
Lima menit sebelum ledakan dasyat mengguncang....
Bams berlari kencang setelah keluar dari lift, tujuannya hanya satu... Menemukan Weini segera mungkin. Langkah kakinya yang gesit itu tersendat ketika sampai di belokan koridor, Bams terkejut melihat dua orang pria bertubuh besar dan tegap tengah memegang pistol dengan posisi siaga. Lebih terkejut lagi karena tahu dua orang tak dikenal itu berdiri demi mengawasi ruangan Weini.
“Hei, siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?” Teriak Bams memberanikan diri untuk lantang, ia tak punya pilihan lain jika ingin memasuki ruangan Weini maka harus menghadapi mereka juga.
Dua pria itu menoleh kemudian menyeringai, tanpa basa basi meladeni pertanyaan Bams, salah seorang dari pria itu bergegas mendatangi Bams kemudian melayangkan tinju. Bams sudah ancang-ancang akan diserang, dengan mengandalkan kenekatan serta instingnya untuk bertahan, Bams reflek menunduk agar bisa mengelak dari kepalan tinju yang dilayangkan ke arah kepalanya.
Perkelahian sengit itu belum berhenti sampai di situ, merasa serangannya gagal semakin memotivasi anak buah Chen Kho itu untuk kembali memberikan bogem serta tendangan maut. Bams yang tak siap menerima serangan mendadak itu terkejut hingga motoriknya berhenti berfungsi sejenak. Ia bergeming dengan wajah ketakutan serta terkejut melihat si penyerang menendang ke arahnya. Namun sebelum tendangan itu mendarat sempurna di bagian perut Bams, serangan itu digagalkan oleh suara ledakan yang dasyat mengguncang hingga terasa memekakkan pendengaran. Spontan Bams dan dua pria itu tersungkur ke lantai sembari menutupi telinga mereka yang kesakitan
karena dengungan yang menggema berulang kali.
***
Xiao Jun, Grace, Wen Ting, Lau serta Li San masih bertahan di kamar Liang Jia. Setelah mendapatkan penanganan dokter pribadi, Li San harus menjalani beberapa tes kesehatan untuk memastikan penyakitnya. Xiao Jun masih bertahan di Hongkong lantaran khawatir Chen Kho muncul dan menyerang lagi demi membebaskan ayahnya. Di sisi lain, Xiao Jun pun tak henti mencemaskan Weini dan Haris yang sampai saat ini belum ada kabarnya. Bahkan Dina dan Bams ikutan susah dihubungi.
“Apa ada kabar dari Fang Fang?” Tanya Xiao Jun pada Grace yang duduk merenung di sisi jendela.
Grace menggeleng lemah, sorot matanya menampakkan kecemasan juga. “Kenapa ya mereka malah seperti bersembunyi dari kita? Aku kira masalah kita yang paling besar dan kita tak mau membebani mereka, ternyata... Mungkin mereka di sana juga bermasalah Jun.” Gumam Grace.
Xiao Jun tak bisa menjawab apa-apa, ia sama galaunya dengan Grace. Ingin rasanya segera terbang kembali ke Jakarta, namun melihat kondisi Liang Jia dan Li San sekarang rasanya tak tega juga ia meninggalkan tanpa jaminan keselamatan. Jika Chen Kho datang lalu menyerang dengan bantuan sihirnya, Xiao Jun tak bisa bayangkan apa jadinya keluarga Weini di sini. Pengawal biasa tidak akan mampu menandingi Chen Kho jika sihir ikut berperan serta.
Wen Ting menatap Xiao Jun yang tampak serius berbicara dengan Grace, ia berniat menghampiri mereka untuk
mencari tahu apa yang kedua orang itu perbincangkan. Sementara Liang Jia terlihat fokus menyuapi suaminya makan bubur, dan Lau hanya berdiri diam sembari berkomunikasi lewat chat dengan beberapa pengawalnya yang berjaga di aula utama serta gerbang.
Semuanya terlihat biasa saja, tetapi begitu suara dengungan yang memekakkan telinga terdengar, mereka spontan terguncang dan menutupi telinga mereka yang kesakitan. Mangkuk dalam pegangan tangan Liang Jia pun jatuh dan pecah berhamburan, menyusul suara jeritan Grace dan Liang Jia yang tidak tahan mendengar suara itu. Hanya satu orang yang tidak merasa kesakitan seperti mereka, dan dia bergeming menatap langit yang memerah, gelapnya langit malam kini terbiaskan oleh lingkaran merah besar yang berlapis-lapis dan terlihat seperti pancaran sinyal.
Xiao Jun langsung membalikkan badan dari jendela, ia tak perlu merasa heran terlalu lama lagi, terlebih melihat orang di sekitarnya tersakiti oleh suara aneh itu. Dengungan entah dari mana itu tidak mempan menyakiti Xiao Jun lantaran berasal dari sihir yang sama dari alirannya. Dan pancaran sinar merah berbentuk lingkaran besar yang
memonopoli langit malam itu adalah gelombang sinyal sihir yang ditujukan pada seseorang.
Lau mendongak dengan sekuat tenaga menatap Xiao Jun, kecemasannya menjadi tak berarti ketika melihat
Xiao Jun justru baik-baik saja namun dari gurat wajahnya terlihat sangat cemas. Xiao Jun memegangi pundak Lau, memberinya sedikit kenyamanan dari siksaan dengungan yang belum berhenti juga.
“Chen Kho ada di Jakarta! Tidak kusangka ia sepicik itu....” Gumam Xiao Jun melanjutkan kata-katanya yang terjeda. Tangannya mengepal kencang, ia telah salah langkah menunggu musuh di sini, namun justru lalai menjaga tempat yang tak terduga itu. Jika sampai ada kekuatan sihir yang begitu besar menembus sampai kemari, maka
kekuatan sihir si pengirim jelas sangat kuat. Dan jika kiriman sihir sekuat ini terjadi, itu berarti Haris dan Weini sudah di posisi yang terdesak.
“Kurang ajar Chen Kho!” Teriak Xiao Jun marah lalu tanpa menunggu kesiapan Lau, ia bergegas keluar dari kamar Liang Jia lalu menuju lapangan tempat jetnya terparkir. Lau dengan susah payah berlari mengejar tuannya meskipun harus menutupi telinga. Bahkan gerak-gerik keduanya tak luput dari pengawasan Wen Ting, ia segera berlari menyusul Xiao Jun dan Lau tanpa satu kata pamitpun pada tuan rumah di sana.
***
Detik-detik Weini tertangkap Chen Kho sebelum ledakan terjadi....
Weini menatap chip yang bersinar itu kemudian memejamkan matanya. Jun, di manapun kamu berada sekarang... Aku memanggilmu! Datang dan selamatkan aku mengikuti sinyal sihir ini.... Suara hati Weini yang menyelipkan pesan tersirat untuk kekasihnya, bibir gadis itu kemudian merapalkan sebuah mantera yang ia hapal di luar kepala
namun baru pertama kali ia praktekkan. Weini sama sekali tidak yakin dengan tingkat keberhasilannya, tetapi dalam kondisi terdesak ini ia tidak punya pilihan selain mencoba.
Chip kecil itu semakin bersinar dan terasa panas membakar dalam pegangan Weini. Gadis itu berkonsentrasi penuh menyalurkan seluruh kekuatannya pada benda itu, kira-kira seperti inilah yang sering dilakukan Haris semasa hidup saat mencoba mengirim sinyal pesan kepada keluarganya. Tetapi Weini menggunakan cara yang berbeda, ia memakai chip yang menyatu dalam tubuh Haris puluhan tahun itu sebagai booster energinya.
Dan hasilnya....
“Sepupuku... Aku menemukanmu!” Seringai Chen Kho saat meraih gagang pintu toilet. Bersamaan dengan itu tiba-tiba... Duaaarrrrr!
Ledakan besar dengan suara yang sangat dasyat kencangnya hingga membuat tubuh Chen Kho terpental tinggi lalu ambruk membentur dinding. “Siaaal!” Pekik Chen Kho yang merasakan energi sihir yang ia buntuti itulah yang menyebabkan ledakan besar itu. Orang awam mungkin akan mengira ledakan tersebut berasal dari bom, tetapi Chen Kho tahu betul bahwa ia telah kalah satu langkah. Tanpa ia duga sebelumnya, ternyata sepupunya sanggup meledakkan sinyal sihir yang begitu dasyat hingga mengontaminasi seluruh langit. Chen Kho melirik sesat ke jendela, langit sudah memerah seperti darah oleh ledakan dari jarak yang sangat dekat dari sumbernya. Dengungan memekakkan telinga itu pun sedikit menusuk pendengaran, tetapi Chen Kho sanggup menahan
efeknya.
“Aku salah menilaimu ternyata, sepupuku yang licik.” Gumam Chen Kho seraya menyeringai kemudian berjalan kembali mendekati pintu toilet. Ia yakin tidak akan ada kejutan susulan yang diberikan Weini lantaran tenaganya mungkin sudah terkuras banyak gara-gara ledakan itu. Dan ternyata dugaannya tidak meleset, begitu pintu
berhasil terbuka, Chen Kho mendapati tubuh seorang gadis yang tergeletak tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah.
"Akhirnya aku menemukanmu, adik sepupu...." Seringai Chen Kho penuh kemenangan.
***
Weini... Hiks....