OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 233 HASRAT YANG TERSISIHKAN OLEH KERAGUAN



Aku, hujan, dan raguku


Adalah hujan, yang paling mengerti isi hatiku yang tengah ragu


Antara bertindak atau tetap terpaku di sini


Adalah aku, yang masih mencoba meyakinkan diri untuk menggeret langkah


Menuju relung hatimu …


Bisakah kau keluar, tanpa aku meneriakkan namamu?


Bisakah kau dengar jerit hatiku, lirih menyebutmu di setiap hela napasku?


Ternyata, aku sadari bahwa yang tertinggal hanyalah ragu


Menertawakan kebimbanganku, mencela betapa pengecutnya aku …


Dan hujan yang masih bersedia bertahan, membiarkan aku menyamarkan tangisan


Dalam deras rintiknya …


Lewat rinai hujan ini, kutitipkan pesan padamu


Bahwa cintaku masih seperti yang dulu, hanya kepadamu … Weini.


_Quote of Xiao Jun_


***


Xiao berdiri di depan pagar rumah, membiarkan sekujur tubuhnya basah bermandikan hujan yang tidak tanggung derasnya. Kotak merah  yang ia genggam kuat, ikut basah tanpa ada tanda akan berpindah tangan kepada si pemilik. Xiao Jun hanya mematung, menatap ke depan rumah kekasihnya. Hanya melangkahkan kaki ke dalam saja sangat sulit baginya, ia sungguh tak mengerti kemana hilangnya keberanian itu.


Saat masih di Negara asal, ia belum merasakan keinginan untuk menemui Weini. Ternyata perasaan itu hanya sesaat, begitu ia menginjakkan kaki ke apartemen, tepatnya saat melihat apartemen yang dulu pernah ditempati Weini, perasaannya menggebu lagi. Ia sangat ingin melihat wajah kekasihnya, keinginan itulah yang menyeretnya kemari seakan tidak ada hari esok lagi untuk bertemu. Dan sekarang, di sinilah ia berdiri, hanya menatap tanpa sanggup mendekat.


***


Dina punya kesempatan untuk menginap, berkat hujan deras yang dijadikan alasan malas menerobos jalanan macet kala hujan. Waktu istirahatnya akan terpotong untuk berjuang pulang, bila Weini tak membolehkannya menginap. Dina yakin artis cantik itu akan berbaik hati memberinya tumpangan tidur, setidaknya untuk satu malam. Ia sebenarnya ingin berlama-lama tinggal di rumah ini, tetapi kasihan juga dengan Weini yang harus sempit-sempitan dengannya di ranjang. Sudah beberapa kali Dina mengungkit tentang pindah ke hunian yang lebih bagus dan nyaman, tetapi Haris lebih memilih tinggal di rumah ini dengan alasan banyak kenangan.


“Jadi non, pesan dari tuan Xiao Jun kapan mau dibalas?” Dina kembali merecoki Weini dengan pertanyaan yang sama.


Weini yang sudah terbaring miring membelakangi Dina dengan piyama tidur, tetap memberi respon yang sama – diam. Ia punya beban pikiran sendiri, yang terus menimbang baik buruknya jika pesan singkat dari Xiao Jun dibalas. Celoteh Dina yang tiada henti terdengar bak kicauan burung, Weini tak bersemangat mendengarnya bahkan tidak satupun kata yang nyantol di pendengarannya.


Deg! Sebuah perasaan yang begitu tajam, mengirim sinyal bahwa seseorang yang paling mendebarkan hati Weini berada dalam radius yang cukup dekat. Weini mendelik, ia mempertajam perasaannya, tangannya mengepal dan dilekatkan di depan dada. Xiao Jun? Desis Weini dalam hati, ia tak begitu yakin dengan perasaannya.


"Diam bentar kak.” Weini langsung bangun dan duduk di tepi ranjang, mengisyaratkan agar Dina membisu sejenak. Weini bergegas hendak keluar, ia harus memastikan sendiri kebenaran atau hanya sekedar perasaannya.


“Mau kemana non?” Dina mencegat Weini dengan pertanyaan itu, ia pun sigap mengekori jejak Weini.


Ia beranjak dari kamar, meninggalkan Dina yang bengong dengan sekumpulan pertanyaan dalam hati. Sepenasaran apapun, Dina tetap harus menuruti perintah Weini. Ia sungguh takut melihat sorot mata tajam gadis itu saat menyerukan perintah.


Weini setengah berlari menuju ruang tamu, betapa terkejutnya mendapati Haris berdiri di depan jendela, mengintip dari balik tirai di tengah remangnya ruangan yang hanya mengandalkan cahaya dari lampu teras. Weini berdiri diam sejenak memperhatikan Haris yang ia yakini sadar akan kehadirannya. Pasti ada sesuatu di luar sana, sampai Haris begitu terpaku menjadi pengintai.


Haris membalikkan tubuhnya menghadap Weini, punggungnya terasa hangat disoroti oleh sepasang mata yang memiliki kekuatan sihir. Ia menebarkan senyuman manis, pembawaan dirinya sangat tenang seakan tidak ada yang terjadi.


“Apa dia datang, ayah?” Weini langsung menodong pertanyaan pada Haris. Sorot matanya memincing, ia sungguh penasaran dengan sikap pria di hadapannya itu.


“Sepertinya begitu.” Jawab Haris singkat.


“Xiao Jun, dia yang datangkan?” Belum puas dengan jawaban Haris yang ambigu, Weini bertanya ulang dengan penekanan. Ia bisa gila jika harus disuruh main tebak-tebakan lagi.


“Sepertinya begitu.” Haris mengulang jawaban yang sama, sama singkat dan penekanan katanya yang santai. Jawaban yang membangkitkan kekesalan Weini hingga level tertinggi.


“Lalu kenapa ayah hanya berdiri di sana? Nggak biarkan dia masuk?” Cecar Weini, ia berlari tergesa-gesa demi membuka pintu. Tak pedulikan Haris yang masih bergeming di depan jendela, pria itu malah merapikan kembali


tirai yang ia sibak.


Weini menyebarkan pandangan ke sekeliling, harap-harap cemas mencari sosok yang sangat ingin ia lihat sekarang. Sepi, tiada seorangpun yang terlihat, yang ada hanya rinai hujan yang kian aktif memainkan perannya membasahi bumi. Weini tak puas diri, ia nekad menerobos hujan demi membuktikan perasaannya bahwa Xiao Jun masih ada di dekatnya.


“Jangan dicari lagi!” Haris menarik tangan Weini, menggagalkan niatnya bermandikan hujan. Ia tak peduli sekuat apa Weini memberontak, kekuatannya jelas lebih unggul untuk menarik tubuh yang lebih kecil darinya.


“Jawab ayah, kenapa tidak menyuruhnya masuk?” Weini sesengukan, pikirannya tengah kacau dipermainkan perasaan.


“Dia tidak mengetuk, bagaimana bisa aku bukakan pintu?” Jawab Haris tegas. Memang itulah alasan yang membuatnya tega hanya diam menyaksikan putranya bermain dengan hujan, di tengah kegalauan dan pulang sia-sia seperti jendral yang kalah sebelum perang.


Weini terguncang mendengar jawaban dari Haris, ia masih belum sanggup mengucapkan sepatah katapun. Perasaannya ternyata memang sangat peka merasakan kehadiran Xiao Jun, tapi pria yang sangat ia nantikan itu


malah datang untuk pergi lagi, tanpa menemuinya.


“Pintu ini akan terbuka jika dia memang mau menemuimu, dia akan datang mengetuk pintu. Jika dia pergi, berarti dia belum siap. Simpelkan? Biarkan saja, kamu sebaiknya biarkan dia!” Timpal Haris, ia bukan tidak mendukung percintaan putranya, tetapi semakin banyak ia campur tangan dalam urusan mereka, sama saja ia tidak mendukung Xiao Jun bertambah dewasa.


“Ya, aku juga perlu waktu.” Ungkap Weini, ia sedikit tercerahkan bahwa yang belum waktunya tidak bisa dipaksakan.


Haris tersenyum, nona mudanya sudah bertambah dewasa. “Tidurlah, atau kamu mau gabung ngobrol di belakang?” canda Haris.


Weini tersenyum getir, bibirnya masih kelu dipaksa menarik seulas senyuman. “Stevan belum pulang? Ayah masih mau melakukannya?”


Haris menempelkan jari telunjuk di bibirnya, “Ssstt!” Ia tahu seseorang menguping di balik pintu.


Dina yang sadar sepertinya sudah ketahuan, ia langsung menutup pintu yang dibuka sedikit sebagai celah mengintip. Jantungnya berdetak kencang, keningnya berkeringat dingin, ia baru tahu rasanya ketahuan melakukan kesalahan ternyata sangat mengerikan.


***