permintaan konyol mereka. Sebelum menikah minta dulu penawarnya, setelah itu aku akan turun tangan.” Ujar Haris serius.
Xiao Jun menggeleng tak setuju, “Ayah, mereka itu licik. Mereka tak akan sebaik itu memberi penawar sebelum pernikahan. Bahkan jika aku sungguh menikah, mereka bisa saja mangkir.”
Segurat senyum misterius tersungging dari bibir Haris. “Percayakan sisanya padaku, selebihnya tolong jalankan saja sesuai rencanaku.” Haris meyakinkan putranya lewat tatapan teduhnya. Membuat Xiao Jun tak kuasa menolak meskipun sedikit ragu terbersit di benaknya.
“Baiklah ayah, aku memang tak punya pilihan yang lebih baik daripada itu.” Ujar Xiao Jun seraya menghela napas berat.
Haris mengangguk setuju, “Aku jamin kali ini pasti berhasil, nak. Ajaklah Grace kembali ke Hongkong, dia pun mengalami tekanan yang sama denganmu. Semakin cepat lebih baik, minta Lau sampaikan pada mereka kapan jadwal keberangkatan kalian. Pulanglah bersama Lau juga, begitu penawarnya sudah dapat, segera minumlah dan kirim pada ibumu. Aku akan di sini menjaga nona Yue Hwa dan menyelesaikan sisanya.”
Xiao Jun dan Lau mengangguk paham. “Setelah ini aku akan rundingkan dengan Grace, dia sudah pulang ke apartemen hari ini.” Ujar Xiao Jun serius.
Suara mobil memasuki halaman rumah menyudahi diskusi mereka. Weini dan Dina tiba tepat waktu, Xiao Jun langsung inisiatif menyambut kedatangan kekasihnya. Dina tampak melambaikan tangan dari balik kaca mobil, ia
langsung pergi begitu mengantar Weini sampai di rumah. Xiao Jun dan Weini pun membalas lambaian gadis itu dan mengantar kepergian Dina dengan senyuman hingga mobil itu hilang dari penglihatan.
“Kalian sudah lama menungguku?” Tanya Weini lembut seraya menatap Xiao Jun.
“Hmm, baru setengah jam. Paman asyik ngobrol dengan ayah, nggak terasa bosan juga kok. Yuk makan bareng, mereka sudah menyiapkan makan malam spesial loh.” Bisik Xiao Jun lalu menggandeng mesra tangan Weini,
menuntunnya masuk ke dalam rumah.
Pemandangan mesra sejoli itupun menarik perhatian dua pria di ruang makan, seketika itu pula Weini merasa canggung dengan lirikan Haris dan Lau, kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Xiao Jun.
“Malam paman, aku juga senang bisa makan masakanmu lagi.” Jawab Weini yang juga membalas penghormatan Lau dengan anggukan pelan.
Haris hanya tersenyum simpul, menyedihkan dan terkesan tidak adil memang. Saat satu persatu orang terdekat Weini sudah tahu siapa dirinya, ironisnya justru Weini yang belum sadar identitas asli orang-orang di hadapannya. Aku ikhlas dibenci olehmu, asalkan di akhir pertarungan nanti anda tetap selamat nona. Batin Haris sedih.
“Mari kita makan sebelum masakannya dingin.” Pinta Haris yang membuka acara makan malam bersama itu. Weini dan yang lainnya mengambil tempat masing-masing, Lau dengan sigap melayani tuannya dan dua orang yang tak kalah dihormatinya. Hingga suasana canda tawa makan malam itu berganti pada topik berat yang dimulai oleh Weini.
“Aku tak menyangka paman kembali begitu cepat. Kabar apa yang paman dapatkan dari keluargaku?” Tanya Weini langsung pada pokok masalahnya.
Hening sekejab. Lau tampak menatap wajah tuannya sebelum buka suara. Xiao Jun mengkodenya dengan anggukan pelan. Sementara Haris bersikap tenang seperti biasa.
“Benar nona, berkat ketenaran keluarga anda di sana, saya dengan mudah mendapatkan informasi tentang mereka. Kehidupan mereka baik-baik saja nona, tidak ada hal yang mencurigakan, bahkan besok di kediaman tuan Li akan digelar ritual pernikahan putri kedua mereka. Saya berhasil mendapatkan foto persiapan mereka dari rekan seprofesi saya.” Lau menyodorkan ponselnya yang berisi beberapa foto di aula utama pada Weini.
Weini begitu antusias melihatnya, meskipun sudah sangat lama tidak berada di sana tetapi ia masih ingat betul tempat itu adalah aula yang dijadikan tempat penting bagi ayahnya. Dari foto yang dilihat Weini, memang benar aula itu dihiasi dekorasi khas pernikahan bahkan ada nama kakak keduanya terpajang di dinding beserta nama calon suaminya.
Weini menunduk seketika, perasaannya tak menentu. Sulit dipercaya namun bukti yang ada justru mematahkan persepsi buruknya. “Mungkin aku yang terlalu berlebihan, mimpi tetaplah mimpi. Tidak ada yang perlu dicemaskan, justru sebaliknya mereka cukup bahagia.” Desis Weini kemudian mengembalikan ponsel pada Lau.
“Sekarang kamu bisa tenang kan? Jangan dipikirkan lagi, kelak kita cari jalan keluar lainnya agar kamu bisa pulang.” Ujar Xiao Jun, ia bersusah payah bersikap biasa padahal hatinya penuh gejolak lantaran tak terbiasa berbohong.
Weini mengangguk pelan, ia mengarahkan pandangan pada Haris. “Ayah, kamu benar. Tidak semua mimpi adalah pertanda, tidak semua mimpi bisa menjadi kenyataan. Maafkan aku.”
Haris menghela napas kemudian terpaksa mengangguk. Aku yang harus minta maaf nona, mimpimu benar.
Di saat bersamaan, ponsel Xiao Jun berbunyi pada waktu yang tidak ia harapkan. Xiao Jun berniat membiarkan bunyi itu lantaran tidak enak memotong suasana, namun Weini meliriknya dan memintanya menerima panggilan itu.
“Maaf, sebentar ya.” Pamit Xiao Jun kemudian berjalan keluar untuk menerima panggilan itu.
Dahinya mengernyit saat tahu Grace lah yang menelponnya, sebuah kebetulan yang aneh karena Grace sudah lama tak mengganggunya. Mengapa sekarang gadis itu kembali menghubunginya?
“Halo?”
Suara isak tangis Grace terdengar, Xiao Jun seketika merasa hatinya runtuh. Kabar buruk apalagi yang akan ia dengar?
“Jun, aku perlu bicara empat mata denganmu sekarang!”
***